
akupun masuk kedalam mobil tanpa berbicara satu patahpun pada mas ilham.
"sayang.. Aku bisa jelasin yang tadi. itu.. "
"Aku gak mau denger apa-apa sekarang, aku mau pulang" jawabku dengan nada ketus
"tapi sayang kamu harus dengerin dulu penjelasan aku"
"Jelasin dirumah aja, sekarang aku capek mau tidur"
"hmmhh ini udah mau maghrib sayang gak baik tidur di jam-jam seperti ini"
"ah iya juga kenapa aku bisa lupa sih, mau pake alasan apalagi coba biar mas ilham gak ngomongin masalah tadi" ucapku dalam hati
"ck yaudah cepetan pulang aku capek mau mandi" kataku sambil terus membuang muka kearah jendela.
sebenarnya aku tidak tega melihat mas ilham seperti itu, aku hanya ingin membuatnya sadar bahwa apa yang dilakukannya tadi tidak sepenuhnya benar. aku juga tidak ingin membiarkan masalah ini berlarut-larut tapi alangkah baiknya kalau masalah ini dibicarakan dirumah saat sedang berdua bukan dijalanan seperti ini, menurutku.
POV AUTHOR
Sesampainya dirumah, Dira memilih langsung kekamar mandi untuk bersih-bersih badannya terasa lengket setelah setengah hari berada diluar. sedangkan ilham hanya bisa menatap kepergian sang istri.
"Ayah... ayah darimana sama Bunda? kok keluarnya lama" tanya Serli pada sang ayah.
"emm.. itu sayang tadi ayah sama bunda ada keperluan jadi agak lama. Serli sudah mandi?"
"Hu'um tadi Serli mandinya sendiri, kakak Rafa juga"
"Oh ya? bagus dong anak ayah udah besar. sudah sholat?"
"udah tadi sama opa dan oma, yah"
"Baiklah, Serli kekamar dulu ya ayah mau Bersih-bersih"
"Ayah masih bau matahari hahaha" ledek Serli
"mm.. tidak juga sayang ayah masih harum gini kok tetep ganteng juga kan"
"hahaha enggak" Setelah mengusili Ilham, Serli lari menuju kamarnya.
ilham hanya menggelengkan kepalanya melihat keusilan Serli. iapun masuk kedalam kamar dan menunggu Dira selesai mandi sambil rebahan.
ia kembali termenung memikirkan bagaimana caranya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi sore antara dirinya dan Bella.
"haahhh gimana caranya menjelaskan pada Dira, apa dia mau mengerti" ilham mendesah frustasi.
tak lama kemudian Dira keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan handuk kimono.
"Mas, sana mandi dulu aku udah siapin airnya" ucap Dira sambil duduk didepan meja rias.
ilham yang mendengar Dira tengah berbicara padanya pun langsung terduduk. ia masih tak percaya bahwa istrinya sudah mau berbicara lagi padanya.
"Cepetan mas nanti waktu maghrib habis" lanjut Dira
"I_iya sayang ini aku mandi"
setelah acara mandi, sholat dan sebagainya selesai. melihat Dira tampak sudah lebih baik daripada tadi sore ilhampun berusaha menjelaskan pada Dira.
"Sayang,, apa aku boleh bicara sekarang? Aku gak bisa kalau terus-terusan didiemin kaya tadi"
"Hmm bicaralah mas"
ilham menceritakan semua kejadian tadi sore pada Dira tanpa ada yang dikurangi ataupun di lebih lebihkan.
"sayang.. aku memang salah, seharusnya aku menghindar waktu bella mau peluk aku. tapi beneran sayang aku cuma kasian aja, bella juga masih keluarga aku kan. aku sebagai kakak sepupu bella tidak bisa diam gitu aja ngeliat bella dipermainkan sama keluarga kevin"
__ADS_1
"Heemmhh, aku gak tau mas harus gimana. aku mau tetap marah sama kamupun rasanya percuma toh udah kejadian. tapi aku masih akan berusaha untuk tetap percaya sama kamu asal kamu tidak mengulanginya lagi, coba mas bayangkan kalau itu aku. pasti kamu juga akan marah sama kaya aku tadi"
ilham meraih tangan Dira kemudian mengecupnya.
"Iya sayang aku minta maaf dan Terima kasih kamu udah ngasi kesempatan buat aku ngejelasin semuanya. aku minta sama kamu jangan terlalu banyak pikiran, ingat dia akan ikut sedih kalau bundanya sedih"
Dira berusaha tersenyum meskipun hatinya masih sakit mengingat kejadian itu.
"Lalu rencanamu apa setelah ini mas?"
"tidak ada, Aku tidak akan mencampuri urusan mereka"
"kok tidak ada? gini aja deh kalau kamu gak enak sama aku hanya karena Bella, anggap aja kamu lagi bantuin om Rifan sama tante Ajeng. mereka pasti sekarang lagi kebingungan dan juga malu sama orang-orang. Kamu coba ngomong sama Kevin sapa tau nanti dia bisa membujuk keluarganya"
"Tapi sayang.."
"Gapapa mas"
"Tapi kamu harus ikut"
"Lho? kenapa aku harus ikut?"
"Ya gapapa kitakan suami istri, gak boleh ada yang dirahasiakan toh? jadi kemanapun aku pergi kamu harus ikut, biar aku gak khilaf lagi"
"kalo lagi itu udah bukan khilaf tapi kecanduan" jawab Dira sambil melipat tangannya didada.
"hehe enggak kok sayang, janji itu yang terakhir kalinya. makanya kamu temenin aku ya?"
" yaudah iya, tapi liat sikonnya dia juga" ucapnya sambil menunjuk pada perutnya.
ilham tersenyum kemudian mendekat pada Dira dan mengusap pelan Perut istrinya.
"ayah butuh dukunganmu, nak. oiya sayang kapan kontrol lagi?"
saat mereka berbincang-bincang tiba-tiba saja ponsel Dira berbunyi pertanda ada panggilan masuk.
Dira mengerutkan dahi saat melihat nomor yang tertera dilayar ponselnya.
"Siapa sayang?" tanya ilham
"Gak tau nih mas, nomor luar negeri deh ini"
"Angkat aja sapa tau temen kamu"
kemudian Dira menggeser tombol hijau diponselnya, ia tak langsung berbicara.
"Mba shella?"
...
"Anak-anak dikamarnya mba, sebentar aku panggilkan mereka dulu"
"Biar aku aja yang panggil mereka sayang" ilham menghentikan gerakan Dira agar tidak turun dari tempat tidur. dirapun mengangguk dan melanjutkan pembicaraannya dengan shella.
"mba apa kabar?"
...
"Oh ya? waahh aku ikut senang mendengarnya"
...
"gak usah sungkan-sungkan mba, Aku malah seneng mba shella bisa akur lagi sama anak-anak"
...
__ADS_1
"Nah itu anak-anak udah dateng. sini sayang ini bunda shella mau bicara sama kalian"
Serli dan rafapun naik ke atas tempat tidur. sedangkan Dira dan ilham hanya memperhatikan mereka yang sedang mengobrol dengan ibu kandungnya setelah hampir 2 bulan shella meninggalkan Indonesia tanpa memberi kabar pada anak-anak.
"mas, mba shella mau nikah" kata Dira
"oh ya? baguslah semoga dia tidak seperti yang Dulu-dulu"
"Kayaknya dia udah berubah deh mas, tadi aja dia ramah banget sama aku. oiya dia juga bilang kalau bisa anak-anak kita antarkan kesana sekalian liburan"
"Tapi sayang, aku kayaknya gak bisa karena kalau kesana waktu 2 minggu saja rasanya tidak akan cukup dan aku gak bisa mengambil cuti sebanyak itu apalagi kamu lagi hamil muda"
"terus siapa yang mau nganterin mereka kesana? gak mungkin Ibu atau mama kan?"
"jangan sayang kasian mereka. aku akan minta bantuan Rini dan robi mereka pasti mau asal ada uang jajan haha"
"emang gak ngerepotin?"
"Semoga aja enggak, besok aku akan hubungi mereka"
setelah 30 menit berbincang dengan ibu kandung mereka, Rafa dan Serli memberikan ponsel kepada Dira.
"Ayah.. kata Bunda shella kita mau liburan ya? asyiikkk" ucap Rafa
"iya sayang, dan kalian akan mempunyai ayah baru"
"kata Bunda panggilnya om daddy aja. karena ayahnya Rafa cuma ayah ilham" jawabnya kemudian rafa memeluk sang ayah.
"Serli kenapa kok diem?" tanya ilham namun serli hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa sayang? cerita sama Bunda"
"Serli gak mau pergi kerumah Bunda shella, Bunda"
"loh? kenapa, nak? kan sekalian liburan disana"
" Gak mau.. nanti Serli gak dibolehin tinggal sama Bunda Dira lagi huuuhuuu" Tiba-tiba saja Serli menangis tersedu-sedu.
Dira yang melihat Serli menangis seperti itupun segera memeluk Serli.
"hey sayang gak gitu nak, kalian kesana bukan berarti harus tinggal disana selamanya. Bunda shella hanya ingin kalian melihat pernikahannya Bunda shella biar kalian juga tau gimana wajah ayah baru kalian, setelah itu kalian pulang lagi deh ke Indonesia"
"Bunda janji ya jangan biarin Serli diambil sama Bunda shella"
ilham tertawa mendengar penuturan anak perempuannya itu.
"kok ayah ketawa? ayah seneng ya kalo Serli gak ada, Serli nyusahin ayah terus ya? Huuhuuu" tangis Serli semakin menjadi-jadi.
"maaaasss... kamu ih jangan gitu dong, kasian Serli"
"Haha iya iya maaf sayang, habisnya Serli lucu banget. hey nak dengerin ayah ya... Kalian itu anak ayah mana mungkin ayah tega membiarkan kalian Pergi dari ayah Dan ingat juga, Bunda shella itu masih bundanya kalian. dia juga punya hak atas kalian, Bunda shella gak akan memaksa kalian untuk tinggal disana selamanya. kalian akan mengerti setelah kalian udah dewasa nanti "
kruukkk... kruukkk..
suasana Haru berubah seketika saat mendengar suara dari perut Rafa. Merekapun tertawa terpingkal-pingkal
"hahaha kamu sih mas kelamaan ngasi petuahnya, sampe cacing diperut Rafa pada demo. udah yuk kita makan malam dulu, kayaknya oma udah selesai masaknya"
mereka semua keluar dari kamar Dira, ilham tidak berhenti tertawa mengingat kejadian tadi.
"Kalian ini kenapa? kok pada ketawa daritadi"
"Ini ma, tadi kita lagi ngobrol didalam eh saking asyiknya ngobrol sampe lupa kalo kita belum makan malam sampe cacing diperut Rafa pada demo" jelas ilham pada mama mertuanya.
mereka yang ada di meja makan pun ikut tertawa mendengar penjelasan ilham dan melihat ekspresi Rafa.
__ADS_1