
Malam harinya Dira dan ilham sudah siap untuk berangkat ke klinik Evelyn, tak lupa juga dua krucil yang selalu ikut kemanapun Dira pergi.
"Ayah, Mama, Dira berangkat dulu ya" pamit Dira pada kedua orangtuanya
"Loh Rafa sama Serli ikut juga?" tanya mama lia
"Iya oma, Serli mau liat dede bayi" Jawab Serli
"Oh baiklah sayang, Hati-hati dijalan jangan lupa sampaikan salam mama sama Evelyn ya Dira"
"Iya ma nanti Dira sampein"
Merekapun berangkat.
Sesampainya dirumah sakit mereka langsung menuju ruangan Evelyn karena hari ini Dokter evelyn tidak praktek ditempat lain, mereka bisa langsung menemuinya.
"Malam Tante"
"Eh Hai malam Dira" jawab evelyn menghampiri Dira, memeluknya dan cipika-cipiki. "Bagaimana kabar baby selama beberapa hari ini? apa masih mual atau ngidamnya aneh-aneh?"
"Alhamdulillah babynya baik tante, ngidamnya juga gak aneh-aneh tapi moodku selalu berantakan"
"Itu wajar sayang, ayo naik"
Evelyn mengarahkan Dira naik ke ranjang pasien untuk melakukan USG. Dirapun berbaring kemudian Evelyn mulai mengoleskan gel dan menempelkan transducer pada perut Dira.
"Haloo baby selamat malam sayang, Ayah dan Bunda ingin tau kabarmu hari ini. Karena ini masih berumur 9 minggu jadi masih belum tampak seperti manusia ya tapi semuanya aman"
"alhamdulillah, halo nak ini Bunda" sapa Dira dengan mata yang berkaca-kaca pada sang calon buah hati
"detak jantungnya juga normal, nanti bisa datang lagi kesini saat mulai masuk trimester 3 ya Dira"
"Iya tante hari ini karena suamiku sangat penasaran sama kabar calon bayi kami jadi kami memutuskan untuk USG lagi"
"haha Ayahnya penasaran apa Jangan-jangan hanya kangen nengokin debay?"
"Apa masih belum boleh dok?" tanya Ilham
"Boleh Pak tapi harus dengan tempo yang sangat pelan karena janin yang masih berumur 9 minggu rentan keguguran"
"Ihh mas kamu gak malu apa sama tante evelyn nanya yang begituan"
"Itu sudah biasa Dira, karena kebanyakan suami pasien menanyakan hal yang sama pada tante"
"Tuhkan sayang jadi gak perlu malu kalo soal begituan, dokter evelyn pasti tau maunya para suami hehe. oh iya dok kalau naik pesawat boleh gak sih"
"Boleh, kalau bisa jangan yang terlalu jauh sampe lebih dari 3 jam perjalanan udara karena Ibu hamil itu tidak boleh stress dan kecapean. memangnya kenapa? kalian mau Babymoon?"
"ah tidak dokter hanya ingin mengunjungi kerabat jauh, jadi lebih baik jangan ya dok. Babymoon nya dirumah aja"
__ADS_1
"Maaf ya tante, suamiku emang suka gak tau malu"
"Gapapa Dira sudah biasa. Kalo kalian mau pergi dengan menggunakan pesawat mending setelah masuk trimester 3 tapi ingat asal jangan stress. oh iya karena kamu tidak mengalami morning sickness yang agak parah jadi cukup minum vitamin sama susu aja ya kalau ada apa-apa segera hubungi tante. Tapi susu masih bisa masukkan? "
"nunggu lahiran aja tante soalnya moodku sering berubah-ubah jadi mending enggak dulu. kalo susu masih Bisa tante hanya makanan-makanan tertentu aja yang agak mual"
"itu biasa terjadi pada Ibu hamil, nah ini vitaminnya diminum pas mau tidur gapapa hanya satu kali sehari"
"hm makasih tante, oh ya ada salam dari mama buat tante. kalau gitu Dira pamit ya assalamu'alaikum"
"Terima kasih dokter evelyn"
"sampaikan salam tante pada mamamu, dia harus menjadi oma siaga haha. Iya sama-sama Hati-hati dijalan ya. waalaikum salam"
Dira, ilham dan juga anak-anak keluar dari ruangan dokter evelyn.
"Kalian kenapa daritadi diam sayang?" tanya Dira
"Serli gak ngerti Bunda ngomong apa sama dokter"
"Haha maaf ya sayang, kata dokter dedenya sehat kok"
"Bunda juga gak boleh kecapean jadi kalian harus jagain bunda" sambung ilham.
"emm Ayah.. tadi tante dokter bilang kalo bunda gak boleh naik pesawat, terus nanti kita sama siapa? kalo gak ada kita siapa yang mau jagain Bunda?"
"Sama tante Rini dan Om Roby, kak. gapapa kan?"
"Tapi Bunda.. nanti gak seru dong kalo ayah sama Bunda gak ikut, Rafa takut Bund"
"Kok takut sayang? kan ada Bunda Shella disana, ada Opa Rama juga. Mereka baik sayang" ucap Dira lagi.
"Kalo tau Bunda sama ayah gak ikut, Rafa mending gak ikut juga"
"Kak gak boleh gitu, Kasian Bunda Shella pasti sedih kalau tau kakak kaya gini. Mau ya nak Demi Bunda. pliss"
Rafa mulai menitikkan air matanya saat menatap netra Dira, ia sangat dilema saat ini. namun untuk menolak permintaan Dira, Rafa sangat tidak tega.
"huhu..apa nggak bisa ditunda dulu bund? Rafa kesananya nanti sama Bunda dan ayah aja" ucap Rafa sambil menangis
"Kak.. apa kakak lupa tadi yang dokter bilang? Bunda gak boleh banyak pikiran, kalo kakak kaya gini yang ada Bunda tambah kepikiran. kakak mau Bunda dan dede bayi kenapa-kenapa? ayolah nak kali ini aja hanya 2 minggu gak lama sayang" ilham mulai bersuara.
mendengar penuturan ilham, tangis Rafa mulai reda. ia kembali berfikir dan ya benar juga perkataan ayahnya. Sedangkan Serli hanya menyimak obrolan ketiganya dengan Mata yang berkaca-kaca.
"oiya mas, tadi sore mama bilang sebelum anak-anak berangkat kita berkunjung kerumah nenek dulu. kita udah lama gak kesana kan?"
"Kapan?"
"dua hari lagi, hari jumat biasanya kamu pulang awalkan?"
__ADS_1
"Hmm kalo mau aku ijin aja sayang, biar cepet nyampe. anak-anak biar kalian gak sedih jumat nanti kita liburan kerumah nenek, mau?"
tidak ada jawaban dari Rafa namun berbeda lagi dengan Serli yang begitu antusias.
"Mau yah, yeeyyy liburan. kakak jangan sedih terus kasian Bunda jadi sedih juga"
"Kak... "
"Iya Bunda, maafin Rafa ya"
"Jangan sedih kak, kapan-kapan kita kesana bareng"
Rafa mengangguk.
"Kita langsung pulang apa mau makan malam diluar?"
"Mm gimana kalo ke cafenya kak Rio? aku pengen bibimbap, boleh ya mas?"
"Asal makanannya gak mentah aja sayang"
"Enggak kok, bibimbap kan nasi ada sayur-sayurnya juga"
"Bunda, Serli mau Sushi"
"iya sayang, kakak pengen apa?"
"apa aja Bund"
"Mm.. Baiklah"
"Kamu gak nanyain aku sayang?!"
"pasti kalo gak chicken wings ya chicken pokpok kan?"
"Hmm bukan, sepertinya aku lagi gak pengen yang itu"
"Lalu?"
"Sop buntut ada?"
"Dulu sih ada, gak tau sekarang. aku tanya dulu ya"
lalu Dira mengirim pesan pada Rio untuk menanyakan makanan yang diinginkan oleh suaminya.
"Gimana Sayang?"
"Ada mas"
"Ok let's go"
__ADS_1
Mereka menghabiskan waktu dengan makan diluar berempat sebelum anak-anak Ilham Pergi menemui Ibu kandung mereka. Ada rasa Sedikit tidak rela melepaskan mereka namun Dira tidak boleh egois, Shella tetaplah Ibu mereka sejauh apapun mereka berpisah.
sedari tadi Dira berusaha menelan makanan yang rasanya sangat hambar, entahlah melihat tawa Rafa dan Serli rasanya ingin menangis namun ia harus menahan air matanya agar tak jatuh didepan anak-anaknya. Ilham yang menyadari itu kemudian menggenggam tangan Dira untuk memberi kekuatan.