
Pagi harinya mama lia meminta Dira untuk mengecek kecurigaan mereka sedari kemarin.
"Dira"
"ya ma?"
"nih sekarang kamu cek dulu, mama sampe gak bisa tidur kepikiran ini terus"
"ish mama masih inget aja, aku udah gapapa ma"
"udah dibilang mama gak bisa tidur gara-gara ini" ucap mama lia sambil memegang testpack.
"Iya iya, aku coba tapi jangan kecewa kalau hasilnya negatif loh ya"
"kalau negatif kan bisa dicoba lagi nanti malem haha, mama yakin sama kecurigaan mama ini cepet sana"
Dira mencebik lalu melangkah ke kamar mandi.
setelah menampung sedikit air seninya, Dira menyelupkan alat tersebut dan menunggu beberapa saat, ia sangat khawatir karena jika hasilnya negatif tentu akan sangat mengecewakan hati sang mama yang sepertinya sangat mengharapkan seorang cucu meskipun cucunya sudah ada 3 dari kakak-kakaknya.
karena terlalu lama menunggu, mama lia menerobos masuk ke dalam kamar mandi tentu saja membuat Dira kaget.
"mama! bikin kaget aja"
"habisnya kamu lama mama gak sabar Dira pengen tau hasilnya. gimana?"
"eng.. anu.. " Dira sendiri belum tau hasilnya karena jujur ia sangat takut saat ini
"ish mana! " mama lia merebut testpack tersebut dari tangan Dira dan melihatnya. "i_ini beneran yang tadi mama kasih kan Dira?"
"iya ma, Dira gak punya alat kek begitu di tas Dira. kenapa sih?"
"Nih lihat" Dira mengerutkan dahinya kemudian membulatkan matanya karena terkejut melihat garis 2 terpampang nyata didepan mereka. "Kamu hamil sayang. yess!! mama mau punya cucu lagi" ucap mama lia dengan memeluk dira sambil berjingkrak kegirangan. "ups mama lupa, harusnya kamu gak boleh lompat-lompat kaya gini'
"astaga Dira juga lupa lagi, mm.. ma, emang bisa secepat itu ya? aku nikah baru dapet sebulan lebih seminggu"
"bisa aja dong sayang, waktu itu kan kamu dalam masa subur. bisa jadi kandungan kamu baru berusia 2 minggu yakan?" ucap mama lia sambil mengabadikan testpack Dira dan mengirimkannya ke grup whatsapp keluarga. Dira hanya mengangguk.
"ma, jangan dulu. aku mau ngasih surprise sama mas ilham, lagian aku belum cek ke dokter, aku gak yakin soalnya"
"hmm kalau begitu sebelum pulang gimana kalau kita ke dokter kandungan sekarang kebetulan dia juga temen mama, sebelum ilham datang mumpung masih pagi juga gak bakalan ngantri sayang"
"Dira mau mandi dulu ma, minta tolong jagain Rafa sama serli sebentar ya"
"tidak usah minta tolong gitu dong sayang, mereka kan juga cucu mama. yasudah mama keluar dulu, jangan lama-lama mandinya " Dira tersenyum mendengar Jawaban sang mama kemudian mama lia meninggalkan Dira didalam kamar mandi dan menuju sofa.
Setelah selesai, Dira dan mama lia segera menuju ruangan dokter obgyn. sebelumnya mama lia sudah mengirimkan pesan pada dokter evelyn, sahabat mama lia dan kebetulan saat itu dokter evelyn baru saja sampai dirumah sakit.
"pagi dokter.. " dokter evelyn menoleh ke arah pintu dan tersenyum
"Pagi Lia, ya ampun kamu makin cantik aja, ini siapa?"
"Ini anak aku yang paling bungsu namanya Dira" Dira mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan dokter cantik itu
"Dira, dokter"
"Panggil tante aja Dira, mamamu ini sahabat tante. oh kamu yang nikah waktu itu ya.. duh maaf banget tante gak bisa datang karena ada jadwal operasi"
"gapapa kok dok eh tante, mama juga sudah bilang"
__ADS_1
"sepertinya menantumu topcer ya Lia, baru sebulan nikah udah hamil aja hihihi. kalau begitu ayo sini tante periksa"
Dira mengikuti intruksi dokter evelyn, kemudian ia berbaring dan dokter pun mengolesi gel diatas perut Dira.
"Oh hoo lihat, dia benar-benar hadir didalam rahimmu Dira, masih sangat kecil jadi tidak terlalu kelihatan" Dira menatap monitor tersebut dengan mata berkaca-kaca, ia tak percaya bahwa didalam rahimnya sudah tumbuh buah cintanya dengan sang suami.
"Kira-kira usianya sudah berapa minggu ini eve?" tanya mama lia
"Ini sih masih dua minggu, apa kamu mengalami morning sickness dira?"
"Sejauh ini belum tante, hanya saja kalau ada makanan kayak sop gitu-gitu aku jadi mual selebihnya masih belum ada"
"berarti masih aman ya, nanti kalau ada apa-apa hubungi tante saja ya dan ini untuk foto USGnya, cek rutin 2 minggu sekali ya Dira kita akan sering bertemu setelah ini" Dira turun dari ranjang pasien dan menyentuh perlahan foto hitam putih, foto sang buah hati.
"Terima kasih tante" dokter evelyn tersenyum
"kalau begitu kami pamit ya eve, maaf ya aku ganggu jadwal kamu lain kali kita harus ngobrol loh"
"tentu saja Lia, banyak sekali yang ingin aku ceritakan sama kamu"
"yasudah aku kekamar cucuku dulu ya dah eve"
30 menit kemudian...
seorang pria yang masih menggunakan seragam polisi lengkap berjalan dengan santai, dengan membawa beberapa plastik berisi makanan sambil tersenyum.
dengan wajahnya yang masih tersenyum ia mendorong pintu dengan pelan, senyumnya semakin lebar kala melihat istri kecilnya itu sedang menyuapi anak pertamanya dengan telaten.
"Assalamu'alaikum sayang"
Dira yang tengah menyuapi Rafa segera berdiri dan mendekati pria yang sejak tadi malam ia rindukan.
"Iya sayang, eh ada mama, gimana kabarnya ma?" ilham mendekati Ibu mertuanya dan menyalaminya.
"kabar mama baik ilham, kamu sudah sarapan?" tanya mama lia
" belum ma, sengaja mau sarapan dirumah sama kalian karena selama dua hari ini kita makannya sendiri-sendiri . jadi ayo sekarang kita pulang"
"Rafa termasuk anak yang kuat ya kalau dipikir-pikir, dia tidak pernah lama kalau masuk rumah sakit paling lama 4 hari kayak yang waktu itu" ucap mama lia
"Iya juga ya ma, dulu waktu sama shela malah seminggu sekali Rafa masuk rumah sakit itupun yang jagain Ibu sama Rini. kalau ibunya shela itu..." sambung ilham
"Mas jangan diteruskan kok malah bahas yang sudah-sudah, sekarang kan Rafa udah gapapa jadi jangan di inget-inget lagi" potong Dira
"Hehe maaf ya Dira ini gara-gara mama bilang kayak gitu jadi ilham bernostalgia deh. yaudah yuk kalau mau pulang, sepertinya ada yang udah gak sabar nih. Ayo Serli sama oma aja" mama lia melirik kearah Dira
"Ok oma, ayah, bunda, Serli tunggu dimobil ya. jangan Lama-lama Serli laper"
"Iya sayang, apa hari ini Serli menginginkan sesuatu?" tanya ilham
"Mm... No ayah! mau makan makanan yang ada dirumah aja kalau beli nanti ngantri terus lama deh nyampe rumahnya"
Dira hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak sambungnya itu, didalam pikirannya hanya ada makanan dan makanan.
"Lucu banget sih anak bunda, yaudah Serli sama oma jangan nakal ya. nanti bunda sama ayah nyusul" Dira mencubit pipi Serli yang sangat gembul.
Dira membereskan semua barang yang akan dibawa pulang, tak lupa testpack yang ia gunakan tadi pagi, ia masukkan kedalam tasnya sambil tersenyum.
"Kok senyum-senyum kenapa sayang?" ilham memergoki Dira yang sedang tersenyum
__ADS_1
"Karena kamu ada disini mas"
"Masa sih? segitu kangennya ya?"
"Kangen banget, oiya mas aku punya kejutan buat kamu tapi nanti dirumah aja "
"Heyy kamu bikin penasaran sayang, kejutan apa sih?"
"haissh kalau dikasi tau namanya bukan kejutan tauk. udah yuk ah nanti anak gadisku itu ngomel kalau terlalu lama disini. Ayo kak" Dira meraih tangan Rafa dan menuntunnya.
"aku gak digandeng nih?"
"oh astaga yaudah ayo makanya mas jalannya cepetin dikit dong" Dira juga menggandeng tangan ilham, ilham terkekeh melihat wajah cemberut Dira.
sesampainya di rumah, Dira langsung mengantarkan anak-anak ke kamar mereka agar mereka segera beristirahat. sedangkan dia sendiri ingin membereskan baju-baju kotor selama dirumah sakit.
"sayang.. " Teriak ilham dari kamar
"ya mas? aku masih narok cucian nih bentar ya.." jawab Dira setengah berteriak
"Sayang..."
"ck kenapa sih gak sabaran banget, dibilang bentar juga" Dira menggerutu karena ilham terus saja memanggilnya. Setelah meletakkan baju kotor ke mesin cuci Dira segera menemui suaminya itu.
"ada apa mas? sabar kek kan aku lagi narok cucian"
"hehe kok marah sih, aku cuma mau nanya kaosku yang warna abu-abu kamu tarok mana?"
"Ya ampun mas, semuanya ada dilemari"
"Cariin dong sayang"
"hahhh.. yaudah minggir biar aku cari dulu" Dira terus mencari kaos yang dimaksud oleh ilham. padahal sebenarnya ilham hanya mengerjai Dira, kaos yang dimaksud sudah ia temukan sejak tadi tapi disembunyikan di balik selimut.
"kok gak ada ya? perasaan kemarin aku tarok sini" Dira berbicara sendiri sedangkan ilham tengah senyam-senyum melihat Dira kebingungan
"Ada gak sayang?"
"Masih belum ketemu mas, sebentar aku cari di kamar mandi bawah sapa tau ada disana" saat Dira akan meninggalkan kamar mereka, ilham menarik tangan dira hingga jatuh kedalam pelukan ilham. " aww.. mas apa-apaan sih aku kaget tauk"
"gak usah dicari sayang, kaosnya udah ketemu kok" ucap ilham sambil berbisik
"Kamu ngerjain aku ya? ih nyebelin" dira terus saja memukuli dada ilham dan membuat ilham tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Dira.
"Katanya kangen giliran udah dirumah malah ditinggal, emang enak dikerjain"
"ya kan aku cuma narok baju kotor sayang, sebentar ini"
"sudah jangan dipukul terus nanti aku kena serangan jantung gimana? mau jadi janda kamu?"
"ish ngomongnya suka gak di filter" Dira menepuk bibir ilham pelan
"haha iya iya maaf sayang, katanya kamu mau ngasi aku kejutan? mana?"
"Hahaha baru kali ini orang mau dikasi kejutan malah ditagih"
"aku penasaran tauk dari tadi"
"yakin nih? "
__ADS_1