
2 Hari kemudian...
"Apa sudah semua?" tanya pak kurniawan
"Iya yah sudah, Kak aris sama Dimas jadi ikut yah?"
"tentu, kalo mereka tidak ikut bisa-bisa Ayah digantung sama Ibu haha. Nanti kita ketemu sebelum masuk tol dengan Aris dan Dimas, tadi Ayah sudah kabari mereka"
"Apa kalian masih lama ngobrolnya? Aris sama Dimas sudah jalan loh" Teriak mama lia dari mobil membuat ilham dan pak Kurniawan tertawa, mereka segera masuk dan berangkat menuju rumah nenek Tami.
Setelah melakukan perjalanan sekitar 3 jam merekapun sampai dirumah nenek Tami, disana mereka sudah disambut oleh nenek dan kakek.
"Cucu-cucu nenek" ucapnya sambil memeluk mereka satu persatu.
"Nenek apa kabar?" tanya ilham
"Nenek baik nak, Anak-anakmu Juga ikut? waahh rumah ini akan sangat ramai"
"Iya nek, apa tidak apa-apa?"
"tentu saja tidak apa-apa, Mereka sudah menjadi cucu nenek"
"Terima kasih nek, oh ya maaf kita baru bisa mengunjungi nenek sekarang"
"Nenek mengerti kalian pasti disana sangat sibuk, tapi kalian juga jangan melupakan nenek. Yasudah ayo masuk, kalian pasti capek karena perjalanan jauh"
Ilhampun masuk dengan membawa tas berisi pakaian mereka selama disana nanti menuju kamar yang sudah disediakan oleh nenek Tami.
"Lia.. apa kalian sudah makan? kalau belum biar nenek menyuruh ART masak dulu"
"Tidak usah Bu, kami sudah makan di rest area. biar mereka istirahat dulu pasti capek sekali apalagi Dira, dia sedang hamil muda"
"Dira hamil? dan kalian baru memberitahu Ibu?"
"ee.. itu.. maaf Bu kami lupa hehe" Jawab mama lia sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal
"haahhh kalian ini selalu begitu, kalau Ibu tau Dira sedang hamil, Ibu tidak akan meminta kalian untuk kesini. bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kandungannya"
"Dira tidak apa-apa nek, Lagian selama perjalanan kesini kita sering berhenti di rest area agar Dira tidak kecapean didalam mobil" ucap Dira yang baru saja muncul di antara nenek tami dan mama lia
"Tapi Dira .. tidak baik melakukan perjalanan jauh dalam keadaan hamil Cu"
"Sudah.. nenek tidak usah khawatir Dira sudah konsultasi dengan dokternya Dira"
"Baiklah kalau begitu, sekarang kamu istirahat Gih kasian cicit nenek ini pasti capek"
Setelah berbincang-bincang sedikit dengan Nenek Tami, Semuanya menuju kamar masing-masing untuk beristirahat sejenak menghilangkan capek.
__ADS_1
berbeda dengan Zein dan Daren, Mereka sedang main kejar-kejaran dan membuat kegaduhan.
"Ayo kak Zein kejar Daren masak gitu aja capek"
"Kamu larinya cepet banget Daren, liat nih aku sampe keringetan. udah ah aku ngantuk"
"Yaahh kok ngantuk sih Kak, Yaudah Daren mau ngajak Rafa sama Serli aja kalo gitu"
"Ayukkk" Zein dan Daren berlari menuju kamar Rafa dan Serli.
"Rafa... Serli.. main yuuukk" teriak mereka sambil menggedor-gedor kamar Dira dan Ilham.
Dira yang saat itu sedang bersiap-siap untuk tidur pun terkejut mendengar gedoran dipintu kamarnya. iapun bangkit dan membuka pintu.
"Ada apa Zein, Daren?"
"Tante, mana Rafa sama Serli. boleh ya main sama kita?" ucap Zein
"Mereka sedang tidur, apa kalian tidak capek? mainnya nanti aja ya Ponakan tante yang ganteng"
"Yaaah kok tidur sih, gak seru dong" ucap Daren.
"Zein..!!" Teriak Aris
"Ya pa?"
"Tadi Zein sama Daren mau ngajakin Rafa sama Serli maen Pa, tapi kata tante Dira mereka lagi tidur"
"Ya sudah maennya nanti aja, kalian juga harus istirahat. kalian mau sakit? kan kita kesini mau liburan, masa liburannya sakit" Zein dan Daren menggeleng. "Gak mau kan? ya sudah ayo kita juga istirahat karena nanti malam kita mau pergi ke pasar malam"
"Pasar malam om?" tanya Daren
"hm pasar malam, mau tidak?"
"Mau om. kalau gitu Daren mau kekamarnya Ayah sama Bunda aja mau tidur. Dah kak Zein" ucap Daren sambil berlari.
"maaf ya Dira, Zein terlalu aktif"
"Gapapa kak, aku hafal banget sama dia. ya sudah aku masuk ya kak"
"Baiklah.. selamat istirahat adik kecilku"
Dira tertawa mendengar candaan sang kakak Dan mulai menutup pintu kamarnya. Aris menggenggam tangan Zein dan menuntunnya menuju kamar mereka.
Dira berjalan menuju ranjang yang dimana suaminya tengah tertidur pulas memeluk guling dengan bertelanjang dada. Ia naik dengan pelan agar tak menganggu suaminya yang sudah nyenyak.
namun belum juga Dira membaringkan badannya, tangan kekar itu sudah memeluk perut Dira dengan sangat posesif.
__ADS_1
"Anak-anak itu mengganggu saja sayang"
"Aku kira kamu udah nyenyak mas, mereka mau mengajak Rafa dan Serli main"
"Hmmhh aku mendengarnya. tidurlah sayang atau kamu ingin melakukan sesuatu sebelum tidur? "
"Hah? ti_tidak sudahlah ayo tidur aku capek" ilham tersenyum jahil mendengar jawaban Dira kemudian mereka pun tertidur.
Sore harinya Semuanya berkumpul diruang keluarga untuk berbincang-bincang, mulai dari kegiatan sehari-hari hingga rencana masa depan.
"Apa kalian tidak ada yang mau meneruskan usaha kakek disini?" ucap kakek Subagyo
"Bukannya tidak mau kek, tapi kita disana juga punya tanggung jawab, kalau kakek merasa sudah tidak sanggup untuk bekerja kita siap mencarikan seseorang yang bisa dipercaya untuk meneruskan usaha kakek ini" jawab Dimas
"kenapa harus orang lain, Dimas. Hanya kalian harapan kakek, Kakek sangat tidak percaya dengan siapapun kecuali kalian"
"haiihh tenang saja, kita akan menyeleksi mereka sebelum kita berikan tanggung jawab ini" sambung Aris
"Kalau kakek takut ada kecurangan sama usaha kakek, Serahkan sama ilham kek, Mereka yang melakukan kecurangan sama keluarga saya tidak akan hidup tenang diluar sana" jawab ilham
"tuh cucu menantu Papakan seorang polisi jadi Papa percaya saja sama anak-anak, mereka tidak akan memilih sembarang orang. karena ini usaha keluarga jadi mereka akan benar-benar teliti" ucap pak kurniawan
"haaahhh kalian ini selalu seperti itu, Baiklah kakek serahkan semua pada kalian" ucap kakek sambil melipat kedua tangannya didada.
"kakek uyut, Daren boleh bawa kucingnya gak? kucingnya lucu" Tanya Daren yang sedari tadi bermain dengan kucing.
"Heehh jangan kak, nanti gak bakalan dijaga bener-bener sama kamu" Jawab Dimas pada putranya
"Daren jagain pa, plis boleh ya pa?"
"itu punya kakek uyut, kak. masa mau dibawa pulang jangan ah"
"Kalo anakmu suka ya gapapa Dim. apa sih yang enggak buat cicitku ini" jawab kakek Subagyo
"Kakek terlalu memanjakannya, jadi kalo sudah minta sesuatu harus ada deh"
"Namanya juga anak-anak Dim. nanti mereka juga akan mengerti kalau sudah besar haha"
"Ish Ayah, yaudah Daren ijin dulu sama mama. biar mama gak marah"
"Ok pa, makasih kakek, makasih kakek uyut"
"Sama-sama cicit kakek yang manis"
Darenpun berlari menemui Ibunya didapur, karena para wanita sedang menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak nanti untuk makan malam.
Tidak banyak yang harus dilakukan Mama lia dan juga menantunya jika sedang berkunjung kerumah nenek Tami dan kakek Subagyo, Hanya sekedar panen sayur, berbelanja ke pasar dan memasak hasil berpetualang mereka.
__ADS_1