
Tok
Tok
Tok
Ceklek!
"Ya dim?"
"Eh.. anu.. Mmm.. Diranya ada, kak?" Tanya Dimas pada ilham.
"Aduuhh kenapa gue kesini sekarang sih Mereka lagi ahemm ahemm disana dan gue gangguin, harusnya aku bicara besok aja sama Dira jadi gak enak sama kak ilham. bego lu dim. Tapi kan gapapa kan gue kakak iparnya" Dimas berbicara pada dirinya sendiri.
"Ada, Aku panggilin apa mau masuk?"
"Panggilin aja kak, gak enak kalo aku masuk hehe"
"Gapapa masuk aja, aku juga mau ke bawah nungguin anak-anak disana"
"ah baiklah Kak, nanti habis ngobrol sama Dira aku juga akan turun"
"Ok lah"
ilham turun dengan menggunakan kaos pendek dan celana jogger. sedangkan Dimas masih menunggu Dira diluar karena Dira sedang mengganti pakaiannya.
"Diraaa!! Masih lama?"
Ceklek! Dira membuka pintu kamarnya dan segera menemui Dimas yang sedari berteriak.
"Ihh kak dim bawel banget sii, ada apa?"
"Kamu habis anu ya.. " ucap Dimas sambil menautkan dia jari telunjuknya.
"jadi kakak kesini cuma mau nanyain itu? ih gak penting banget" Dira menahan rasa malunya di depan sang kakak
"Enggak sih buka mau nanyain itu, tapi kayaknya kakak datang diwaktu yang kurang tepat. Tapi untung juga kakak gak denger suara-suara aneh dari kamar kamu"
"rese banget sih kak dim, Yauda sekarang kakak mau tanya apa? sampe nyamperin kesini jam segini"
"Mau tanya yang tadi dimeja makan hahaha udah lama juga kita gak ngobrol kan? kamu gak kangen sama kakak kamu yang gantengnya diatas rata-rata ini?"
"Hadehh PD amat! kakak mau tanya masalah Rafa?" tanya dira dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Dimas
"ya sapa tau kakak bisa bantu gitu loh, eh btw capek tau berdiri gini duduk napa"
Dira dan Dimas kemudian berjalan menuju kursi yang ada di balkon rumah
"Ngomong-ngomong gimana rasanya setelah nikah sama kak ilham? apalagi kamu langsung menjadi ibu dari 2 anak"
"Ya enggak gimana-gimana kak, Yang penting ikhlas. Lagian mas ilham juga gak maksa aku untuk jadi istri yang sempurna, ya paling kalo ada yang salah dia ngasih taunya Pelan-pelan"
"Baguslah kalau dia seperti itu, berarti dia bener-bener jagain adik kakak yang manja ini. kalau masalah Rafa?"
"Mm.. mungkin aku sama mas ilham bakalan nyusulin mereka deh kak"
"kalo kamu bisa sih mending gitu tapi apa gak ada masalah sama kandungan kamu?"
"kemarin aku konsultasi sama tante evelyn katanya sih gak papa asal gak stres dan banyak pikiran, Yang aku pikirin cuma satu kak. selama perjalanan kesanakan membutuhkan waktu kurang lebih 7-8 jam aku takutnya bosen"
"ehm... kakak boleh ngasih bantuan?"
"Apa emangnya?"
"gak seberapa sih, palingan juga cuma nitipin kamu sama salah satu orang kenalan kakak"
"Emangnya Dira anak kecil? pake dititipin segala lagian Dira kan sama mas ilham, kak"
"Ya enggak gitu juga Dira, maksudnya tuh nanti selama di perjalanan kamu akan dilayani dengan baik oleh pramugari kenalan kakak ini, atau mau kakak sewakan dokter sekalian?"
"Tapi aku takut mas ilham tersinggung, kak. Nanti dikiranya dia gak mampu jagain aku lagi kalo kakak sampe sewa dokter"
"Enggaklah, nanti aku yang ngomong sama kak ilham. dia pasti ngerti kok tenang aja serahin semua sama kakak. udah ijin sama mama dan ayah?"
"belum, kayaknya mereka udah tidur kak jadi besok aja aku ngomongnya lagian kan kita berangkatnya masih lama"
__ADS_1
Dari atas balkon terlihat sebuah mobil hitam memasuki pekarangan rumah kakek Subagyo, yang tidak lain adalah mobil milik Aries sang kakak tertua.
"Mereka sudah datang, kakak mau kebawah apa kamu mau ikut?"
"aku tunggu dikamar aja kak hehe aku capek tau"
"Haishh baiklah, ingat kamu lagi hamil jadi jangan sering-sering ya hahaha" Dimas lari karena takut mendapat pukulan dari Dira.
"Hiihhh kak dimas!!"
Wleee!!
"Kenapa Dira?!" tanya mama lia dari bawah sana
"hehe Dira berisik ya ma? maaf..itu kak Dimas rese banget ma, mama belum tidur?"
"Mama kebangun gara-gara suara kamu yang 24 oktaf itu, ngapain teriak-teriak tengah malam gini bikin khawatir aja. Kalian kan udah besar masi aja ribut, Tidur Dira gak baik Ibu hamil tidurnya terlalu larut"
"Hee iya ma maaf ya, aku lagi nungguin anak-anak tadi udah tidur kok bentar" jawab Dira ngeles.
"Kamu kenapa nungguinnya diatas, liat tuh Ilham lagi kerepotan gendong Serli"
"haahh?! Iya iya Dira turun nih"
"Pelan! gak usah lari Juga neng"
"Duh mama!! perasaan daritadi Dira salah mulu deh"
"Hihihi mama khawatir kamu jatuh sayang"
Dira menghampiri ilham yang tengah kerepotan membawa barang belanjaan Serli sekaligus menggendong Serli.
"Sini mas biar aku yang bawa ini, ya ampun Serli beli boneka lagi mana segede orangnya"
ilham naik meninggalkan Dira dan Rafa yang tengah mengobrol.
"Tadi om Aries yang beliin Bunda" Jawab Rafa
"Terus kakak beli apa sayang?"
"Ah sweet sekali anak Bunda ini, makasih kak. Kakak sudah makan?"
"Tadi kan sebelum berangkat Rafa sudah makan bun, tapi disana tadi Rafa juga beli pizza mini dan sekarang Rafa kenyang mau tidur"
"tadi kakak makannya dikit jadi Bunda khawatir takut kakak disana kelaparan"
"Bund"
"Ya kak?"
"Malam ini Rafa tidurnya sambil peluk Bunda boleh?"
"Eh Bunda udah ada yang peluk, Ayah!" sambung ilham
Dira menyikut perut ilham karena ia takut mood Rafa berubah lagi setelah 2 hari lamanya irit bicara kepadanya.
"Hehe ayah becanda, kak" jawab Ilham sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Boleh banget sayang, ayo kita tidur"
Merekapun tidur dengan posisi ilham di belakang Dira sambil memeluk Dira dari belakang sedangkan Rafa tidur dipeluk oleh Dira. Besok pagi pasti akan ada omelan dari Serli karena posisi tidur mereka yang sekarang.
Adzan subuh berkumandang, seperti biasa ilham akan bangun lebih dulu dibandingkan Dira. Ia menuju kamar mandi untuk berwudhu setelah itu ilham membangunkan Dira dengan menyipratkan air kewajah Dira.
"Mmmhh mas! iihh rese"
"Jangan keras-keras ngomongnya nanti anak-anak bangun sayang, Ayo bangun ambil wudhu setelah itu kita kebawah sholat berjamaah sama yang lain"
sejak tadi malam Dira tidak merubah posisi tidurnya membuat tangannya kebas.
"auuww tanganku kebas mas sshh" ucap Dira sambil berusaha menggerakkan tangannya
" kamu sih sayang tidurnya gak gerak-gerak, sini aku pijitin"
"nanti kalau aku gerak-gerak Rafanya bangun mas, kasian dia pules banget sampe gak mau dile..."
__ADS_1
niat hati ingin mengelus wajah Rafa, tapi ternyata seluruh badannya panas.
"Eh tunggu mas" Dira mengecek kembali suhu tubuh Rafa, Panas. "Mas, Rafa demam!
"Rafa gak mau, Ayah. Gak mau, yahh" Rafa terus mengigau membuat Dira dan Ilham saling pandang .
"Kak.. bangun sayang. Rafa dengar Bunda kan?" ucap Dira sambil mencoba membangunkan Rafa, namun tetap saja Rafa memejamkan matanya sambil terus mengigau.
"Bunda.. Dingin"
"Tunggu sayang aku ambil kompres dulu kebawah"
" iya mas. apa masih dingin kak?" Rafa mengangguk pelan.
Dira kemudian memeluk tubuh Rafa memberikan kehangatan pada tubuh Rafa. Tubuh Rafa semakin melemah, suhu tubuhnya pun naik.
" Gak mau, Ayah... Rafa mau disini"
"Rafa, Rafa kenapa sayang, bangun sayang. kak ayo jawab Bunda sayang" namun tidak ada jawaban dari Rafa. seluruh anggota tubuh Rafa kaku secara tiba-tiba, bola matanya mendelik keatas namun mulutnya terus saja merintih membuat Dira semakin panik dibuatnya.
"Ya Allah, Rafa!! MAS!!! MAS ILHAM!! Ya Allah nak"
Dira terus berusaha menggendong tubuh Rafa untuk keluar dari kamarnya, saat ia sudah berada didepan pintu ilham sudah ada disana dan mengambil Rafa dari gendongan Dira.
"Mas bawa Rafa kedokter cepat"
"Ada apa Dira?!" tanya mama lia saat melihat putrinya tengah panik.
"Ma, Rafa ma"
mama lia ikut berlari menyusul Dira yang saat itu sangat panik hingga ia lupa bahwa Dira tengah Hamil.
"Ilham cepat letakkan Rafa diteras depan, ini dia lagi step jangan panik nak"
tanpa menunggu aba-aba lagi ilham segera menuruti perkataan mama lia, ia meletakkan Rafa dipaving rumah nenek tami.
beberapa menit kemudian Rafa menangis memanggil Ibunya
"Bunda... "
" ya sayang? bunda disini nak" Dira dengan segera menghampiri Rafa dan memeluknya "Ada yang sakit sayang? mana? kasih tau bunda hm?"
"Rafa dingin Bunda"
"Ini Dira, beri Rafa minum dulu" Dira menerima segelas air yang dibawa oleh Pak Kurniawan dan memberikannya pada Rafa.
"Kita masuk ya, ayo sayang"
"Biar aku aja yang angkat Rafa sayang" ilham mengambil Rafa dari dekapan Dira dan membawanya kekamar mereka.
"M_mas, Rafa gapapakan? apa gak sebaiknya kita panggil dokter aja mas? karena obat Rafa juga sudah habis"
"iya nanti mas telepon dokter, sekarang kita bawa masuk dulu kasian Rafa sayang"
dengan mata berkaca-kaca dira mengikuti langkah suaminya menuju kamar anak-anak.
"Sayang, sudah jangan khawatir" ucap mama lia pada dira yang tampak gugup melihat keadaan Rafa. mendengar suara sang mama, dira lalu memeluknya.
"Rafa gapapa kan ma? Di.. dira khawatir ma" ucap Dira dengan suara yang masih bergetar
"Gapapa sayang it's ok, ingat kata dokter kamu gak boleh banyak pikiran dan harus pikirkan cucu mama ini sayang" jawab mama lia sambil mengelus perut Dira.
tak lama kemudian dokter pribadi Rafa datang bersama dengan asistennya.
"Maaf Pak Ilham saya sedikit terlambat" kata dokter tersebut
" saya mengerti dok, silahkan"
ilham mempersilahkan dokter untuk memeriksa keadaan Rafa yang sudah mulai terlelap.
"Apa obat-obatan Rafa masih sering di minum, Pak?"
"Masih dok, tapi sepertinya ada beberapa yang sudah mulai habis sejak kemarin" jawab Dira segera
" oh tidak apa-apa Bu, mungkin Rafa hanya banyak pikiran akhir-akhir ini bisa jadi itu yang membuat penyakit Rafa kambuh"
__ADS_1