Maaf, Aku Mencintaimu

Maaf, Aku Mencintaimu
Buka Puasa


__ADS_3

"Dira.. panggil semua orang untuk makan malam"


"iya nek"


Dira bergegas menuju ruang keluarga yang mana disana tempat para laki-laki tengah berkumpul setelah melaksanakan sholat isya berjama'ah.


Setelah mendapat panggilan untuk makan malam, mereka semua menuju meja makan tak terkecuali anak-anak yang sejak tadi berisik menagih janji untuk pergi ke pasar Malam.


"kita makan dulu habis itu kalian boleh pergi kemana aja ya cucu-cucu Oma" Ucap mama lia yang berusaha menenangkan cucunya.


"Yeeyyy Ok Oma" jawab Serli


"Rafa sama Serli bentar lagi mau ke luar negeri ya?" Tanya Dimas


"Iya om" Jawab Rafa dengan nada dingin


"waahh enak dong nanti jangan lupa bawa oleh-oleh ya buat Om"


Merasa tidak ditanggapi oleh Rafa, Dimas memberi kode pada Dira dengan menyikutnya. Dira yang berada disamping Dimaspun berbisik.


"Rafa sebenarnya gak mau, karena nanti dia perginya sama Rini bukan sama aku kak"


"Kok bisa?" tanya Dimas heran


"Ngobrolnya dilanjutkan nanti aja Dira, Dimas. sekarang makan dulu jangan ngobrol terus" ucap Kakek Subagyo


"Hehe iya kek" jawab Dira sambil nyengir kuda.


Mendengar perkataan sang kakek, Dira dan Dimas pun melanjutkan acara makan mereka.


15 menit kemudian satu persatu anggota keluarga menyelesaikan makan malam mereka dan kembali ke ruang keluarga.


"Bunda.. aku boleh ikut om aries ke pasar malam?"


"Boleh sayang, tapi bunda gak ikut gapapakan? kalian sama om Aries dan tante Devi ya, jangan nakal! harus nurut"


"Iya Bunda"


"Kak Rafa ikut juga?" Tanya Dira pada anak sulungnya


"Boleh bun?"


"tentu sayang, tapi Bunda"


"Gapapa bun, Bunda gak boleh capek-capek jadi Rafa sama Om Aries aja gapapa. Rafa gak bakalan nakal kok"


"Makasih Kak sudah perhatian dan pengertian sama Bunda, ayo kita ke depan"


Dira menggandeng lengan kedua anaknya menuju pintu depan. disana sudah ada Aries beserta anak dan istrinya.


"Kak Aries.. hehe Titip anak-anak ya, Kak Aries ganteng deh. Diandra biar aku aja yang jagain disini kasian dia juga belum mengerti tempat kek begituan"


"Gak ngerepotin Dir?" tanya Devi


"Enggak sama sekali dong kak, Diandra anaknya anteng ini. kalo nangis tinggal kasi susu kan? aahh itu mah gampang"

__ADS_1


"Makasih Dir, kita gak bakalan lama kok disana. cuma biar kesampaian aja ini anak-anak"


"Ini uang jajan anak-anak kak"


"Gak usah, mereka aku yang tanggung" jawab Aries


"Wooww jadi makin sayang deh sama kak Aries"


"Nyenyenye" Aries Mencebikkan bibirnya mendengar pujian dari sang adik bungsu.


Dira kembali kedalam kamarnya setelah anak-anak berangkat bersama sang kakak.


"Mas, lagi ngapain?" tanya Dira pada suaminya yang sedang memegang ponsel


"gak ngapa-ngapain, ini aku tadi Om Rifan minta solusi sama aku"


"Terus solusi yang kamu kasih apa? "


"Mmm mungkin dengan menemui kevin dulu. aku akan tanya bagaimana kelanjutannya"


"Aku harap kevin mengambil keputusan yang bijak toh dia juga bukan anak tunggalkan? Dia masih punya 2 saudara perempuan yang bisa tinggal dengan orangtuanya"


"hmm semoga saja. sayang.. "


"Hm!?"


"Kamu gak kangen sama..." Ilham melirik kebawah sana


Dira yang mengerti maksud ilhampun tersipu malu, jujur saja selama kurang lebih 2 bulan mereka tidak melakukan hubungan suami istri rasanya ada sedikit keinginan untuk melakukannya.


tanpa aba-aba Ilham menyambar bibir Dira dengan rakusnya, namun tiba-tiba saja Dira mendorong dada suaminya itu.


"Kenapa sayang?"


"Kita dirumah nenek, pintunya dikunci dulu takut ada yang masuk mas"


"Hahhh aku kira kenapa, yaudah aku kunci dulu"


ilham turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu kemudian menguncinya.


perlahan namun pasti, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, ilham menyatukan bibirnya. rasa semanis madu yang selalu memabukkan walaupun sudah berkali-kali ia lakukan tapi baginya Dira itu candu yang selalu ingin lagi dan lagi.


malam ini pemanasan cukup lama ia akan memanjakan istrinya dengan sentuhan-sentuhan nakal yang memabukkan. Hamil membuat Dira sedikit lebih agresif membuat ilham sangat menyukainya.


ia memberikan gigitan-gigitan kecil disetiap titik, memberikan sensasi yang sedikit lebih berani tapi tetap elegan dan menomor satukan kenyamanan istrinya mengingat ia tengah berbadan dua.


"Mas.. " Suara parau Dira dengan napas yang sudah pendek-pendek. "Aahhh"


Suara ******* yang lolos dari mulut mungil Dira itu menandai puncak pusara gelombang cinta mereka berdua.


"Aahhhh mas... eunghh.." Dira menggelinjang ketika sesuatu didalam sana seperti ingin meledak.


"Tunggu aku sayang"


Setelah keduanya merengguk nikmat dan menuntaskan keindahan yang tak terdefinisi memuaskan hasrat yang terpendam sekian lama. ilham melepaskan rudal yang sedari tadi bersemayam dengan perlahan.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, cape ya?" ilham tengah mengecupi bahu istrinya yang masih polos.


"Hmm cape.. aku kekamar mandi dulu mas, takutnya anak-anak nanti keburu dateng tapi akunya masih gini"


"Haha iya sayang, kalau kamu cape gapapa gak usah nunggu mereka datang kamu langsung tidur aja, biar aku yang tungguin mereka" Dira menunjukkan senyum manisnya pada sang suami "Apa kita mandi bareng aja?"


"Hah?! tidak tidak! nanti malah lama, gantian aja" langkahnya terhenti mendengar pernyataan suaminya


"Tapi kita udah lama gak mandi bareng" Belum juga mendapat persetujuan dari Dira, ilham sudah lebih dulu membopong tubuh Dira ala bridal style.


"Ahhh mas nanti aku jatuh" ucap Dira sambil mengalungkan tangannya pada leher Ilham.


"Tidak akan sayang" jawabnya sambil lalu mengecup bibir Dira.


merekapun menyelesaikan ritual mandi bersama, karena mandi di malam hari tidak baik bagi Ibu hamil seperti Dira.


"Sini biar aku bantu keringin rambutnya" pinta ilham


"hmm makasih mas. Ngomong-ngomong kok mereka lama ya mas, Sepi banget gak ada mereka"


"Baru 2 jam yang lalu mereka pergi, gimana nanti pas mereka berangkat"


Mata Dira tiba-tiba berembun saat ilham membahas kepergian mereka 2 hari lagi.


"M_Mas.. Aku boleh gak sih bilang gak rela ngebiarin mereka pergi kesana, egois banget ya aku" ucapnya sambil mengelap air matanya yang mulai mengalir.


ilham memeluk tubuh istrinya yang masih berbalut bathrobe untuk memberi ketenangan.


"wajar saja kalau kamu gak rela, karena sejak mereka kehilangan kasih sayang dari ibunya" ucap ilham sambil mengelus rambut Dira.


"lalu mereka bertemu denganmu yang pada saat itu kamu memberikan perhatian-perhatian kecil yang belum pernah mereka dapatkan hingga akhirnya mereka nyaman berada disampingmu begitupun juga kamu yang mulai terbiasa dengan keberadaan mereka. percayalah mereka juga pasti berat ninggalin kamu disini" lanjutnya


"aku gak tega liat Rafa, akhir-akhir ini Dia menjadi dingin sama semua orang. Mas kita harus lakuin sesuatu" Pinta Dira pada ilham


"Harus gimana lagi sayang?"


"Mas apa kamu tidak bisa ambil cuti 5 hari saja, kita susul mereka sebelum mereka pulang. pliss mas"


"Sayang tapi Kamu?"


"Aku janji gak bakalan stress nantinya, kita juga bisa meminta resep obat atau vitamin sama tante evelyn. lagian bukan tidak boleh, bukan? hanya sebaiknya jangan berarti masih bisa, mas"


"Kita bicarakan dulu sama mama dan ayah, aku takut mereka berpikir kalau aku yang memaksa kamu untuk ikut"


"Yaudah ayo sekarang kita temuin ayah dan mama, mas"


"Sayang ini sudah malam mereka pasti sudah istirahat, besok aja pas kita pulang. Sekarang kamu tidur, mungkin sebentar lagi anak-anak datang" ucap ilham sambil melirik jam.


Tok


Tok


Tok


Ceklek!

__ADS_1


__ADS_2