
keesokan harinya..
saat itu jam menunjukkan pukul 6.00 ilham dan Dira tengah sibuk membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang, selang infus Rafa juga sudah dilepas oleh dokter anggara sejak subuh tadi, kebetulan hari itu dokter anggara tidak pulang karena harus menangani pasien yang akan melahirkan secara caesar.
" Sayang, nanti kesekolah biar Rini yang anter ya" kata Ilham
" aku bisa bawa mobil sendiri mas"
" gak boleh sayang kamu lagi hamil, aku takut kamu kenapa-kenapa"
" Tapi mas.. "
" diantar Rini atau gak usah kesekolah"
"ishh kok gitu, aku cuma gak mau ngerepotin Rini aja mas kantornya dia sama sekolah itu beda arah"
" mas udah hubungi Rini sayang, plis nurut ya "
" iya iya, semuanya udah beres mas"
" biar aku yang bawa ke mobil, kamu jangan angkat yang berat-berat ok"
" Sherly gimana?"
" Tunggu di sini, mas ke mobil taruh ini dulu terus nanti kesini jemput sherly "
ilham membawa barang-barang mereka ke parkiran, sedangkan Dira menunggu ilham kembali keruangan itu.
" sayang, bangun yuk kita pulang" Dira mencoba membangunkan sherly namun sherly tidak bergeming, ia masih setia dialam bawah sadarnya.
karena tak dapat respon dari sherly, Dira tidak lagi membangunkannya karena sepertinya anak itu masih ingin tidur. tak lama setelah itu ilham datang.
" yuk"
" ayo kak"
"iya bun"
" Bisa mas bawa sherly nya?"
ilham mencoba menggendong anak perempuannya yang masih memejamkan matanya meskipun ada guncangan ia masih tidak bergeming.
" Hati-hati mas"
" Sherly manja banget sih, udah gede masih minta gendong ayah"
" dia masih tidur sayang, kasian mungkin dia kecapean"
"kecapean apa bun, dia tidur jam 8 tadi malam. harusnya udah bangun "
" haha gapapa sayang, ayah kuat kok. yakan ayah"
" pastinya dong, jangan remehin ayah, kak"
" sebenarnya ayah gak kuat itu bun, coba lihat udah keringetan tuh hahaha "
" Ayah semangat ya.. ayah pasti bisa" Ucap Dira memberi semangat untuk suaminya itu.
merekapun sampai diparkiran mobil mereka, ilham meletakkan putrinya di kursi belakang bersama dengan Rafa.
" iya mas makasih"
kendaraan mereka mulai Meninggalkan area rumah sakit menuju kediaman Pak kurniawan.
" Kak..nanti bunda sama sherly ke sekolah ya, kakak sama oma dirumah jangan sekolah dulu ok "
" Bunda gak lama kan? langsung pulang kan?"
" Iya sayang langsung pulang kok biar Rafa gak kesepian dirumah"
" Mas, kamu mau bawa bekal?"
" gak usah sayang nanti kamu capek gapapa nanti aku beli aja"
" hmm ok deh"
mereka sampai di halaman rumah, ilham mulai menurunkan beberapa barang yang mereka bawa dari rumah sakit dibantu oleh Pak kurniawan.
" Ilham, hari ini kamu jadi nganterin santi,kan?"
"iya yah habis ini Ilham berangkat soalnya masih ke kantor dulu baru setelah itu ke rumah sakit jemput tante santi"
" Baiklah, Ayo sarapan dulu"
" sepertinya ilham langsung siap-siap aja yah, soalnya ini udah jam 7.00 masih ada apel pagi nanti"
"oh yasudah "
Ilham langsung menuju kamarnya sedangkan Dira masih dikamar anak-anak untuk menyiapkan baju si kecil sherly kemudian dira bergegas kekamarnya juga untuk menyiapkan baju ilham.
sedangkan dimeja makan mama lia keheranan melihat kursi yang kosong.
"Ilham sama dira kemana,yah? kok belum turun?"
" kayaknya mereka tidak akan ikut sarapan ma, soalnya udah siang mereka pasti telat kalau harus sarapan"
" oh yasudah ayah, Papa sama mama sarapan duluan aja, akj mau siapkan bekal untuk ilham dan Dira mereka tidak akan sempat beli kalau sudah kerja "
__ADS_1
mama lia berjalan setengah berlari menuju dapur untuk menyiapkan bekal. 5 menit kemudian bekalpun jadi dan Dira juga ilham keluar dari kamar mereka siap untuk berangkat.
"Ma ,aku gak sarapan hari ini ya aku langsung berangkat" kata Dira
"Iya gapapa tapi tunggu dir" mama lia berlari dari dapur " ini bekal untuk kalian berdua, mama tau kalian pasti gak akan sempat beli makanan nantinya"
" aaa makasih ma, yaudah aku berangkat ya kasian Rini udah nungguin dari tadi "
"ok sayang hati-hati"
tak lupa dira menyalami kedua orangtuanya dan juga kepada ilham.
"Hati-hati rin, jangan ngebut inget Dira lagi hamil" teriak ilham pada Rini.
"iya kak,bawel ih"
mereka semua berangkat dengan arah yang berbeda
sebelum mengantarkan santi, Ilham kekantornya lebih dulu untuk mengurus beberapa hal.
2 jam kemudian barulah ilham bergegas menuju kerumah sakit untuk menjemput santi. disana sudah ada mama lia dan juga nenek tami, sedangkan Pak kurniawan hari ini masih ada meeting diluar. Sebelum pergi tak lupa ilham berpamitan pada mama dan juga nenek mertuanya.
ilham dan santipun berangkat menuju sekolah anak-anak santi. saat berada di dekat sekolah santi melihat kedua anaknya tengah berada di pinggir jalan. ia pun menyuruh ilham untuk berhenti sebentar dan menghampiri anaknya.
" Gavin, leo? kenapa kalian disini sayang?"
Gavin dan leo terkejut melihat mamanya ada di depan mereka.
" Ma..Mama?" kata mereka hampir bersamaan.
" kalian tidak mau menjawab pertanyaan mama?”
" Anu.. itu ma" Gavin kasian jika ia harus berkata jujur kepada sang mama.
" Kita dikeluarkan karena kita belum bayar spp Ma"
"APA?!!!"
"Sebaiknya kita bicarakan ini didalam mobil saja tante biar tidak menjadi tontonan "
Mereka semua masuk kedalam mobil, santi yang masih syok pun menangis.
" Aku memang ibu yang tidak berguna buat kalian, bayar spp saja mama gak bisa huhu" Santi menangis sambil mengelus dadanya.
" Gapapa Ma, kalau Gavin dikeluarin dari sekolah Gavin akan bekerja untuk mama dan papa"
" TIDAK! , kalian harus tetap sekolah dan belajar. biar kakak yang tanggung semuanya. kalau kalian merasa berhutang Budi karena bantuan yang kakak berikan ini, bayarlah dengan prestasi kalian. buat bangga papa mamamu, bagaimana? kalian sanggup?"
" Ma, dia siapa?"
" oh iya kakak lupa memperkenalkan diri kakak. perkenalkan nama kakak, ilham."
" Kak, kakak mau bantu papa kami? tolong sembuhkan papa kami kak" pinta leo pada ilham
" Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, selebihnya serahkan semuanya pada allah. berdoalah pada-Nya minta kesembuhan untuk papa kalian"
Selesai memarkirkan mobil dihalaman sekolah, Gavin, leo dan juga Sinta turun.
dengan badan kekar nan gagah ilham berjalan mendahului Sinta, Gavin dan leo. dia bagaikan seorang pahlawan yang Tuhan kirimkan kepada keluarga Iqbal.
" Assalamu'alaikum " ilham memasuki ruangan kepala sekolah dan disambut dengan baik. sedangkan santi dan anak-anaknya menunggu diluar ruangan
" waalaikum salam, ada yang bisa saya bantu pak?" tanya kepala sekolah
" sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri saya terlebih dahulu" ilham menjabat tangan kepala sekolah yang dipanggil pak Dikta. "perkenalkan nama saya ilham. mulai saat ini saya wali dari murid yang bernama Gavin dan leo. saya yang akan bertanggung jawab atas mereka"
" Baik Pak ilham, saya dikta kepala sekolah disini. silahkan duduk pak. adakah yang bisa saya bantu pak?"
" begini pak, apa benar Gavin dan leo dikeluarkan dari sekolah karena menunggak spp selama 2 bulan?"
" sebentar, saya tidak pernah mengeluarkan statemen itu kepada guru-guru disini, pak. dan saya baru mendengar ini dari anda. boleh saya bertemu dengan Gavin dan leo?"
Ilham berdiri dan memanggil Gavin dan juga leo untuk masuk keruangan kepala sekolah.
" Gavin, leo apa benar kalian diusir dari sekolah? ”
" benar Pak, katanya kami tidak boleh ikut pelajaran apapun karena kami tidak mampu membayar spp kami"
" Siapa yang bilang begitu? tidak apa-apa jangan takut, bapak tidak pernah meminta siapa pun untuk mengusir murid karena telat membayar spp"
" Tapi nanti saya tidak boleh masuk dikelasnya Pak kalau saya memberitahu bapak"
" Tidak akan Gavin, bilang saja. bapak yang akan menyelesaikan semuanya kamu tenang saja, kalau sampai guru itu membully kamu di kelas berarti dia akan berhadapan dengan saya langsung. siapa Gavin?”
" Pak Galih, pak."
" lalu siapa lagi? sepertinya kalau hanya pak Galih tidak akan bisa karena kelas kalian berbeda. Leo, siapa yang mengusir kamu dari kelas?"
" Mmm Itu pak, Bu Ajeng"
" Uwaahhh mereka lagi, baiklah karena bapak sudah mengantongi nama-nama guru yang sudah melewati batas kalian mulai besok sekolah seperti biasa."
" Tolong pantau baik-baik bawahan anda pak, jangan sampai ada Gavin dan leo selanjutnya. oh ya saya mau membayar spp mereka sampai kenaikan kelas, kemana saya harus membayar?"
" Baik Pak, langsung bayar ke saya juga bisa yang penting ada lembar bukti pembayarannys"
" Gavin, leo apa kalian membawanya? "tanya ilham
__ADS_1
" iya kak" mereka berdua mengeluarkan kartu tersebut dan memberikannya pada pak Dikta.
"Biar saya panggilkan ibunya terlebih dahulu pak agar beliau tidak khawatir lagi"
ilham keluar dari ruangan kepala sekolah dan mencari keberadaan santi yang saat itu tengah duduk termenung.
" Tante.. silahkan masuk"
santipun berjalan mengikuti ilham.
" Setelah ini saya mohon kepada anda selaku kepala sekolah agar tidak membatasi Anak-anak yang ingin belajar dengan yang namanya spp pak, sekolah ini adalah sekolah favorit harusnya kejadian seperti ini tidak terjadi disini"
" Baik Pak, sekali lagi saya mohon maaf atas kejadian hari ini"
" Baik kalau begitu saya pamit undur diri Pak, selamat siang"
Gavin dan leo kembali ke kelas dengan diantar oleh Pak dikta langsung. bel pergantian jam pun berbunyi, Ajeng dan Galih tengah tertawa di Koridor sekolah tanpa mereka sadari seseorang dari arah yang berlawanan tengah meredam emosinya dengan pura-pura tersenyum didepan semua siswanya.
"Siang Pak Dikta" ucap ajeng dan Galih
" Siang! Bu ajeng, pak Galih setelah ini tolong datang keruangan saya ada yang perlu saya sampaikan!" dengan nada yang sangat dingin.
tanpa menoleh kearah keduanya, Dikta terus berjalan menuju kelas leo.
" Kok serem ya pak dikta hari ini, biasanya gak gitu"
" lagi ada masalah dirumahnya kali. oh iya bu ajeng tadi saya sempat mengeluarkan salah satu murid di kelas IPA 2"
"Siapa Pak? "
"Gavin, saya denger dari bagian administrasi sekolah katanya dia belum bayar spp selama 2 bulan"
" hahh saya juga tadi mengusir leo, pak. ngomong-ngomong leo sama Gavin kan kakak adik, kok saya baru sadar. gak sudilah saya mengajari anak miskin. spp murah aja masih nunggak gaya-gayaan sih sekolah di sekolah favorit"
" baru kali ini ada yang sampe nunggak 2 bulan ya bu ajeng"
"apa kalian tidak mendengar perintah saya?!!" ucap dikta
ajeng dan Galih terkejut mendengar suara dikta yang tiba-tiba saja berasa dibelakang mereka.
"Maaf Pak, Mari"
ketiganyapun sampai di ruangan dikta.
" Apa yang kalian lakukan pada jam pertama?"
" Saya langsung masuk ke kelas IPA 2, Pak dikta " jawab Galih
" Itu saja?"
"iya Pak itu saja"
"kalau bu ajeng?"
" Saya juga Pak, setelah bel berbunyi Saya langsung masuk ke kelas. kalau boleh tau ada apa bapak memanggil kami berdua"
"Kalian tidak merasa punya salah?"
"mohon maaf Pak, saya tidak tau" jawab ajeng
"Huffffttt...dari dulu sampai sekarang laporan yang masuk ke saya itu ya anda berdua ini"
" Mmm maksudnya pak?"
"Kalian tau? Rata-rata guru disini banyak yang tidak menyukai keberadaan kalian. kenapa begitu? pasti itu kan yang ada di pikiran kalian. biar saya jawab"
Dikta yang tadinya berdiri kemudian dia berpindah ke tempat duduknya dan melanjutkan perkataannya
" Apa benar kalian pernah memotong rambut seorang siswi hanya karena dia telat masuk dijam pelajaran kalian?"
ajeng dan Galih hanya diam tidak berani menjawab.
"lalu apa benar kalian pernah membuang dasi siswa ? kalian juga pernah menampar siswa karena tidak masuk sekolah padahal jelas-jelas siswa itu sudah mengirimkan surat ijin ke sekolah"
mata keduanya membulat karena mereka masih sangat yakin bahwa dikta selama ini tidak tahu tentang kejadian-kejadian disekolah karena sering berada di luar kota tapi sekarang dikta tahu segalanya.
"Kenapa diam? kalian kaget karena saya mengetahui semuanya? saya diam bukan berarti tidak tau, saya hanya memberikan Waktu kepada kalian berdua tapi ternyata kalian semakin menjadi-jadi"
"P-Pak saya minta maaf, saya tidak bermaksud begitu pada siswa saya Pak" tutur Ajeng
" Lalu bermaksud bagaimana? mau memberi efek jera begitu? tapi cara anda salah Bu, saya tau saya disini masih baru makanya saya tidak banyak berkomentar tapi.. tapi apa ini Bu Ajeng?"
dikta menghela nafasnya dalam-dalam.
" apa jangan-jangan kalian sengaja begini agar saya di cap sebagai kepala sekolah yang tidak bertanggung jawab kemudian saya dipindahkan ke sekolah lain? "
" T-tidak Pak, kami tidak mungkin begitu" jawab Galih.
"Sudahlah tidak perlu memasang muka melas kalian dihadapan saya, sekarang yang paling penting bagaimana kedepannya?"
"Saya akan meminta maaf Pak pada anak-anak yang sudah saya perlakukan dengan tidak Baik" sambung Ajeng
" meminta maaf itu memang yang paling penting, tapi kalau hanya sekedar ucapan tapi tidak ada tindakan rasanya percuma. Bu Ajeng dan Pak Galih juga harus meminta maaf kepada wali murid. dan maaf juga saya harus memberikan suatu sanksi pada kalian"
"Apa Pak" jawab mereka serempak
"Saya akan berunding dengan Pak Raymond. kembali keruangan kalian, waktu kalian sudah habis bukan? sudah waktunya pergantian jam pelajaran"
__ADS_1
dengan langkah gontai Galih dan Ajeng keluar dari ruangan dikta. entah benar-benar menyesal atau bagaimana hanya mereka yang tahu.