Maaf, Aku Mencintaimu

Maaf, Aku Mencintaimu
Obrolan Pertama


__ADS_3

"Assalamu'alaikum Dira pulang... " Teriak Dira dari pintu dan disambut dengan senyuman oleh sang mama


"Waalaikum salam, gimana Rini sayang? Sehat? Kok gak diajak kerumah sih kan mama udah lama gak ketemu Rini" Tanya mama lia


"Emm kapan-kapan deh ma, Dira janji bakalan ajak Rini maen kerumah ketemu mama, kasian kan kalo hari ini harus kesini dulu rumah kita gak searah juga ma" Bujuk Dira pada mamanya agar tidak kecewa karena tidak mengajak Rini kerumah. Mama lia hanya mengangguk mendengar jawaban dari putrinya, Dira.


"Dira kekamar dulu ya ma, udah lengket semua ini bentar lagi udah mau maghrib"


"Yaudah sana" Jawab mama lia sambil mengelus lembut rambut Dira.


Dira masuk ke kamarnya untuk bersih-bersih, sedangkan diluar sana pak kurniawan juga baru saja datang dari kantor dan melakukan ritual yang sama seperti Dira (bersih-bersih ya gaes, bukan ritual kayak mau nyantet gitu🤣🤣).


Setelah melakukan ibadah sholat isya berjamaah keluarga pak kurniawan berkumpul diruang keluarga seperti biasa


"Ma, tadi ayah ketemu sama ilham sama anak-anaknya juga, tapi kok istrinya gak ada ya" Ucap pak kurniawan memulai obrolan dengan sang istri.


"Mungkin istrinya lagi gak ikut aja yah, atau mungkin ilham lagi ajakin anak-anaknya beli cemilan atau eskrim kan kita gak tau, terus ayah gak nyapa gitu sama ilham? " Tanya mama lia


"Ya nyapa dong ma, tapi ayah gak berani nanya kemana istrinya, ntar dikira ayah perhatian lagi sama istrinya ilham kan gak lucu ma" Sedikit menggoda mama lia


"Hiiss ayah bisa aja, lagian gak ada salahnya nanya doang, gimana ilham yah sehatkan? Udah lama banget mama gak ketemu sama anak itu, semenjak menikah sampe udah punya anak 2 gak pernah maen kesini, sesibuk itukah seorang abdi negara? " Mama lia sudah menganggap ilham seperti anaknya sendiri.


"Sehat kok malah dia tambah ganteng haha padahal anaknya sudah 2 mungkin bentar lagi 3"


"Emang istrinya hamil lagi yah? " Pak kurniawan hanya mengedikkan bahunya pertanda ia tidak tau menahu tentang hal itu. Obrolan mereka terhenti ketika melihat Dira bergabung diantara mereka dan menyela pembicaraan suami istri tersebut.


" Hay ayah, gimana kerjanya hari ini? Lancar? "


"Yaahh seperti biasalah sayang, ayah akhir-akhir ini merasa cepet capek gak kayak dulu, efek usia mungkin ya, sepertinya ayah butuh pijatan dari anak perempuan ayah " Keluh pak kurniawan mengkode dira agar dira mau memijat bahunya.


"Hmm ayah bisa aja, yaudah deh gapapa sini biar dira pijitin, pasti enak nih yah tapi dira dapet apa nanti habis pijitin ayah?" Candaan nya yang tidak ditanggapi oleh sang ayah membuat dira kesal tapi dengan perasaan penuh kasih sayang nanti lembut ia mulai memijat bahu ayahnya.


Dari awal dira sudah mendengar cerita ayahnya tentang ilham, tetapi dira tidak langsung menghampiri kedua orang tuanya dia bersembunyi dibalik tembok karena penasaran tentang cerita ayahnya. Ketika mama lia mulai membahas kehamilan istri ilham, dira langsung menghampiri kedua orangtuanya dan mengalihkan topik pembicaraan. Jujur, Dira tidak sanggup lagi mendengar cerita bahagia ilham dan istrinya, membuat dada dira sesak meskipun dira memang salah dalam hal ini.

__ADS_1


"Dira, besok sore temenin mama ya belanja bulanan, sekarang kamu istirahat dulu ya sayang" Pinta mama lia


" Ok deh ma, ayah ikut?"tanya dira melirik kearah pak kurniawan


"Ayah besok lembur sayang, kemungkinan ayah pulang jam 7 malam. Pokoknya sampe semuanya selesai baru ayah bisa pulang dengan tenang " Jawab pak kurniawan sembari meregangkan otot.


"Ooohhh yaudah dira istirahat dulu, dira capek banget nii" Dira mengedipkan sebelah matanya kepada sang ayah, pak kurniawan hanya mengangguk sambil tersenyum melihat kelakuan putrinya yang masih seperti anak kecil.


Keesokan harinya


Jam 15.20 (mall)


"Mama ambil keranjang dulu ya nak, tunggu sebentar" Pinta mama lia


2 menit kemudian mama lia datang membawa dia keranjang belanja, yang satu untuk mama lia dan yang satu untuk Dira karena untuk belanja bulanan tidak akan cukup dengan menggunakan 1 keranjang saja. Setelah acara belanja yang cukup banyak dan memakan waktu yang lama, Dira pamit pada mama lia karena merasa ingin ke toilet.


"Ma Dira mau cari toilet dulu ya, nanti Dira tunggu di kursi yang ada disana, pas mama bayar nanti pasti langsung ngeliat dira, ok ma" Seraya menunjuk kursi yang ada di depan loket pembayaran.


" Yaudah sana hati-hati ya"


"Loh ada dira, sendirian aja? " Tanya pria tersebut, dengan reflek Dira mengangkat kepalanya dan melihat seseorang yang tadi menyapanya


Deg....


"Kkaak..kak ilham... " Jawab Dira terbata-bata


"Kirain kamu udah gak ingat sama kakak Dira" Pria itupun tersenyum kepada Dira.


"Silahkan duduk kak" Dira sedikit gugup karena ini pertama kalinya ia mengobrol langsung dengan ilham dan pertama kalinya juga ia duduk bersebelahan seperti saat ini


"Kakak tanya kok gak di jawab dir, kamu sendirian disini? " Tanya ilham lagi


"Oh enggak kak, aku sama mama tapi mama lagi belanja didalem, Dira bosen nemenin mama keliling sana sini gak selesai-selesai" Jawab Dira setengah mengeluh

__ADS_1


"Oh lagi sama tante, ternyata udah lama ya aku gak ketemu kalian, silaturahmi sama om dan tante, kamu juga udah sebesar ini" Kata ilham sambil mengelus lembut rambut Dira seketika membuat Dira menegang, ini pertama kalinya seorang ilham mengelus lembut rambut Dira membuat darah Dira seakan tidak mengalir dengan semestinya.


"Emm iya lah kak... Ma masak Dira kecil terus hehe malah sekarang mama sama ayah sering banget nanyain kapan dira nikah" Jawab Dira sekenanya. Mendengar jawaban konyol Dira, ilham hanya menggelengkan kepala. Dira memang sudah dewasa tapi cara bicaranya masih sama seperti waktu kecil.


"Wajar saja kalo ayahmu tanya kayak gitu dir, kamu kan sudah sarjana tinggal menunggu calonmu saja"


"Ayah, serli udah maennya capek nii, tapi kakak gamau udahan tuh" Ucap anak kedua ilham sambil menunjuk ke arah sang kakak yang nampak masih menikmati setiap wahana.


"Kalo adek capek disini aja sama ayah, ada kak dira juga nih kenalan dong" Ilham mengenalkan dira pada anak perempuannya yang bernama serli


"Ee hay kenalin nama kakak, dira. Kamu serlikan? " Ucap dira seraya mengulurkan tangannya pada serli


" Iya kak namaku serli" Jawab serli ramah.


Saat dira dan serli berkenalan ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka dikejauhan. Mama lia, ia heran melihat interaksi antara dira dan seorang anak kecil tampak begitu akrab. Mama lia memang belum pernah bertemu langsung dengan anak kedua ilham, ilham hanya menunjukkan foto anaknya sewaktu serli masih bayi. Ilham yang melihat keberadaan mama liapun langsung menghampiri dan meraih tangan mama lia kemudian menciumnya dengan takdzim membuat mama lia tersadar dari lamunannya.


"Astaghfirullah, tante sampe kaget. Ya Allah nak kamu kemana aja sihh tante sampe kangen banget sama kamu" Ucap mama lia reflek memeluk ilham, matanya mulai berkaca-kaca terharu melihat ilham yang dulu selalu bersama dengannya tapi ketika ilham memulai hidup berumah tangga, ia mulai menghilang dan tak pernah mengunjungi mama lia di rumah besar.


"Tante.. Maafin ilham, maaf karena selama 8 tahun ini ilham jarang bahkan hampir tidak pernah menemui tante dan om kurniawan"


"Kamu baik-baik saja kan ilham? Jangan menghilang seperti itu tante khawatir, kamu hanya menemui ommu diluar dan tante hanya tau kabar kamu dari om kamu itu, kenapa kalian tega sekali sama tante"


"Tante, besok ilham kerumah tante ya.. Ada yang mau ilham bicarakan sama om dan tante, sekarang aku harus mengantarkan anak-anak kerumah bundanya" Ucap ilham sambil melepas genggaman tangan mama lia


"Iya nak hati-hati di jalan"


"Hey cucu oma udah besar rupanya, rafa harus sayang sama adik serli ya nak, jangan berantem terus. Salam sama bunda rafa" Mama lia mengelus rambut rafa anak ilham.


"Iya oma, rafa pulang dulu ya oma, dadah oma" Rafa melambaikan tangannya pada mama lia


"Ayo ma pulang, sudah semua kan? " Ajak dira yang melihat mamanya masih menatap punggung ilham di kejauhan sana.


"Oh iya sayang ayo, mama sampe lupa kalo kita masih disini" Mama lia terkekeh

__ADS_1


Merekapun pulang. Di perjalanan dira masih memikirkan ucapan ilham pada mamanya tadi


"Rumah bundanya? Apa itu artinya kak ilham sama istrinya tidak tinggal serumah? Tapi kenapa? Ahh dira kamu mikir apasih mereka itukan suami istri mana mungkin mereka tinggal dirumah yang berbeda" Batin dira, ia berusaha menepis pikirannya yang sangat tidak masuk akal itu.


__ADS_2