
Dirumah Shela
sekitar jam 10 Shela baru saja bangun dari tidurnya, semenjak ia berpisah dengan ilham, Shela terbiasa bangun siang. tak ada yang berani membangunkannya meskipun itu Retno sendiri.
Shela berjalan ke ruang makan untuk mengisi perutnya yang kosong.
"Bi, aku mau makan" ucap shela pada sang asisten rumah tangga.
"Baik non, Bibi hangatkan dulu" Shela mengangguk, sembari menunggu makanannya Shela mengecek ponselnya.
"Shela, nanti habis makan kamu packing semua barang yang mau kamu bawa, penerbanganmu sekitar jam 9 malam dan ini tiketnya. sebelum kamu berangkat ke bandara, mama akan pergi lebih dulu agar tidak ada yang mencurigai" ucap Retno
"Terima kasih ma, mama memang selalu bisa diandalkan. aku akan telepon papa untuk meminta uang"
"Iyalah itu harus! jangan lupa bagian mama"
"Iya ma, mama santai aja nanti aku transfer ke rekening mama"
"Ini non makanannya" ucap Bi sari sambil memberikan nampan yang berisi beberapa macam lauk pauk.
"Ok bi, oiya Bibi bisa pulang jam 3 sore nanti karena kami mau keluar kota dan mungkin akan lama"
"satu lagi, Bibi jangan kesini sebelum kami menghubungi bibi kalau ada Ilham atau siapapun menghubungi bibi hiraukan saja" sambung Retno
"Tapi kenapa saya harus menghiraukan telepon dari pak ilham, nyonya?"
"Sudah jangan banyak tanya! kamu ini kan kerjanya sama kami, jadi harus mematuhi perintah kami" ucap Retno setengah membentak
"Baik nyonya, saya permisi kebelakang dulu"
"astaghfirullah mereka merencanakan apa ya? kasian pak ilham kalau sampai mereka melakukan hal yang tidak-tidak. duhh pak ilham maafkan Bibi" Batin Bi sari.
Gerry yang mendengar percakapan mereka tersenyum smirk dan segera melaporkannya pada si bos.
"pantas saja Bos ataupun pak ilham tidak ada yang betah dengan kalian, ternyata kalian selicik ini. Ok nyonya dan nona mari kita lihat apakah rencana kalian akan berhasil" Gerry berbicara sendiri didalam mobil yang selalu standby didepan rumah Shela.
saat ini Rama sudah berada di indonesia, ia sampai di apartemen sekitar jam 4 pagi dan kini ia tengah bersantai dikamar menikmati keindahan diluar sana. ia tampaknya sedang menghubungi seseorang.
"assalamualaikum, bagaimana kabarmu Ilham?" ya, dia sedang menghubungi mantan menantunya itu.
"waalaikum salam Baik pa, papa sendiri bagaimana? apakah belum pulang ke Indonesia?"
"Disini banyak sekali pekerjaan ilham, papa belum bisa pulang" Rama sengaja membohongi ilham agar ilham tak curiga akan kedatangannya yang sangat mendadak.
"Jaga kesehatan pa, jangan terlalu banyak bekerja. bukankah papa mempunyai banyak karyawan yang bisa dipercaya"
__ADS_1
"hahaha tapi kalau papa hanya berdiam diri dirumah yang ada papa sakit sakitan ilham, dengan bekerja tubuh papa rasanya sangat sehat. apa kabar cucu-cucu papa?"
"Mereka baik pa, penyakit Rafa juga sudah tidak sering kambuh. serli sekarang sudah mulai sekolah dia sangat pintar pa"
"oh ya? syukurlah... sepertinya ibu baru mereka merawat mereka dengan baik. sebenarnya papa masih bertanya-tanya perihal masalah yang menyebabkan kalian sampai bercerai tapi itu sudah berlalu jadi papa tidak akan mengungkitnya lagi"
"Ah iya maaf pa, karena ini masalah kami jadi tidak sepantasnya ilham membeberkan keburukan Shela"
"Tidak apa-apa ilham, papa memaklumi itu. Papa juga pernah ada diposisimu. kamu tidak bekerja hari ini?"
"Iya pa ini ilham lagi dikantor"
"Oh maaf papa menganggu ya?"
"Sama sekali tidak pa, ini sudah masuk waktu istirahat. Oiya pa Serli sekarang sedang bersama Shela"
"Hanya Serli? Rafa?" Rama mencoba menjebak ilham dengan pertanyaannya itu
"mm.. kalau Rafa.. dia.."
"Papa sudah tau ilham, jangan menutup-nutupinya dari papa, Shela tidak pernah mau merawat Rafa begitukan? hanya karena penyakit Rafa yang sering kambuh dan menurut Shela itu membuat Shela kerepotan, dia memang keterlaluan. nanti kalau papa sudah di Indonesia papa akan bawa Shela bersama papa, Retno tidak pernah mendidiknya dengan benar" Ilham hanya menyimak perkataan mantan mertuanya itu.
"Sudahlah pa tidak apa-apa, ilham sudah tidak mempermasalahkan tentang Rafa. karena sekarang rafa sudah dirawat oleh perempuan yang berhati malaikat"
"iya pa Terima kasih. assalamu'alaikum".
...****************...
Ilham dan Dira terlihat sedang mengajari Rafa mengaji iqro'. kemudian ilham beranjak dari tempat duduknya, niat hati ingin merebahkan tubuhnya sebentar tapi ternyata ponselnya berbunyi iapun mengangkat telepon tersebut.
"Halo Selamat malam" ucap ilham
"Selamat malam apa benar ini nomor ponsel Pak ilham? mohon maaf mengganggu waktunya, saya orang suruhan pak Rama diminta menghubungi bapak"
" iya dengan saya sendiri, ada apa ya?"
"maaf Pak saya tidak bisa menjelaskannya saat ini, pak Rama meminta pak ilham untuk segera menuju ke bandara. karena nona Shela tengah menuju kesana membawa Serli" tubuh ilham menegang saat lawan bicaranya itu memberitahukan keberadaan Shela beserta Serli.
"Sebentar! maksudnya Shela mau pergi ke luar negeri begitu?"
"Kurang lebih seperti itu pak, mohon untuk segera berangkat sebelum kehilangan jejak nona Shela, saya tunggu di pintu masuk pak ilham"
"Baik saya akan segera kesana, Terima kasih atas informasinya" ilham segera meraih jaket didalam lemari dan mengambil kunci mobil, ia berlari mencari dira.
"sayang! sayang.."
__ADS_1
"Iya mas ada apa? kok kayaknya kamu panik banget"
"mas pergi dulu ya, titip Rafa. nanti mas jelasin setelah sampai rumah"
"mas mau kemana?"
"ke bandara sayang, maaf ya aku buru-buru" ilham segera masuk ke mobilnya dan menancap gas.
dira masih mematung didepan pintu menatap kepergian suaminya yang sangat buru-buru.
"mau kemana sebenarnya mas ilham, kenapa buru-buru sekali sampai tidak mau menjelaskan dulu padaku" ucap dira pada diri sendiri sambil menutup pintu.
"Ilham mau kemana dir?" tanya mama lia yang saat itu berada di dapur
"katanya ke bandara ma, tapi dia tidak bilang mau jemput siapa"
"Mungkin teman kantornya, sudahlah sekarang kamu panggil Rafa ya kita makan malam dulu"
"iya ma" dira melangkah menuju kamarnya.
saat membuka pintu kamarnya dira membelalakkan matanya, betapa terkejutnya dia saat melihat Rafa kejang-kejang.
"ya Allah Rafa! mama! ma!" mama lia yang mendengar teriakan dira, berlari kekamar dira
"Ada apa dira?! ya Allah Rafa! , ayo bawa keluar sayang. it's ok nak jangan khawatir, letakkan rafa ditanah" Dira meletakkan Rafa di tanah depan rumah mereka dan benar saja tubuh Rafa melemas saat menyentuh tanah.
"Ada apa dira? mama?" ucap pak kurniawan. " Rafa kenapa? penyakitnya kambuh lagi? ayo kita bawa ke dokter" Dira dan mama lia hanya mengangguk, pak kurniawan tak kalah paniknya dari Dira, beliau segera berlari menuju garasi dan mengeluarkan mobil.
merekapun membawa Rafa ke rumah sakit, diperjalanan Dira berusaha menghubungi suaminya namun tidak ada jawaban. iapun mengirim pesan pada ilham.
"mas setelah urusanmu selesai, segera pulang. Rafa kambuh lagi dan sekarang ada di rumah sakit citra kusuma" begitulah kira-kira isi pesan dari Dira.
Dira sedari tadi memeluk tubuh Rafa, pantas saja tadi saat belajar mengaji Rafa tidak semangat seperti biasanya wajahnya pucat seperti tidak dialiri darah.
meraka akhirnya sampai di rumah sakit. pak kurniawan meminta satpam untuk mengambilkan brankar dan memanggil dokter untuk menangani cucunya.
"Dokter tolong cucu saya, tadi dia kejang-kejang"
"Baik Pak, mohon tunggu diluar kami akan berusaha sebaik mungkin"
"Apa ilham tidak bisa dihubungi dira?" tanya pak kurniawan
"sudah pa tapi tidak ada jawaban, dira sudah mengirim pesan pada mas ilham. mungkin dia lagi sibuk"
pak kurniawan, mama lia dan dira duduk di depan ICU.
__ADS_1