Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan

Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan
Masih membutuhkan Daddy


__ADS_3

❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Happy reading guys 😘😘😘


Ning Syaqila bingung harus melakukan apa mau beres beres semuanya sudah di kerjakan para pelayan, dia memilih jalan jalan di Mansion, sampai di taman belakang Mansion senyum Ning Syaqila seketika merekah.


Menghampiri tukang kebun, Ning Syaqila meminta pada salah satu Pelayan di sana untuk membelikan berbagai macam bibit Bunga dan buah, dia akan mengusir kebosanannya dengan berkebun.


tidak sampai lima belas menit pelayan datang membawa beberapa bibit buah dan Bunga, meminta tolong dengan sopan pada tukang kebun agar membuatkan tempat untuk Bunganya.


"Masyaallah indahnya." Ning Syaqila terpesona melihat keindahan bunga yang baru dia tanam.


"Tapi apa Mas Edward tidak akan marah aku mengubah tatanan tamannya." guman Ning Syaqila dia lupa tidak berpamitan terlebih dahulu.


Mau menelepon suaminya tapi tidak memiliki nomernya, dia bertanya pada pelayan tapi mereka tidak ada yang punya nomer ponsel pribadi Tuannya.


Ning Syaqila memilih menghubungi Queena, untuk meminta nomer Edward.


"Assalamu'alaikum Queen.." ucap Ning Syaqila.


"Waalaikum salam , Aunty,," balas Queena dengan Nada sedikit menggoda.


"Queen aku boleh minta Nomer telpon Mas Edward tidak?" walau sedikit ragu, pastinya Queena akan kembali menggodanya.


"Kangen sama Uncle ya,,," benar kan pasti Queena akan menggodanya.


"Bu,,kan,, bukan begitu Queen, aku ada keperluan sedikit."


"Kalau kangen ngaku aja kali Qil."


Wajah Ning Syaqila sudah memerah, pipinya memang mudah sekali memerah, di goda sedikit saja pasti langsung memerah.


Terdengar tangisan Baby Zia dari telpon Queena, membuat Queena segera mengakhiri panggilannya.


"Nanti aku kirim nomer Uncle,sudah dulu ya Qil si bocil sudah nangis , Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam." jawab Ning Syaqila.


Melihat ada pesan masuk ternyata Queena sudah mengirimkan nomer suaminya.


Mengambil nafas sebanyak banyaknya Ning Syaqila kemudian menghubungi Nomer telpon suaminya.


Dering ke empat suaminya tidak kunjung menjawab panggilannya, tidak di angkat dia kembali menghubungi nya.


"Halo " ucap Edward dengan nada yang tidak ada ramah ramahnya, Ning Syaqila meremas ponselnya sendiri, dia takut untuk sekedar berbicara pada suaminya.


Mengumpulkan keberaniannya dia mengucap kan salam "Assalamu'alaikum Mas." tidak ada jawaban, di mengulanginya memanggil salam namun tetap tidak ada jawabnya pas di lihat ponselnya ternyata suaminya sudah mematikan sambungan teleponnya.


"Astaghfirullah,,,"


Ning Syaqila kembali menghubungi nomor suaminya, kali ini bukan hanya tidak di angkat, Edward menolak panggilan nya, Tidak pantang menyerah Ning Syaqila kembali menghubungi suaminya, kali ini lebih parah nomer suaminya sudah tidak aktif.

__ADS_1


"Mas,,, " ucapnya pelan.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Queena menggendong baby Zia, putri nya ini kalau urusan menangis memang patut di acungi jempol, dia masih asik asiknya menggoda Ning Syaqila malah putri nya ini menangis.


"Dek,,, Sudah dong nangisnya nak,,, Mommy bingung nih." Queena bingung harus bagaimana putri nya menangis dari tadi tidak mau berhenti, sampai Abi , Umi, dan Gus Azka mencoba menggendongnya namun tetap saja Baby Zia menangis, malahan lebih kencang.


"Nak,, coba kamu hubungi Alzam." Ucap Abi Reyhan.


"Tapi bagaimana kalau dia lagi sibuk bi."


"Hubungi saja nak,,, kasihan Zia dari tadi menangis hidung dan pipinya ini sudah memerah." Umi Maryam juga menyuruh menghubungi Gus Alzam.


Queena mengambil ponselnya menghubungi Gus Alzam, tapi Gus Alzam tidak mengangkat nya.


'Pasti kamu lagi meeting ya by.' ucap Queena dalam hati, semenjak Queena menyerahkan Aqueena Company pada Gus Alzam,Gus Alzam jadi semakin sibuk menangani dua perusahaan sekaligus.


Queena mencoba menghubungi Arvin, karena pasti Arvin sedang bersama dengan suaminya.


"Assalamu'alaikum Vin?" ucap Queena.


"Waalaikum salam Queen." jawab Arvin.


"Kamu lagi sama Alzam gak Vin?" tanya Queena.


"Gus Alzam lagi meeting di dalam."


"Bisa kasih ponselnya sebentar Vin, dari tadi Baby Zia menangis gak mau berhenti."


tidak sampai dua menit terdengar Arvin berkata kalau Queena ingin berbicara.


"Assalamu'alaikum Humaira.."


"Waalaikum salam by,, Baby Zia dari tadi menangis tidak mau berhenti, coba kamu bicara sama dia siapa tahu saja mau berhenti."


Queena mendekat kan ponselnya pada Baby Zia dan mengaktifkan Loundspeek nya . Gus Alzam yang mendengar tangisan anaknya merasa tidak tega.


"Assalamu'alaikum anak sholehah nya Abi, kenapa nak ? sudah ya menangisnya kasihan Mommy nya loh."


Perlahan tangis Baby Zia mereda, membuat semua orang bernafas lega.


Queena memberikan susu pada Baby Zia sambil menggendong nya, Baby Zia tidak bisa jika jauh jauh dari Gus Alzam, dia akan sangat rewel jika Abinya tidak ada di dekatnya,berbeda dengan Abang nya, Baby Zio seolah mengerti dia tidak mudah menangis.


Setelah tertidur Baby Zia barulah Queena mengakhiri panggilannya dengan Gus Alzam.


Dengan perlahan Queena mencoba menidurkan Baby Zia tapi Baby Zia malah menangis kencang lagi.


"Ya Allah nak,,," Queena menimang nimang kembali putrinya.


"Oekkk,,, oekkk,," Baby Zio ikutan menangis mungkin haus.

__ADS_1


"Biar Umi saja nak yang menggendong Zio," Umi Maryam menggendong Baby Zio, sementara Gus Azka membuatkan susunya.


"Nak kamu duduk saja, kalau Zia sudah tidur." Umi Maryam sebenarnya tidak tega pada Queena, mau gantian menggendong Baby Zia , Baby Zia tidak mau di gendong selain Abi dan Mommy nya, jadilah dia hanya membantu menggendong Baby Zio.


Queena menerawang membayangkan bagaimana repotnya Daddy nya merawat dirinya dulu, apalagi dulu Daddy nya merawat dia sendiri tanpa ada seorang istri.


Tiba tiba tanpa di minta setetes air mata jatuh, bagaimana dulu Daddynya harus bekerja dengan membawanya dirinya, dulu dirinya dibesarkan tanpa kasih sayang perempuan, hanya ada Daddy, Abang dan Uncle dalam hidupnya.


Queena jadi rindu sama Daddy nya, setelah acara Aqiqah nya Baby Twins kemarin Daddy dan Abangnya memang langsung kembali ke Paris, hanya menyelesaikan akad Uncle nya , mereka langsung berangkat.


Queena mengambil ponselnya menghubungi Daddynya.


"Assalamu'alaikum Daddy,," ucap Queena setelah melihat Daddynya yang sedang duduk di kursi kerjanya, dapat Queena lihat jika Daddynya kelelahan.


"Waalaikum salam Princess.." jawab Tuan Fredy.


"Kalau capek Daddy istirahat dulu, jangan sampai Daddy sakit."


"Tidak apa apa Princess."


"Daddy pensiun aja ya kerjanya, tinggal sama Queena saja, kan kalau kerjaan ada Bang Malvin Dad."


"Kasihan Abang mu Princess, kalau harus menghendle semuanya sendirian."


"Cucu Grandpa kok tidur di gendongan Mommy nak."


"Baby Zia rewel Dad kalau di tidurin di kasurnya, apalagi sekarang Abinya lagi di kantor jadilah Baby Zia rewelnya tidak ketulungan." keluh Queena.


"Hahahaha,,, dia seperti kamu Princess, dulu saja Daddy harus bawa kamu kemanapun Daddy pergi."


tawa Tuan Fredy.


"Daddy jangan kerja terus, harus banyak banyak istirahat ya,, Queena masih sangat membutuhkan Daddy." mata Queena memerah.


"Iya Princess ini Daddy juga sudah mau istirahat."


"Ya sudah kalau begitu Daddy istirahat dulu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam."


Queen masih memandang layar ponselnya yang sudah mati, dia masih kepikiran Daddy nya.


_


_


_


TBC


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘

__ADS_1



MAMPIR KESINI JUGA YA❤️❤️❤️


__ADS_2