
*******
Happy reading guys 😘😘😘
"Bang Al,," Panggil Maira.
'Deg'
Jantung Maira berdegup kencang karena Gus Alzam mengabaikan panggilannya, Gus Alzam langsung memasuki perpustakaan.
"Kamu berubah Bang?" ucap Maira pelan.
"Hihi,,,,, emang enak dicuekin." Queena berkata dengan pelan,namun masih bisa di dengar Ning Syaqila.
"Sini mbak,,,!" panggil Ning Syaqila pada Maira.
Maira berjalan dengan pelan menghampiri Queena dan Ning Syaqila " kok Bang Alzam berubah ya Qil?." ucap Maira pada Ning Syaqila.
"Apanya yang berubah mbak Bang Alzam kan emang seperti itu." jawab Ning Syaqila.
"Dia cuek sama aku Qil."
"Mungkin Bang Alzam tidak mendengar kali mbak." ucap Ning Syaqila santai.
Queena melirik Maira sinis, dia tidak menyukai tipe perempuan seperti ini.
"Humaira,,,!" panggil Gus Alzam.
"Hm,,,"
"Bang Al,,!" panggil Maira.
Gus Alzam menatap Maira, dia terlihat berpikir "Maira ya,," tebak Gus Alzam.
"Abang tidak melupakan aku kan?" tanya Maira dengan wajah sedih.
"Ingat," jawab Gus Alzam santai, membuat Maira sedikit kecewa.
"Kalau ingat kenapa Bang Al cuek sama aku?"
Gus Alzam menoleh kearah Maira, mengangkat sebelah alisnya "Maksudnya?"
"Tadi aku panggil Bang Al tapi gak nyaut."
"Dimana?"
"Itu di depan perpustakaan Bang."
"Maaf ra,, Abang tidak dengar."
"Abang beneran sudah menikah?" tanyanya.
"Untuk apa kami membohongi mu Ra?, ini istri saya."ucap Gus Alzam memegang tangan Queena.
Queena hanya memperhatikan ingin melihat sejauh mana Maira mampu menarik perhatian suaminya.
"Humaira,,, kamu lelah sayang?" ucap Gus Alzam karena sedari tadi Istrinya itu hanya diam saja.
"Hm,,,"
"Mau pulang Humaira?"
__ADS_1
Queena mengangguk, Gus Alzam tersenyum mengelus kepalanya Queena.
Gus Alzam membawa pulang Queena mengabaikan wajah sedihnya Maira, baginya yang paling utama adalah kebahagiaan istrinya.
"By,,,,, aku pusing,," rengek Queena.
"Mau periksa ke Dokter Humaira?"
"Enggak,,,peluk" ucap Queena dengan nada manja.
"Manjanya istriku." Queena duduk di pangkuan Gus Alzam kepala nya menyandar di bahu Gus Alzam.
"Jagoan Abi,,, gak mau jauh jauh dari Abi,, jangan nyusahin Mommy ya sayang." Gus Alzam mengelus perut Queena sambil mengajak bicara anaknya.
"Kepala ku rasanya pusing by,," rengek Queena.
Gus Alzam dengan sabar memijit kepala Queena dengan lembut.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Tidak terasa tujuh bulan berlalu, usia kandungan sudah memasuki bulan ke delapan,perutnya sudah buncit, Gus Alzam menjadi suami siaga, hubungan mereka semakin romantis saja, Queena yang sangat manja dan Gus Alzam yang selalu memanjakan nya.
Saat ini Gus Alzam dan Quenna sedang jalan jalan di sekitar pesantren, Queena yang sedang hamil besar di anjurkan untuk sering sering bergerak agar mempermudah persalinannya.
"Sudah capek Humaira?" tanya Gus Alzam.
"Tidak by,, kita duduk di taman itu ya by."
"Ayo Humaira,,"
Queena memperhatikan disana banyak anak anak yang sedang bermain bersama orang tuanya, tanpa bisa di cegah air mata Queena menetes.
"By,,,, jika nanti aku harus pergi, aku mohon kamu jaga anak kita, sayangi dia , jangan biarkan dia kekurangan kasih sayang, jaga dia seperti Daddy menjaga aku walau tanpa Mommy." pikiran Queena menerawang, membayangkan bagaimana jika nanti dia tidak dapat bertahan saat melahirkan, jujur, dia teringat akan Mommy nya yang meninggal saat melahirkan dirinya.
"Tidak by,,, tidak ada yang tahu takdir."
Melihat istrinya menangis Gus Alzam segera memeluknya, hatinya begitu sakit mendengar ucapan Istrinya.
"Humaira,,,, kita pasrahkan semuanya pada Allah, jangan terlalu memikirkan persalinan, istri ku ini adalah wanita hebat jadi pasti bisa melahirkan anak kita dengan selamat."
"Semangat terus Humaira,,, ingat Allah selalu bersamamu jangan biarkan setan menakuti mu, perbanyak sholawat minta syafaat pada baginda nabi."
Tidak hanya sekali dua kali Queena menangis karena takut tidak bisa melahirkan anaknya dengan selamat, hampir setiap hari dia menangis memikirkan itu.
Gus Alzam jadi ragu untuk meninggalkan istrinya untuk urusan bisnis, jika saja bisa di wakilkan pastinya dia akan menyuruh Arvin menggantikannya.
"Humaira,,, aku batalkan saja ya keberangkatan ku ke Paris." ucap Gus Alzam.
"Jangan by, bagaimana kalau aku ikut saja." usul Queena.
"Aku tidak mau ambil resiko Humaira, aku tidak mau membahayakan kamu."
"Ihh,,,,tapi aku tidak mau pisah sama kamu by,,"
"Humaira,,, aku hanya sebentar sayang"
"Ya sudah kamu batalkan saja keberangkatan kamu by."
"Baiklah Humaira aku batalkan saja."
Gus Alzam mengambil ponselnya menelpon Arvin, dan langsung saja di angkat sama Arvin.
__ADS_1
"Halo Assalamu'alaikum Vin." ucap Gus Alzam.
"Waalaikum salam Gus, ada apa tumben nih nelpon."
"Aku mau kamu batalkan keberangkatan aku ke Paris besok."
"Tapi Gus, kenapa di batalkan ini demi kemajuan perusahaan, dari dulu kita menantikan tapi saat kesempatan malah di sia siakan."
"Aku tidak bisa meninggal kan Queena vin."
Queena merampas ponsel Gus Alzam "Vin jangan batalin." ucap Queena.
Memang sekarang Queena dan Arvin sudah agak akur, jarang bertengkar seperti dulu, Queena sekarang sudah lebih menerima keberadaan Arvin sebagai sahabat suami nya.
"Lalu lo gimana Queen?" tanya Queena.
"Gue gak apa apa kok Vin." Queena langsung mematikan ponsel Gus Alzam.
"Tapi aku tidak bisa ninggalin kamu Humaira,aku khawatir, takut kamu kenapa napa." ujar Gus Alzam.
"Aku akan tinggal dengan Uncle Edward by jadi kamu tidak usah khawatir." ucap Queena,dia lebih memilih tinggal dengan Uncle Edward karena Tuan Fredy dan Malvin sedang mengurus perusahaan mereka yang ada di Paris.
"Memang Uncle Edward gak ada kerjaan Humaira?" tanya Gus Alzam.
"Kerjaan Uncle kan hanya memberi makan Pedro by." jawab Queena.
"Emang kamu pikir Uncle Edward pengangguran Sayang"
"Haha,,, Uncle Edward lebih parah dari pengangguran."
"Baiklah baiklah kamu hubungi dulu Uncle Edward." ucap Gus Alzam.
"Pinjam ponselnya by, aku gak bawa."
Queena menghubungi Uncle Edward menggunakan ponsel Gus Alzam " Holla,,!"
teriak Queena saat panggilan nya diangkat sama Uncle Edward.
"Salam dulu Humaira,," peringat Gus Alzam.
"Hehe,,, lupa by, Assalamu'alaikum Uncle tampannya Queena." ucap Queena dengan nada manja.
"Waalaikum salam princess kecil nya Uncle."
jawab Uncle Edward diseberang telpon.
"Ihh,,, Uncle Queen udah besar loh,," teriak Queena.
"Masak sih, tapi kok masih cengeng ya,,," Uncle Edward menggoda Queena.
"Queen gak cengeng ya Uncle."
"Tuh,,,tuh,,, pasti sekarang matanya sudah ber kaca kaca." Uncle Edward semakin menggoda Queena.
_
_
_
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘
Tungguin part selanjutnya ya❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️