Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan

Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan
Mafia cantik penakluk Gus tampan


__ADS_3

********


Happy reading guys 😘😘😘


'Byurrr,,,,'


"Bangun Bodoh,,,!" bentak Uncle Edward.


Fatimah, Marko , Clara dan Mike sudah tidak punya tenaga, bahkan hanya untuk bersuara, terlalu banyak siksaan yang mereka terima.


"Kalian tidak berubah bisu kan?" tanya Uncle Edward sinis.


Dengan tanpa perasaan Uncle Edward meletakkan timah panas di tangan mereka.


"Akh,,,,," teriak mereka.


"Ternyata kalian tidak bisu, saya pikir kalian bisu."


Uncle Edward memanggil bawahannya menyuruh nya agar menyerahkan mereka pada kepolisian.


"Membosankan,, begitu saja sudah lemah." ucap Uncle Edward setelah tawanannya di bawa.


Dia duduk termenung sendirian membayangkan senyum seseorang yang mampu menggetarkan hatinya.


"Seperti nya aku harus lebih berusaha."


Gumamnya.


**********


Queena menatap pemandangan belakang rumahnya ,dia berdiri di pembatas balkon kamarnya.


Dia merentangkan tangannya menikmati angin sore yang begitu menyejukkan,tiba tiba ada sebuah tangan yang memeluknya dari belakang.


Queena tersenyum karena dia tahu pasti pelakunya adalah suami tercintanya.


"Aku tidak pernah menyangka jika bisa menikah dengan seorang yang agamis apalagi seorang Gus, tidak pernah terlintas di pikiranku."


Gus Alzam tersenyum "Itulah jodoh Humaira, tidak ada tahu, aku pun sama tidak pernah berpikir akan menikah dengan seorang mafia cantik."


"Hahahaha,,,,, lucu ya by,, Mafia cantik penakluk Gus tampan." Queena tertawa.


"Hahaha,,, " Gus Alzam ikut tertawa.


Gus Alzam melepaskan pelukannya dia duduk di sofa yang tersedia di balkon kemudian dengan pelan mendudukkan Queena di pangkuannya.


"Kamu kok bisa tahu sih by kalau aku ini seorang Mafia?" tanya Queena.


"Aku cari tahu Humaira,, aku hampir kena serangan jantung saat tahu istri mungilku ini seorang Mafia."


"Haha,, tapi sekarang kan udah bubar."


"Alhamdulillah,,, aku bersyukur akan itu."


"Kamu tampan by" puji Queena.


"Batu sadar?"


"Hehe,,, enggak sih, kalau gak tampan mana mungkin aku ngejar kamu."


"By,,," rengek Queena.


"Apa Humaira,,,"

__ADS_1


"Pengen rujak Mangga."


"Besok saja ya Humaira kamu kan baru sembuh."


"By,,,,"


"Sayang nanti kalau Baby kenapa napa bagaimana?"


Queena berpikir setelah itu mengangguk.


Keesokan harinya Gus Alzam sudah berangkat ke kantor awalnya Queena juga ingin ke kantor tapi Gus Alzam melarangnya, karena takutnya nanti kecapekan.


Queena yang memang pada dasarnya gak bisa diem, dia pergi ke asrama putri, karena masih jam sekolah jadi suasana lagi sepi.


Queena berjalan dengan santai " Oh indahnya hidupku,, hidup bersama mu,,, dan malangnya dirimu hanya bisa melihat saja,, haha,,,, mari kita rayakan hari bucinnya Queena."


bernyanyi gak nyambung.


Queena berjalan ke tempat favoritnya, dia dengan santai duduk di atas pohon mangga, dia memperhatikan halaman ndalem.


"Ada apa ya,,, kok rame rame." Queena sedikit kepo.


"Dari pada penasaran lebih baik aku samperin aja lah, dari pada aku mati penasaran."


Queena segera turun kemudian berjalan menuju ndalem saat ingin mengucapakan salam langkahnya terhenti mendengar percakapan orang orang di dalam.


"Walau sebenarnya aku kecewa bi, aku ikhlas kok, tapi biarkan aku mengabdi di pesantren ini." ucap seorang gadis yang kira kira ber usia sekitar dua puluh tiga tahun.


"Kami selalu menerima kamu nak, dari kecil kamu sudah di anggap bagian dari keluarga ini." Suara Umi Maryam begitu lembut.


"Andai saja aku cepat pulang pasti Bang Alzam gak nikah sama orang lain." ucap gadis itu dengan nada sedih.


"Mbak pasti bisa mendapatkan pria yang lebih dari Bang Alzam." ucap Ning Syaqila.


"Assalamu'alaikum " ucap Queena.


Queena memperhatikan gadis yang memakai gamis hijau pakaian nya begitu syar'i, apakah ini adalah Ning Fatimah yang kedua pikir Queena.


"Queen nak sini,," panggil Umi Maryam.


"Kenalkan nak ini namanya Almaira panggil Maira saja nak, dan Maira ini Queena istrinya Alzam." Umi Maryam mengenalkan Queena dengan gadis yang bernama Almaira itu.


"Maira,," Maira mengulurkan tangannya.


"Queena,," balas Queena dengan senyum manisnya.


"Kamu sudah sehat nak, ?" tanya Abi Reyhan.


"Udah kok bi, bosan juga kalau harus berdiam terus dirumah." jawab Queena.


"Kamu mau makan apa nak, atau ingin sesuatu?" tanya Umi Maryam dengan lembut.


"Lagi gak pengen apa apa mi, hanya bosan saja sendirian di rumah."


"emang kamu tinggal dimana Queen?" tanya Maira.


"Queena tinggal dirumah yang dibangun Alzam ra"


"Oh,,, begitu mi, dulu Alzam memang pernah berkata kalau saat menikah akan tinggal dirumahnya sendiri, biar lebih mandiri katanya."


"Yasudah kamu istirahat dulu ya ra, kamar nya masih tetap yang dulu." ujar Umi.


"Iya Makasih ya mi." Maira pergi menuju ke kamar yang memang dari dulu disediakan untuk dirinya.

__ADS_1


"Mbak Maira itu adalah anak dari sepupu Umi Queen, makanya dia dekat dengan keluarga ini, dia baru saja menyelesaikan pendidikannya di kota sebelah." Ning Syaqila menjelaskan pada Queena siapa Maira takutnya nanti jadi salah paham.


"Oh,,,,"


"Qil bosan, jalan yuk" ajak Queena.


"Kemana Queen ?" tanya Ning Syaqila.


"Kemana aja " jawab Queena.


"Tapi kan kamu di larang keluar sama Bang Alzam." ujar Ning Syaqila.


"Tenang aja ,nanti aku pamit kok."


"Keluar tanpa pamit sama suami itu dosa loh Queen."


"Aku akan pamit kok Qil ."


"Baiklah tapi sekitaran sini saja ya." Ning Syaqila menyetujui keinginan Queena.


Setelah berpamitan pada Abi dan Umi, Queena dan Ning Syaqila pergi jalan jalan di sekitar pesantren.


Saat sampai di luar pesantren Queena melihat sebuah mobil yang seperti di kenalnya.


Queena menarik tangan Ning Syaqila menuju ke mobil tersebut, ternyata benar itu adalah mobil Uncle nya.


"Uncle,,,!" teriak Queena.


Uncle Edward yang sedang membeli gorengan pada seorang nenek nenek menoleh mendengar suara Ponakannya.


"Princess,,," ucap Uncle Edward.


"Nak uangnya ini terlalu banyak." ucap Nenek tua itu pada Uncle Edward.


"Nenek ambil saja Uncle saya ini kelebihan uang kok." ujar Queena pada Nenek tua itu.


"Alhamdulillah,, makasih ya nak, semoga rezekinya makin lancar." Nenek tua itu berterima kasih.


"Akhirnya nenek bisa membeli beras." ucap Nenek itu air matanya hampir menetes.


Queena tercengang sudah setua itu tapi masih bekerja dan itu untuk makan.


"Anak Nenek kemana, Kenapa nenek masih bekerja?" tanya Queena.


"Anak nenek meninggal karena kecelakaan, sekarang nenek hanya tinggal dengan cucu nenek yang berusia dua tahun." jawab Nenek itu, Queena menangis dia tidak tega pada nenek itu.


Queena mengambil dompet Uncle Edward di saku celananya kemudian mengambil semua uang cash yang ada di dalamnya memberikan pada nenek tua tersebut.


"Nek ambil ini, buat kebutuhan Nenek, buat beli susu cucu Nenek."


"Tidak usah Nak ,ini sudah cukup" Nenek tua itu memperlihatkan uang yang diberikan Uncle Edward.


"Ambil saja Nek, do'akan semoga keponakan saya ini di berikan kesehatan sampai melahirkan ya,," Ucap Uncle Edward.


"Terimakasih ya nak,, kalian orang baik semoga diberikan kesehatan anak sama ibunya sampai melahirkan, dan semoga di jauhkan dari segala bahaya,"


"Amin,,," ucap Queena, Ning Syaqila dan Uncle Edward.


_


_


_

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘


__ADS_2