
*******
Lima bulan berlalu, begitu pula dengan pernikahan Gus Alzam dan Quenna, tidak terasa pernikahan mereka sudah berjalan lima bulan.
Sudah banyak perubahan terutama pada seorang Queena, sekarang dia sudah Istiqomah memakai hijab , sudah lebih baik dalam mengontrol emosi.
Belum ada pergerakan lagi dari Ning Fatimah dan orang misterius itu, dia tetap bekerja di perusahaan Gus Alzam.
"Adduh,,, kenapa gue bisa secantik ini ya,,?" Tanya Ella pada dirinya sendiri sambil bercermin di ponselnya.
"Jam kerja jangan berisik " tegur Ning Fatimah.
Walau sudah lima bulan berlalu Ella tetap tidak akur dengan Ning Fatimah atau dengan Arvin, mereka masih sama seperti tikus dan kucing.
Ning Fatimah sebenarnya sudah muak bersikap pura pura baik ,namun karena misinya dia harus melakukan melakukan itu.
" Iri aja lo dengan kecantikan gue." balas Ella.
"Fatimah,, saya mau keluar jika ada tamu katakan untuk kembali besok!" ucap Gus Alzam pada Fatimah yang baru keluar dari ruangannya, mengapa dia tidak bilang pada Ella?, karena Kalau dia pulang sudah pasti tu bocah ikut pulang, kerjaan diakan hanya menjaga Gus Alzam dari Ning Fatimah.
"Baik pak." jawab Ning Fatimah sopan.
memang sejak hari itu sikap Ning Fatimah berubah baik, membuat semua orang mempercayai nya kecuali Queena dan Ella.
"Gak usah pura pura baik deh lo." ketus Ella.
Ning Fatimah diam melanjutkan pekerjaannya
mengabaikan Ella, sementara Ella sudah membereskan barang barang nya dia akan segera pulang sudah bosan dia duduk.
Queena Duduk sendirian di caffe menunggu kedatangan suaminya, dia janjian makan siang bersama, sekarang dia hanya Fokus pada urusan kantor dan keluarganya, urusan Black Diamond dia serahkan pada Alonzo.
Bukan dirinya tidak tahu jika Ning Fatimah bekerja sama dengan seseorang untuk menghancurkan nya. Namun, dia sengaja membiarkan nya.
"Assalamu'alaikum Humaira,,"ucap Gus Alzam yang baru datang.
"Waalaikum salam by" balas Queena mencium tangan Gus Alzam, Gus Alzam mencium kening istrinya.
"Sudah pesan sayang?" tanya Gus Alzam.
"Belum, nungguin kamu."
"Kenapa tidak pesan duluan saja sih Humaira."
"Pengen saja." jawab Queena.
Gus Alzam mengusap kepala istrinya.
"By,, nanti jadi gak katanya mau ngajak aku ke suatu tempat?"
"Jadi dong sayang."
Semakin hari hubungan mereka semakin romantis saja, Gus Alzam yang selalu sabar dengan tingkah istrinya, mengajarkan dengan pelan tentang Islam pada istrinya.
Di dalam mobil Queena memainkan ponselnya dia sedang chat an dengan salah satu anak buahnya.
"Humaira,," panggil Gus Alzam.
"Apa by?" tanya Humaira memgalih kan pandangannya menatap Gus Alzam dengan senyum teduhnya.
"Kapan kamu akan memberhentikan Ella ?" Tanya Gus Alzam.
__ADS_1
"Kenapa memang by?" tanya balik Queena.
"Untuk apa kamu menyuruh Ella menjaga Ning Fatimah sih"
"Biar si Jal*ng tidak macam macam saja sih." jawab Queena.
"Humaira,, berhenti panggil Ning Fatimah jal*ng sayang, dia itu usianya lebih tua dari kamu loh,jadi kamu harus menghormatinya."
Queena tersenyum miring, suaminya sudah mulai percaya dengan ekting si jal*ng.
"Apakah aku harus menghormati seorang yang berniat merebut suamiku?"
"Humaira,, jangan terus ber seudzon dengan Ning Fatimah, dia sudah berubah kok, buktinya selama lima bulan bekerja tidak sekalipun dia menggodaku, atau bersikap kurang ajar."
'Itu hanya di depan kamu by.' ucap Queena dalam hati.
"Kalian kan ipar jadi harus akur ya.."
"Hm,,," Queena hanya membalas dengan deheman saja dia terlalu malas jika harus membahas si Jal*ng.
"Kita mampir disini dulu ya,," Gus Alzam menghentikan mobilnya di depan sebuah supermarket.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Queena.
"Kita belanja buat oleh oleh sebentar."
jawab Gus Alzam.
Queena mengeddikan bahu, dia terlanjur bad mood gara gara tadi.
"Aku tunggu di mobil saja." ucap Queena.
Gus Alzam tahu kalau istrinya itu kesal gara gara tadi dia membahas Ning Fatimah, bukan maksud dirinya untuk membela Ning Fatimah, tapi dia hanya ingin istrinya menjadi orang yang lapang dada,tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Bagasi mobil Gus Alzam sampai tidak muat saking banyaknya belanjaan Gus Alzam.
"Buat apa sih belanja sebanyak itu?" tanya Queena saat Gus Alzam memasuki mobilnya.
"Nanti kamu akan tahu sendiri Humaira, ini aku belikan es krim, biar mood nya kembali."
Gus Alzam memberikan Es krim cup ukuran besar.
"Kamu nyogok aku pakai Es krim?"
"Anggap saja begitu." goda Gus Alzam.
Queena menerima Es krim itu dan langsung memakannya dengan lahap.
"Mau? " tawar Queena pada Gus Alzam.
"Tidak kamu saja Sayang." tolak Gus Alzam.
Namun Queena tetap menyodorkan se sendok es krim pada Gus Alzam.
"Enak ?" tanya Queena.
"Hm,, rasa Es krim." jawab Gus Alzam.
"Iya lah by,, masak rasa gorengan."
"Haha,,,," tawa Gus Alzam.
__ADS_1
Queena terus menikmati es krim sambil sesekali menyuapi Gus Alzam.
"Masih lama ini by?"
"Sebentar lagi Humairah."
Sampai di sebuah bangunan besar bertuliskan panti asuhan Kasih Bunda Gus Alzam menghentikan mobilnya.
"Sudah sampai Humaira yuk turun." ajak Gus Alzam.
"Ini apa by? " tanya Queena.
"Ini panti asuhan sayang."
Gus Alzam terus menggandeng tangan Queena sampai ke dalam panti Asuhan.
"Assalamu'alaikum,,," ucap Gus Alzam
"Waalaikum salam,,"
"Eh,,, Nak Alzam, apa kabar nak?" sapa Seorang wanita paru baya.
"Alhamdulillah buk, kenalkan ini istri saya." Gus Alzam memperkenalkan Queena.
"Masyaallah cantiknya kamu nak ,kenalkan saya ibu Tiwi , pengurus panti Asuhan ini."
"Saya Queena buk."
"Ayo duduk dulu nak." ajak bu Tiwi pada Gus Alzam dan Quenna.
"Iya buk."
Mereka duduk di sofa tempat husus tamu di Panti asuhan ini.
Gus Alzam adalah donatur tetap di panti asuhan ini,dia adalah orang yang terkenal dengan kedermawanannya, dia bukan hanya menyediakan tempat tinggal untuk mereka tapi dia juga menyediakan sekolah gratis untuk mereka, dari tingkat PAUD sampai ke jenjang perguruan tinggi, bahkan kebanyakan karyawan di perusahaan AZ company adalah anak yatim piatu.
Gus Alzam mengajak Queena berkeliling Panti asuhan itu "By kamu sering kesini?" tanya Queena.
Queena bertanya seperti itu, karena setiap penghuni panti asuhan ini pasti mengenal suaminya.
"Aku kesini hanya saat ada waktu luang saja Humaira." jawab Gus Alzam.
"Abi,,,!" teriak salah satu anak kecil yang usianya kira kira masih dua tahunan.
"Panggil salam dulu nak." ucap Gus Alzam lembut pada anak kecil itu.
"Accalamu alikum Abi,," ucap anak kecil itu dengan gaya cadelnya.
"Waalaikum salam anak sholeh." jawab Gus Alzam mengangkat anak itu kedalam gendongannya.
_
_
_
TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘
Alhamdulillah,,, masih diberi kelancaran 😘😘😘
__ADS_1
Makasih buat kalian atas dukungannya 🥰🥰🥰