Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan

Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan
Bumbu rujak


__ADS_3

******


Tuan Fredy dan Malvin duduk berdua di ruang keluarga.


"Sepi ya Dad kalau tidak ada Queena." ucap Malvin.


"Biasanya jika ada Queena , pasti ada ada saja tingkah anehnya." lanjut Malvin.


"Lagi apa sekarang Princess ya vin?"


"Semoga saja dia tidak membuat ulah Dad." ucap Malvin yang begitu paham dengan adiknya, kalau sehari saja tidak membuat olah rasanya gatel.


"Pasti Alzam kuwalahan ngadepin tingkah abnormal nya Queena,haha,," tawa Malvin.


"Daddy harap semoga saja Alzam bisa merubah Queena, kalau hanya tingkah anehnya tak apa, sebenarnya Daddy ingin Queena berhenti jadi leader Black Diamond, itu terlalu berbahaya buatnya." ujar Tuan Fredy.


"Malvin harap juga begitu Dad, "


"Sepertinya keluarga Alzam begitu menyayangi Queena, hanya iparnya itu seperti tidak menyukai Queena." lanjut Malvin.


"Wajar saja dia tidak menyukai Queena, Queena kan yang menggagalkan pernikahannya dengan Alzam." ujar Tuan Fredy.


"Dan yang Daddy lihat walau dia sudah menikah dengan Gus Azka tapi dia masih mencintai Alzam." lanjut Tuan Fredy.


"Iya sih Dad, semoga Princess baik baik saja," ucap Malvin.


"Haha,,,," tawa Malvin dan Tuan Fredy.


"Sepertinya Dad kita terlalu menghawatirkan Princess, yang ada keluarga Alzam akan dibuat repot oleh tingkahnya, apalagi Ning Fatimah pasti akan menjadi sasaran ke jahilan Queena."


Mereka berdua bercerita, membayangkan bagaimana repotnya Alzam menghadapi tingkah Queena, keluarga Gus Alzam kenal Queena baru beberapa bulan , jadi belum tahu bahwa tingkah Queena Abnormal.


********


"Humaira,, kamu harus dihukum." Ucap Gus Alzam saat sudah sampai di rumah mereka.


"Apa?" Jawab Queena dengan tanpa rasa bersalah.


Gus Alzam yang gemas dengan istrinya, mencubit pipinya "Ihh,,, lepas bisa melar pipi gue kalau lo tarik tarik terus."


"Bahasanya Humaira,,!" tegur Gus Alzam.


"Habisnya kamu sih ,," mengerucutkan bibirnya.


"Mau kemana Humaira?" tanya Gus Alzam melihat istrinya berdiri.


"Ambil pisau." jawab Queena.


Queena kembali dengan membawa pisau " By kita ke rumah Umi yuk." ajak Queena.


"Mau ngapain Humaira?" tanya Gus Alzam.


"Mau minta buatin bumbu rujak."


"Buat sendiri aja di dapur semuanya sudah tersedia."


"Hm,, baiklah."


**********


Di ndalem Umi menemui Abi di kamarnya kemudian menceritakan kejadian tadi membuat Abi Reyhan tidak berhenti tertawa.


"Ya Allah mi,,, ada ada saja kelakuan menantu kita itu." ucap Abi Reyhan.


"Tapi aku hawatir bi.. takut Alzam benar benar menghukum Queena." ujar Umi Maryam.


"Kita susul saja kerumahnya yuk." lanjut Umi Maryam.


"Ayo mi" Abi Reyhan menyetujui ajakan Umi Maryam.


"Mau kemana mi?" tanya Ning Syaqila melihat Abi dan Uminya mau keluar.


"Mau kerumah Abang mu Qil."


"Qila boleh ikut tidak mi?"

__ADS_1


"Boleh nak Ayo !"


"Kita juga boleh ikut juga mi ?" tanya Ning Fatimah.


"Ayo nak.!"


Mereka mengunjungi Rumah Gus Alzam bersama, sesampainya Ning Fatimah begitu kagum dengan desain rumahnya.


Timbul setitik rasa iri dihatinya,' seharusnya dirinya yang tinggal disini.'


"Assalamu'alaikum" ucap Abi dan yang lainnya.


"Waalaikum salam "Jawab Gus Alzam.


"Abi Umi, semuanya silahkan masuk." ucap Gus Alzam.


"Dimana menantu Umi zam?" tanya Umi


"Lagi di dapur mi."


"By,,,!"


*********


Queena melangkah memasuki dapur melihat lihat ternyata bumbu bumbu sama sayur udah lengkap, kulkas juga sudah di isi.


"Baiklah saatnya chef Queena meracik bumbu rujak,kita cari garam terlebih dahulu."


'Yang mana garam ini banyak amat ' pikir Queena.


Akhirnya setelah memilih milih Queena memasukkan semuanya saja, mengambil cabe di kulkas memasukkan segenggam.


"Apalagi ya yang kurang?" tanya Queena pada dirinya sendiri.


"Aha ,,, kan biasanya di kasih apa itu ya namanya,"


Queena melihat lihat lagi , memasukkan madu , memasukkan semua bumbu termasuk jahe sama kunyit karena kurang menggoda dia menambah bumbu cabe bubuk lagi.


"Akhir nya selesai juga, waktunya bawa kedepan." ucap Queena setelah selesai mengulek semua.


"By,,! " teriak Queena.


"Iya nak, kamu buat apa nak?" tanya Umi.


"Ini bumbu rujak mi."


"Qil yuk cobain.." Semua menatap ngeri bumbu yang Queena buat, bumbu rujak apa yang bentuknya innalilahi seperti itu, cabe tidak halus.


Queena memberi mereka sendok satu persatu mereka mencoba bersamaan dengan memejamkan mata.


"Uhuk,, uhuk,,,"


Semuanya batuk batuk setelah mencoba bumbu rujak buatan Queena.


"Rujak ini langsung mengantarkan pada malaikat maut." rutuk Ning Fatimah pelan.


"Kenapa Enak ya,,?" tanya Queena.


"Apa saja yang kamu masukkan Humaira?" tanya Gus Alzam.


"gak tahu." Queena menggelengkan kepalanya.


Abi Reyhan masih shok dengan rasa bumbu rujak buatan menantunya, rasanya itu tidak bisa digambarkan, pedas, asin,pahit,asam, semuanya terasa Aneh saat dimakan nya.


Queena mengambil sendok mencoba bumbu buatan nya "Uhuhk... uhuk.." Gus Alzam segera memberi minum pada istrinya.


"Kok rasanya aneh ya padahal aku sudah memasukkan semuanya." ucap Queena.


"Memang apa saja yang kamu masukkan nak?" tanya Umi Maryam.


"Semua yang ada di dapur Umi." jawaban Queena membuat Gus Alzam menepuk dahinya sendiri, dia lupa bahwa istrinya ini, terlahir sebagai seorang putri raja, jadi mana mungkin tahu bedanya bumbu dan rempah rempah.


"Lain kali kalau butuh sesuatu, kamu minta sama Umi saja ya nak"


"Tadi kan emang Queena mau kerumah Umi tapi disuruh buat sendiri sama dia." tunjuk Queena pada Gus Alzam.

__ADS_1


"Perempuan kok tidak tahu bedanya bumbu." ketus Ning Fatimah.


"Napa iri lo?" balas Queena.


"Ngapain aku iri pada perempuan yang tidak bisa apa apa."


"Biarin yang penting gue bisa nikahin Alzam."


Ingin sekali Ning Fatimah mencakar Queena namun dia tahan karena masih ada Keluarga ndalem.


"Apa lo kok diam, udah kehabisan suara?"


"Humaira sudah,, tidak boleh seperti itu." Tegur Gus Alzam.


"Tapi dia yang mulai duluan By.."


"Maaf " ucap Ning Fatimah penuh penyesalan.


"Maafkan saya dek sudah bersikap kekanakan." lanjut Ning Fatimah.


'Sepertinya lo mau main main sama Queena, dasar J*l*ng mur*han'.desis Queena dalam hati.


"Jawab Humaira,, Fatimah sudah meminta maaf." ucap Gus Alzam.


"Hm,,," dehem Queena.


"Gak sopan Humaira."


"Iya iya"


Abi Umi dan yang lainnya memutuskan untuk pulang karena sebentar lagi akan masuk waktu Maghrib.


"Humaira mandi siap siap kita sholat di masjid ya" ucap Gus Alzam.


"Emm,," jawab Queena ,dia masih bete.


"Kenapa hm,,?" tanya Gus Alzam lembut.


"Aku bete tahu By, apaan tuh si J*lang pura pura baik segala."


"Humaira tidak baik loh berprasangka buruk pada orang lain, dosa."


"Tahu lah" Queena berdiri meninggalkan Gus Alzam, dia memilih mandi mendingan kan otaknya.


Setelah mandi dan bersiap Queena dan Gus Alzam berjalan beriringan menuju masjid, karena beda tempat pria dan wanita mereka berpisah.


"Jangan nakal ya Humaira." ucap Gus Alzam mengelus kepala Queena yang terbalut Mukena.


"Hm,,," balas Queena.


Queena melihat lihat sekitar " Bukankah itu, si perawan tua sama si Jal*ng" ujar Queena pelan.


"Mbk Queena lihatin apaan sih?" tanya Lulu yang baru datang berdiri di sampingnya.


Lulu mengikuti arah pandang Queena " oh,,, itu Ning Fatimah sama Ustadzah Zahra, mereka itu sahabatan Mbk"


"Serius lo !"


"Iya mbk."


"Pantes sama."


Ide Licik muncul di otak Queena, dia senyum senyum sendiri ' Awas lo !' pikirannya.


"Ayo mbk keburu mulai " ajak Lulu.


"Gue ke kamar mandi bentar ya,, tapi awas lo jangan bilang siapa siapa ya."


Walau sedikit bingung Lulu tetap mengangguk.


_


_


_

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘😘😘


__ADS_2