Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan

Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan
Perawan tua


__ADS_3

*****


"Ehemm,,,, "


Dehem seseorang dibawah pohon jambu air yang Queena panjat.


"Apaan sih pakek ehem ehem segala gatal tu tenggorokan ?" tanya Queena.


"Ehemm,,," dehem orang itu lagi.


"Apa sih Qil lagi menikmati ciptaan tuhan nih." ujar Queena tanpa melihat kebawah dia masih sibuk lihatin santri putra sambil makan jambu air.


Sementara dibawah sudah ada Ustadzah Zahra, dia adalah ustazah senior yang paling di takuti para santri, dan dia juga merupakan sahabat Ning Fatimah.


Ustadzah Zahra berkacak pinggang, menatap geram Queena,yang dengan seenaknya memanjat pohon jambu air punya Pesantren.


Dia merampas jambu air di tangan Lulu lalu melemparkan pada Queena, dan mengenai punggung Queena.


"En Anj*ng," kaget Queena menunduk kebawah.


"Siapa sih lo main timpuk timpuk segala lo kira gue monyet?" ucap Queena kesal .


"Kamu ini santri baru ya, tidak ada sopan sopannya, aku ini Ustadzah senior disini jadi kamu harus hormati."


"Dasar gila hormat."


"Turun kamu !" Teriak Ustadzah Zahra.


"Ogah.."


'wle' Queena memeletkan lidahnya mengejek Ustadzah Zahra, kemudian melemparkan sisa jambu Air ditangannya.


"Makan tuh,," ujar Queena semakin membuat Ustadzah Zahra mencak mencak gak jelas.


Sudah banyak para santri, Ustad dan Ustadzah mengerubungi pohon jambu air itu, menonton Queena dan Ustadzah Zahra, baru kali ini ada yang berani melawan Ustadzah Zahra.


"Apa lo hah? kalau berani ayo sini " tantang Queena.


"Heh dasar ya kamu itu bocah tidak punya akhlak, anak tuyul." maki Ustadzah Zahra.


"Haha,,, mak lampir, wle,,," ejek Queena.


"Turun kamu! "


"Wle,,, jangan marah marah mulu deh, lihat tuh muka udah kayak gerandong, wle,,, dasar perawan tua." bukan Queena namanya jika tidak bisa memancing emosi orang.


"Akh,,,,, bocah gila, turun sini , aku jadikan bergedil kamu."


"Wle,,,, kamu aja naik sini, perawan tua."


Semua orang yang menonton menahan tawa, melihat pertengkaran Queena dengan Ustadzah Zahra.


"Ada apa ini?"


******


Di perpustakaan ndalem Gus Azka dan Gus Alzam sedang membahas keinginan Ning Fatimah.


"Bang,, di perusahaan kamu ada lowongan kerja gak?" tanya Gus Azka.


"Ada,, kebetulan meja sekertaris abang sudah lama kosong, dia berhenti karena ikut suaminya." jawab Gus Alzam.


"Emang siapa yang mau kerja ka, kalau kamu kan tidak mungkin?"


"Fatimah bang katanya dia ingin kerja."

__ADS_1


Gus Alzam berpikir, bagaimana mungkin dia mempekerjakan Fatimah bisa bisa Queena marah besar, istrinya itu kan sangat tidak menyukai Fatimah.


"Bagaimana bang?" tanya Gus Azka.


"Kenapa enggak kamu pekerjakan di restoran kamu ka?" tanya balik Gus Alzam.


"Dia pengennya kerja kantoran bang, dan dia juga belum tahu kalau aku punya restoran."jelas Gus Azka.


"Kalau Fatimah kerja di kantor mu aku kan tenang bang, dari pada kerja di perusahaan orang." lanjut Gus Azka.


'Masalahnya aku yang tidak tenang ka , kalau mempekerjakan Fatimah di perusahaan ku" ucap Gus Alzam dalam hati.


"Biar abang pikirkan dulu ya ka" ucap Gus Alzam.


"Kita keluar yuk zam, sudah terlalu lama meninggalkan Queena."


"Pengantin baru bawaannya gak pengen jauh" goda Gus Azka.


"Haha,,, seperti tidak pernah jadi pengantin baru aja kamu ka." balas Gus Alzam.


Gus Azka hanya tersenyum kecil menanggapi candaan abangnya.


"Mana Queena Mi?" tanya Gus Alzam pada Umi Maryam saat sudah sampai di ruang keluarga.


"Tadi katanya mau nyusul Qila ke asrama putri." jawab Umi.


"Ada apa ya mi kok sepertinya di luar rame rame?"


tanya Gus Azka mendengar suara orang berteriak di luar.


"Tidak tahu mas tapi itu seperti suara Ustadzah Zahra deh." jawab Ning Fatimah yang baru kembali mengantarkan orang tuanya.


"Coba kita lihat dulu." ucap Umi Maryam.


"Itu apa ya kok berkerumun di bawah pohon jambu air." tunjuk Ning Fatimah pada kerumunan orang.


'Akh,,,,, bocah gila, turun sini , aku jadikan bergedil kamu' teriak Ustadzah Zahra makin jelas.


"Tuh kan itu suara Ustadzah Zahra." ucap Ning Fatimah.


"Ayo kita kesana !" ajak Gus Alzam.


"Ada apa ini ?" tanya Gus Alzam tegas membelah kerumunan.


Semua yang sedang berkerumun menoleh kemudian menunduk melihat keluarga ndalem lebih lebih ada Gus Alzam yang terkenal akan kekejamannya saat menghukum santri.


"Itu Gus ada bocah yang tidak tahu sopan santun mengambil jambu air." adu Ustadzah Zahra menunjuk Queena di atas pohon.


Sementara yang ditunjuk sibuk memilih milih jambu air yang paling besar.


"Astaghfirullah Humaira,,!" pekik Gus Alzam.


Ustadzah Zahra dan yang lainnya begitu terkejut mendengar pekikan Gus Alzam.


Queena menunduk kemudian nyengir melihat suaminya ada di bawah "Hehe,,, kenapa kamu kesini by kangen?" menaik turunkan alisnya.


Umi Maryam dan Gus Azka menggigit bibirnya menahan tawa melihat tingkah Queena.


"Heh tuyul turun lo gak sopan banget, sudah tahu ada keluarga ndalem bukannya turun tapi malah nyengir." marah Ustadzah Zahra, niatnya dia ingin cari muka, tapi dia belum tahu saja kalau yang dia marahi itu istri dari Gus nya.


"Apa sih lo perawan tua ! " tantang Queena.


"Humaira turun!" perintah Gus Alzam.


"Hehe,, aku gak bisa turun by."

__ADS_1


"Tadi aja naiknya bisa masak sekarang kamu turun gak bisa ."


"Dan kamu harus dihukum, Humaira." lanjut Gus Alzam.


"Aku kan bukan santri jadi kamu tidak bisa menghukum aku." balas Queena santai.


"Humaira sini turun dulu, bahaya, bagaimana kalau jatuh."


"Aku kan sudah bilang by ,aku tidak bisa turun."


"Sini lompat nanti aku tangkap."


"Oke,, tapi benar ya kamu tangkap "


"Iya Humaira.."


Queena mengambil ancang ancang untuk melompat dan 'Hap,,' Gus Alzam menangkap Queena dengan tepat.


Gus Alzam menggelengkan kepalanya istrinya ini memang benar benar langka.


"Apa lo !" Tantang Queena pada ustadzah Zahra.


"Bocah tuyul,,!" geram Ustadzah Zahra.


"Kenapa kamu manjat pohon Humaira?" tanya Gus Alzam.


"karena aku ingin lah by" jawab Queena.


"Kamu lihat , kamu itu jadi bahan tontonan tahu tidak?"


"Itu sih gara gara si perawan tua teriak teriak kayak mak lampir."


"Astaghfirullah Humaira..." desah Gus Alzam pelan.


"Apa lo liatin gue gitu, mau gue colok tuh mata." ucap Queena pada Ustadzah Zahra.


"Sudah sudah semuanya bubar." ucap Gus Azka membubarkan kerumunan para santri.


"Kalau kamu ingin minta saja Humaira pasti aku ambilkan." ujar Gus Alzam.


"Tapi aku inginnya petik sendiri langsung dari pohonnya,gimana dong?"


"Zam kamu ajak istrimu istirahat sana" ucap Umi Maryam.


Gus Alzam menggandeng tangan Queena meninggalkan asrama putri menuju rumah mereka.


"Ada ada saja tingkah Queena." ucap Gus Azka.


"Aneh,," celetuk Ning Fatimah.


"Tingkah Queena menjadi hiburan tersendiri di pesantren ini." ujar Umi meninggalkan asrama putri diikuti Ning Syaqila.


_


_


_


TBC


HOLLA PARA REDERS KU YANG TER LOPE LOPE 🥰🥰🥰🥰 MAKASIH YA UDAH MEMBERIKAN OTHOR SEMANGAT 💪💪💪


DEMI KALIAN AKU UP TIGA KALI SEHARI UDAH KAYAK MAKAN YAKK.....


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2