Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan

Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan
Orang misterius


__ADS_3

******




Karena banyak yang bilang visual Queena kurang cantik kalau di ganti ini setuju gak?


*********


Selesai dengan acara menangis nya, Queena dan Gus Alzam pergi belanja, mereka belanja kebutuhan Queena, dari gamis,baju kerja yang menutup aurat.


"Masak dari tadi hanya belanja baju baju aku sih by, cari baju buat kamu juga yuk..!" ajak Queena.


"Tapi baju baju aku masih banyak yang belum terpakai Humaira.."


"Udah ayo cuma beberapa kita beli yang couple ya,,, ya,,,ya,," Queena terus merengek pada Gus Alzam.


"Baiklah Humaira." pasrah Gus Alzam.


Mereka memilih beberapa baju cuople yang sekiranya cocok buat mereka.


"Sudah Humaira?" tanya Gus Alzam.


"Hm,, apalagi ya? " Queena masih berpikir apa gitu yang kurang.


"Kalau sudah kita cari musholla dulu yuk, kita belum sholat Dzuhur lho."


"Kan asarnya masih lama by, baru adzan juga."


"Humaira,,, tidak boleh meng akhirkan sholat, ayo sholat dulu setelah itu, kita keliling lagi."


"Hm,,," Queena mengikuti langkah Gus Alzam menuju ke musholla di mall.


Setelah sholat Dzuhur Queena menunggu Gus Alzam di depan musholla karena suaminya itu kalau urusan ibadah memang betah berlama lama.


'Drtt,,,,' ponsel Queena bergetar menandakan ada panggilan masuk.


"Nona,,, mereka mulai melakukan rencananya." ucap salah satu anak buah Queena dibalik telponnya.


Queena menyeringai,, tanpa perlu dia bergerak mangsanya mendekat sendiri.


"Biarkan saja , cukup kamu awasi saja." perintah Queena.


"Seekor tikus mau bermain main baiklah, sudah lama pula aku tidak bermain kucing kucingan." guman Queena pelan.


Dia menyimpan kembali ponsel kedalam tasnya, menunggu Gus Alzam sambil melihat lihat sekitar.


"Sudah sholat nya Humaira?" tanya Gus Alzam.


"Hm,,"


"Mau makan dulu apa mau langsung ke kantor Daddy?"


"Emm,,, terserah kamu saja by."


"Kita makan dulu ya setelah itu baru ke kantor Daddy."


Mereka makan di salah satu restoran di dalam mall tersebut.


Selesai makan mereka langsung menuju ke perusahaan Tuan Fredy, Sepenjang perjalanan Queena tidak henti hentinya tersenyum, dia begitu bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan Daddynya.

__ADS_1


"Makasih ya by,, karena udah mau mau nganterin aku bertemu Daddy."ucap Queena.


Gus Alzam tersenyum mencubit pipi Queena


"Ihh,,, kebiasaan banget sih kamu mencubit pipi aku nanti kalau melar gimana? nanti aku tidak cantik lagi loh."


"Haha,,, apapun keadaan kamu pasti akan terlihat cantik Humaira."


"Idihh gembel."


"Haha,,,"


"Haha,,"


Gus Alzam tertawa melihat istrinya cemberut.


"Berhenti tertawa by aku lagi ngambek sama kamu loh."


"Haha,,,"


Gus Alzam makin tertawa


"Berhenti tertawa atau aku akan menangis" ancam Queena.


"Baiklah baiklah aku berhenti tertawa." ucap Gus Alzam.


"Sudah jangan cemberut lagi kan aku udah berhenti tertawa nya Humaira."


Empat puluh lima menit akhir nya mereka sampai di perusahaan tuan Fredy, Queena dengan riang turun dari mobil meninggalkan Gus Alzam.


"Daddy,,, !" teriak Queena, berlari meninggalkan Gus Alzam sendiri.


"Ya Allah Humaira,,, " guman Gus Alzam.


Dia melihat istrinya sudah menangis di depan lift bersama dengan seorang pria yang mungkin berusia sekitar empat puluh tahunan.


Gus Alzam semakin mempercepat langkahnya melihat istrinya menangis


"Hiks,,, Daddy,,,"


"Kenapa Humaira,,?" tanya Gus Alzam panik melihat istrinya menangis sambil menyebut Daddy.


"Daddy tidak ada di kantor, apa jangan jangan Daddy pergi ke Paris lagi tanpa berpamitan pada Queena hiks hiks." tangis Queena.


"Coba telpon dulu Humaira, siapa tahu saja Daddy ada meeting di luar." ucap Gus Alzam.


"Tapi kata uncle Ben Daddy gak ada jadwal meeting by hiks hiks,,, "


"Sudah dong Sayang Nangisnya malu loh dilihatin banyak orang."


"Hiks,, pokoknya aku tidak mau berhenti nangis by,," Gus Alzam bingung bagaimana caranya menenangkan Queena, baru kali ini dia melihat istrinya itu menangis separah ini.


"Princess kenapa nangis sayang?" tanya Tuan Fredy dari belakang mereka.


Dia baru datang setelah tadi pergi ke perusahaan Queena dia dan Alzam memutuskan untuk sekalian makan siang diluar.


Queena mendongak mendongak mendengar suara orang yang dari tadi dia rindukan, dia langsung menghambur memeluk tuan Fredy.


"Daddy.. hiks " ucapnya sambil menangis.


"Kenapa Princess, ada yang menyakiti kamu hm,? bilang sama Daddy princess." tanya tuan Fredy.

__ADS_1


Queena menggelengkan kepalanya " Queena rindu Daddy."


"Queena kira hiks,, Daddy sama Abang pergi ke paris lagi tanpa berpamitan hiks,,pada Queena" lanjut Queena masih sedikit sesegukan.


"Tidak Princess tadi Abang sama Daddy makan sing diluar saja." sambung Malvin.


"Sudah ya,, nangisnya malu loh udah punya suami juga." Malvin begitu khawatir melihat adiknya menangis sampai sesegukan.


"Princess Daddy cantik banget loh kalau pakai baju seperti ini." puji tuan Fredy.


"Serius Dad?"


"Iya Princess,, jangan buka lagi hijabnya ya sayang, semoga kamu bisa Istiqomah" do'a tuan Fredy, di amini oleh Malvin dan Gus Alzam.


Queena menempel pada tuan Fredy, layaknya lem, dia seakan tidak mau berpisah dengan tuan Fredy.


******


Disebuah taman yang sepi pengunjung Ning Fatimah menunggu seorang yang mengajaknya bekerja sama.


"Mana sih tu orang?" gerutu Ning Fatimah, dia sudah lelah menunggu orang tersebut, iya kalau menunggu nya di caffe kan bisa makan atau minum, lah ini malah di taman yang sudah tidak terawat, banyak semak belukar,tidak ada satu orang pun pengunjung di taman ini.


"Hey,," sapa seorang pria menggunakan masker dan kaca mata hitam.


"Siapa?" Tanya Ning Fatimah.


"kenalin nama Gue Marko dan ini Clara." ucap Marko.


Dia datang bersama perempuan berkulit putih mereka sama sama menggunakan masker.


"Kalian?"


"Iya kami adalah orang yang mengajak kamu bekerja sama." jawab Clara.


"Kenapa ngajak ketemu di tempat seperti ini sih ?" tanya Ning Fatimah.


"Kalau kita ketemu di tempat ramai yang ada kita dibunuh sama Queena." jawab Marko.


"mana mungkin, kita ketemu di ruang Vip saja udah mana mungkin Queena mengetahui nya."


"Lo belum tahu aja siapa Queena sebenarnya." ucap Cara.


"Sudah langsung ke intinya saja, "Marko membisikkan sesuatu pada Ning Fatimah,Ning Fatimah sedikit bingung dengan rencana Marko.


"Lalu aku harus apa?" tanya Ning Fatimah.


"Kamu itu hanya harus bersikap sebaik mungkin, jangan sampai Keluarga lo curiga terutama Queena."


"Tapi Quenna sudah tahu kalau aku hanya pura pura baik."


"Lo itu terlalu bodoh, gegabah, bermainlah dengan cantik, jangan sampai tindakan lo itu merugikan diri lo sendiri." ucap Marko.


"Lo itu harus bermain dengan perlahan, biarkan dulu dia menikmati kebahagiaan nya, sebelum kita renggut untuk selamanya haha,,," sambung Clara dengan tawa liciknya.


Mereka bertiga tertawa bersama, membayangkan kehancuran Queena, tanpa mereka sadari ada sepasang telinga mendengarkan mereka.


_


_


_

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘


__ADS_2