
*****
Queena berjalan dengan santai memasuki rumahnya, dia tidak menoleh sedikitpun ke arah Gus Alzam, jika di bilang marah jawabannya adalah 'Tidak ' dia hanya bete saja pada suaminya itu.
'Ternyata menikah tidak se indah yang gue bayangkan.' pikir Queena.
Dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur, pikirannya menerawang kemana mana, dia bukan tidak paham kalau Si Jal*ng itu hanya pura pura manis di depan,namun dia akan mengikuti permainannya.
Gus Alzam berdiri di ambang pintu menatap Istrinya, dia berpikir pasti istrinya itu benar benar marah kepadanya.
"Humaira jangan tidur dulu, makan dulu baru tidur." ucap Gus Alzam.
"Gak,, aku masih kenyang." jawab Queena.
Gus Alzam mendekat dia duduk di pinggir kasur mengelus kepala istrinya, " bangun bentar ya,,," bujuknya.
"Aku masih kenyang jadi jangan ganggu aku." tekan Queena.
"Humaira di perusahaan kamu ada lowongan kerja tidak?" tanya Gus Alzam.
Seketika Queena membuka matanya kemudian duduk menghadap Gus Alzam
"Kamu beneran bangkrut?" tanya balik Queena.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Kalau tidak bangkrut kenapa kamu nanya lowongan kerja?"
"Itu Ning Fatimah katanya mau kerja."
"Jadi kamu mencarikan pekerjaan si Jal*ng itu?" Queena sudah mulai emosi.
"Bukan begitu Humaira,"
"Lalau?"
"Tadi itu Azka bertanya apakah ada lowongan pekerjaan di perusahaan, aku kira dia yang mau kerja tapi ternyata Ning Fatimah." jelas Gus Alzam.
"Kenapa gak disuruh kerja di restoran bang Azka saja."
"Kamu tahu kalau Azka punya Restoran?" tanya Gus Alzam.
"Hm,," balas Queena.
"padahal tidak ada yang tahu kalau Azka punya Restoran kecuali aku."
"Kamu tidak lupa kan siapa istrimu?"
Gus Alzam baru sadar kalau istrinya ini adalah orang yang berpangaruh di dunia bisnis jadi bukan hal sulit baginya mengetahui sesuatu.
"Bagaimana ada tidak lowongan kerja di perusahaan kamu?"
Queena tersenyum Licik 'Baiklah jal*ng aku ikuti permainan mu, belum tahu siapa yang kamu lawan.'
"Dia kan mau nya kerja di perusahaan kamu, jadi kamu carikan saja pekerjaan di kantor mu" Balas Queena.
Sebenarnya Queena tahu kalau suaminya itu merasa tidak nyaman jika harus bekerja dengan Ning Fatimah.
"Kamu tidak cemburu?"
"Ngapain aku cemburu, toh kamu juga udah jadi suami aku."
'Seorang jal*ng tak akan mampu bersaing dengan seorang Ratu, dengan sekali dor saja kelar.' pikir Queena.
Queena mengambil ponselnya dia berjalan kearah balkon kamarnya meninggalkan Gus Alzam sendiri.
"Bagaimana?" tanya Queena pada seorang dibalik telponnya.
"Gue tidak mau ada kesalahan sedikit saja."
"Lo atur semuanya, bawa dia hidup hidup!." perintah Queena.
'klik,,,' Queena mematikan teleponnya.
"Punya nyawa berapa sih lo menantang Queena !" ucapnya dengan tersenyum licik.
__ADS_1
Kemudian dia mengecek beberapa email yang Mike kirim, besok dirinya sudah mulai bekerja,tidak ada honeymoon baginya pekerjaan nya itu lebih penting.
Tiba tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang " Maaf kan aku Humaira." ucap Gus Alzam.
"Hm,,," balas Queena.
"Lepas deh pasti kamu punya pekerjaan kan ,jadi kerjakan dulu kerjaan kamu." lanjut Queena.
"Baiklah.." pasrah Gus Alzam.
Setelah itu mereka sama sama sibuk dengan pekerjaan masing masing.
*******
"Akh,,,,,, Kacau pasti sekarang gue lagi jadi buronan ketua Black Diamond,bangs*t emang, " ucap salah satu orang di dalam sebuah gubuk kecil
"Sudah gak ada gunanya lo teriak teriak seperti itu, mending sekarang kita pikirkan bagaimana cara nya agar bisa membalas ketua Black Diamond, jangan sampai ketahuan, lo tahu sendiri betapa liciknya ketua Black Diamond." balas satunya lagi.
"Kita harus melakukan dengan rapi dan bermain cantik." lanjutnya.
*******
Pagi pun telah tiba , setelah melakukan sholat berjamaah Queena langsung bersiap , dia ada pertemuan pagi dengan beberapa pemegang saham.
Dia menyiapkan pakaian kerja suaminya, kemudian menyiapkan sarapan walaupun hanya roti tawar, dia masih bingung bagaimana caranya membuat susu.
"Adduh ini gimana sih caranya ?"
Queena menuangkan susu coklat menuangkan es batu dan yang terakhir air.
"Kok jadinya begini sih." gerutu Queena.
Gus Alzam belum datang dari masjid karena masih mengisi pengajian kitab.
"Apa aku kerumahnya umi saja ya, ?"
"Bodoh! aku lihat di YouTube saja " makinya.
Queena menonton dengan serius " jadi pakai air panas dulu ya.."
"Repot banget sih jadi istri."
"Pokoknya gaji ART harus di naikkan, kerjaannya benar benar menguras emosi dan tenaga."
Queena terus berbicara sendiri, se umur umur dia belum pernah menyentuh yang namanya peralatan dapur.
"Assalamu'alaikum Humaira,,,"
Gus Alzam yang baru pulang dari masjid menghampiri Queena.
"Waalaikum salam." jawab Queena.
Queena meminta Gus Alzam menghidupkan kompor, setelah itu menyuruh Gus Alzam segera bersiap, dia ahirnya bisa masak air.
Dengan Antusias Queena membuat susu coklat untuk dirinya dan secangkir teh buat Gus Alzam.
Queena menunggu Gus Alzam di meja makan sambil memainkan ponselnya.
"Humaira,,," panggil Gus Alzam.
"Apa?"
"Bisa pasangkan dasiku?"
Queena mengambil dasi di tangan Gus Alzam, jangan salah walau dia tidak bisa masak masak tapi kalau hanya pakai dasi dia bisa.
"Done !" ucapnya setelah selesai memasangkan dasi Gus Alzam.
'Cup,,' di hadiahi kecupan singkat di keningnya, Queena tersenyum manis Memeluk erat pinggang Gus Alzam.
"Semangat ya kerjanya, jangan sampai tergoda dengan tu jal*ng." ucap Queena.
"Haha,,, Humaira itu kan permintaan kamu yang meminta Fatimah di terima di kantor ku,"
"Lihat saja nanti "
__ADS_1
"Maaf ya by aku hanya bisa menyiapkan roti saja karena aku gak bisa masak."
"Tidak apa Humaira." balas Gus Alzam dengan senyuman manisnya.
Gus Alzam mencoba meminum teh buatan istrinya, matanya langsung terpejam ' Astaghfirullah,,, teh apa ini kenapa asin' ucap Gus Alzam dalam hati.
Gus Alzam berusaha menelan teh buatan Queena, walau membuat lidahnya terasa kelu, kemudian memakan roti tawar yang sudah Queena olesi selai.
"Terimakasih Humaira,," ucap Gus Alzam setelah menghabiskan sarapannya.
Queen membalasnya dengan tersenyum manis " Humaira boleh aku meminta sesuatu?" tanya Gus Alzam.
"Apa?"
"Aku ingin kamu menutup Aurat mu." ucap Gus Alzam.
"Ih,, tapi ini udah tertutup kok." balas Queena.
"Apanya yang tertutup sayang,, tuh kaki jenjang kamu masih kelihatan."
"Rambut, body kamu masih terlihat jelas." teliti Gus Alzam.
"Lalu aku harus pake gamis gitu saat kerja?"
"Pengennya sih iya, aku tidak ingin ada orang lain yang menikmati kecantikan mu selain aku." ujar Gus Alzam dengan senyum manisnya.
"Tapi aku tidak punya pakaian kerja yang tertutup by."
"Nanti siang kita belanja ya, aku jemput."
"Emang kamu tidak sibuk by."
"Kamu prioritas ku Humaira."
"Ih,,, baper aku by."
"Haha,,, kamu bisa baper juga." Gus Alzam menarik pipi Queena.
"Ihh,,, sudah aku bilang jangan tarik nanti melar." rengek Queena.
"Tidak apa apa melar kamu tetap cantik."
"Gak usah gembel deh by."
"Ayo berangkat katanya ada meeting pagi." ajak Gus Alzam.
"Yuk,,"
Mereka berjalan menuju mobil masing masing, namun...
"Mas boleh nebeng gak?" tanya Ning Fatimah.
"Kamu nebeng sama aku, saja tidak baik laki laki dan perempuan bukan mahram berduaan entar orang ketiganya setan." ucap Queena.
"Tapi aku kan sekantor sama mas Alzam." balas Ning Fatimah.
Queena memberi kode pada Gus Alzam agar segera menjalankan mobilnya,melihat Gus Alzam sudah berangkat terlebih dahulu Ning Fatimah begitu emosi namun ia tahan.
"Jadi mau bareng gue gak?" tanya Queena.
Tanpa pikir panjang Ning Fatimah langsung memasuki mobil Queena.
_
_
_
TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘
Yuk follow akun tik tok Othor nanti langsung aku follback kok @ummyfawaiz
Atau mau tukeran No WA komen ya😊😊😊
__ADS_1
Salam cinta dari jauh dari Othor buat kalian 🥰🥰🥰🥰🥰🥰