Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan

Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan
Polisi


__ADS_3

*******


"Menghormati orang yang lebih tua itu wajib jadi jangan kurang ajar."


"Haha,,,,"


"Haha,,,"


Queena malah tertawa mendengar ucapan Umi Zainab.


"Humaira,,,!" tegur Gus Alzam.


"Shut up,,!" ucap Queena.


Gus Alzam terdiam seketika mendengar ucapan Queena, jantung nya berdetak kencang, walau nada Queena pelan namun begitu menusuk, ini adalah Queena yang dulu pertama kali dia kenal bukan Queena yang sudah menjadi istrinya.


Queena duduk menyilangkan kakinya, dengan gaya pongahnya dia mengangkat dagunya tinggi tinggi menatap Ning Fatimah dan Umi Zainab bergantian dengan sinis.


"Dimana sopan santun mu ?" Hardik Umi Zainab.


"Anda tidak ada hak membentak putri saya, kami membesarkan Queena dengan kasih sayang,tidak pernah sekalipun kami membentaknya, lalu mengapa orang yang baru mengenalnya berani membentak Putri saya." ucap Tuan Fredy.


Gus Alzam tersentak, tadi dia telah membentak istrinya, mengingkari janjinya pada Tuan Fredy.


"Anda itu terlalu memanjakannya sehingga membuat dia menjadi gadis yang tidak punya moral."


..."Cukup Umi, dari tadi saya diam bukan ber arti saya membenarkan ucapan Umi, tapi karena saya menghormati Umi sebagai orang yang lebih tua, Queena istri saya , tanggung jawab saya jadi anda tidak usah menghinanya." ucap Gus Alzam panjang lebar, dari tadi dia sudah sangat geram, tapi dia tahan karena disini bukan hanya ada keluarga nya....


...Bukannya tersanjung Queena dibela Gus Azam justru dia memalingkan wajahnya dia sudah terlanjur bete sama Gus Alzam....


^^^"Haha,,,," tiba tiba Gus Azka tertawa.^^^


"Napa kamu bang , gila?" tanya Queena.


Semua menatap kearah Gus Azka "Haha,,"


"Maaf semuanya,, aku hanya gemas saja tingkah kamu haha,,," jawab Gus Azka.


"Haha,,,haha,,," Queena ikutan tertawa.


"Bang kamu benar benar udah ketularan virus gilanya Ella." ucap Queena.


"Itu bukan gemas tapi kurang ajar,kamu itu ka bukannya perhatian sama istri mu yang sedang terluka tapi malah sibuk sama bocah ini." Umi Zainab memang tidak ada kapok nya, sudah di tegur beberapa kali tapi masih tetap saja ngoceh tak jelas.


"Gara gara bocah ini juga putri ku terluka, seharusnya dia di jebloskan ke dalam penjara," lanjut Umi Zainab.


"Haha,,,, haha,,, perlu saya panggilkan polisi untuk menangkap putri saya." Ucap Tuan Fredy di sertai tawa yang membuat bulu kuduk merinding.


"Baiklah jika itu mau kalian, aku akan memanggil polisi kesini, kebetulan aku punya kenalan polisi." balas Umi Zainab.

__ADS_1


"Mohon maaf bisakah ini di selesaikan secara kekeluargaan saja." ucap Abi Reyhan.


" Biarkan saja bi, Panggil saja aku percaya istri ku tidak bersalah." suara Gus Alzam dengan tenang.


'Dari tadi kemana saja sih?' batin Queena.


Queena yang akan dilaporkan malah dengan santai menikmati minuman yang ada di depannya, memutar mutar gelas ditangannya, permainan semakin seru saja pikir Queena.


Ning Fatimah yang sedari tadi menunduk dalam hatinya dia bersorak gembira.


"Khemm,,,," dehem Queena membuat semua orang mengalihkan pandangan pada dirinya.


"Sebelum saya di penjara, bolehkah saya bercerita sesuatu?" tanya Queena.


"Apa yang mau kamu ceritakan sih dek?" tanya Gus Azka.


"Tidak akan ada yang bisa memenjarakan kamu princess, selama Daddy masih bernafas tidak akan ada orang yang bisa menyakiti mu." ucap Tuan Fredy penuh penekanan.


"Ya siapa tahu saja Dad," balas Queena.


"Ada seorang santri,, dia adalah kepercayaan ibu nyai di pesantren itu, namun diam diam dia menyukai salah satu Gus di pesantren itu, yang sudah memiliki istri, dengan teganya dia memasukkan racun pada istri Gus tersebut, hingga membuat Istri dari Gus tersebut mati secara perlahan." cerita Queena.


"Dimana itu dek?" tanya Gus Azka.


"Cerita ngawur." ketus Umi Zainab.


"Haha,,,,haha,," Queena hanya menanggapi nya dengan tertawa.


"Ada apa nak?" tanya Umi Maryam.


"Ada beberapa polisi katanya tamunya Abi."


"Suruh langsung masuk saja nak." ucap Abi Reyhan.


"Permisi maaf kami mengganggu" ucap salah satu polisi yang datang.


"Tangkap dia pak dia telah melukai anak saya." ucap Umi Zainab sambil menunduk.


"Tapi kami tidak bisa menahan orang tanpa ada bukti." Balas kapten dari polisi tersebut.


"Bukti sudah nyata dan ada saksi matanya." ucap Umi Zainab mantap.


"Buktinya ini,," Umi Zainab menunjuk beberapa luka di wajah dan tangan Ning Fatimah.


"Saksi matanya adalah nak Syaqila, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, pada saat dia melukai putri saya." lanjut Umi Zainab.


"Benar begitu anda melihat saat tersangka melukai korban?" tanya polisi tersebut pada Queena.


"Iya pak." jawab Ning Syaqila.

__ADS_1


"Syaqila,, apakah kamu benar benar melihat saat Queena melukai Fatimah?" tanya Gus Alzam intens.


"Atau kamu hanya melihat Queena memegang beling tersebut?" tanya Gus Alzam lagi.


"Saya hanya melihat saat Queena memegang pecahan gelas yang sudah berlumuran darah bang." jawab Ning Syaqila takut takut.


"Itu tidak bisa di jadikan bukti pak, bisa saja saat itu istri saya membantu mencabut kan pecahan gelas tersebut." ucap Gus Alzam pada polisi itu.


"Dan kamu Fatimah katakan dengan sejujurnya apa yang terjadi, jangan sampai ada yang di tambahi atau di kurangi." ucap Gus Alzam tegas.


"Saat itu entah mengapa Queena melemparkan gelas tepat di bawah kaki saya, setelah itu menggoreskan di pipi saya dan menancapkan di telapak tangan aku, dia berkata kalau aku harus berhenti bekerja di perusahaan kamu dia terus mengatai aku jal*ng." cerita Ning Fatimah dengan air mata yang sudah banjir.


"Masih kurang apalagi semuanya sudah jelas kalau bocah tidak bermoral itu bersalah." ucap Umi Zainab lantang.


"Bisa saja itu bukan kejadian sesungguhnya kan?" Gus Alzam masih kekeh kalau istrinya itu tidak bersalah.


"Jadi kamu menuduh Fatimah berbohong begitu Zam?"


"Bisa jadi kan" Gus Azka bukannya membela Ning Fatimah tapi malah justru membela Queena.


"Azka,,!" bentak Umi Zainab.


"Biar saya bawa dulu tersangka untuk dilakukan pemeriksaan." ucap polisi.


"Tidak bisa pak , istri saya tidak bersalah jadi, anda tidak boleh membawanya." Gus Alzam terus berkata bahwa istrinya tidak bersalah.


Dia berbalik kearah Queena yang masih setia dengan duduknya, kemudian memeluk erat Queena " Kamu tenang saja Humaira,,, tidak akan aku biarkan polisi itu membawa mu." entah mengapa setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Gus Alzam.


"Maafkan aku Humaira,,," ucap Gus Alzam.


"Cengeng,,!" ledek Queena.


Beberapa polisi tadi mendekat "Maaf pak bisakah anda melepaskan pelukannya, tersangka harus kami bawa untuk melakukan pemeriksaan."


Gus semakin erat memeluk Queena, Tuan Fredy dan Malvin tersenyum miring, rupanya mereka belum tahu siapa Queena.


Queena diam tidak membalas pelukan Gus Alzam, tidak ada raut takut di wajahnya, hanya senyum sinis yang nampak begitu jelas.


"Lepaskan zam, bocah ini harus segera di bawa." ucap Umi Maryam.


Queena melepaskan pelukan Gus Alzam, dengan senyum sinis nya Queena menatap kepala polisi tersebut dan berkata.


"Apa kabar Uncle?"


_


_


_

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘


__ADS_2