
********
Malvin tidak henti hentinya berdoa, semoga Adiknya tidak apa apa,dari tadi Daddynya melarang dirinya ikut campur.
Mereka bertiga masih dalam perjalanan menuju pesantren Darussalam sesampainya mereka di kaget kan dengan teriakan Queena.
'DORR,,,,'
" By,,,,!"
Queena melihat Fatimah mengarah kan pistol pada Gus Alzam segera dia berlari memeluk Gus Alzam ,namun Gus Alzam membalikkan posisinya sehingga dirinya yang tertembak, pelurunya menembus punggung nya.
Marko yang masih setengah sadar mengarahkan pistolnya pada Queena, "Biar kalian bisa mati bersama" ucapnya.
'DORR,,,' Gus Alzam kembali membalikkan posisinya sehingga peluru kembali mengenai punggungnya.
"Hubby,,,!" teriak Queena.
"Princess,,,!" teriak Malvin, Tuan Fredy dan Uncle Edward bersamaan.
Air matanya sudah luruh, dia begitu sakit melihat suaminya mengorbankan dirinya untuk melindungi nya.
"Byy,,,, kenapa kamu melakukan ini?"
"Jangan Nangis Humaira,,, aku tidak apa apa." Gus Alzam mengusap pipi Queena.
Malvin segera menembak Marko dan Fatimah, segera Uncle Edward menelpon temannya untuk menuju kesini.
"Akan gue bunuh kalian" ucap Queena menatap benci Fatimah dan Marko.
Gus Alzam menggelengkan kepalanya " Tidak ,,, Humaira, jangan,, lakukan itu, jangan ,,,jadi pendendam,, istriku ini wanita sholehah, uhukk,, uhuk,, jaga diri ya sayang." ucap Gus Alzam lemah.
Air mata Queena makin deras " Hey,, jangan menangis, ingat jangan lupakan sholat, apapun yang terjadi, aku tetap disini," Gus Alzam menunjuk dada Queena.
"Ana Uhibbuka Fillah zaujati,,," Gus Alzam memejamkan matanya.
"Hubby,,,,?" teriak Queena.
"Princess,,," panggil Tuan Fredy.
"Daddy Ayo bawa Alzam kerumah sakit ayo dad." Queena terus menangis.
"Alzam,,,!" teriak Keluarganya.
Gus Alzam dibawa kerumah sakit, Queena selalu berada didekatnya, memegang tangan Gus Alzam.
Sampai di rumah sakit Gus Alzam langsung di bawa keruang operasi untuk mengeluarkan peluru di punggungnya.
"Maaf Nona anda tunggu di luar saja." ujar perawat.
"Tidak bisa aku mau masuk." Queena tetap memaksa ikut kedalam.
Tuan Fredy Memeluk Queena" Princess biarkan dokter menangani Alzam dulu ya,,"
"Tapi Dad aku mau lihat Alzam Dad."
"Tenangkan dirimu nanti kalau kamu masuk ke dalam dokternya tidak fokus."Tuan Fredy terus memeluk Queena.
Umi Maryam menangis di pelukan Abi Reyhan, Ning Syaqila menangis duduk di kursi tunggu.
Arvin merasa bersalah karena tidak dapat menolong sahabatnya.
"Maafkan Daddy sayang, Daddy telat ."
"Kenapa Daddy gak datang dari tadi,kenapa Daddy gak menyelamatkan Alzam, hiks,,,"
"Maafkan Daddy sayang." Tuan Fredy ikut menangis melihat putrinya menangis seperti itu.
__ADS_1
"Princess,," panggil Malvin.
"Abang,,,, Alzam bang." ucap Queena.
"Iya sayang Abang tahu"
"Ini,,hikss,,, semua gara gara Queena."
"Maafkan aku Abi, Umi," ucap Queena.
Abi Reyhan dan Umi Maryam Memeluk Queena "Tidak nak ini bukan salah kamu , ini sudah takdir Allah."
"Tapi hik,, Alzam begitu gara gara menyelamatkan hiks,,Queena,," tangus Queena makin menjadi.
Ella ikut menangis tidak tega melihat sahabatnya yang biasanya kuat sekarang begitu rapuh.
"Sudah ya nak jangan menangis lagi do'akan Alzam semoga dia baik baik saja." ucap Umi.
Queena masih terus menangis dia tidak akan memaafkan diri nya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada suaminya.
"Dad,,, gunakan kekuasaan Daddy panggil dokter paling hebat untuk mengobati Alzam Dad." ucap Queena pada tuan Fredy.
"Iya sayang Daddy akan usahakan semuanya agar Alzam sembuh."
Tuan Fredy kembali memeluk putrinya.
"Dad,,, Alzam tidak akan ninggalin Queena kan Dad?"
Tuan Fredy tidak tahu harus jawab apa melihat keadaan Alzam yang begitu parah.
"Jawab Dad,,Alzam tidak akan kenapa napa kan Dad?"
"Iya Princess Alzam akan sembuh,dia tidak akan Kenapa napa."
Pelukan Queena mengendur perlahan dia lemas.
"Princess,,,!" panggil Tuan Fredy melihat putrinya pingsan.
"Queena,,," panggil mereka, segera Tuan Fredy mengangkat Queena membawa ke ruangan khusus untuk keluarga nya, diikuti Ella Ning Syaqila dan Malvin dibelakangnya.
"Cepat periksa Princess,,,! " perintah Tuan Fredy.
Dokter memeriksa Queena dengan teliti
"Seperti nya Nona Queena sedang hamil muda, tekanan darahnya begitu rendah, dia terlalu banyak pikiran, untuk lebih jelasnya nanti dibawa ke dokter kandungan saja." ucap Dokter yang menangani Queena.
"Hamil?"
"Iya tuan Nona Queena sedang hamil muda,"
"Alhamdulillah,,," ucap mereka.
Mengapa disaat kabar bahagia ini harus berbarengan dengan keadaan Gus Alzam yang begini.
"Biarkan Nona Queena istirahat dulu." ucap Dokter lalu meninggalkan ruangan Queena.
*******
Dokter yang menangani Gus Alzam keluar
"Bagaimana keadaan putra saya dok?" tanya Umi Maryam.
"Pasien saat ini kritis dan membutuhkan donor darah, golongan darah pasien B, dirumah sakit ini lagi kosong jika ada di antara keluarganya memiliki golongan darah yang sama,,"
"Ambil darah saya dok , darah saya sama dengan Bang Alzam." Ucap Gus Azka.
"Tapi pasti kurang kalau hanya satu orang."
__ADS_1
"Ambil darah saya juga dok , kebetulan darah saya B juga ." ucap Uncle Edward.
"Baiklah silahkan ikuti suster itu." ucap Dokter menunjuk Suster.
Setelah melakukan donor darah Gus Azka dan Uncle Edward kembali ke ruang operasi,disana sudah ada Queena, Memeluk tuan Fredy, dengan keluarganya yang lain.
Dua jam berlalu pintu ruangan operasi terbuka Queena segera mendekat.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?"
Dokter itu hanya menunduk kemudian menggelengkan kepalanya, Queena sudah lemas.
"Katakan kalau suami saya baik baik saja, " ucap Queena.
"Jawab Dokter jangan hanya diam saja." Queena menarik kerah Dokter yang menangani Gus Alzam.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Nona, namun tuhan berkehendak lain."
"Apa maksud Dokter?" tanya Queena tajam.
Semua orang sudah menangis "Pak Alzam sudah meninggal, kami tidak dapat menyelamatkan nya, pelurunya menembus jantung."
Umi Maryam langsung pingsan mendengar kalau putranya sudah tiada.
Queena langsung lemas "Tidakk,,,,,, Anda jangan bercanda Dok, suami saya tidak mungkin meninggal." Queena tidak terima suaminya di bilang meninggal.
Queena berlari memasuki ruangan operasi, melihat suaminya sudah ditutupi kain putih, Queena mendekat kemudian membuang kain penutup yang menutupi Gus Alzam.
"By,,,, kamu becanda kan?"
"Alzam,,," teriak Umi Maryam ikut Memeluk Gus Alzam.
"Jangan tinggalkan aku by,,,"
"Abang,,," ucap Gus Azka dan Ning Syaqila.
Mereka berdua sama sama menangis melihat jasad Abang nya uang sudah terbujur kaku.
Abi Reyhan menangis putranya yang selalu membanggakan dirinya,kini sudah terbujur kaku tidak bernyawa.
Abi Reyhan Memeluk Umi Maryam "Relakan Alzam mi,, ikhlaskan dia ." ucap Abi Reyhan.
"By,,, kalau kamu pergi aku akan ikut." ucap Queena memeluk jasad Gus Alzam.
"Princess,, ikhlaskan Alzam ya,," Tuan Fredy mengelus Kepala putrinya.
"Tidak Dad,, aku tidak Ikhlas kalau Alzam pergi."
"By,,,, bangun ya,,," ucap Queena parau.
Queena mencium tangan Gus Alzam, beralih mencium kedua matanya " Bangun ya sayang,, jangan tinggalin aku, please,,, bangun ya by, "
"Kamu pasti becanda kan by, aku janji tidak akan marah kalau kamu hanya ngerjain aku hikss,,"
"Bangun,,,,hiks,," mereka semakin menangis melihat Queena.
"Queena ikhlaskan Alzam ya nak,," ucap Abi Reyhan.
"Maaf pak buk biar kami lepaskan dulu alat alat ini agar jasad pak Alzam bisa segera di pindah ke ruangan jenazah." ucap perawat
"SUAMIKU BELUM MENINGGAL,,,,kenapa mau di pindah keruang Jenazah." teriak Queena.
_
_
_
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘