Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan

Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan
Berpindah tangan


__ADS_3

********


Happy reading guys 😘😘😘


'Huekk,,,huekkk,,,,' Pagi pagi sekali Gus Alzam sudah di bangunkan suara muntahan Queena.


"Humaira,,, kamu kenapa sayang?" Gus Alzam memijit tengkuk belakang Queena.


'Huekk,,,'


Queena yang sudah lemah menyandarkan kepalanya di dada Gus Alzam


"Kamu kenapa Humaira,,? pusing sayang?" tanya Gus Alzam sambil mengusap bibir Queena.


Queena hanya menggeleng memejamkan matanya, Gua Alzam menggendong Queena membawa kembali ke ranjang.


Lagi lagi Queena mual dan berlari ke arah kamar mandi 'Huekk huekk,,' hanya cairan bening yang keluar.


"Kita kerumah sakit ya,,?"


"Gak aku tidak suka rumah sakit." jawab Queena lemah.


"Apa jangan jangan kerena kamu kebanyakan makan jagung bakar sama bakso ya"


"Sudah sayang?" tanya Gus Alzam.


Dia kembali menggendong Queena ke kamar membaringkan dengan pelan.


"Sekarang tidur lagi ya sayang,," Gus Alzam mengusap rambut Queena.


"Sehat sehat selalu ya sayang." di ciumnya kening Queena dengan penuh kasih sayang.


Gus Alzam membiarkan Queena tidur lagi, karena istrinya itu muntah muntah mulai jam empat, dia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor karena tidak tega membiarkan Queena sendiri.


Sekitar jam sembilan Queena bangun, Gus Alzam memberikan bubur yang dia masak.


"Makan dulu ya sayang biar perutmu sedikit terisi." ucap Gus Alzam menyuapkan sesendok bubur.


Queena menerima suap demi suap bubur itu hingga sisa sedikit, "Kenyang " ujar Queena.


"Minum dulu."


Setelah minum Queena kembali memeluk Gus Alzam.


'Drrttt,, drttt' Nama Arvin tertera di layar ponselnya, segera Gus Alzam mengangkat nya.


"Halo Assalamu'alaikum Vin"


"Waalaikum salam Gus, Kamu hari ini gak ke kantor?" tanya Arvin seperti sedang panik.


"Tidak Vin, Queena lagi sakit." jawab Gus Alzam.


"Bisa tidak kamu ke kantor sebentar?"


"Ada apa emangnya Vin, kalau meeting kamu handle saja ya."


"Ini urgent Gus, aku tunggu disini."


"Baiklah" jawab Gus Alzam.


Gus Alzam menatap istrinya yang memeluk dirinya dengan mata terpejam.


"Humaira,,, aku ke kantor sebentar ya,,," pamit Gus Alzam.


"Hmm,,, jangan lama lama" ucap Queena.


"Hanya sebentar setelah itu langsung pulang, kamu mau nitip sesuatu?" tanya Gus Alzam.


Queena menggeleng "cepat pulang aja"


"Baiklah aku bersiap dulu ya sayang,,,"


Gus Alzam bersiap setelah itu langsung berangkat ke kantor.

__ADS_1


Queena bangun dari tempat tidur melihat mobil Gus Alzam yang semakin menjauh.


"Maafkan aku by,, gara gara aku kamu ikut terseret juga." Queena berkata dengan sendu.


******


Tuan Fredy,Malvin dan Uncle Edward duduk ruangan Tuan Fredy.


"Apa tidak sebaiknya kita turun tangan bang?" ucap Uncle Edward.


"Iya Dad aku khawatir dengan Princess" sambung Malvin.


"Biarkan dulu mereka bermain, kita lihat bagaimana princess mengatasi nya, aku percaya Alzam tidak akan membiarkan Princess terluka." ujar Tuan Fredy.


"Yang tidak aku habis pikir mengapa dia bisa jadi seorang penghianat." ucap Malvin.


"Itulah hidup , kadang orang yang paling kita percaya itulah musuh kita sesungguhnya."


************


Di perusahaan AZ company Arvin marah marah di depan kantor.


"Apa apaan ini siapa yang melarang aku memasuki kantor ini?" teriak Arvin


"Maaf pak tapi kami hanya menjalankan tugas." jawab satpam.


"Tugas dari siapa?"


"Tugas dari saya,," Jawab Ning Fatimah.


"Ning Fatimah !" Arvin terkejut.


"Iya aku" Ning Fatimah menyilang kan tangan di dada.


Yang Arvin tidak habis pikir Ning Fatimah menggunakan baju ketat dia tas lutut dibalut blazer hitam.


"Kenapa kamu melarang saya masuk?"


"Apa maksudmu Fatimah?" tanya Gus Alzam dari belakang Arvin.


"Ya,, mulai hari ini Arvin di pecat secara tidak hormat di kantor ini." jawab Ning Fatimah.


"Apa hak lo mecat gue hah? lo ini bukan siapa siapa di Perusahaan ini." teriak Arvin.


"Haha,,,,haha,,," Ning Fatimah tertawa.


"Haha,,, Arvin Arvin asal kamu tahu sekarang aku adalah pemilik sah dari perusahaan ini." ucapan Ning Fatimah membuat Arvin tersentak kaget.


Arvin menoleh ke arah Gus Alzam yang masih bersikap tenang, ' Bagaimana bisa Gus Alzam setenang ini setelah perusahaan yang dia bangun dari nol sudah berpindah tangan.' batin Arvin.


"Apa buktinya jika perusahaan ini sudah jadi milik kamu?" tanya Gus Alzam datar.


"Haha,,, Baiklah sayang,, ini buktinya baca saja" Ning Fatimah memberikan berkas pada Gus Alzam.


Gus Alzam membacanya dengan tenang, Arvin yang penasaran segera membaca berkas tersebut, ternyata sekarang semua ast Gus Alzam sudah berpindah tangan atas nama Fatimah dan berkas itu sudah ber matrai.


'Srekkk,, srekkk' Arvin merobek berkas tersebut hingga hancur.


"Haha,,, mau kamu robek se hancur apapun tidak akan mengubah apapun, karena itu hanya foto kopiannya haha,,,." Ning Fatimah tertawa.


"Ternyata lo bukan manusia, benar apa yang Ella katakan selama ini kalau lo itu hanya pura pura baik."


"Haha,,, salah kamu sendiri yang tidak mempercayai bocah tidak bermoral itu."


"Biadab,,!" umpat Arvin.


Gus Alzam beristighfar tidak ingin amarah menguasai dirinya.


"Kita pulang Vin,,!" ucap Gus Alzam.


"Aku bisa saja mengembalikan semua ini sama kamu zam dengan satu syarat." Ning Fatimah berkata dengan lantang.


Gus Alzam menoleh membuat Ning Fatimah tersenyum "Syaratnya gampang cukup kamu menceraikan bocah tidak bermoral itu,lalu menikah dengan ku."

__ADS_1


"Hhh,,, Ambil saja perusahaan ini." balas Gus Alzam.


"Tidak apa apa kok jika aku jadi istri kedua."


"Aku tidak akan pernah menduakan istri ku, silahkan masuk sekarang sudah jam masuk kantor." ucap Gus Alzam lalu meninggalkan perusahaan yang dia dirikan dari nol.


"Kamu akan menyesal Zam karena sudah menolak aku." teriak Ning Fatimah.


"Dasar tidak punya harga diri." cibir Arvin langsung mengikuti Gus Alzam.


******


Gus Alzam dan Arvin pulang ke pesantren Darussalam, sesampainya mereka dibuat terkejut karena disana sudah ada berbagai alat alat berat, Bego bego bersiap menggusur pesantren.


Abi dan para santri menghalangi dan banyak para warga setempat yang datang, Umi Maryam sudah menangis di pelukan Ning Syaqila.


"Ada apa ini?" tanya Gus Alzam yang baru turun dari mobilnya.


"Zam,, halangi mereka kenapa mereka mau menggusur pesantren ini, katanya disini akan dibuat pusat perbelanjaan." ucap Umi sambil menangis.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Gus Alzam.


"Saya yang menyuruh mereka." Muncullah Ning Fatimah, Marko dan Clara.


"Apa hak kamu menyuruh menggusur pesantren ini ?" tanya Arvin.


"Kamu tidak lupa kan , siapa saya?" tanya Ning Fatimah.


"Mana mungkin gue lupa pada wanita iblis seperti mu." balas Arvin.


Keluarga ndalem yang tidak mengerti menatap mereka bingung , mengapa Arvin menyebut mereka iblis.


"Perusahaan beserta aset aset termasuk pesantren ini adalah milik saya , jadi terserah saya mau melakukan apapun."ucap Ning Fatimah.


"Nak Umi mohon jangan lakukan ini, jika Pesantren ini di gusur lalu dimana para santri akan menimba ilmu nak" Umi Maryam memohon pada Ning Fatimah.


"Aku bisa saja membatalkan semua ini dengan satu syarat" ucap Ning Fatimah dengan sinis.


"Apapun syaratnya akan kami lakukan nak."


"Cukup ceraikan Queena dan menikah dengan saya."


"Haha,,,,haha,,," entah kapan sampainya Ella, sekarang dia duduk sambil memangku beberapa ciki di tangannya,dia menertawakan Ning Fatimah.


"Kampungan banget sih selera fashion lo" ucap Ella mengomentari pakaian yang di pakai Ning Fatimah menurutnya itu aneh.


"Norak,,!" sinis Ella.


"Ngapain kamu disini hah?" bentak Ning Fatimah.


"Mau nonton seberapa gak punya harga dirinya lo"balas Ella.


"Usir dia,,!" Perintah Ning Fatimah pada anak buahnya.


"Biar kan saja Fatimah, biarkan dia melihat kehancuran sahabatnya." sambung Clara licik.


Gus Alzam baru ingat Istrinya pasti lagi dirumah sendirian.


"Haha,,, gue mau lihat seberapa hancurnya si ratu Iblis haha,,," tawa Ella.


'Prokk,,, prokk' Queena bertepuk tangan disertai senyuman liciknya.


"Waww,,, Rupanya tamunya sudah datang." ucap Queena.


_


_


_


TBC


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2