Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan

Mafia Cantik Penakluk Gus Tampan
Bumbu penyedap


__ADS_3

******



Sesuai permintaan kalian nih udah pake hijab🤣🤣🤣


Lunas ya🤭🤭🤭🤭


********


"Abi,,,!" teriak salah satu anak kecil yang usianya kira kira masih dua tahunan.


"Panggil salam dulu nak." ucap Gus Alzam lembut pada anak kecil itu.


"Accalamu alikum Abi,," ucap anak kecil itu dengan gaya cadelnya.


"Waalaikum salam anak sholeh." jawab Gus Alzam mengangkat anak itu kedalam gendongannya.


"Kenalan dulu nak dengan Umi." ucap Gus Alzam.


"Accalamu alikum Umi"


"Usup Umi," anak itu menyodorkan tangannya pada Queena sambil menyebutkan namanya.


"Usup?" ulang Queena.


"Ukan Umi Usup"


"Usup " ucap Queena lagi.


"Ukan U,, sup" anak itu mengeja namanya.


"Haha,,," Gus Alzam tertawa melihat interaksi mereka.


"Yusuf sayang, namanya Yusuf." kata Gus Alzam.


"Iya,, Usup" ucap Yusuf.


"Haha,,,haha,,," Queena tertawa.


"napa Umi teltawa?" tanya Yusuf.


"No,,jangan panggil Umi oke." Queena tidak mau dipanggil Umi.


Yusuf bingung dengan ucapan Queena "Lalu kamu di panggil apa Humaira? aunty?" tanya Gus Alzam.


Queena menggelengkan kepalanya " Bukan juga By, panggil aku Mommy ya." ucapnya.


"Coba bilang dek Mommy." Queena menyuruh Yusuf memanggil dirinya Mommy.


"Ommy,," ucap Yusuf.


"Bukan dek,, Mommy,,"


"Ommy,,"


"No ! Coba adek bilang Mo"


"Mo,,"


"Mi"


"Mi"

__ADS_1


"Yey adek bisa, " Queena melatih Yusuf agar memanggil dirinya Mommy.


"Coba gabung dek,, Mommy." ucap Queena.


"Ommy" ucap Yusuf.


"Ih,,, bukan Ommy dek, Mommy."


"Ommy,, Ommy,,"


"Haha,,,,haha,,," Gus Alzam tertawa, Queena dan Yusuf benar benar membuat dirinya tidak berhenti tertawa.


"Humaira Yusuf ini masih cadel jadi wajar kalau dia tidak bisa bilang Mommy." Gus Alzam memberi pengertian pada istrinya.


Yusuf mengangguk membenarkan ucapan Gus Alzam, mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


Yusuf minta diturunkan dari gendongan Gus Alzam, setelah diturunkan dia berlari kesana kemari.


"Kamu suka anak kecil Humaira? " tanya Gus Alzam.


"Tidak, baru kali aku menyukai anak kecil, sebelumnya aku merasa risih saat mendengar tangisan bayi." jawab Queena.


"Bi,, apakah kamu akan memaafkan jika aku berbuat salah?" tanya Queena, entah mengapa dia mempunyai firasat yang tidak enak.


"Aku akan selalu memaafkan kamu Humaira." jawab Gus Alzam.


Queen mencoba menepis semua pikiran buruknya dengan ber istighfar.


"Berapa ya usianya Yusuf?" tanya Queena kemudian setelah merasa tenang.


"Mungkin sekitar dua tahunan Humaira,," jawab Gus Alzam.


"Sekitar dua tahun yang lalu aku menemukan seorang bayi dibawah mobilku, saat itu aku sedang lembur di kantor, aku mendengar suara tangisan bayi, aku mencarinya ternyata bayinya ada dibawah mobilku, pas aku lihat bayi merah tanpa sehelai benang pun, bahkan tali pusarnya saja masih belum di potong lengkap dengan ari arinya." cerita Gus Alzam.


"Tubuhnya masih dilumuri darah, hatiku begitu ter iris, bahkan bayi itu diletakkan tanpa alas, aku langsung mengambil kemeja didalam mobil untuk menutupi bayi tersebut, setelah itu aku bawa ke rumah sakit." lanjut Gus Alzam.


"Setelah pulang dari Rumah sakit,aku membawa bayi itu kesini dan diberi nama Yusuf."


"Jadi,,, bayi merah yang kamu temukan dibawah mobil kamu itu Yusuf?"


"Iya Humaira." jawab Gus Alzam.


"Kasihan sekali kamu dek" ucap Queena.


Gus Alzam membawa Queena ke taman belakang, disana banyak anak anak bermain.


"Lihatlah mereka Humaira,, mereka disini hidup tanpa orang tua, yang mereka miliki hanya ibu panti dan anak anak panti lainnya yang sudah mereka anggap saudara."


"Mereka tidak tahu siapa orang tua mereka,"


Saat melihat mereka Queena merasa tersentil,


selama ini dirinya tidak pernah bersyukur, walau dia tidak memiliki mommy tapi dia punya Daddy dan bang Malvin yang selalu ada buat dirinya.


'Ya Allah maafkan hamba selama ini tidak bersyukur atas nikmat mu' ucap Queena dalam hati.


"Terimakasih ya By,, kamu telah menyadarkan aku bahwa aku itu beruntung." ucap Queena memeluk Gus Alzam.


Gus Alzam membalas pelukan Queena, dia tersenyum , sebenarnya begitu mudah untuk menyadarkan istrinya, tapi harus dengan pelan dan hati hati.


******


"Bagaimana jika kamu tahu kalau istri yang selalu kamu cintai,sayangi, dan kamu bangga kan ternyata seorang pembunuh." ucap seseorang melihat beberapa foto mesra Gus Alzam dan Quenna.

__ADS_1


"Haha,, saat waktunya sudah tiba Boom,,, semuanya selesai."


lanjutnya.


**********


Setelah pulang dari panti asuhan Queena membantu Umi Maryam memasak karena nanti malam akan malam bersama dengan keluarga besar ndalem, juga keluarga Ning Fatimah dan keluarga Queena.


Saat sudah sampai di dapur ternyata sudah ada Ning Fatimah,dan Ning Syaqila yang membantu Umi.


"Assalamu'alaikum,,," ucap Queena.


"Waalaikum salam,," jawab mereka.


"Sudah pulang nak?" tanya Umi Maryam.


"Iya Mi,," jawab Queena.


"Sini kamu bantu potong sayuran nya ya nak" Umi Maryam menyuruh Queena mengiris sayuran karena dia tahu Queena tidak bisa kalau urusan goreng menggoreng.


"Dek kapan kapan kita jalan jalan lagi yuk,,"


"Iya,, bak saat mbk sudah tidak kerja saja." jawab Ning Syaqila, mereka memang sudah akrab, karena Ning Fatimah sudah berubah,dia selalu mengajak Ning Syaqila jalan jalan bahkan suka membeli kan sesuatu kalau sudah gajian.


Berbeda dengan Queena dia semakin jarang jalan bareng dengan Ning Syaqila karena kesibukannya selalu menyita waktunya.


Bahkan sekarang Ning Fatimah sudah tahu kalau Ning Syaqila mempunyai perasaan terhadap Arvin, Ning Fatimah selalu meracuni otak Ning Syaqila agar membenci Queena, dia menceritakan kalau Ella diutus Queena untuk menjaga Gus Alzam darinya, dan Ella selalu menggoda Arvin, cerita yang sudah dia kasih bumbu penyedap.


Karena terlalu sering termakan Fitnah Ning Fatimah ,Ning Syaqila punya sedikit rasa benci pada Queena, sekarang dia lebih mempercayai Ning Fatimah.


"Nak Umi kedepan dulu ya, mau ambil belanjaan yang baru dibeli santri."


"Iya, Umi."


"Syaqila kamu bantuin Umi ya,,,"


"Baik Umi." jawab Ning Syaqila.


"Mbak aku kedepan bentar ya,," Ning Syaqila hanya pamit pada Ning Fatimah, dia terlihat menghindari Queena.


Queena hanya mengacuhkan saja biarkan dulu musuhnya bermain dia akan mengikuti saja.


Kini hanya tinggal Queena dan Ning Fatimah di dapur, senyum licik terbit di bibir Ning Fatimah ' Saatnya kita bermain Queena' ucapnya dalam hati.


Ning Fatimah membanting gelas dibawah kakinya, hingga membuat pecahan beling itu melukai kakinya sendiri kemudian dia menancapkan beling besar di telapak tangan nya.


Queena mengabaikan saja 'pasti sebentar lagi akan ada drama' pikir Queena.


"Akh,, dek Queena bantuin aku dong." ucap Ning Fatimah." tangannya sudah berlumuran darah,bahkan dengan sengaja menggores pipinya menggunakan beling.


"Ya Allah dek Please tolongin, hanya cabutin ini kok."


Queena berbalik melihat Keadaan Ning Fatimah, seketika dia tersenyum sinis, dia berjalan mendekat kemudian mencabut dengan keras beling yang ada di tangan Ning Fatimah.


"Bodoh,,!" desisnya.


"Kamu apakan mbk Fatimah hah?"


_


_


_

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘


__ADS_2