
****
Queena meninggalkan Aqueena Company setelah melakukan meeting yang sedikit menguras emosinya.
Dia mengendarai mobilnya menuju ke perusahaan suaminya, bekerja pun sudah malas, lebih baik dia melihat bagaimana cara kerja si Jal*ng.
Sampai di perusahaan Gus Alzam Queena Queena dengan langkah anggun terus berjalan tanpa memikirkan tatapan kagum sekitarnya.
Di dalam Lift Queena mengambil ponselnya menghubungi Gus Alzam,tanpa menunggu terlalu lama Gus Alzam mengangkat panggilannya.
"Assalamu'alaikum Humaira," Suara Gus Alzam.
"Waalaikum salam Hubby." jawabnya.
"Bagaimana..? " tanya Queena, suami nya ini pasti paham maksud pertanyaannya tanpa dia jelaskan terlebih dahulu.
"Ya,, sesuai dengan keinginan kamu Humaira, pasti sekarang di luar lagi ribut." Balas Gus Alzam.
"Haha,,, pasti Ella tidak akan mengerjakan apapun palingan dia hanya akan menggangu si jal*ng." tebak Queena, yang pastinya tidak akan salah
"Tadi pagi saja dia udah ribut dengan Arvin dan Ning Fatimah." ucap Gus Alzam
"Haha,,,,,pasti seru." Queena tertawa renyah, sudah menjadi hobi Ella memang membuat keributan.
Keluar dari Lift Queena menuju ke ruangan suaminya namun dilihat dari jauh kok hanya Ella sendiri di meja sekertaris, mana si jal*ng? pikir Queena.
"Betah pasti Ella kerja di perusahaan kamu By." lanjut Queena pada Gus Alzam, tanpa mematikan sambungan teleponnya Queena terus melangkah.
"Maaf Mas ini ada beberapa berkas yang perlu Mas tanda tangani." Queena makin mempercepat langkahnya memasukkan ponsel kedalam tasnya, itu suara si jal*ng.
"Eh ada bu bos,,!" sapa Ella, namun Queena mengabaikan saja, dia langsung memasuki ruangan suaminya.
"Dasar tidak punya sopan santun ! " Makinya saat mendengar Ning Fatimah memanggil mas pada suaminya.
Tanpa aba aba Queena langsung duduk di pangkuan Gus Alzam, sengaja dia ingin memanas manasi Ning Fatimah.
"Apa maksudmu mengatai saya tidak punya sopan santun?" tanya Ning Fatimah.
"Lo itu harusnya sadar ini kantor bukan rumah , panggil bosnya Mas, sok dekat banget lo !" ejek Queena.
"Lo kesini niat kerja atau niat mau jadi Jal*ng sih?"
Ning Fatimah hanya menunduk, tangannya sudah terkepal, andai di depannya tidak ada Gus Alzam pastinya dia akan membalas setiap ucapan Queena.
"Maaf saya mengaku salah" dengan menangis Ning Fatimah meminta maaf.
"Sudahlah Humaira, dia sudah meminta maaf kan." lerai Gus Alzam.
"Dia tidak bisa di biarkan by, nanti ngelunjak."
Pintu ruangan Gus Alzam kembali terbuka, Ella masuk dengan tidak ada sopan sopannya langsung duduk di sofa.
Lagi lagi pintu ruangan Gus Alzam terbuka masuklah Arvin dengan membawa beberapa berkas untuk Gus Alzam.
"Maaf Gus ini berkas pengajuan surat kerja sama yang harus anda tanda tangani." ucap Arvin sopan.
"Letakkan saja disini." bukan Gus Alzam yang menjawab melainkan Queena.
Arvin menoleh kesamping mengapa diruangan Gus Alzam ada si bocah gila dan Ning Fatimah, eh,, mengapa Ning Fatimah sepertinya menangis pasti ulah kedua bocah itu, pikir Arvin.
__ADS_1
"Queen gue pulang duluan ya ada urusan penting." ucap Ella.
"Heh bocah gila, lo itu pamitnya harus sama Gus Alzam, kerja baru sehari sudah mau kerja setengah hari, jangan berbuat seenaknya dong." ujar Arvin.
"Dihh,,, sape lo, suka suka gue lah mau pamit sama siapa, lagian yang kerja itu gue kenapa lo yang sewot." balas Ella.
"Pasti lo kan yang udah buat Ning Fatimah nangis." tuduh Arvin.
"Paan siapa juga yang membuat calon istri lo nangis."
Queena melihat mereka dengan senyum Miring ' menarik' batinnya.
"Benar benar pasangan yang serasi." celetuk Queena.
"Ck,, ck,,, kenapa bukan lo aja yang gantiin suami gue buat nikahin tu Ning kaos kaki ajaib."
"Jangan mentang mentang lo itu istri bos gue ya,, lo bisa berbuat seenaknya seperti itu," balas Arvin tidak terima.
"Humaira,,, " tegur Gus Alzam.
"Apasih,," Queena berdiri pindah duduk di sofa sebelah Ella, kemudian mereka ber tos ria.
"Haha,,,,"
"Haha,,,"
Mereka berdua lantas tertawa bersama, Gus Alzam sudah tidak heran lagi dengan tingkah kedua sahabat itu.
"Queen gue balik dulu ya,, masih ada misi yang lebih waw,," ucap Ella pada Queena.
"Semoga berhasil,, semangat ! " Queena memberikan Ella semangat.
Ning Fatimah dan Arvin begitu curiga dengan misi mereka berdua,' pasti hal aneh ' pikir mereka.
'Brakk,,,' Ella membanting pintu ruangan Gus Alzam.
"Astaghfirullah,,, " ucap Gus Alzam.
"Lo berdua ngapain masih disini, mau lihat kami bermesraan." ujar Queena.
"Humaira,,," tegur Gus Alzam.
"Kalau begitu saya permisi Gus, Assalamu'alaikum." ucap Arvin.
Ning Fatimah tetap diam seperti patung
"Ck,,,ck,,, betah banget lo diruangan suami gue."
"Maaf saya permisi." Ning Fatimah meninggalkan ruangan Gus Alzam dengan hati dongkol.
"Sayang,,, Humaira aku tidak suka kamu bersikap seperti tadi, itu tidak sopan Humaira,"
"Lalu aku harus say hallo gitu saat ada orang yang jelas jelas mau menggoda suamiku gitu."
"Bukan begitu Humaira, tapi sikapmu sama Arvin itu, terlalu berlebihan sayang."
"Dianya saja jadi cowok kok lemes."
"Itu kan kamu duluan yang mulai Humaira."
__ADS_1
"Ihh,,, kamu kok malah belain makhluk astral itu sih."
"Bukannya membela Arvin sayang tapi, aku hanya tidak ingin istriku bersikap seperti itu."
"Tapi aku kesal tahu gak sama asisten kamu itu."
"Saat kamu merasa kesal perbanyak istighfar agar tidak diperbudak setan, jangan sampai perkataan kita menyakiti perasaan orang lain."
dengan lembut Gus Alzam memberi pengertian pada istrinya.
Gus Alzam menarik Queena kedalam pelukannya " Aku ingin kita bersama bukan hanya di dunia. Namun, aku ingin bersamamu hingga ke Jannah nya."
"Ana Uhibbuka Fillah zaujati,,"
Pipi Queena bersemu, ucapan suaminya benar benar menenangkan nya,dulu hati yang penuh dendam dan ambisi perlahan terkikis semenjak kenal dengan suami nya.
"Kamu kok kesini ? sudah selesai meeting nya ? " tanya Gus Alzam.
Queena mengangguk " Sudah kok bi."
"Kok cuma sebentar?"
"Iya kan hanya membasmi tikus kantor." jawab Queena santai.
"Kamu apakan mereka Humaira?"
"Tidak aku apa apakan kok by, cuma di asing
kan."
"Di asingkan?"
"Heem,,, aku asing kan ke pulau terpencil yang tidak ada penghuninya saja." jawab Queena tanpa beban.
"Astaghfirullah Humaira,," kaget Gus Alzam.
"Why?" tanya Queena.
"Itu sama saja kamu menyiksa mereka sayang."
Cuma di kasih tahu kalau diasingkan apalagi kalau tahu Queena menembak mereka bisa bisa kena serangan jantung Gus Alzam.
"Apanya yang di siksa sih by, orang masih dikasih makan, minum, rumah dengan fasilitas lengkap pula."
"Tapi kamu memisahkan mereka dari keluarganya kan."
"Sebagai hukuman karena udah jadi penghianat."
"Humaira coba kamu bayangkan, bagaimana perasaan kamu kalau aku, atau Daddy atau Malvin di asing kan , dipisahkan secara paksa dari kamu."
"Aku akan membunuh orang berani mengasingkan kalian."
"Lalu bagaimana jika Keluarga orang kamu asing kan berniat membalas mu Sayang."
_
_
_
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘