
Rumah Sakit.
"Rain,"
"Nunaaa," -senyum sumringah Rain menyambut sapaan si Nuna.
"Hei! Nuna datang memberimu semangat. Nuna akan tunggu, keluarlah dalam keadaan lebih sehat."
Rain pun mengangguk, saat ini dirinya telah siap menerima transpalasi ginjal. ini semua karena kebaikan hati seorang dermawan yang telah mengatasi seluruh biaya pengobatannya. Itulah yang ia dengar dri Jisoo, kakaknya.
Jisoo menatap adiknya menghilang di balik pintu ruang bedah yang kembali tertutup.
Rasa sakit dan takut, kembali menyayat hatinya. "Rain, kau harus keluar dari sana dalam keadaan hidup. Agar kejahatan yang telah nuna lakukan tidak sia-sia." -Mengusap air mata yang kembali mengalir. "Ahh, ... belakangan ini aku jadi sering menangis."
.
Ruang Rawat Jimin.
Pria muda itu terlihat sangat bahagia setelah dokter mengatakan Jimin boleh pulang dan beristirahat di rumah.
"Sayang, berjanjilah pada mommy, jangan lagi membuat ulah dan membuat mommy sedih."
"Iya mom," -jawab Jimin.
"Jangan lupa, setelah tiba di rumah, kau akan bertemu dengan hukumanmu." -celetuk si Nuna.
"Ahhh, Nunaaa. Jangan memberi semangat Daddy untuk menghukumku. Sudah cukup aku menginap disini sebagai hukuman."
"Kalau tidak ingin aku menghukummu, jangan membuat kami malu lagi. Mengerti?"
"Iya, Dad."
Seseorang yang tidak disangka-sangka tiba-tiba saja muncul.
"Permisi, apa ... aku mengganggu?"
"Arsen Hyung?"
"Oh, Oppa!" -Given menghampiri.
Sementara Mario dan Jenni hanya mengerliangkan mata.
"Wooaaa. Makhluk ini lagi." -Seketika ruangan terasa hororr melihat given mendekat kearahnya.
"Hyung, kau hampir telat. Aku akan dipulangkan."
Arsen pun menanggapinya dengan cara memgangguk.
"Oppa! Besok adalah hari wisuda-ku. Kami akan merayakannya dengan makan malam. Apa Oppa bisa datang?"
Hening. Ulah Given membuat Mario dan Jenni merasa malu di depan Arsen. Anqk perempuannya itu ternyata tidak berubah. Saat melihat Arsen, Given tak segan menampakkan rasa sukanya itu.
"Sepertinya aku sibuk. Maaf."
"Oppa. Kata mommy, saat kecil kita pernah dekat seperti kakak beradik. Tapi kenapa sekarang oppa berbeda? Oppa melupakanku?"
Tanpa menanggapi, Arsen malah berpamitan untuk pergi. Terlihat jelas bahwa dia sama sekali tidak tertari pada gadis itu.
__ADS_1
"Nuna, kau sangat kasihan. Hyung itu sudah punya pacar. Jangan mendekatinya. Kau hanya akan sakit hati.- Jimin menasihati.
"Given, sepertinya kau perlu refreshing. Setelah wisudamu selesai, pergilah jalan-jalan keluar negeri dengan mommy."
.
.
Tap tap tap.
Melewati lorong rumah sakit. Arsen, dengan langkah tegapnya tanpa menoleh. Entah ini kebetulan atau apa, dirinya seperti melihat gadis yang sama. Gadis yang telah mencuri uang dan pakaiannya.
Pria itu mempercepat langkahnya. Ia yakin, gadis yang ada di depannya ini adalah j4lang tak berperasaan itu.
Semakin ia mempercepat langkahh, gadis itu juga terlihat mempercepat langkahnya, kemudian menghilang secara tiba-tiba.
"Sial. Kemana dia? Aku yakin itu tadi pasti dia."
Menoleh kesegala arah, namun orang itu telah menghilang.
"Mungkin ini karena aku selalu memikirkan dia. Sampai-sampai berhalusinasi."
Arsen pun pergi.
Drrrrt drrrt drrrt.
[Iya Jhope, ada apa?]
[Gadis itu menggunakan nomor ponsel sekali pakai saat berkomunikasi dengan si mucikari itu. Jadi keberadaannya tidak bisa dilacak. Mungkin dia sudah membuangnya.]
[Baiklah, tak apa.]
"Insting pria itu sangat kuat. Aku memakai masker tapi dia bisa menebak itu aku."
.
"Bagaimana hidupku setelah ini? Aku hanya memiliki dua pilihan."
Jisoo menjalankan sepeda motornya, untuk menuju ke tempat pilihan pertama.
.
.
Klinik dr. Suga.
Suga mempersilahkan seseorang yang baru saja memasuki ruangannya, untuk duduk. Ia menduga, pasti orang ini memiliki masalah besar pada wajahnya. Karena, masih mengenakan masker dan kacamata hitam, meski sudah berada dihadapannya.
"Silahkan, ada yang bisa saya bantu?"
"Dok, tolong ubah wajah saya."
Suga tersenyum. Mengangguk. "Silahkan perlihatkan wajahmu."
Wanita itu pun mengangguk. "Baik Dok."
Setelah orang itu memperlihatkan wajahnya, Suga perlahan memajukan tubuhnya, ingin melihat wajah ini dengan jarak lebih dekat.
__ADS_1
Opsss, ini bahkan sangat dekat.
"D-dok, anda mau apa?" -wanita itu tentu saja memundurkan kepala.
"Hmmmmmm! Di zaman ini, orang-orang memang aneh. Kurasa, tidak ada masalah pada wajahmu. Bahkan ini terlihat sangat sempurna. Apanya yang ingin kau ubah?"
Suga kembali menormalkan posisi tubuhnya.
"Se-seluruhnya dok,"
"Alasannya?"
"Ya?"
"Apa alasanmu ingin mengubah wajah sempurna ini?"
"Gila, apa aku harus mengatakan karena ingin bersembunyi setelah mencuri dua ratus juta won?"
"D-dok, lupakan alasan saya ingin melakukannya. Boleh saya tau berapa biaya yang diperlukan?"
"Lebih dari seratus lima puluh juta won." -jawab suga, dengan nada pasti. "Kau siap kehilangan uang sebanyak itu ?" -tanyanya pula.
"Apa? Kenapa sangat mahal?"
"Ya? Kau ingin aku mengubah wajahmu menggunakan bahan plastik limbah? Kalau itu, gratis."
Perkataan dokter bedah plastik ini sungguh mengerikan. Spontan membuat gadis itu berdiri dibtempat.
"Kalau begitu, saya akan menabung dulu dok, Permisi!"
Gadis itu melesat keluar.
"Gadis cantik yang aneh. Oh, aku lupa mengatakannya. Wajahnya itu hanya membutuhkan beberapa asupan nutrisi. Terlihat sedikit kusam tak terawat."
KIM JI SOO.
"Jadi namanya kim Ji Soo?"
Suga tersenyum nakal. "Gadis yang menarik." -gumamnya.
.
.
Kembali ke Rumah Sakit.
Setelah pilihan pertamanya itu gagal, Ji Soo kembali ke rumah sakit. Selagi masih di parkiran, tak lupa ia kenakan topi, kaca mata hitam dan masker mulut.
"Apa aku bisa terlihat seperti ini disepanjang sisa hidupku?" -batinnya, melihat dirinya melalui kaca spion.
"Tak apalah, selagi masih dikota ini. Setelah adikku benar-benar pulih, aku akan membawanya pindah ke pedesaan, memulai hidup baru tanpa rasa takut disana."
Hanya itu pilihan kedua. Yaitu, menghilang dari kota ini.
.
.
__ADS_1
Bersambung....