
"Mom, apa orang itu belum pergi?"
Mario bertanya tentang Arsen kepada sang istri.
"Kurang tahu, Dad, sepertinya belum." jawab Jenni, sambil mengoles day cream pada wajahnya yang mulus meski sudah hampir setengah abad. Pasangan itu baru saja menyelesaikan mandi pagi.
"Dia bilang apa tadi malam? Kenapa dia memelukmu?" tanya Mario, basa basi.
"Dia berterima kasih karena aku telah melahirkan istrinya. Dia juga mengatakan akan memberiku apapun yang aku inginkan sebagai hadiah. Dasar orang mabuk, siapa yang akan percaya,"
"Mom, apa menurutmu ... Given berjodoh dengan Arsen?"
Jenni menoleh dengan kening mengerut. "Dad, apa kau mulai merestui mereka?" tanyanya, tak percaya.
"Kenapa, sayang? Kau masih tidak setuju?"
Jenni kembali fokus dengan polesan creamnya
"Entahlah, aku juga bingung. Aku takut putriku akan kecewa."
"Kecewa? Dia anak dari temanmu. Kau tidak percaya dia?"
"Dad, kenapa kau terdengar sudah menerima anak itu? Kau tidak apa-apa? Sepertinya ada yang salah denganmu."
Mario menghela napas, tengah berpikir sejenak. "Aku memang tidak terlibat hubungan baik dengan Stefan. Tapi ... sepertinya putriku mencintai putra orang itu."
"Cinta? Tapi aku ragu dengan Arsen. Sudahlah, begini saja ..."
.
.
Di kamar Given.
Wanita muda itu terbangun. Seketika ia mengerjap-ngerjap saat menyadari ada seseorang yang tertidur disampingnya.
"Oppa?"
Hatinya yang dipenuhi kerinduan pada pria itu merasa sedikit terobati.
Bagaimana Oppa bisa berada di kamarku?
Hidungnya lalu mengendus-endus.
Aroma apa ini? Alkohol? Oppa kesini dalam keadaan tidak normal?
Given spontan membuka selimut.
Oh, aman. Masih berpakaian lengkap. Pikirnya. Ia mengira Arsen telah melakukan hal tak senonoh padanya.
Given lalu memanggil pelayan pribadi yang bertugas membantunya melalui panggilan telepon.
[Halo, Non.] suara sang pelayan.
[Tolong bantu saya. Saya kebelet. Sekarang ya,]
[Waduh, maaf Non, kita sedang di pasar. Kata tuan Jimin kita tidak perlu membantu karena pagi ini ada suami Nona.]
[Ya?? Akh, anak itu. Baiklah, terima kasih]
Dasar Jimin kurang kerjaan.
Karena sudah tidak tahan, Given terpaksa membangunkan Arsen.
"Oppa! Bangun! Oppa! Bangun! Oppa, aku sudah tidak tahan!
Membangunkan pria itu ternyata tidak mudah. Kalau saja bekas luka di dadanyanya sudah tidak sakit, Given akan menggunakan tenaga super untuk mengguncang tubuh orang itu.
Plak plak plak.
Given terpaksa menepuk wajah itu. Lebih tepatnya ini adalah tamparan.
"Auuu," Arsen mengusap pipinya.
"Opaaa!"
Terkejut mendengar suara yang memanggilnya ia pun membuka mata.
"Oppaaaa!"
"Jisoo? Kau ... disini? Bagaiaman bisa kau ada di kamar kita?"
"Oppa. Bantu aku. Aku sudah tidak tahan."
"Ya? Sayang, apa aku sedang tidak bermimpi? Kau sedang memintaku?"
Bener-benar minta ditabokin. Apa yang ada dipikirannya?
"Minta apa? Aku minta di gendong ke kamar kecil!"
Sadar istrinya sedang naik darah, Arsen mengedarkan pandangan. Tempat ini terasa asing baginya.
Segera ia beranjak lalu mengangkat tubuh Given. Arsen membawanya masuk ke toilet dengan hanya menebak. Untung bener.
Ssssssssssssssss.
Arsen merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari tubuh Given.
"Aiiiiiiss, Oppa, maaf!"
Given menyadari bahwa sesuatu yang sejak tadi ia tahan sudah keluar dengan beraninya. Bahkan Arsen belum sempat menurunkannya dari gendongan.
"Kau ... ngompol?"
__ADS_1
Arsen tercekat. Tetasan hangat itu kini meluncur sangat terasa. Bahkan meresap pada pakaiannya. Kalau bukan istrinya, pria itu pasti sudah membanting tubuh yang berada di gendongannya ini. Untung sayang.
Given mengangguk dengan rasa malu.
"Dasar bocah, sudah umur berapa masih ngompol?"
"Sorry Oppa!"
"Ya, minta maaf lebih tepat dari pada menangis histeris." mengingat Given versi bocah yang cengeng.
Arsen lalu menurunkan Given.
"Baiklah, ayo mandi."
"Oppa, tapi aku harus dibantu saat mandi."
"Iya, aku tahu. Aku yang akan membantumu."
"Oppa, aku malu."
"Malu? Aku sudah beberapa kali melihatmu dalam keadaan polos. Tidak perlu malu lagi. Ayo, buka."
"Mengompoli aku berkali-kali lebih memalukan."
Arsen mulai membuka pakaiannya sendiri. Mengenakan pakaian bekas ompol sungguh menjijikkan.
Arsen benar-benar membantu istrinya untuk membersihkan diri. Jangan tanya lagi jantungnya gimana. Sudah pasti berdebar tak bisa dijelaskan.
"Makasih, Oppa." ucap Given, Arsen hanya menjawab dengan gerakan alisnya. Tentu saja harus berterima kasih setelah menerima bantuan.
Hanya dengan menggunakan handuk di pinggang, Arsen kembali menggendong istrinya. Keduanya sudah menyelesaikan mandi.
"Jisoo, ini kamarmu?"
Given memgangguk. "Oppa, panggil aku Given."
Arsen tak menanggapi. "Aku akan mencari pakaian ganti untukmu."
Sebelum istrinya mengenakan pakaian ganti. Arsen berinisiatif membantunya mrngeringkan rambut terlebih dahulu sembari menunggu seseorang mengantatkan pakaian ganti untuk dirinya sendiri. Baru saja ia menghubungi Jem untuk mengantarkannya.
Suasana hening kini menguasai.
"Oppa,"
Akhirnya Given memulai pembicaraan.
"Hm."
Arsen menatap, lalu meletakkan pengering rambut itu, menyudahinya.
"Bagaimana keadaan Kang Ma Ri, Oppa?"
"Aku tidak tahu."
Given menatap dalam kedua mata itu. Hanya tatapan tulus yang ia temui dari tatapan mata Arsen. Membuatnya tidak tega.
"Oppa, akan bagaimana hubungan kita? Apa tetap akan berlanjut atau -"
"Kita adalah suami istri. Sampai kapanpun itu akan tetap sama," jawab Arsen. Terlihat sangat bersungguh-sungguh.
"Lalu ... bagaimana dengan masa lalu Oppa yang sepertinya belum kelar?"
"Kim Jisoo, bisakah tidak membahas Kang Ma Ri lagi? Aku tidak punya rasa yang sama lagi terhadap dia. Malam itu hanya karena kasihan sebagai sesama manusia." jelas Arsen, apa adanya.
"Lalu bagaimana kalau dia berusaha untuk kembali lagi denganmu? Apa kau yakin bisa mengacuhkannya? Dia cinta pertama Oppa."
"Dia bukan cinta pertamaku. Setelah aku ingat-ingat, cinta pertamaku adalah seorang gadis kecil yang dulu pernah kuberi coklat caramel saat dia sedih. Kami bahkan sudah tidur bersama sejak saat itu."
"Aku menyayanginya meskipun di dua kali ngompol di tempat tidurku. Dia bahkan ... kembali memgompoliku pagi ini."
"Oppa! Aku sedang serius."
Tahu dirinya sedang diejek, Given memasang wajah ngambek.
"Aku juga serius. Meskipun Kim Jisoo telah merebut hatiku, aku akan kembalikan perasaanku untuk si kecil manja itu." mendekatkan wajahnya, usil.
"Tapi gadis kecil itu Given, Oppa."
"Given, Given ... Given. Kau sangat senang kembali sebagai Given?"
"Iya," mengangguk.
"Baiklah, ayo mulai hidup baru sebagai Given. Aku ... akan berusaha menerima anak kecil itu lagi. Aku akan lupakan Jisoo, dan hanya ada Given sekarang."
Cup.
Hanya dengan satu kecupan di tangannya, jantung Given berdesir hangat.
"Oppa, bolehkah aku menganggap ini serius?"
"Tentu. Aku sangat serius, Given-ku ..."
Given tersenyum, menyentuh wajah Arsen. Menyelidiki ekspresi wajah dan mata itu, memastikan keseriusan disana. Tinggal jitak aja kalau terdapat kebohongan disana.
Merasakan sensasi dari tangan mulus yang kini bersentuhan dengan bibirnya, Arsen terpancung lalu mendekatkan wajah.
"Kau pasti merindukan kiss hebatku, kan? Aku akan memberikannya."
Arsen benar-benar menepis jarak antara mereka.
Keduanya kini kembali menikmati sensasi mendebarkan itu. Arsen merasa senang, istrinya sudah pandai membalas c1umannya.
Perlahan Arsen mulai menuntut lebih. Tangannya membuka bathrobe yang membalut tubuh istrinya itu. Meremas.
__ADS_1
"Hati-hati Oppa, jangan menyentuh luka-nya. sakit."
"Iya sayang,"
Ciuman itu perlahan pindah ke leher.
Turun, semakin turun hingga kini wajahnya tiba di gundukan yang sedari tadi ia mainkan. Dengan sedikit rakus ia menyesap gundukan kenyal itu secara bergantian.
Given mematung, menikmatinya. Ini merupakan rasa baru untuknya. Sungguh sangat menebarkan.
Tok tok tok.
Seseorang mengetuk pintu membuat Arsen terpaksa menghentikan aksinya.
Ia ayunkan langkah ke arah pintu.
Ceklek.
"Waw. Hyung, apa yang kalian lakukan? Kenapa kau hanya memakai handuk?" Jimin bertanya secara refleks. Ia datang membawa titipan pakaian ganti untuk kakak iparnya yang dititipkan Jem.
"Menurutmu apa? Kemarikan pakaianku. Setelah ini jelaskan kenapa aku bisa berada di kamar kakakmu."
"Hyung, kau tidak ingat sama sekali? Dasar payah. Dimana Nuna? Boleh aku masuk?"
"Jangan. Tunggulah. Kami akan keluar bersama."
"Oke, semua orang juga sedang menunggu. Hyung, bersiaplah. Sepertinya para orang tua ingin bicara serius denganmu."
Jimin berlalu. Arsen kembali masuk dan mengenakan pakaiannya.
"Sayang, sebenarnya yang tadi masih gantung. Kita akan lanjutkan nanti, Oke?"
.
.
Di ruang tengah.
Benar kata Jimin, para orang tia ingin bicara. Disana sudah duduk Stefan, Gina bersama kedua besannya. Ini masih pagi tapi pasangan itu mendatangi kediaman Park untuk bicara.
"Jen, Mario, sepertinya ... Arsen tidak bisa melepas putri kalian. Aku tidak menyangka kita akan berada dalam hubungan seperti ini, tapi ... inilah kenyataannya. Anak-anak itu sudah disatukan dalam pernikahan." Gina memecah ketegangan.
"Ehm! Mario, begini ... mari kita lupakan masalah lalu. Memang aku tidak menyukai hal ini tapi ... aku menerima hubungan mereka." sambung Stefan.
Ting.
Lift terbuka dan dua orang yang ditunggu keluar dati sana. Wajah bahagia keduanya mampu menyihir hati siapa saja.
"Mah, Pah," Given menyalim tangan kedua mertuanya.
"Bagaimana keadaanmu sayang? Apa masih sangat sakit?" tanya Gina.
"Sudah agak mendingan, Mah. Apa kalian semua sudah sarapan? Kenapa kita tidak sarapan dulu?" menoleh kearah mommy daddy.
"Ven. Ada yang mau kita bahas dengan kalian." ujar mommy.
Arsen mengambil posisi duduk di sebelah papa stefan.
"Dad, Mom, bicaralah."
Mario mulai mengutarakan sebuah maksud setelah menarik napas dalam.
"Arsen, jadi ... kau tidak akan menceraikan putri kami?"
Deg.
Arsen mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk. "Aku tidak akan menceraikan dia."
"Baiklah. Aku dan istriku memutuskan memintamu bermediasi. Gunakan waktu mediasi-mu untuk berpikir matang-matang tentang perasaanmu. Begitu juga dengan Given."
"Mediasi?"
Setahu Arsen, mediasi adalah untuk orang yang akan bercerai. Kedua pihak akan diminta untuk bermediasi sebelum memutuskan apa yang baik untuk hubungan mereka.
Konyol. Hubungan mereka baik-baik saja tapi malah diminta bermediasi. Yang seharusnya bermediasi itu adalah keempat orang tua ini. Arsen membatin.
"Berapa lama kami harus bermediasi?" tanya Arsen.
"Hanya 7 hari. Kurasa ... itu waktu yang cukup. Jangan bertemu selama mediasi."
"Oke, Dad, Mom, kami akan bermediasi." sahut Given.
.
Setelah persetujuan untuk bermediasi itu, Stefan membawa istri dan putranya untuk pamit pulang.
"Jimin, temani aku mengantar Oppa."
Jimin mengikuti Arsen dan Given menuju ke mobil.
"Sayang, aku akan mendatangimu kalau sudah kangen."
"Oppa. Hanya 7 hari dan setelah itu kita berdua akan bertemu setiap hari. Aku tahu, itu hanya alasan mommy sama daddy agar aku tetap berada dirumah ini bersama mereka. Mereka belum bisa melepasku pergi, Oppa. Kau tahu kami baru bertemu lagi."
"Iya, sayang. Tapi aku tetap akan datang diam-diam tanpa sepengetahuan mereka."
.
.
Tap like, Love dan komen yuk.
Jangan lupa votenya juga ya...
__ADS_1