
"Hyung, kita mau kemana?"
Rain mulai mempertanyakan kemana Arsen akan membawa dirinya dan Jisoo Nuna yang sedari tadi hanya membisu.
"Yang jelas aku akan membawa kalian ke tempat yang aman." -kawab Arsen.
Arsen menghentikan mobil di basmen gedung apartemen di mana ia tinggal.
"Hyung, apa kau akan menumpang kami di tempatmu?"
"Tidak."
Baiklah, sepertinya Rain tak perlu banyak tanya. Mereka pun keluar dari mobil, Rain membawa koper miliknya dan Arsen membawa milik Jisoo. Sedangkan gadis itu, belum mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
Sebuah apartemen di lantai 11.
"Tinggallah disini selagi kalian tidak punya tempat untuk pergi."
Apartemen dengam 2 kamar tidur, lengkap dengan isinya. Rain benar-benar merasa legah. kini dirinya tidak harus bersempit-sempitan lagi tinggal di kamar yang sama dengan Jisoo Nuna.
"Hyung, bolehkan kami menempati kamar masing-masing? Maksudku ... menempati semua kamar."
"Tentu saja itu harus." jawab Arsen, datar.
"Nuna, tidak apa-apa kan, kita tinggal disini?"
Si Nuna menghembus napasnya pelan, menatap sendu wajah adiknya, lalu berganti menatap Arsen.
"Ya, tempat ini adalah yang paling aman untukmu saat ini. Seperti katanya, kita boleh tinggal disini untuk sementara."
Mungkin saja ... ini adalah hutang baru yang harus aku cicil. Rain, nikmatilah tempat tinggal yang selalu kau damba-dambakan ini.
"Nuna, aku senang akhirnya kita bisa tinggal di tempat seperti ini. Hyung, terima kasih ya, kau sangat baik."
"Hmmm." Arsen hanya memjawab dengan deheman lalu berkata. "Rain, tinggalkan dulu aku dan Nunamu. Kami harus bicara."
Arsen meminta dengan baik dan cara yang sangat sopan, yang segera diangguki oleh Rain. "Oke Aku akan ke kamar dan membereskan pakaianku. Silahkan berbincang."
Pemuda itu pun pergi dengan senang hati.
"Jisoo, aku tidak tahu kehidupan macam apa yang sedang kau dan adikmu jalani. Tapi ... bolehkah aku menanyakan sesuatu? Bukannya aku ingin ikut campur, tapi ... aku ingin tahu, kenapa otang tua angkatmu hanya menginginkan Rain."
"Benarkah kau ingin tahu? Baiklah, kau sudah terlanjur melihat sebagian suasana rumit yang terjadi padaku."
__ADS_1
Jisoo pun mulai bercerita.
"Aku dan adikku bertemu saat aku berusia 8 tahun, sedangkan dia, berusia sekitar 3-4 tahun. Dia masih sangat kecil saat seorang wanita mengantarku ke panti Asuhan Harapan, di Busan."
"Jadi ... kalian bukan saudara kandung?"
Jisoo mengangguk. Ia menceritakan bahwa Rain dititipkan di busan sejak masih bayi.
"Noona, Noona, Noona! Begitulah cara dia memanggilku sejak awal. Memaksaku menjadi kakaknya."
Jisoo melanjutkan kisah saat Rain hendak di adopsi oleh pasangan itu, dia tidak mau pergi tanpa Jisoo noona. Anak itu membuat kedua orang tua angkatnya itu turut mengadopsi Jisoo.
"Memang dari awal, mereka tidak menginginkan aku. Ayah bahkan pernah hampir melecehkan aku. Dia tidak melihatku sebagai anak. Dia menginginkan tubuhku, sebelum aku dijual ke tangan seorang pria tua."
Owhh. Sungguh miris kehidupan wanita ini. Mungkin itulah kenapa dia dengan mudahnya melakukan kejahatan.
Arsen menatap gadis itu, tatapan yang tak dapat diartikan oleh Jisoo.
"Jangan menatapku begitu. Kau kasihan sekarang? Aku tidak bermaksud membuatmu tersentuh."
Arsen segera tersadar.
"Tidak. Aku tidak tersentuh sama sekali. Jangan berpikir aku akan menghapus hutangmu karena kasihan." -desis Arsen, yang mana membuat Jisoo mendengus kesal.
"Baiklah Jisoo, aku akan pergi bekerja. Tugasmu hari ini adalah siapkan makan malam sebeluam aku pulang dari kantor."
Arsen lalu pergi dri sana setelah memberitahukan kode kunci apartemennya di lantai paling tinggi gedung ini.
Sebelum benar-benar pergi, Arsen kembali berbicara "Apapun alasannya, jangan pernah melakukan kejahatan lagi."
.
.
Satu minggu berlalu.
Jisoo dan Rain masih tinggal di apartemen pinjaman Arsen. Aktivitas Jisoo juga sudah kembali seperti biasa.
Untuk mencicil hutangnya pada pria itu, selama ini tugas yang pria itu berikan hanyalah pekerjaan yang tak lepas dari keahlian seorang pembantu (Memasak, bersih-bersih, bahkan pria itu meminta menyiapkan pakaian ganti untuknya.)
Asiknya lagi, Jisoo tidak harus bertemu pria itu selagi melakukan tugasnya. Sebabnya, Arsen akan pulang dari kantor saat malam hari.
Di kantor kejaksaan.
__ADS_1
Drrrrt drrrt drrrt.
Si kembar memanggil.
[Halo]
[Jisoooooo! Hei! Ada party malam ini. Kamu datang ya,]
[Party apa?]
[Ini adalah party terbuka yang diselenggarakan kantor kami. Sekalian untuk memperkenalkan beberapa brand pakaian kita yang baru meluncur.]
[Apa itu tidak harus bawa undangan?]
[Hei cantik, kita berdua ada 1 undangan free dan ini akan kita berdua kasi ke kamu. Datanglah ke tempat kami saat pulang kerja. Kita pergi bersama dari sini.]
[Begitukah? Baiklah, akan aku usahakan.]
Panggilan berakhir.
Sepulang kerja, Jisoo bergegas menaiki motornya untuk pulang dan memasak untuk Arsen, majikannya itu.
Bib,
Jisoo menyempatkan diri untuk membacanya, takut kalau-kalau itu info penting.
(Tidak perlu siapkan makan malam) tulis pria itu pada pesannya, membuat Jisoo tersenyum penuh kemenangan.
"Ternyata, hari ini berpihak padaku. Jisoo, ayo ke tempat si kembar. Malam ini kamu bisa bersenang-senang di party mereka."
.
.
Menjelang malam.
Arsen bersama dengan Jem, sang assisten, menghadiri acara terbuka yang diselenggarakan oleh Mario Park sebagai pemilik Perusahaan Fashion ternama itu.
Dari kejauhan Arsen melihat Kang Ma Ri, sang mantan, juga hadir disana, sebagai salah satu model perusahaan tersebut.
(Datanglah ke alamat ini: ....... berdandanlah semenggoda mungkin. Ada tugas untukmu sekarang juga.) mengirim pesan pada Kim Ji Soo.
Bersambung.....
__ADS_1
Guysss. thanks yaaa🥰🥰🥰