
Pukul 02.00 dini hari.
"Giveeeen, Gi...ven ..."
Suara pelan tak berdaya seseorang masuk ke dalam pendengaran Arsen, mengharuskannya untuk membuka mata yang sejak tadi sudah terpejam.
"Gi ... veeeennnn."
Arsen kemudian tersadar bahwa ini bukanlah mimpi. Dirinya sedang bersama Given di ruang rawat sang nenek. Artinya, orang yang menyebut nama istrinya itu sudah pasti si nenek.
Pria itu lalu bergegas beranjak tanpa membangunkan Given.
"Nyonya, anda sudah bangun?"
Ia mengangguk perlahan.
Arsen lalu memencet tombol yang menghubungkan ruangan dengan dokter jaga.
Si nenek sepertinya sedikit bingung, kenapa ada Arsen di ruangan ini. Kemana anak dan cucunya? Kenapa malah ada orang lain yang menemaninya?
Beberapa saat kemudian, dokter pun datang.
Dokter terlihat legah setelah memeriksakan kondisi nyonya Park Yoora.
"Kondisi anda sudah membaik nyonya," dengan ramah, sang dokter meyakinkan.
Setelah kepergian dokter, Park Yoo Ra kembali melirik Arsen. Masih dengan perasaan bertanya.
"Nenek,"
"Nenek?"
"Maaf Nyonya, em ... anda pasti bingung kenapa saya ada disini."
"Ya ... dimana anak dan cucu saya?"
"Nenek, mereka di rumah."
"Lalu, apa masuk akal meminta orang lain menjaga saya?"
"Saya punya alasan berada disini, Nenek, saya bersama cucu anda, Given."
"Given? Mana dia? Polisi membawanya dan menyebutnya telah menipu. Apa mereka keliru? Panggilkan cucuku."
"Sabar, Nek, dia sedang tidur." Arsen menoleh kearah sofabed.
"Lalu, kenapa kau menemaninya? Bukanka kau bukan siapa-siapanya? kau telah menolak perasaan cucuku dan lebih memilih gadis kasar yatim piatu itu!"
Arsen tersenyum lebar.
"Kenapa kau tersenyum tak bersalah? Apa kau membalas perasaan Givenku sekarang?"
Arsen mengangguk, lagi ia tersenyum.
"Istirahat saja, Nek."
Arsen merasa waktunya belum tepat bagi Park Yoora untuk mengetahui kenyataan baru bahwa Given yang sebenarnya bukan Given yang telah ia sayangi selama ini. Pria itu lebih tidak siap jika orang tua ini akan melakukan tindak kekerasan lagi pada istrinya itu. Parahnya, kalau wanita tua ini harus benar-benar terkena serangan jantung lagi.
Meyakini bahwa Given sedang bersamanya, Park Yoora merasa legah. Tanpa melihat wajah siapa yang sedang berada di balik selimut.
60 menit kemudian, pintu ruangan kembali terbuka. Nampak Mario, Jimin dan Jenni memasuki ruangan. Setelah mendapatkan kabar dari rumah sakit tentang sang ibu yang telah sadarkan diri, Mario mengajak serta istri dan putranya segera datang memastikannya.
Klek, menyalakan lampu.
Ruangan dalam keadaan hening. Penghuni ruangan ini tengah terlelap.
"Dad, Mom,"
Jimin memberi kode agar Jenni dan Mario menoleh ke arah sofabed.
Dua orang tengah terlelap diatasnya dengan balutan selimut yang sama.
Jenni melotot seraya menutup mulutnya. Pemandangan manis sejoli ini benar-benar membuatnya tak percaya. Bisa-bisanya dua orang ini tidur bersama di masa mediasi yang belum berakhir. Dengan wajah polos tak berdosa sama sekali.
"Dasar tidak sabaran" Jenni mengayunkan langkah.
"Mom," Mario menggeleng untuk mencegah istrinya yang hendak menghampiri Arsen dan Given.
"Mereka sudah dewasa sayang, lagi pula mereka suami istri."
Jimin mengangguk membenarkan perkataan daddy.
Pagi harinya, Given terbangun lebih dulu.
Wajah tampan yang masih tertidur disampingnya membuatnya merasa bahagia.
"Oppa,"
Hanya dengan sekali panggilan, mata pria itu terbuka.
"Sayang, pagi," ucapnya lalu memberi istrinya kiss selamat pagi tepat di dahi.
"Oppa, aku mau ke toilet."
"Mau aku gendong?"
Given mengangguk.
"Ehmm."
Seseorang tiba-tiba berdehem.
Suara Jimin?
Arsen-Given sama-sama menoleh.
"Mommy? Daddy?"
__ADS_1
Pasangan itu kembali saling menatap. Gugup. Serasa pasangan terlarang lagi kepergok berduaan.
"Dad, Mom, jangan memarahi Oppa. Oppa tidak salah. Aku yang memintanya kesini karena merindukan oppa."
Melihat sorot mata mommy yang seakan ingin menerkam dari tempat duduknya, Given menjelaskan tanpa ditanya.
"Given, katamu tadi ingin di gendong ke toilet, sana pergilah. Jangan sibuk membuat pembelaan untuk suamimu." kini daddy bicara.
"Aku jalan sendiri saja, Oppa."
Given membawa perasaan kacaunya memasuki kamar mandi. Sedangkan Arsen, pria itu memilih beranjak dengan perasaan serba salah.
Drrrrt. Drrrt drrrrt.
Jem memanggil.
Arsen merasa sangat tertolong dalam situasi mencekam ini. Ia lalu memgatakan permisi untuk menjawab telepon.
Tiba di luar ruangan, Arsen mengelus dadanya. Legah.
[Halo, Jem.]
[Aku sedang menunggumu. Ayolah, katamu aku harus menjemputmu pag-pagi.]
[Jem, bisa aku minta tolong? Belikan sarapan untuk lima orang.]
[Apa? Yang benar saja? Mana uangnya?]
[Nanti aku ganti uangmu.]
[Baiklah, jangan lupa menggantinya.]
[Oke, Jem. Terima kasih banyak.]
Tuut tuuut tuuut.
Panggilan berakhir.
Bagaimana ini? Si mommy nampak sangat tidak menyukaiku. Oke aku memang tidak izin padanya tentang kedatanganku. Tapi setidaknya si daddy memberitahunya. Dia pasti terkejut karena tidak menyangka aku akan ada di sini dengan putrinya.
Arsen, masuklah dan hadapi ibu mertuamu. Bersikap beranilah sebagai laki-laki.
Arsen memang telah menhabarkan pada Mario tentang kedatangannya. Hanya mengabarkan. Mario bahkan tidak menanggapinya.
Beberapa menit kemudian ia pun kembali masuk ke ruangan itu.
Ceklek,
Yang dilihatnya adalah situasi yang menegangkan. Si nenek sedang menatap Given dengan ekspresi wajah yang tak bisa dijelaskan. Wanita tua itu sedang menekan dadanya sendiri seperti sedang menahan sakit.
Sementara Given, hanya menunduk wajah.
"Ma, inilah yang harus kita percaya. Dialah Given kita yang sebenarnya." Mario.
Arsen cukup memahami akan situasi ini.
Given berkata tanpa berani menatap neneknya. Merasa wanita tua itu tidak bisa menerimanya, Given berbalik untuk pergi. Air matanya menetes bitu saja.
Sebagai suami, Arsen tidak bisa melihat itu. Ia pun menghampiri istrinya dan memeluknya tanpa basa-basi.
Jangan menahannya. Menangislah.
Sesaat kemudian, terdengarlah isak tangis Given. Isakan pelan yang tidak benar-benar pecah.
"Given,"
Suara wanita itu memanggil nama cucunya.
Arsen melonggarkan pelukannya lalu meangkup wajah sedih istrinya. "Sayang, apa kau dengar nenekmu sedang memanggilmu?"
Given mengangguk.
Arsen tersenyum lalu memghapus air mata Given. "Berbaliklah dan hampiri dia. Nenek pasti ingin melihatmu lebih dekat. Hmmm,"
"Given,"
Kembali wanita tua itu memanggil nama cucunya.
Given berbalik.
Grandma merentangkan kedua tangannya.
Given perlahan mendekat.
"Maafkan wanita tua ini, sayang. Mata Grandma sudah sangat kabur sehingga tidak mengenali cucunya sendiri."
Keduanya kini menangis bersama. Keempat orang yang menyaksikan pemandangan itu tersenyum legah.
"Sayang, maafkan grandma yang berkali-kali menyakitimu. Dengan tangan dan dengan mulut ini. Kau pasti marah pada wanita tua ini kan?"
Yoo Ra mengusap wajah cantik cucunya. menghapus ait mata itu dan mengelus pipi yang dulu pernah ia gampar. Terlihat raut penyesalah pada wajah tua wanita itu.
"Maaf, sayang. Maaf."
Given kembali memeluk dengan hangat.
"Tidak perlu meminta maaf, Grandma."
Keluarga Park itu kini saling memeluk satu sama lain. Sadar diri, Arsen hanya diam menyaksikan. Ia ikut merasa bahagia, istrinya telah memdapatkan keluarganya kembali secara utuh.
Beberapa saat kemuduan ...
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian. Jem datang membawa sarapan yang di pesan oleh Arsen. Seorang petugas juga datang membawakan sarapan untuk Park Yoo Ra.
Arsen menghampiri Jem untuk menyambut sarapan pesanannya.
"Ini struk pembayarannya. Jangan lupa ganti uangku." bisik Jem sebelum pergi.
__ADS_1
"Tenang. Tapi kau pergilah ke kantor lebih dulu. Aku masih ada urusan."
"Baiklah,"
"Waaaah, Hyung, kebetulan aku sudah sangat lapar."
Jimin memghampiri sarapan pagi itu lalu duduk manis di sofa. Hitung-hitung mencairkan perasaan tegang kakak iparnya.
"Dad, Mom, sarapanlah. Aku akan menyuapi grandma." suruh Given. Suaminya sudah sok perhatian dengan memesan sarapan pagi. Kasihan dia jika dilewatkan, pikirnya.
.
.
Siang hari di ruang kerja Mario.
Tok tok tok.
Clek.
Pintu terbuka dan masuklah sang sekertaris. Wanita itu memberitahu kedatangan Arsen.
"Suru dia masuk."
"Baik Pak."
Kemudian masuklah Arsen seorang diri. Ya iya lah, sama siapa lagi, masa mau rame-rame?
Ketegangan dan rasa gugup kembali menghampiri saat bertatap dengan dua orang di dalam ruangan yang telah menunggunya.
"Duduklah Arsen," suara Mommy seperti memerintah.
Tentu saja Arsen menuruti. Ia pun duduk.
"Emmm. Arsen, apakah kau benar-benar menganggap outri kami sebagai istri dihatimu?"
Pertanyaan macam apa ini?
"Ehmm. Tentu saja, aku bahkan telah menikahinya."
Meski masih diselimuti ketegangan, Arsen berusaha menjawab dengan santai.
Si mommy tiba-tiba berdiri. "Kau ingat dengan yang pernah kau janjikan, Arsen?"
"Janji?"
Janji apa maksudnya?
"Janji konyol yang kau katakan saat pulang dalam keadaan mabuk. Saat itu kau terdengar sangat menggilai putriku. Kau bilang akan memberikan apapun permintaanku. Apa kau ingat?"
"A ... ya ... aku ingat." sambil berpikir keras, Arsen tetap mengiyakan. Tinggal memberikan apapun yang diminta ibu meruanya, itu tidaklah susah.
"Kemasi pakaianmu dan tinggallah bersama kami mulai hari ini." tegas si mommy.
"Ya?"
"Itu adalah permintaanku. Aku ingin tinggal bersama Given untuk waktu yang lama. Jangan buru-buru membawanya pergi. Kuharap kau bisa mengerti."
"Baiklah, Mommy, aku bersedia. Tinggal dimanapun asalkan dengan istriku, aku bersedia."
"Terima kasih!" Ucam mommy lalu melangkah pergi.
Arsen sontak berdiri dan memberi hormat.
Wajahnya kini terlihat legah.
"Jadi ... Givenku benar-benar typemu sekarang?"tanya Mario, seperti sebuah ledekan.
Arsen mengingat kata-katanya saat menolak Given yang sebelumnya. Putrimu bukan type-ku. itulah yang pernah ia katakan. Tanpa sadar bahwa orang yang ia cintai ternyata Given Park yang sebenarnya.
"Seperti yang mommy bilang, pindahlah hari ini juga kalau mau tinggal dengan istrimu."
"Aku mengerti, paman."
"Paman?"
"Oh, maaf, Daddy."
"Meski terdengar aneh, tapi kau harus memanggilku seperti Given memanggilku."
"Iya, Daddy."
"Jadi dimana Stefan dengan Gina, sekarang?"
"Ya? Oh, mereka ... sudah pulang ke Jakarta."
Mario mengangguk.
Mario lalu menyerahkan sebuah amplop yang entah apa isinya. "Bukalah."
Arsen menurut saja perintah itu. Tinggal buka aja apa susahnya, "Daddy, apaan ini?"
"Itu konsekuensi karena menjadi menantuku. Buat Stefan mau bekerja sama denganku. Aku akan membuka cabang perusahaanku di Jakarta. Sebagai besan yang baik, dia harus membantuku."
"Satu lagi, ini paket bulan madu kalian berdua."
"Bulan madu? Ke Jepang?"
"Ya! Bahagiakan putriku. Bukankah kalian belum berbulan madu?"
"Ya, Daddy benar. Baiklah, kami akan pergi. Terima kasih banyak, Daddy."
"Hmmm"
.
.
__ADS_1
Bersambung lagi...🤭