Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Wedding Day


__ADS_3

Jimin Park sedang dalam perjalanan pulang dari kampus. Dengan perasaan gelisah ia setir mobilnya seraya beberapa kali melirik amplop coklat yang baru di terimanya dari rumah sakit. Amplop yang berisi sebuah dokumen tentang hubungan biologis antar gadis yang sudah menjadi kakak untuknya selama ini.


Dihantui rasa penasaran yang tinggi, Jimin pun melajukan mobilnya ke jalur yang sepi lalu berhenti disana.


Dengan rasa was-was, pria itu membuka amplop tersebut yang mana membuat matanya kini berkaca-kaca seketika.


"Jadi kau ... benar-benar seorang penipu, Nuna?"


Jimin memukul-mukul stir mobilnya dengan perasaan geram bercampur sedih. Kenyataan bahwa gadis yang tinggal bersama keluarganya selama empat tahun terakhir bukanlah kakak kandungnya, membuat pria itu kesal, kecewa, marah dan bersedih di waktu bersamaan. Rasanya benar-benar menyakitkan.


Mom, dad, bagaimana kalian berdua harus menerima kenyataan pahit ini? Aku saja merasa tidak kuat mengetahuinya.


Jimin tertunduk, menangis sesegukkan dengan menyandarkan tubuh dan kepalanya pada stir.


Pria muda itu menghabiskan puluhan menit untuk meratapi kesialan keluarganya.


Sangat kebetulan. Sepertinya, aku juga bernama 'Given' saat aku kecil.


Degg.


Jimin tiba-tiba seperti kembali mendengar perkataan Jisoo saat pertemuan mereka di restoran miliknya, lebih dari sepekan yang lalu.


Kenapa aku teringat akan nuna itu?


"Hufff. Baiklah, mari kita tuntaskan semua ini."


Jimin mengeluarkan sebuah memori dari rekaman kamera mobil milik Given. Selama ini, ia sudah menahan diri untuk membukanya. Menolak segala pikiran negatif tentang gadis yang disangka kakak perempuannya itu.


Setelah melihat hasil DNA yang membenarkan semuanya, Jimin memutuskan untuk mengumpulkan bukti tambahan.


Benar saja, rekaman yang berhasil ditangkap oleh kamera dashboard itu membuktikan bahwa Given palsu memang sedang melancarkan niat busuknya bagi keluarga Park. Terbukti dari percakapan antar dirinya dengan seorang wanita setengah baya, yang mungkin saja ibu dari gadis itu.


Aku harus menyingkirkanmu lebih dulu Bae Su Mi.


.


.


Kediaman Mario Park.


"Jimin, dari mana kamu sayang? Kenapa pulangnya selarut ini?"


"Habis main sama teman, mom."


"Kamu sudah makan?"


"Sudah Mom, aku ke kamar, capek, mau istirahat. Oia Mom, dimana nuna sama daddy?"


"Mereka sedang makan malam dengan rekan bisnis kita. Ada apa, nak?"


"Mommy tidak ikut?"

__ADS_1


"Tidak, mommy sedang kurang sehat. Oia, besok bersiaplah ke kantor, Jimin, daddy akan buat pengumuman penting untukmu dan Given. Sepertinya daddy kamu mau segera pensiun. Jadi, sebelum kamu menyelesaikan study, kakak akan menggantikan posisi daddy sementara."


"Mom, maksud mommy ... transfer saham? daddy akan seger9 transfer saham lebih banyak ke nuna?"


"Ya, mungkin begitulah kira-kira. Itu sebabnya ... kamu sebagai anak laki-laki yang serius belajarnya. Biar nanti kalau kamu sudah benar-benar dewasa, kamu yang akan tanggung jawab penuh."


"Mom, tidak bisakah menunggu Arsen hyung? bagaimanpun, hyung juga salah satu pemegang saham di perusahaan kita, meskipun hanya 5 persen."


"Hal ini hanya tentangmu dan kakakmu. Jadi tidak apa-apa kalau Arsen tidak ada. Dia hadir pun, tidak akan berpengaruh baik. Dia juga tidak akan setuju kalau kakakmu ditunjuk sebagai pemimpin baru."


Jimin mengangguk paham. Ia berbalik dan kembali melangkah menuju kamarnya.


Di kamar, pria itu bulak balik, berpikir keras tentang sesuatu. Hal ini adalah dilema besar bagi dirinya.


Haruskah aku benar-benar mematahkan hati mommy sama daddy? Benar. Kebenaran ini harus terungkap besok pagi.


Maafkan aku, mom, dad.


Ia kemudian kembali memikirkan tentang Kim Ji Soo. Kenapa ada begitu banyak kebetulan yang menghubungkan keluarga Park dengan Kim Jisoo? Pertanyaan itu berkeliaran di kepala pria itu.


Hari ini adalah pernikahan hyung dengan nuna. Apa sebaiknya aku menelpon? Nuna, apa Jisoo nuna sebenarnya adalah nunaku? Kalau di perhatikan baik-baik, Jisoo nuna punya kemiripan dengan daddy dan mommy.


Selera makanan daddy juga sama dengannya. Mimisan, apa lagi? Kalung. Bukankah nuna bilang pernah memiliki kalung yang sama dengan milik mommy?


Rain. Ya ... pria kejam sok tampan itu juga pernah berkomentar tentang foto kecil Given nuna yang begitu mirip dengan nuna Jisoo.


"Tunggu. Aku tidak bisa langsung menyebutnya begitu. Aku harus bersabar."


Pria itu lalu meraih ponselnya dan menghubungi Kim Jisoo.


.


.


Setelah siap dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya, polesan make-up yang membuat wajah cantiknya semakin bersinar, tiba waktunya bagi Kim Ji Soo untuk keluar dari kamar.


Tok tok tok.


Dua gadis cantik dengan wajah identik, yang tak lain adalah si kembar sahabat Jisoo, datang untuk menjemput sang mempelai wanita.


"Ehmmm! Cantik,"


Seorang wanita lainnya berdiri di muka pintu. "Hei, sayang kamu terlihat sangat cantik. Beruntung sekali putraku mendapatkan wanita secantik ini," puji mama Gina.


Sementara di tempatnya, jantung Arsen sudah mendebar tak karuan. Seluruh keluarga besar sudah berkumpul mendampingi pria itu. Tak lupa, disana juga ada J-hope dan Suga.


"Bro ... kau tidak lupa mengenakan ****** *****-mu 'kan?" J-hope.


Pertanyaan yang membuat Arsen mendelik kearahnya.


"Tidak mengenakannya juga tidak masalah. Aku yakin pedangnya sudah sesak ingin segera keluar dari tempatnya." -Min suga.

__ADS_1


"Jangan mempertanyakan tentang celana dalamku. Begitu acara selesai, jangan menggangguku. Aku akan langsung menyerang istriku."


"Aku legah, akhirnya kau benar-benar akan mengasah pedangmu malam ini,"


Asik membahas seputar malam pertama Arsen, perhatian ketiga pria itu teralihkan oleh suara sang nenek yang memanggil cucunya.


"Lihat, itu calon istrimu."


Sama dengan ekspresi Arsen, yang terlihat sangat jelas diwajah pria itu sedang mengagumi betapa indahnya sosok gadis yang telah dipilihnya itu, tak ada bedanya dengan raut wajah Suga dan J-hope.


Si kembar yang mengapit mempelai wanita bersama mama Gina, benar-benar menyilaukan mata.


"Suga, kenapa gadis kembar itu terlihat sama? A Rim-ku yang mana?"


"Tidak penting yang mana si A Rim. Yang penting wajah mereka sama. Sesekali tertukar juga tidak masalah." jawab Min Suga.


Di tempat acara berlangsung, setiap yang hadir turut merasakan kebahagiaan. Pasangan kekasih yang baru saja sah menjadi suami istri dihadapan semua orang saat ini, tampak begitu serasi. Wajah bahagia keduanya nampak sangat nyata.


Aku sudah menjadi seorang istri. Proses ini kuikuti tanpa kehadiran orang tua yang mendampingiku. Beruntung aku memiliki Rain dan si kembar yang menjadi saksi di pihakku. Aku berharap, pria disebelahku ini memang dipilih Tuhan untukku.


Apapun yang akan aku alami setelah ini, semoga aku bisa menghadapinya dengan senyum. Seandainya pun kasih sayang pria ini akan menghilang suatu hari nanti, semoga aku bisa menerimanya dengan lapang.


Aku hanya seseorang yang diambil begitu saja, mungkin bisa dibuang kapan saja. Aku harus siap. Aku beruntung menikahinya, tapi belum tentu dia beruntung menjadikan aku istrinya. Kita tidak tahu kapan dia akan berubah. Tapi ... bolehkah aku berharap, akan bahagia selamanya dengan pria ini?


"Kenapa dengan wajahmu? Kau sedang memikirkan apa?" Arsen membuyarkan lamunan Kim Jisoo.


"Tidak apa-apa Oppa, aku hanya merasa lelah. Kapan acara ini berakhir?"


"Kau ingin aku membubarkan acara kita? Aku bisa mengusir semua tamu sekarang juga."


"Aishh Oppa, tidak harus dibubarkan."


"Bersabarlah. Ayo kita duduk. Kau pasti lelah berdiri memakai sepatu hak tinggi itu."


.


.


OKe guyssss.


Tap tap tap jempol kalian ya....


Makasiiiih🥰🥰


Oia, Aku dpt teguran nih dri editor🤭


Tadinya karya ini udah kontrak sejak 30 Oktober lalu. tapi karena menjurus ke arah Fanfic, jadi dibatalin.



Kalo tadinya viewnya puluhan ribu per hari, aku akan gercep buat revisi. tapi berhubung hanya seribuan dan gak pernah dapet promosi juga, jadi tunggu tamat aja baru revisi.

__ADS_1


Ayo semangat guysss! Mari kita OTW tamat.


😍😍😍😍😍


__ADS_2