Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Kangen Berat


__ADS_3

Hati² kalian memasuki area yang sedikit panas.🤭


Ga ada yg masih polos kan disini?😉


....................


Arsen POV.


Aku membolak-balik tubuhku diatas tempat tidur. Sudah 3 hari penuh aku tidak bertemu langsung dengan istriku. Ini sangat menyiksa.


Kudengar kabar darinya, ia sudah bisa menggunakan kakinya untuk berjalan pelan. Ini berita baik yang sedikit menenangkan.


Bermediasi? Ya ... seperti yang dikatakan pak Mario, tidak. Harus kupanggil apa dia? Papa? Daddy? Sekarang beliau adalah ayah mertuaku.


Aku benar-benar menata hatiku selama tiga hari ini. Aku pun menyadari satu hal, bahwa aku sangat mencintai Given. Semakin aku mengingat serpihan masa kecil kami, jantungku semakin bergetar tak karuan. Tidak ada lagi rasa tak suka-ku pada Given kecil yang nyatanya sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat aku cintai.


Aku tidak peduli lagi akan masa lalu orangtua kami. Yang kudengar adalah ... papa pernah menghajar daddy karena hampir merebut mama-ku darinya. Astaga ... ternyata hanya karena persoalan asmara hubungan mereka yang memang tidaklah akrab berubah menjadi musuh sampai saat ini. Mereka tidak saling menyapa walau saling mengenal. Termasuk papa dan mommy-nya Given yang awalnya adalah sahabat, berubah renggang. Terlebih lagi mungkin karena mereka tinggal di negara yang berbeda.


Yang membuatku terheran, kenapa mereka saling terlibat dalam kerja sama bisnis selama berapa dekade sampai hari ini kalau hubungan komunikasi mereka tidak berjalan normal?


Beruntung aku sudah nikahi Given. Kalau belum, bisa kalian bayangkan bagaimana susahnya mendapatkan restu dari dua ayah yang tidak saling menyukai. Aku yakin kami akan jadi salah satu pasangan yang nekad kawin lari.


Oke, sekarang aku memasuki area kediaman keluarga istriku. Aku pastikan papa dan mama mertuaku sudah tidur.


Jimin yang kuhubungi pada jam tengah malam begini, mengataiku kakak ipar jahat karena membangunkan anak itu saat ia sudah berada di kasur nyamannya.


Sesuai perintahnya, aku memarkirkan mobil kesayanganku jauh dari pos sekuriti. Aku menurut saja saat dia memintaku melompati pagar yang tingginya melebihi tinggiku.


Anak ini sudah berani memasang wajah tak sukanya padaku. Aku tahu dia pasti masih dongkol. Kulihat dari wajah bantalnya yang tak bersahabat.


"Hyung! Zaman sudah canggih. Apa kau tidak bisa lakukan VC saat ingin bertemu?" kesalnya. Setengah mati ia seret sebuah tangga untukku. Tangga instan yang bisa diatur tinggi rendahnya.

__ADS_1


"Itu jelas tidak sama Jimin, Video Call tidak berasa." sahutku, bela diri. Aku yakin otak polosnya tidak akan mengerti maksudku.


"Naiklah, Hyung. Tapi kalau terjatuh aku tidak tanggung jawab." ujarnya malas. Ingin kujitak kepalanya itu. Sebelumnya dia sangat menghormatiku. Tapi saat aku sudah jadi kakak iparnya, mulutnya berubah pedas, seenaknya. Apa lagi dia sangat tahu aku sangat menginginkan kakaknya. Bocah sekarang memang kurang beradab. Tidak ada bedanya dengan si bayi besar yang kini menjadi pangeran ketiga kesayangan mama papaku.


"Kenapa kamar istriku berada di lantai tiga? Apa tidak ada kamar dilantai dasar?" protesku menengadah ke atas, gugup.


"Hyung, ini tidak seberapa dari pada apartemenmu yang berada di lantai lima puluh." ucapnya lagi, yang sayangnya kubenarkan dalam hati. Anak ini bisa saja menjawabku.


Kakiku yang bergetar menaiki anak tangga itu tak menghentikan tekadku untuk menemui istriku. Sial. Semakin tinggi, bukan hanya kaki ini yang bergetar. Seluruh tubuhku bergetar hebat. Tangga ini sunghuh tak pengertian. Ia pun juga ikut bergetar seperti sedang menakutiku.


Ternyata benar, hasil memang tidak pernah menghianati usaha. Aku tiba di lantai tiga tepatnya di balkon kamar istriku. Kamarnya sudah dalam keadaan gelap gulita. Mungkinkan dia sudah tidur nyenyak?


Benar. Istriku telah tidur nyenyak tanpa merasa bersalah. Dia tidak merindukanku? Aku mendekatinya dan berbaring di sebelahnya tanpa diperintah. Aku memeluknya dengan sayang.


"Oppa?"


Dia terbangun karena ulahku. Meski dalam keadaan gelap, dia bisa mengenali suaminya. Hebat bukan?


"Iya sayang, ini aku. Aku bilang akan datang kalau sudah rindu." jujurku.


"Aku merindukanmu dan merindukan itu-mu." ucapku, ingin melihat reaksinya.


"Oppa! Kenapa kau berubah jadi mesum?"


Tuh, kan? Dia menyebutku mesum padahal aku hanya bercanda. Tapi kalau bisa diseriusin ga apa-apa sih.


Given POV.


Aku merinding suamiku mendatangiku ditengah malam begini. Lewat mana dia? Aku yakin dia sudah melakukan hal nekad untuk sampai ke kamarku.


Dia mengatakan sangat merindukanku. Aku bahagia mendengarnya.

__ADS_1


Tapi apa ini? Tangannya tidak bisa diam.


"Sayang, aku ingin mencicil malam pertama kita." bisiknya ditelingaku. Ini menggelikan.


Mencicil malam pertama? Kayak kreditan aja dicicil? "Lakukan apa yang Oppa inginkan." jawabku, belajar menyenangkan hatinya. Lihat saja, dalam kegelapanpun aku bisa melihat ekspresi bahagianya.


Aku kegelian saat tangannya mulai beraksi lagi. Dia sengaja membuat bibir kami saling menempel, bertukar liur. Sementara tangannya mulai masuk kedalam bajuku. Ia meremas gundukan milikku sesukanya, seakan tubuhku ini miliknya. Tapi, memang miliknya sih,"


Aku merasa bahagia merasakan ini.


Dia melepaskan ******* dibibirku, namun berpindah ke leherku. Geli, tapi aku suka. Aku membiarkannya dan menikmatinya.


"Sayang, aku mau nyusu, boleh ya?"


Kenapa dia bertanya? Tentu saja boleh. Akupun menikmatinya. Aku menekan kepalanya yang menempel di dadaku, dia pasti tahu aku terbuai oleh sentuhan ini.


Dia seperti bayi yang kehausan menghisaap dua benda kenyalku bergantian.


Entah untuk apa, tangannya mengambil tanganku. Oh, tidak. Dia menuntun tanganku untuk membuka celananya. Dengan sadar aku pun melakukannya. Parah. Kini tanganku diarahkan untuk memegang pedang pusaka kebanggaan miliknya. Aku gugup. Untuk pertama kali, aku memegang benda ini.


Yang kami lakukan ini sudah mirip seperti adegan dalam video yang pernah kami tonton bersama.


"Oppa," bisikku, pelan.


"Apa sayang?" jawabnya, dengan nada aneh seperti orang mabuk.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


🤭🤭🤭🤭 mereka semakin nakal.


Jan lupa ya guys. tap jempol kalia 😁


__ADS_2