
Given meraih box ponsel yang sempat di tatapnya beberapa saat.
Note : 'Untuk istriku. Cepat sembuh ya, Ji Soo sayang.' tulis Arsen pada secarik kertas.
Chhh. Sayang? Kenapa terdengar seperti kebohongan?
Terdengar notif beberapa kali ketika Given menyalakan ponsel itu.
From: Huband
[Istriku sayang, apa kau sudah bangun? Aku merindukanmu]
[Sayang, hari ini aku pergi mendesak ke luar negeri bersama papa.]
[Kim Ji Soo, apa kau merindukanku? Mungkin untuk sekarang tidak, kan? Puas-puaslah nikmati kebersamaan dengan keluargamu, sayang. Sebelum aku mengambilmu lagi.]
[Sayang, saat ini aku sedang di Itali. Istriku mau ole-ole apa?]
[Sayang ... maafkan aku karena malam itu ... aku terlambat pulang. Aku sangat menyesalinya. Saat aku pulang nanti, kau boleh memarahiku sepuasnya. Kau boleh menghukumku dengan cara apapun.]
Given membalasnya hanya dengan satu balasan.
[Kau memang sedang tidak ingin melihatku, kan? Kenapa? Kau kecewa karena aku ini 'Given'? Dan kau ... tidak perlu berpura-pura. Jujur saja kalau kau masih belum move on dari wanita tercinta-mu yang bernama Kang Ma Ri. Aku lihat wajah khawatirmu di malam saat kau mengantarnya ke rumah sakit. Kau takut kehilangan dia, kan? Tidak perlu menyiksa diri untuk menjadi suamiku hanya untuk melupakannya.]
Given meletakkan ponselnya asal, setelah memgirim pesan panjangnya. Puas. Ia merasa puas telah membuat pria itu mengetahui isi hatinya walau hanya melalui pesan teks.
.
.
ARSEN POV
__ADS_1
Aku tercekat beberapa saat menatap layar ponselku. Wanita-ku, oh tidak, istriku, dia mengirim sebuah pesan yang sangat panjang, menggemaskan.
Apa katanya? Kenapa dia harus mengungkit Kang Mari? Oke, aku salah karena malam itu aku terlambat menjemputnya hingga nyawanya hampir saja terenggut.
Tapi aku tidak pernah berpikir akan dituduh yang macam-macam. Enak aja, siapa yang belum move on? Aku menolong Kang Mari hanya karena alasan kemanusiaan.
Given? Memang kenapa kalau dia Given? Dia tetap Kim Ji Soo bagiku. Oke, ini memang tantangan bagiku. Aku melihat Given dan Kim Ji Soo sebagai orang yang berbeda. Tapi benar kata mamaku, mereka adalah orang yang sama. Dia itu satu, tetap istriku.
Apakah aku membenci Given? Tidak. Tapi aku masih menganggap Given Park itu seorang bocah. Gadis kecil manja yang kusayangi. Berbeda dengan Kim Ji Soo, dia wanita kuat, langka, dan penuh pesona dimataku. Tidak ada yang tidak kusukai dari Ji Soo. Aku mencintai sosok Kim Jisoo. Sedangkan Given? Aku hanya menyanyanginya sebagai adik perempuan sejak dulu. Ini mungkin terlihat sepele. Tapi bagiku, ini sangat serius. Sulit untukku menganggap Given Park dan Kim Ji Soo sebagai orang yang sama. Apa itu salah?
Akhirnya, kuputuskan untuk menghubunginya lewat panggilan video.
Beberapa kali aku mencoba menghubunginya, tapi dia tidak meresponnya dengan segera.
Ini sangat menyiksaku.
"Sen, semuanya sudah kelar. Bersiaplah untuk menghadiri makan malam bersama sebelum kita kembali besok."
"Pah, Papa bilang urusan pekerjaan kita selesai?"
Aku meyakinkan pendengaranku.
"Ya." jawab papa, membuatku melonjak girang, segera beranjak dari kursi malas yang dari tadi aku nikmati setelah lelah melakukan banyak hal beberapa hari ini.
"Pah, bolehkah aku tidak menghadiri makan malam? Aku mau kembali ke Seoul sekarang juga."
"Papa tahu, meski ragamu disini tapi pikiranmu disana. Pulanglah. Istrimu pasti merindukanmu. Papa titip salam untuknya."
Papa memang pengertian. Aku tidak perlu merengek. Beliau langsung mengiyakan.
.
__ADS_1
.
Kediaman Park.
Mario sangat senang karena pagi ini putrinya sudah boleh keluar dari rumah sakit.
Meski belum sembuh sepenuhnya, tapi putrinya itu mendesak ingin pulang karena tidak betah berlama-lama di rumah sakit. Untuk itu, Mario memperkerjakan seorang tenaga medis ahli untuk terus memantau kondisi Given.
Given terlihat sangat bahagia kembali lagi ke kediaman Park. Meski ada satu kekosongan dihatinya, tapi ia berusaha menutupinya dengan tetap tersenyum.
.
.
Arsen melajukan mobilnya ke kediaman Park setelah memastikan bahwa istrinya itu sudah tidak di rawat di rumah sakit.
Ada apa ini? Hatiku merasa gugup.
"Ada perlu apa datang kemari, Arsen?"
Pantas Arsen merasa tidak enak hati saat dalam perjalanan. Bukan sambutan hangat sebagai seorang menantu oleh Mario Park, tapi dirinya di sambut bagaikan orang asing.
"Halo, Pak, saya ... ingin melihat istri saya."
Arsen memberi hormat seperti kebiasaan orang Korea.
"Istri? Saya tidak punya menantu sepertimu."
.
.
__ADS_1
Bersambung.....