
Nit nit nit.
"Oppa! Bunyi apa itu?" tanya Jisoo, setengah berbisik, saat Arsen hampir saja memulai apa yang sedang ia minta dari gadis itu.
"Suara pintunya terkunci." jawab Arsen, setengah berbisik pula.
"Jangan bohong. Pintu mana?" Jisoo menjauh seraya mendorong pelan tubuh pria itu. Ia yakin, itu mungkin saja suara seseorang dan itu membuatnya gugup, takut dipergoki.
"Ini!" Arsen mengangkat sebuah benda kecil berwarna hitam ditangannya, mendekatkannya ke wajah gadis itu. "Aku menguncinya dengan remot kontrol ini. Masih tidak percaya?"
Jisoo bergantian menatap ke arah pintu dan benda kecil itu. "Owh... em... begitu rupanya." biar tidak kelihatan terlalu norak dan kelewat polos, Jisoo berlagak percaya, mengangguk pasti. Kembali ia mendekatkan diri dengan mengayunkan kakinya beberapa langkah, membuatnya kini langsung berada di dalam dekapan pria itu.
"Aku menguncinya supaya kau tidak perlu merasa gugup takut ketangkap basah."
"Sorry Oppa, terima kasih."
"Sudahlah, begini saja. Aku sudah tidak menginginkan itu." memeluk dengan hangat.
"Oppa. Apa kau marah?" meyakinkan apa yang baru saja di dengar oleh telinganya.
Arsen hanya terus memeluk. "Aku sudah tidak berselera. Lain kali saja.
"Oppa, kau yakin?" Jisoo merasa legah bahwa Arsen telah berubah pikiran. Terlihat sangat jelas dari ekspresi wajahnya itu, namun tak terlihat oleh Arsen.
"Hmmm. Kembalilah ke kamarmu." melepaskan pelukannya perlahan.
"Baiklah Oppa, sampai ketemu besok pagi. Ingat, jangan melupakan perjanjian kontrak satu bulan kita."
.
.
Hari ini, Arsen berencana akan mengajak tunangannya itu untuk menikmati waktu kencan berdua. Hitung-hitung, membangun kedekatan dengan Kim Ji Soo yang akan ia nikahi. Entah kedekatan yang bagaimana lagi yang harus ia bangun, padahal mereka bahkan sudah beberapa kali berc1uman, namun sepertinya tak berefek apa-apa bagi gadis tak peka itu.
Seperti biasa, keluarga Yoris akan berkumpul di pagi hari untuk sarapan bersama.
"Jisoo, hari ini pergi dengan mama yah, ada yang mau mama tunjukkan padamu."
"Iya, Nyonya."
"Mau kemana lagi, Mah? Aku ada rencana dengannya hari ini."
"Nanti kalian akan tahu Sen. Mama ada kejutan untuk kalian."
.
.
__ADS_1
Sesuai dengan ajakan si mama, Arsen, Jisoo dan Ibunya itu kini melaju membelah jalan menuju tempat yang disebutkan mama.
"Ahss, ke tempat ini? Aku sudah bilang mama tidak perlu ikut campur dengan gaun yang akan dipakainya. Aku yang akan pilihkan untuknya." pria itu mengajukan keberatan, bahkan sebelum mereka tiba di dalam rumah busana pengantin ternama yang terletak di pusat kota itu.
"Masuk saja dan tentukan pilihan kalian di dalam."
Petugas meminta ketiganya memasuki sebuah ruangan dimana kejutan untuk Kim Jisoo telah disiapkan.
Apakah ini mimpi indah atau semacamnya?
Jisoo tertegun mematung menatap sebuah gaun indah, dengan perasaan bergetar.
"Waaah. Ini terbaik, Mah." Arsen ikun mengagumi betapa anggunnya karya sang perancang terkemuka itu. Ia bahkan belum melihat koleksi yang lainnya. Gaun yang terlihat elegant, sedikit tertutup, sungguh pilihan yang sangat tepat.
"Nyonya, bagaimana mungkin gaun ini nyata ada di depan mataku?"
"Bukankah aku ibu mertua yang keren? Aku tau gaun impianmu bukan?" mama tersenyum.
Jisoo meneteskan air mata. Gadis itu menangis terharu di dalam pelukan si calon ibu mertua.
Arsen mendelik kearah dua wanita disampingnya. Tidak ada angin dan hujan, Jisoo terisak dalam pelukan mama Gina, hanya kerena sebuah gaun.
"Bukankah ini berlebihan? Kenapa kau menangis?" tanya Arsen kemudian.
Jisoo menjadi semakin terisak. Sementara wanita yang memeluknya hanya memperlihatkan senyum cantiknya.
"Oppa. Aku sangat senang. Aku akan pakai ini di pernikahan kita."
"Iya, aku setuju. Tapi kenapa kau harus menangis?"
"Rancangan gaun ini mama curi dari Jisoo, Sen. Dia sendiri yang merancangnya sebagai gaun impian untuk weddingnya."
Jisoo mengangguk membenarkan.
"Trima kasih Nyonya, aku tidak menyangka akan mengena kan ini di hari pernikahanku. Aku sangat senang."
"Apa? Kau merancangnya? Memangnya kau seorang perancang?" Arsen penasaran.
Jisoo menggeleng. "Aku bukan perancang. Tapi aku suka merancang, Oppa."
"Wah, kekasihku ternyata sangat berbakat. Jisoo, kenapa kau selalu mengagumkan dimataku?"
"Bukan hanya dimatamu Oppa. Semua orang dikantorku juga mengagumiku." tandas gadis itu, polos.
Sungguh pernyataan yang tidak menyenangkan di pendengaran pria itu. Namun, ia masih sanggup mengangguk kepala ringan.
"Oke, kau mengagumkan." menyentuh pundak gadis itu.
__ADS_1
"Ehmmm. Mama masih disini. Sen, tahan dulu."
"Mah, aku tidak akan menelannya disini. Aku hanya ingin mencicilnya. Bisa mama keluar dari sini sebentar?" Candaan berlebihan putranya itu membuatnya mendapat pukulan di punggungnya dari tangan mama yang sedikit bar - bar.
Waktunya berkencan. Arsen sengaja meminta supir untuk menjemput ibunya.
"Oke, nikmati waktu kencan kalian. Mama tunggu dirumah bersama jagoan mama yang lain. Arsen, ingat-ingat, jangan nakal."
Mama masuk ke mobilnya, Arsen bersama Jisoo melanjutkan perjalanan.
"Jisoo, kau tidak berhenti tersenyum. Jangan seperti orang gila." mengingatkan gadis itu, yang sampai detik ini masih membayangkan betapa senangnya mengenakan rancangannya sendiri di hari pernikahannya nanti.
"Aku sangat bahagia Oppa." Berulang kali, hanya itu yang dikatakan Kim Jisoo.
"Kau terlihat tidak sabar menikah denganku."
"Iya, aku tidak sabar. Aku sangat tidak sabar ingin mengenakan gaun itu. Aaaahhhh, senangnya."
"Bagus. Itu artinya kau cukup senang akan menikah denganku. Anggap saja begitu." Arsen menghentikan mobil, dijalan yang cukup sepi, tidak dilintasi oleh kendaraan apapun.
"Oppa, tempat apa ini? Kenapa kita berhenti?"
"Aku haus."
"Haus?" Jisoo mencari-cari keberadaan air mineral atau minuman apa saja. "Tapi kita tidak punya minuman Oppa,"
Arsen mencondongkan tubuhnya. "Minumannya disini." ujar Arsen dengan suara pelan, nyaris berbisik, menyentuh jari telunjuknya pada bibir tunangannya itu.
Jiso tersenyum. Entah apa yang dia rasakan, sepertinya keinginan Arsen juga adalah sesuatu yang ia inginkan saat ini. Sebagai respon, ia bergerak mencondongkan tubuhnya, seperti yang dilakukan pria itu.
"Oppa, aku juga menginginkannya."
Aseeek. Akhirnya kau ada kemajuan sayang.
Dalam beberapa saat, tubuh ramping Kim Ji Soo sudah berpindah diatas pangkuan Arsen.
Mulai menyesap, memainkan lidah lebih agresif. Kenyataan bahwa Jisoo juga menginginkannya, membuat Arsen kesenangan bukan main.
Aku akan membuatmu melupakan perjanjian konyol itu, Kim JiSoo.
Tangan Arsen yang biasanya hanya diam, kini mulai aktif. Tubuh Jisoo yang dicintainya nyata-nyata berada diatasnya saat ini. Tentu saja godaan dari sentuhan yang akan ia berikan boleh naik level.
Kenapa tangan Oppa masuk kedalam bajuku? Oh no... ini terasa nikmat. Aku tidak bisa menolaknya.
.
.
__ADS_1
Tap jempol kalian dimanapun ya guysss😊. Boleh di kolom komentar, like, dan dimana aja dah. Kayak tangan si Oppa yang mulai berani kemana-mana🤗