
Sedang tidak tertarik untuk menyentuhku?
"Lalu, bagaimana caraku mengembalikan uangmu?" -Jisoo yang masih berada dibawah pria itu, kembali bertanya.
"Tanda tangani kontrak sebagai budak." -jawab Arsen matab, seraya beranjak dari posisi terlarang itu.
"Budak? Kau bermaksud menjeratku seumur hidup?" -tanya Jisoo lagi. Yang dirinya tahu tidaklah mudah melunasi ratusan juta won dalam beberapa tahun.
"Apa? Menjeratmu? Jangan terlalu Percaya Diri. Apa aku terlihat menginginkanmu?" -Arsen tersenyum jahat di ujung kata-katanya.
Hantaman telak bagi seorang Jisoo. Ini terdengar seperti penghinaan.
Aku sungguh tidak berpikir begitu. Siapa yang sudi hidup denganmu selamanya?
"Lalu kapan itu bisa lunas? Aku tidak sabar ingin terlepas dari bayang-bayangmu."
"Jadi Kau selalu membayangkan aku?" -Tanya Arsen, dengan PDnya.
"Bukan itu! Yang aku maksudkan adalah ingin terlepas dari hutang bagai malapetaka ini agar tidak berurusan lagi denganmu."
"Hei! Kau sangat sombong ya, apa kau tahu betapa banyaknya wanita yang mati-matian ingin berada di dekatku? Kau satu-satunya yang ingin terlepas dariku. Wanita macam apa kau ini?" -Arsen terlihat sedang menahan kekesalan di dadanya. Bagaimana mungkin pesona yang ia miliki luntur begitu saja saat berhadapan dengan wanita ini?
Pria tampan itu sungguh mengira bahwa semua wanita menyukainya, kecuali Kim Jisoo. Benar-benar membuatnya penasaran pada gadis langka ini.
Hahaha! Apa katamu? Wanita macam apa? Apa kau tahu betapa banyaknya pria yang kuabaikan selama ini? Apa kau pikir kau saja yang yang disukai banyak orang? Pria gila ini.
"Baiklah, terserah kau saja. Aku tidak peduli berapa banyak wanitamu. Tapi ... boleh aku minta sesuatu sekarang?"
"Katakan!"
Jisoo pun menjelaskan dengan pelan tentangnya yang harus tetap bekerja seperti biasa, memiliki kehidupan pribadinya seperti biasa, tanpa harus terlalu sering diperbudak.
"Aku mohon pengertianmu, Arsen Yoris. Oke, aku akan berusaha semampuku untuk melunasinya. Dan, kumohon jangan pernah berpikir untuk menjadikanku makanan laki-laki hidung belang itu. Aku memang tidak memiliki orang tua yang akan sedih jika aku rusak. Tapi, aku juga tidak ingin menjadi santapan orang banyak." -menjelaskan dengan tatapan sedih. Tentu saja sedih mengingat dirinya pernah berada ditengah banyaknya pria menakutkan.
Aku tidak akan memberikanmu kepada siapapun. Pada akhirnya, akulah yang akan memakanmu. Bagaimana jika itu terjadi? Apa kau akan membenciku?
Oh, apa yang otak gila-ku pikirkan? Tidak mungkin aku menyukai seorang maling dengan mudah. Ya ... dia bukanlah type-ku.
Arsen mengerjap mata beberapa kali, seraya menggeleng untuk menyadarkan dirinya dari pikiran kotor.
"Oke, karena kau cukup berani meminta, aku menyetujuinya. Kau boleh kerjakan aktifitasmu seperti biasa. Tapi saat aku membutuhkan jasa-mu, kau harus datang tanpa banyak alasan." tegasnya.
__ADS_1
"Ok-oke, aku bersedia! Tapi, boleh aku tahu apa saja hal yang akan aku kerjakan untukmu? Aku ingin tahu apa itu akan merugikan aku."
"Ya? Kau takut dirugikan? Apa kau pikir ... 200 juta won itu tidak merugikan aku?" -Arsen kembali dengan volume yang melibatkan urat lehernya.
Takut kalau-kalau Arsen berubah pikiran, Jisoo mengalihkan pembicaraan. "Emmm. Begini. ... aku dan adikku akan pulang. Ini kartu namaku. Simpanlah dan hubungi aku kapanpun. Bisa aku pergi?"
"Baiklah!"
Dengan cepat Jisoo keluar dari kamar, menghampiri adiknya dengan langkah setengah berlari. "Rain, ayo kita pulang."
"Kalian berdua, ikutlah denganku." -Arsen berjalan mendahului kakak beradik itu.
"Hyung, kau ingin mengantar kami?" -Rain bertanya dengan semangat, yang hanya dijawab satu kata saja oleh Arsen, 'Ya'
"Waaah Hyung, selain tempat tinggalmu, mobilmu juga sangat nyaman." -dengan polosnya Rain mengungkapkan rasa kagumnya, seperti seorang anak kecil. Padahal sebelumnya, dia terlihat garang dan dingin.
Ada apa dengan bocah ini? Apa dia baru sadar kalau aku orang baik?
Tiba di tempat tinggal kakak beradik itu, Arsen pun ikut turun dari mobil.
"Em... Arsen, kau boleh pergi. Tidak perlu mengantar sampai ke atas."
Kakak beradik itu kompak meminta Arsen pergi.
"Kalian berdua mengusirku? Aku hanya ingin tau pintu apartemenmu yang mana!"
Sepertinya pria itu menjaga kemungkinan kalau Jisoo akan menipunya. Belajar dari pengalaman, yang mana gadis ini menggunakan kartu identitas orang yang sudah mati saat menawarkan diri pada mucikari dan memberikan nomor ponsel sekali pakai, benar-benar wanita cerdik.
"Terserah kau saja"- Jisoo.
"Nuna, bagaimana kalau dia akan syok melihat keadaan apartemen kita?" -bisik Rain.
"Setidaknya ini lumayan daripada gubuk reot milik kakek." -jawab Jisoo.
Arsen mengikuti keduanya dari belakang.
Setelah menaiki tangga sempai ke lantai paling atas, yaitu lantai tiga, kakak beradik itu tiba di depan sebuah pintu.
"Ini tempat tinggal kami." -Jisoo memberitahu. Sementara adiknya itu, membuka pintu yang entah kenapa tidak terkunci.
"Nuna! Ada apa ini?" -teriak Rain, berlari ke dalam setelah menyadari sesuatu telah terjadi disana.
__ADS_1
BERANTAKAN.
"Kurang ajar! Siapa yang habis mengamuk disini?" -Rain mengumpat, marah. Sementara si Noona, terdiam tanpa kata.
"Apa yang ingin dicuri dari kalian? Kenapa membuat ruangan sempit ini berantakan? Apa kalian berdua punya banyak musuh?" -Arsen, Pria itu tak kalah syok dengan keadaan berantakan ini. Segala macam barang tergeletak dimana-mana.
Ruangan sempit ini seharusnya hanya menampung satu orang. Apa ini? Mereka bahkan tidur di ruangan yang sama?
Arsen berjalan menuju satu-satunya kamar tidur yang ada, dan benar saja, terdapat dua ranjang kecil disana.
Keadaan di dalam kamar juga tampak sangat kacau.
"Rain, apa kau masih ingin hidup dengan Noona?"
"Apa maksud Noona? Kenapa bertanya seperti itu?"
"Rain, ayah ibu angkatmu telah menemukan kita. Mereka yang melakukan ini. Jika kau masih ingin bersama Noona, pergilah bersembunyi. Noona akan mengemas barang-barang kita."
"Noona! Tidak mungkin mereka menemukan kita."
Arsen mendekat. "Ada apa? Ayah dan ibu angkat? Kalian adalah anak-anak yang melarikan diri dari orang tua angkat?"
"Aaaarsen," -meremas lengan kemaja pria itu. "To-tolong bawa adikku, ke tempat si kembar. Adikku harus bersembunyi. Aku akan berkemas dan menyusul. Aku mohon!"
"Maksudmu, kami harus pergi dan meninggalkanmu? Jangan merengek. Ayo pergi bersama."
"Tidak. Jika terlambat, mereka akan kesini dan menemukan Rain. Tolong bawa adikku segera!"
Kenapa wajahnya jadi kasihan begini? Dia benar-benar takut kehilangan adiknya.
.
.
Bersambung...
Guys.. besok author ga bisa double up kyknya.
Maaf kalau part ini tidak mengesankan.
Author lagi mabok😄.
__ADS_1