Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Dia Menolakku?


__ADS_3

Maafkan aku readers... dalam dua hari ini aku ga sempat nulis 🙏🙏🙏🙏


Selamat membaca....


....


Hari ini, mama beserta Joon bersiap kembali ke Tanah Air.


Gelisah. Mama Gina merasa bimbang untuk pergi meninggalkan putra sulungnya.


"Kami hampir tidur bersama." -pernyataan itu kini berkeliaran di pikiran dan menguasaai perasaan si mama.


Bagaimana kalau anakku mengulang kesalahan yang sama? Kesalahan yang pernah aku dan Stefan lakukan dulu? Oh Tuhan, perasaanku jadi tidak enak. Aku ingin menjaganya.


Arsen akan mengantarkan kepulangan mama dan adiknya ke bandara Incheon.


Meninggalakan pintu apartemen dan kini memasuki lift, membuat mama semakin kepikiran akan si sulung. "Ma, kok terlihat murung? Sedih yah pisah lagi sama kakak?" -Joon.


"Mah, aku sudah hidup mandiri selama ini. Jangan terlalu menghawatirkanku." -Arsen.


"Hmmmm. Mama tidak apa-apa. Hanya saja, didalam lift ini terasa sangat dingin."


Lift berhenti dilantai 11.


Ting,


Si mama tiba-tiba terlihat syok dan hampir saja terjatuh, ketika pintu lift terbuka dan menampakkan seorang pria muda tampan disana.


"Mah, kenapa?" -kedua pangeran di kiri kanan mama terlihat sangat khawatir.


"Nyonya, tidak apa-apa?" -Rain memberi perhatian kepada nyonya di depannya yang terlihat sangat tidak sehat.


Gina dengan cepat menggeleng dan tidak melepas tatapannya pada anak muda itu.


Dia seperti jelmaan Tuan Kim.


"Hyung" -Pemuda itu mengangguk ke arah Arsen.


"Rain, masuklah." -Arsen mempersilahkan Rain untuk bergabung di lift yang sama.


Sedangkan Joon, pria itu sedang mengamati wajah Rain.


Aku seperti pernah melihat orang ini.


Rain pun masuk setelah mengatakan 'permisi dan terima kasih'.


"Kalian ... saling mengenal?" -si mama bertanya karena rasa penasarannya yang tinggi.


"Iya mah, dia adiknya Kim Jisoo." -Jawab Arsen, singkat.


Adiknya Jisoo?


Joon kembali teringat ABG pantai itu.


("Noona ...! Tinggalkan saja pria itu. Biarkan dia mati")

__ADS_1


Ya ... sekarang Joon mengingatnya. Dia adalah ABG laki-laki yang bersama Jisoo saat itu.


Jadi dia bernama Rain? Anak dengan perkataan tak berakhlak itu.


Karena Joon mengenakan masker, Rain tidak melihat wajahnya. Yakinlah, anak muda ini masih mengingat Joon.


Tiba di lobi.


"Noona!" -Rain memanggil Jisoo seraya melambaikan tangan, berjalan cepat agar si kakak segera melihat keberadaannya.


Melihat kedatangan adiknya, Ji Soo pun tersenyum manis.


"Arsen, pacarmu yang ini senyumnya sangat cantik."


"Tentu saja Mah, pacarku tidak mungkin jelek."


Setelah memberikan barang milik Noonanya, Rain berpamitan untuk kembali dan meminta agar Noona meberhati-hati di jalan.


"Hai, Jisoo, mau kemana sepagi ini?"


"Oh, nyonya? Saya akan berangkat kerja." -memeberi hormat setelah berpamitan tanpa ingin berbasa-basi lebih lama. Sehingga, keberadaan Arsen pun seperti tak dianggap.


Dia mengabaikan keberadaanku? Apa dia lupa aku ini pacarnya?.


Di dalam mobill.


"Arsen, ingat pesan mama."


Gina masih saja mengingatkan Arsen akan nasihat yang ia tumpahkan kepada putra sulungnya tadi malam.


"Hmmmm. Tenang aja Mah."


Joon, yang duduk di sebelah kemudi abangnya itu, lagi-lagi melayangkan ultimatum.


"Hmmmm." -Arsen berdehem untuk kedua kalinya.


Shhhiiiit!


Mobil berhenti secara tiba-tiba.


"Ada apa Sen? Kamu ngagetin mama deh."


Arsen lantas keluar setelah mengatakan "tunggu disini."


Melihat Kim Jisoo sedang menunggu Di halte bus dan berhimpitan dengan banyak orang, Arsen merasakan ketidaknyamanan didasar hatinya.


"Eh! kim Ji Soo! Ikut aku!"


Menarik tangan gadis itu, menyeretnya ke mobil.


"Masuklah!" -


"Hah? Tap-tapi aku-"


"Masuk, atau kau akan terlambat."

__ADS_1


Perjalanan kembali dilanjutkan dalam keadaan hening. Sepertinya semua orang sibuk dengan apa yang mereka pikirkan.


Perasaan apa yang aku rasakan terhadap gadis ini? Aku merasa nyaman saat dia berada disekitarku. Apa aku benar-benar menyukainya? Aku menyukai seorang Kim Ji Soo? Gadis yang hampir aku tiduri dengan bayaran? Aku sepertinya sudah gila.


Setelah mengantar keberangkatan mama dan adiknya, Arsen kembali menempuh perjalanan bersama Jisoo.


"Tolong antar aku ke kantor Kejaksaan."


"Jangan bercanda Jisoo. Orang sepertimu tidak mungkin bekerja disana."


"Apa maksudmu? Karena aku adalah seorang penjahat? Itu yang kau pikirkan?"


"Csssh! Jangan emosi Jisoo, aku hanya tidak menyangka kau bekerja disana."


Tiba di depan kantor kejaksaan, Arsen menghentikan mobil dan tentu saja kekasih pura-puranya itu turun dari mobil.


"Jisoo, nanti ayo makan siang bersama. Aku akan-"


"Maaf, aku tidak ada waktu melakukan hal itu denganmu."


Jisoo melenggang pergi.


Pria itu membuatku tidak nyaman. Dia tidak harus repot-repot memperdalam hubungan sandiwara ini diwaktu yang tidak diperlukan.


Arsen masih menatap kepergian Jisoo sampai menghilang dari pandangannya.


"Apa? Wanita itu menolak ajakanku tanpa perasaan? Hah, aku tidak percaya ini."


.


.


Di Kediaman Yoris.


Tampak seorang pria setengah baya dengan ketampanannya yang masih terlihat jelas, sedang menikmati kopi hitam di ruang kerjanya.


[Halo, bicaralah!] ujarnya pada seseorang yang baru saja menghubunginya via telepon.


[Boss, kita akan segera menemukan anak itu.]


Degg.


Stefan menegang.


[Beri informasi yang jelas.]


[Anak itu, diadopsi oleh sepasang pasutri di Busan. Setelah kami selidiki, kedua orang itu juga yang telah menitipkan baby Tae ke Panti Asuhan Harapan, lalu mengadopsinya beberapa tahun kemudian.]


[Segera bergerak ke Busan. Ambil kembali anak itu dari mereka.]


.


.


.

__ADS_1


Oke, sekian dulu untuk hari ini.


Jangan lupa untuk selalu dukung karya ini ya guys.. tengkyu...


__ADS_2