
"Ehmm!"
Deheman si mama memecah suasana hening terasa begitu memcekam di kediaman ini meskipun ada empat manusia yang sedang menikmati makan malam bersama.
"Sayang, makan yang banyak." -mama kembali memindahkan olahan udang Lobster ke piring makan milik Joon, pria muda yang terlihat sangat tak bersemangat. Kenapa lagi kalau bukan gara-gara malaikat cantik-nya sudah berlabuh di hati abang kesayangannya itu.
"Kenapa Joon? Kau terlihat tidak berselera, jauh-jauh meninggalkan Jakarta hanya memperlihatkan wajah murungmu disini,"
Seolah tak memahami perasaan adiknya, Arsen memamerkan kemesraan dengan Jisoo.
"Sayang, tambah lagi makannya,"
"Tidak usah, aku ... sudah kenyang." -Jisoo menolak secara halus.
"Kakak, ayo bicara."
Joon dengan beraninya meminta Arsen mengikutinya, setelah makan malam selesai.
"Ada apa?" -tanya Arsen setelah keduanya kini hanya empat mata.
"Kakak, aku sangat menyukai Kim Ji Soo. Berikan dia padaku."
"Apa? Joon, kau ingin mengambil pacar kakakmu sendiri?" -menatap heran.
"Kakak yang mengambilnya dariku. Dia adalah gadis yang pernah menolongku di pantai. Aku yang lebih dulu bertemu dengannya."
"Tidak. Dia milikku. Hei! Banyak gadis lain selain Ji Soo. Jangan menginginkan pacarku."
Perdebatan berlangsung panjang, tidak ada yang mau merelakan Ji Soo.
Bruak..
"Jadi kalian berdua memperebutkan satu wanita? Hah? Asal kalian tahu, di dunia ini popolasi wanita lebih banyak dari pada pria. Jangan seperti anak kecil memperebutkan mainan yang sama."
__ADS_1
Mama muncul secara-tiba-tiba tanpa mengetuk, sedikit tercengang menyaksikan pemandangan asing di depannya, dimana kedua putranya saling mencengkeram kerah baju, dengan sorot mata tajam. Seperti sedang bersiap melakulan penyerangan.
"Lepas, atau mama akan mencoret nama kalian dari Kartu Keluarga Yoris. Memalukan punya anak laki-laki yang bertingkah seperti bocah." omel sang mama penuh penekanan.
Mama yakin, ancaman menakutkan ini akan memberi efek pada dua putra yang sangat menomorsatukan dirinya itu.
Dua pria tampan yang selalu memberinya cinta yang sangat besar. Si sulung yang sejak kecil sangat takut kehilangan mama lagi, dan si bungsu Joon yang takut kehilangan kasih sayang karena tahu dirinya hanyalah anak titipan peninggalan kedua orang tuanya yang telah tiada.
"Sorry!"
Kedua pria itu kompak mengucapkan maaf.
Mama mendekat setelah menghela napasnya berat.
"Arsen, ceritakan ke mama, apa yang terjadi dengan hubunganmu dan Ma Ri?"
"Mama sangat ingin tahu? Dia bermain gila dengan pria lain. Dia bahkan tidur di apartemen pemberianku untuk Ma Ri."
Sepertinya Arsen kembali merasakan sakit hati ketika mengatakan hal itu. Mengingat hal kotor itu membuatnya merasa sangat sakit hati.
"Arsen, pikirkan ini baik-baik. Jangan mempermainkan perasaan perempuan. Itu akan melukai perasaan mama juga."
"Iya, aku tidak mempermainkan Jisoo, Mah."
"awas saja kakak membuat malaikatku menangis. Aku akan merebutnya secara paksa." tegas Joon, mengancam. Ia lalu keluar dari kamar itu.
Tinggallah mama dan si putra sulung.
"Arsen, mama legah kamu tidak berlarut dalam kesedihan. Kamu sudah sangat dewasa sayang. Bahagialah." -memberi sedikit dorongan semangat pada putranya.
Mama sangat tahu, Arsen bukanlah type pria yang dengan mudah melupakan perasaan. Dari mata pria itu, mama bisa menebak bahwa cinta untuk Kang Ma Ri masih ada sampai detik ini.
Meski curiga dengan hubungan antar Arsen dan Jisoo yang hanyalah sandiwara, mama Gina tidak mau ambil pusing. Biarkan saja. Semoga putranya ini akan mendapat wanita yang tepat pada saatnya nanti. Wanita yang baik, orang yang bisa mendampingi putranya dengan setia, sehingga tercipta Rumah Tangga yang harmonis seperti yang ia jalani dengan papa Stefan.
__ADS_1
"Dulu, cinta pertama papa kamu bukan mama. Papa punya kekasih yang sangat disayanginya. Sedangkan mama, papa kamu adalah cinta pertama untuk mama Sen."
Arsen menoleh, menatap mama Gina dengan perasaan kagum. Mendengar pengalaman perjalanan cinta kedua orangtuanya membuat pria itu mengerti, bahwa selain Kang Ma Ri, akan ada cinta yang lain untuknya.
"Apa selama ini ... papa tidak pernah sakiti mama?"
Pertanyaan putranya itu, Gina hanya tersenyum. "Tidak pernah sekalipun papa mengecewakan mama maupun kamu. Dia sangat menyayangi keluarga Sen, mama juga berharap anak-anak mama akan menjadi pria baik seperti papa."
"Tenang saja ma, sejauh ini, aku baik-baik saja."
"Oke Sen, sekarang ... karena usiamu sudah cukup untuk menikah, akhiri hubungan sandiwara itu dan mulailah mencari cinta yang baru. Segeralah menikah. Hmm?"
"Bagaimana kalau itu bukan hubungan sandiwara? Bagaimana kalau aku menganggap itu serius? Apa mama bisa menerima gadis itu?"
"Jadi kalian serius? Itu bukan Akting? Jujur Arsen, apa yang sudah kamu perbuat denganya? Hayoo bilang." Mama Gina tertawa menggoda putranya. "Ayooo cerita..."
"Mah, kami ... pernah ..."
"Pernah apa?"
"Kami pernah hampir tidur bersama."
Owhhh, putraku yang polos, apa yang sudah kamu lakukan?
Keterusterangan Arsen membuat mama berdebar. Arsen memang tidak berbakat dalam menyembunyikan sesuatu dari ibunya.
Oh Tuhan, kenapa aku mengatakannya? Kenapa aku selalu mengatakan semuanya pada mama?
.
.
Oke, sekian dulu guysss.
__ADS_1
.