
✉ ❤[Oppa ...]
Baru juga Arsen memacu mobilnya meninggalkan area basement, chat dari istri tercinta sudah menyapa.
✉ [Iya, sayang] balas Arsen.
✉ ❤ [Kangen kamu, Oppa]
Arsen tersenyum menatap ponselnya, sambil tetap fokus menyetir.
✉ [Dandan yang cantik malam ini sayang, nanti oppa jemput.]
✉❤ [Benarkah? Kita mau kemana?]
✉ [Kok masih tanya? Kita mau bulan madu sayang. Oppa sudah reservasi kamar hotel.]
✉❤ [Waaaah. Benarkah? Oke, Oppa. Kalau begitu, aku istirahat dulu, kata Oppa harus kumpulkan tenaga 'kan.]
✉ [Iya. Istirahatlah, sayang. Tahan dulu kangennya. Jangan buat aku putar balik arah.]
✉❤ [Oke]
.
.
Hari sudah gelap. Arsen menyelesaikan beberapa pekerjaannya, kemudian beranjak dari ruangan.
"Jem, aku pulang dulu. Istriku sudah menunggu."
"Baik boss, selamat menikmati malammu." ucap Jem, seraya tersenyum usil.
Setelah mampir di toko bunga sesuai saran Jem, Arsen tersenyum senang melihat buket bunga yang kini dipegangnya.
Jem ada - ada saja, bunga? Untuk apa ini? Apa dia akan senang di beri bunga ini? Bunga Bank jauh lebih berguna dari pada ini. Bikin sarang nyamuk aja, ah, semoga istriku menyukainya.
Arsen kembali menjalankan mobilnya hingga kini ia sudah tiba di area parkir bawah tanah apartemen berlantai 50 tersebut.
Drrrrt drrrt drrrt
Sebuah panggilan dari nomor tanpa nama kontak, memanggil.
Meski hanya melihat nomor ponsel tersebut, Arsen sudah mengenal siapa penelponnya.
Dengan malas pria itu menjawab, setelah tiga kali ia abaikan namun nomor itu lagi-lagi menghubunginya.
[Ada apa, Kang Ma Ri?]
[Arrrsen, to-to tolong aku.] suara lirih Ma Ri dari seberang sana.
[Kau kenapa? Maaf aku-]
[Tolong antar aku ke rumah sakit, Arsen...]
[Kau kenapa? Kenapa menangis?]
[Arseen, aku, dipukul, pria itu. Dia menjahatiku.]
Kang Mari menangis dan terdengar sangat kasihan.
Entah oleh dorongan apa, Arsen kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Oppa!"
Ji Soo yang sudah tiba di area basement, keheranan melihat wajah panik suaminya yang pergi begitu saja tanpa dirinya. Bukankah Ji Soo meminta Arsen menunggunya? Lalu kenapa dia di tinggal?
Beruntung ada taxi yang baru saja mengantar penumpangnya, Jisoo lalu menaikinya dengan tergesa.
"Ikuti mobil di depan pak!"
"Baiklah Nona,"
.
.
Rumah Sakit.
Sampai saat ini, nyonya Park Yoo Ra belum juga sadarkan diri setelah terjatuh akibat terkejut akan kenyataan tentang cucu perempuannya.
"Mom,"
Jimin mendekati ibunya, membawakan makanan. Seharian ini ibunya itu tidak makan karena terpuruk dengan keadaan yang begitu tiba-tiba.
__ADS_1
Meski sudah meluapkan kemarahannya kepada dua wanita yang telah menipu keluarganya, namun kenyataan bahwa sang ibu mertua yang sangat menyayanginya itu kini berbaring pasrah tak sadarkan diri. Membuat Jenni merasa seluruh dunianya runtuh berantakan.
"Kenapa selama ini kita begitu bodoh, Jimin? Seluruh keluarga tertipu selama bertahun-tahun. Jimin, bagaimana kalau grandma kamu tidak segera bangun? Apa yang harus kita lakukan?"
.
.
Arsen tiba di apartemen yang menjadi tempat tinggal Kang Ma Ri. Apartemen penuh kenangan kebersamaan mereka sebelumnya. Hadiah termahal dari Arsen untuk mantan kekasihnya itu, Kang MaRi.
Ini hanya karena alasan kemanusiaan. Aku hanya pergi membantunya. Bikan karena aku masih sayang.
Arsen meneruskan langkahnya untuk segera sampai di tempat Kang Ma Ri berada.
Sementara Ji Soo, setelah memutuskan untuk menunggu di dalam taxi. Jisoo coba menghubungi suaminya, namun tidak ada respon.
Beberapa menit kemudian, Arsen muncul bersama dengan seorang wanita di gendongannya.
Kenapa orang itu? Siapa dia? Kenapa Oppa menggendongnya?
Arsen kembali menjalankan mobilnya, tentu saja Jisoo meminta supaya sang supir kembali mengikuti keduanya.
Ruma sakit.
Ternyata, Arsen membawa gadis itu ke rumah sakit. Jisoo dapat melihat kepanikan di wajah Arsen yang tampak sangat menghawatirkan orang itu. Jisoo terus mengikuti keduanya. Tak dapat dibohongi bahwa hatinya merasakan getaran yang tak wajar. Ada rasa sakit, meski itu hanya seujung kuku.
Apa dia punya kekasih lain?
Apa aku telah menikahi kekasih orang lain?
Hubungan macam apa antara Arsen dengan orang itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu memguasai pikiran Jisoo.
Tibalah ia di sebuah ruang rawat.
"Arsen, terima kasih banyak. Kamu mau membantuku meskipun aku telah menyakitimu."
"Sudahlah, tidak perlu bahas masa lalu Ma Ri, bisa aku pergi sekarang?"
"Arsen, kau benar-benar telah melupakanku?"
Ma Ri menahan tangan Arsen yang hendak pergi.
"Tidak perlu bahas tentang perasaan. Disini aku hanya datang untuk menolongmu. Lain kali, carilah pria yang benar-benar baik."
"Kau adalah wanita kedua yang pernah aku cintai setelah mamaku. Tapi itu sudah tidak penting. Aku sedang berusaha keras melupakanmu. Melupakan semua tentang kita. Itu memang tidak mudah. Aku melawan perasaanku sendiri. Tapi -"
"Arsen, tolong maafkan aku."
Kang Mari yang tadinya berbaring, kini berusaha mengatur posisinya untuk duduk agar bisa memeluk pria itu. "Aku mencintaimu, Arsen. Aku sangat menyesal. Tolong maafkan dan ayo kita mulai lagi dari awal. Kamu mau kan?"
Ma Ri yang masih terisak kini memeluk Arsen. Ia yakin, pria itu pasti bisa memaafkannya.
"Maaf, Kang Ma Ri, aku sudah menikah. Aku ingin memberikan hidupku hanya untuk istriku."
"Kau menikahinya untuk melupakanku kan, Arsen ... aku sangat mengenalmu. Kau bisa melupakannya dan kembali padaku."
"Cukup, Ma Ri. Kau salah. Meskipun perasaanku belum sepenuhnya untuk dia, tapi aku berusaha jadi yang terbaik untuk dia. Aku menyayangi dan menyukai dia. Tolong jangan ganggu aku lagi. Aku pergi."
Arsen pergi dan menghilang dari ruangan itu, tanpa menyadari bahwa istrinya juga berada disana.
Dengan setengah berlari pria itu keluar dari rumah sakit, kembali melajukan mobilnya untuk menjemput Jisoo.
Maaf sayang, aku terlambat.
.
.
Jisoo kini berjalan kaki. Ada banyak hal yang kini mengitari isi kepalanya.
Aku sangat percaya diri mengira Oppa sangat mencintaiku. Ternyata ... dia baru belajar mencintaiku.
Dari matanya, dia masih menyimpan banyak cinta untuk Kang Ma Ri. Ya ... dia tidak akan sanggup mengabaikan wanita yang dia cintai.
Lalu bagaimana dengan malam pertama? Aku yakin dia tidak akan menikmatinya bersamaku. Ah, sudahlah,
Drrrrt drrrt drrrt.
(Pemilik 100 Juta Won) memanggil
Kim Jisoo memutuskan untuk menjawab walaupun keadaan hatinya saat ini sangat tidak enak.
__ADS_1
[Halo,]
[Sayang, tadi kamu turun ke basement? Kamu masih disitu? Aku masih dijalan memjemputmu. Hati-hati sayang.]
[Oppa.]
[Ya? Kenapa Jisoo?]
[Aku sedang dijalan.]
[Maksudnya? Hei, ada apa dengan suaramu? Kau sedang sedih? Kau sudah di hotel? Tapi kan aku belum beritahukan nama hotelnya, sayang]
[Oppa, lain kali saja. Aku ... ingin nginap di tempat si kembar malam ini.]
[Jisoo? Jangan ada-ada saja dong sayang, aku jemput kamu sekarang, yah, dimana kamu?]
[Oppa istirahat saja. Lagipula, orang itu sedang membutuhkanmu. Kasihan dia.]
[Dia? Siapa?] Arsen mulai menyadari sesuatu.
[Kang Ma Ri maksudmu? Sayang, kau tahu aku tadi pergi membantunya? Kau marah? Maaf, sayang. Ayo bicara. Kita harus meluruskan ini.]
[Tidak perlu, oppa. Aku tidak marah. Aku hanya beri oppa waktu untuk merenungi baik-baik perasaan oppa. Kita tidak perlu bertemu dulu.]
[Jisoo, Jisoo! Jisooo!]
Suara istrinya tiba-tiba menghilang.
Arsen coba menelpon kembali, namun tidak ada jawaban.
"Aaah, sial. Kenapa jadi begini?"
Arsen kemudian menghubungi J-hope untuk memanyakan alamat si kembar.
(Aku dan si pemilik Hiu Kecil sedang di apartemen si kembar. Kami berempat sedang berpesta. Datanglah.)
Jhope juga memberitahu bahwa Jisoo baru saja menelpon memgatakan dirinya sedang menuju tempat tinggal si kembar.
Akhirnya Arsen bisa bernapas legah.
Istriku ada-ada saja. Aku penasaran seperti apa wajahnya saat ngambek? Sayang, sampai ketemu.
Sudah sekitar 2 jam sekawan itu berbincang berbagai hal di tempat si kembar, Jisoo tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Ponselnya dalam keadaan aktif namun tidak menjawab. Arsen kembali merasa khawatir.
Drrrrt drrrt drrrt.
Park Jimin memanggil.
[Halo, Jimin?]
[Hyung, dimana nuna?]
[Nuna? Siapa maksudmu? Aku tidak mengantongi nunamu.]
[Katatakan kau dimana Hyung? Kau tidak bersamanya? Kenapa kau tidak menjaganya?]
[Kau menelpon untuk memarahiku? Apa urusannya aku dengan kakakmu? Kenapa aku harus menjaganya?]
[Katamu kau suaminya? Lalu kenapa kau tidak menjaganya?]
[Kim Ji Soo maksudmu? Kau melihatnya? Kenapa dia? Katakan! Istriku dimana? Aku sedang menunggunya!]
Tuut tuut tuut,
Jimin mematikan ponselnya.
Kediaman Park.
"Dad, aku tidak tahu kita harus mempercayai pria itu atau tidak. Yang pasti, kita harus selamatkan nuna dulu."
Mario terdiam.
Ia baru saja menerima sebuah video ancaman dari seorang pria yang mana Kim Ji Soo yang ia kenal sedang menjadi sandera seseorang. Dan yang mengejutkannya lagi, gadis itu disebut sebagai 'Given' putrinya yang telah menghilang.
..."Mario Park, jika ingin putrimu selamat, cabut tuntutanmu terhadap Bae Su Mi dan ibunya sekarang juga. Kalau tidak, putrimu yang kau rindukan akan benar-benar menghilang selamanya."...
Apa Mario harus mempercayainya begitu saja?
.
.
Nantikan di part selanjutnya.
__ADS_1
Yuk guys... tap tap tap jempol manis kalian.
tetap sehat ya....