
"Kami tidak membiangmu sayang,"
Mama Gina mulai bercerita, berusaha meyakinkan pria muda malang itu.
Rain memdengarkan dengan seksama, juga berusaha menguatkan hati dan pikiran, untuk mempercayai cerita tentang dirinya.
Sementara dari arah luar kamar yang ditempati Rain , dua orang pria beda generasi, yakni Joon debgan sang ayah.
"Joon, ayo kita masuk dan bertemu adikmu."
"Tidak Pah, aku tidak percaya diri untuk menemuinya."
"Kenapa? Bukankah kau seharusnya senang? Dia adik kandungmu. Adikmu satu-satunya."
"Pah aku merasa bersalah padanya. Dia menderita selama hampir 20 tahun, sedangkan aku hidup dengan nyaman. Aku-"
"Masuk!"
Papa Stefan menyeret putra keduanya itu.
"Kami datang," sekedar menyapa, agar mama Gin dan Tae menyadari kedatangan mereka.
Mama yang sedari tadi memeluk Tae, ia longgarkan pelukannya.
"Joon, kesini sayang, mendekatlah!" panggil si mama, namun lelaki yang dipanggil namanya itu hanya diam menunduk terpaku ditempatnya.
"Hyung, bukankah ini Joon hyung? Hyung! Masih mengingatku? Kita pernah brtemu di pantai beberapa tahun lalu."
Joon perlahan mengangkat wajah, saling menatap dengan Rain yang ternyata adalah adiknya itu.
"Dan apa kau mengingatku?" papa Stefan mendekat. "Saat itu dengan beraninya kau datang meminta imbalan padaku karena Noona-mu telah menyelamatkan Joon hyung-mu."
Rain terdiam.
Stefan menyentuh kedua bahu anak muda itu. "Maaf karena Appa tidak mengenalmu saat itu. Maaf, Tae, bisakah kau menerima kenyataan ini? Maafkan karena Appa terlambat mengambilmu saat itu, hingga mereka berhasil membawamu pergi."
Air mata kembali membasahi pipi tampan Kim Tae. Ia tak kuasa mengatakan apapun karenanya.
Papa membawanya mendekati Joon. "Dia adalah kakak kandungmu. Kalian berdua berasal dari ayah dan ibu yang sama."
"Hyung,"
Joon menampilkan senyum smirk dari wajahnya, merasakan kelegaan telah menemukan satu-satunya saudara kandungnya.
"Tidak kah kau harus memeluk hyungmu?" Joon merentangkan tangan.
Keduanya pun berpelukan. Pelukan yang begitu erat.
Di rumah sakit.
Waktu sudah menjelang siang, namun tak seorang pun datang menjenguk Arsen.
Ceklek.
Pintu terbuka. Dengan wajah penuh harap, Arsen menoleh ke arah pintu. Yang ternyata adalah seorang petugas yang mengantarkan makan siang untuknya.
"Ku pikir dia yang datang. Hah, Kim Ji Soo, kau benar-benar keterlaluan, tidak berperasaan."
Beberapa saat kemudian, saat Arsen sedang asik menikmati makan siangnya, pintu kembali terbuka.
Arsen pun lagi-lagi merasa jantungnya berdetak tak karuan.
"Hei! Anak sulung Mamah,"
Mama Gina diikuti oleh Papa, Rain dan Joon.
"Ada apa ini hyung? Kau terlihat tidak senang? Apa kau kecewa? Kedatangan kami mengganggumu?"
Rain berceloteh panjang lebar tanpa ragu. Mengetahui orang ini adalah kakaknya, ia pun semakin berani berbicara sesukanya.
"Dasar bayi menyusahkan ini," Arsen beranjak dari ranjang sempit itu, memberi pelukan untuk menyambut adik laki-lakinya.
Keduanya pun berpelukan sebagai saudara, untuk pertama kalinya.
"Hyung, adikmu bukan hanya dia." -Joon mendekat untuk menerima pelukan juga.
Mama dan papa? Sudah pasti sangat bahagia melihat pemandangan ini. Memiliki tiga putra tampan yang saling menerima satu sama lain. Terutama Arsen sebagai kakak tertua, dia dengan baik hati membagikan kasih sayang kedua orang tuanya dengan dua adik angkatnya itu.
"Arsen, papa pikir kau sakit parah tapi ternyata hanya tanganmu yang terluka."
__ADS_1
"Jadi Papa puas sekarang melihatku begini? Sepertinya aku harus memghabiskan berbulan-bulan untuk sembuh. Bagaimama ini?"
"Tidak masalah sayang, istirahatlah dan pulang ke Jakarta. Kita akan merayakan kembalinya bayi besar ini." mama menimpali.
"Merayakannya di Jakarta?" Arsen terlihat bimbang.
"Tentu saja disana. Mama dan Papa juga akan mengadopsi kekasihmu itu, sesuai permintaan Tae-Tae."
Papa mengangguk membenarkan.
"Tidak bisa. Jisoo tidak boleh diadopsi. Bagaimana bisa kekasihku berubah status menjadi adikku? tega banget sih," Dialeg Jakarte si hyung mulai keluar.
"Hyung. Tapi aku tidak mau meninggalkan nunaku sendirian di negara ini." Sahut Rain, dengan wajah mengkerut.
"Aku bisa menjaganya." balas Arsen, percaya diri.
Anggota keluarganya seketika saling pandang, curiga.
Menjaga yang bagaimana maksud pria ini?
Pertanyaan itulah yang ada di benak mereka.
Tok tok tok, clek, pintu kembali terbuka.
"Noona?"
Rain dengan antusias menyambut kakak perempuannya yang semalaman tidak bertemu.
Arsen? Apa lagi, raut wajahnya tidak bisa berbohong. Wajah tampan sejagat raya itu kian terlihat berseri saat melihat keberadaan Jisoo. Apalagi gadis itu membawa sesuatu ditangannya, yang sudah pasti akan diberikan untuk dirinya.
Papa, mama beserta Joon, cukup memahaminya dengan jelas.
Putraku jatuh cinta pada gadis ini. Matanya tidak bisa berbohong. Papa mendukungmu Boy.
Jadi kekasih sandiwara itu sudah berubah menjadi perasaan nyata? Mama legah kamu jatuh cinta lagi Sen.
Kalau sudah begini, jelas aku tidak ada harapan untuk bisa merebut malaikat cantik.
"Adikku tidak kenapa-kenapa?" Jisoo mengusap wajah tampan adiknya itu. Meskipun sudah menerima kenyataan bahwa adiknya harus ia lepas dengan besar hati, Jisoo kembali merasa sesak di dadanya.
Tak apa Jisoo, perlahan kau bisa melepasnya dengan ikhlas. Dia adalah keluarga orang lain.
Rain merangkul pundak kakak perempuannya itu untuk memberi salam kepada seluruh anggota keluarganya.
"Halo, Nyonya, Tuan, senang bertemu dengan anda."
Tak lupa gadis itu juga menyapa Joon dan Arsen. Kali ini ada perasaan berbeda saat bertemu pandang dengan Arsen yang sedang melempar tatapan penuh makna kepadanya. Tatapan itu seolah sedang mengingatkan kejadian kejadian manis bin menyebalkan yang ia lakukan dengan pria itu.
Keluarga itu pun mengungkapkan rasa terima kasih mereka karena Jisoo telah merawat putra bungsu itu dengan baik.
"Aku tidak melakukan banyak hal. Dia memang tumbuh dengan baik." ujar Jisoo.
"Apa itu yang kamu bawa, Jisoo?" tanya mama.
"Oh, ini ..." melirik Arsen. "Makanan untuk Arsen." jawabnya, ragu-ragu.
"Arsen?" pria itu mengulang sebutan untuk dirinya. "Bukankah selama ini kau memanggilku Oppa?"
Mode usil mulai diaktifkan. Yang mana membuat Jisoo protes melalui matanya.
"Akan kuletakkan disitu." Jisoo berjalan mendekati nakas disamping ranjang pasien. Ia lalu pamit untuk pergi.
"Sayang,"
Degg.
Panggilan dengan kata 'sayang' menghentikan langkah Jisoo yang sudah sampai di ambang pintu.
Arsen yang tadinya duduk di sofa panjang, kini beranjak menghampiri Jisoo.
"Sayang, kau mau kemana? Bagaimana aku bisa makan sendiri kalau tanganku masih sangat sakit?"
"Apa maksudmu? Kau sengaja di depan mereka?" geram Jisoo, setengah berbisik.
"Jangan lupa, kita adalah sepasang kekasih di depan mereka. Ayo perlihatkan sisi baikmu sebagai kekasihku." Arsen membawa Jisoo menuju ranjang kecil itu.
"Sayang aku sangat lapar. Bisa tolong suapi aku?"
"Sssshhh, tanganmu jelas tidak sakit."
__ADS_1
Ehmmm. Papa berdehem untuk mengalihkan fokus semua orang yang terlihat jengah melihat tingkah usil Arsen.
"Sen, kami akan tinggal. Papa dan mama mau mengajak adik-adikmu memgunjungi makam orangtua mereka."
"Oke, sampaikan salamku pada mereka Pah,"
Papa pun mengangguk.
"Hyung, jangan apa-apakan Noonaku." Rain menyempatkan diri memperingatkan sang kakak.
Setelah berpamitan pada pasangan jadi-jadian itu, keempat orang itu pun pergi.
"Makanlah sendiri." Jisoo menghentak piring makanan ke atas meja.
"Jisoo, bisakah tidak keterlaluan? Aku melakukan ini karena ingin bersamamu. Aku merindukanmu, Kim Ji Soo."
Lagi, perkataan pria itu berhasil menghentikan Jisoo yang hendak pergi.
"Kau membuatku tidak tega. Ya sudah, makanlah, aku akan tetap disini."
Tidak tega? Kau tidak mengerti juga dengan kata rindu? Kim Ji Soo apa aku harus terang-terangan mengajakmu menikah dan hidup bersama? Aku yakin kau akan pingsan mendengarnya.
Urusan kita sudah selesai. Apalagi yang kau inginkan dariku? Berhentilah mengacaukan perasaanku. Kau tidak akan bisa bertanggung jawab kalau aku sudah jatuh hati.
"Kim Jisoo, boleh aku memelukmu?"
"Apa maksudmu? Kau baru menyelesaikan makan. Sebaiknya beristirahat, jangan aneh-aneh."
"Ayolah, sebentar saja." Arsen menarik gadis itu kedalam dekapannya. "Begini saja dulu. Sebentar."
"Oppa ...,"
"Hmmm?"
"Terima kasih atas kebaikanmu sudah memberi tempat untukku berteduh. Malam ini, aku akan pergi dari apartemen itu."
Deggg
"Apa?" Arsen melonggarkan pelukannya.
"Urusan kita sudah selesai. Adikku sudah kembali ke keluarganya. Penjahat sudah tertangkap. Aku sudah aman. Aku tidak takut lagi."
"Tidak. Kau tidak boleh pergi. Jangan kemanapun. Tetaplah berada di jangkauan pandangku."
"Oppa, aku malu harus terus menumpang. Aku akan pindah ke tempat yang dekat dengan tempat kerjaku."
Bukannya menanggapi, Arsen menarik tengkuk gadis itu, lalu memangut bibirnya dengan sedikit rakus.
Ciuman pun terulang. Perlahan, Jisoo mulai membalasnya, saling bertukar air mulut, lagi dan lagi.
Kim Ji Soo, bagaimana aku harus mengatakannya? Kenapa kau tidak mengerti juga apa yang aku inginkan?
Saling menyesap terlihat semakin dalam.
"Aaah, so sweeeet." Suga dengan cepat menarik Areum kembali keluar ruangan.
"Kau jangan ribut Areum. Mengganggu saja."
"Hei, kalian berdua kenapa? Ayo masuk."
J-hope yang baru saja tiba bersama Arim dengan tidak tahu menahu, ingin segera masuk.
"Tunggu disini dulu. Mereka sedang ... ah, kau lihat saja sendiri." Suga tak ingin menjelaskan.
"Oh tidak. Mereka berdua begituan disiang bolong?" jiwa kelelakian J-hope terasa meronta.
"Oppa, itu hanya ciuman. Seperti yang kita lakukan tadi di mobil." -timpal A Rim.
"Hah, kalian juga melakukannya ternyata." Ledek Suga.
.
.
Oke guyss. terima kasih telah membaca.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guyss..
Terima kasi...😊
__ADS_1