
"Kenapa diam? Apa sedang mengumpatku dalam hati?"
Jisoo menggeleng dengan wajah takut.
"Kalau tidak punya sesuatu untuk cucuku, jangan berpikir bisa menjadi istrinya."
Perkataan itu seakan mematahkan hati Kim Jisoo. Bingung harus mengatakan apa? Ia mengedarkan pandangan ke semua orang, seperti sedang memohon pembelaan.
Parahnya, Arsen tak berkutik, hanya membalas tatapan dengan wajah santai. Sedangkan Rain, adiknya itu berpura-pura tidak menyimak. Dengan asiknya pria muda itu memainkan ponselnya, berselancar di media sosial.
Kebahagiaan yang terlalu singkat.
"Baiklah, aku akan berkemas, Nek. Batalkan saja pernikahannya."
Gadis itu berbalik setelah sebelumnya menunduk hormat.
Menaiki tangga, dengan hati dan perasannya penuh gunda gulana.
Tiba di kamarnya, Jisoo benar-benar berkemas.
Tok tok tok.
Arsen memasuki kamar setelah mengetuk.
"Hei! Kenapa berkemas?"
"Aku akan pulang, Oppa."
"Pulang? Disaat pernikahan tinggal besok hari?"
"Aku salah karena tidak pulang lebih cepat. Oppa, kalau malu pernikahanmu batal, masih ada waktu mencari penggantiku dalam beberapa jam." terus memasukkan pakaiannya ke dalam koper, tanpa melihat ke arah orang yang diajaknya berbicara.
"Apa nenekku memintamu pergi dan mundur?"
Arsen mendekat lalu mendekap dari belakang.
"Ya ... aku tidak terlalu polos mengartikan maksud perkataan orang lain."
"Sayang, jangan dimasukkan ke hati. Nenekku tidak sejahat itu." memutar tubuh Kim Jisoo, hingga kini berhadapan dengannya.
"Oppa, jangan sentuh. Kita putus. Aku tidak mau lagi menikah denganmu." ujar Kim Jisoo.
"Ihh, gemes banget sih, lihat nih, airmatamu menolak apa yang kamu katakan."
Arsen memeluk Jisoo. "I Love You, sayang!"
__ADS_1
Terisak.
Kim Jisoo kini terisak. Entah apa yang ia rasakan. Mungkinkah tiga kata I LoVe You membuat hatinya sedih?
"Oppa, aku tidak punya apapun. Menjadikan aku istri tidak akan berdampak baik untukmu. Biarkan aku pergi sebelum kau menyesalinya."
Sang Nenek muncul lagi, mendapati cucu tampannya berpelukan dengan Jisoo yang sedang menangis dalam dekapannya.
Prok prok prok.
"Wah! Cucu tampanku ternyata sangat menginginkanmu, Kim Ji Soo, jadi kau tidak akan bisa kemana-mana lagi."
"Nenek?"
Keduanya membuyar dari acara berpelukan.
Si nenek merentangkan kedua tangan dengan senyum mengembang. "Selamat datang, Kim Jisoo,"
Jisoo tertegun sejenak. Apa maksud wanita tua ini?
"Kim Jisoo, kemarilah dan peluk nenek."
Tidak ada reaksi. Mau tak mau, sang nenek mendekat. "Maafkan aku. Tadi aku hanya mengujimu sedikit."
"Tapi perkataan anda benar, Nenek, aku mungkin bukan orang yang tepat untuk cucu anda yang sangat berharga."
Nenek melirik keluar untuk mengusir Arsen.
Pria itu pun pergi untuk menyingkir.
"Nenek, maafkan aku karena ... cucu anda akan menikahiku."
"Kenapa mesti minta maaf Jisoo? Kau tidak salah. Tidak ada yang salah dalam hubungan ini. Kata siapa kau tidak punya apapun? Kau adalah gadis berharga dimata cucuku. Bahkan semua cucu tampanku menyukaimu."
Jisoo menunduk.
Nenek menggenggam jemari gadis itu. "Jisoo, bisakah kau berjanji akan mencintai Arsen? Nenek pastikan, dia memberimu perasaan cinta yang besar. Bisakah kau membalasnya?"
Tanpa berpikir panjang, Kim Jisoo mengangguk. "Aku akan berusaha Nek, dia sudah buat aku jatuh cinta padanya. Aku mencintai dia, Nek. Benarkah aku boleh cinta cucu anda?"
Nenek mengangguk.
"Baguslah! Nenek senang mendengarnya. Beristirahatlah, Jisoo, kau akan lelah dipesta besok."
.
__ADS_1
.
Keesokan harinya.
Arsen telah siap dengan setelan jas putih dengan gaya rambut yang memperlihatkan jidat paripurnanya yang mampu membuat siapa saja mengagumi akan sempurnanya wajah pria itu.
Aku benar-benar tampan. Kira-kira bagaimana ya, wujud calon istriku? Apa dia semakin mempesona?
Sementara itu, di kamar miliknya, Jisoo pun juga tengah di dandan oleh MUA profasional bukan kaleng-kaleng.
Drrt drrrrrtt drrrrrt.
'Nomor yang tak di kenal memanggil.'
Dengan perasaan bertanya-tanya, Jisoo menjawabnya.
[Halo,]
[Hai, nuna, ini Jimin.]
[Jimin? Ada apa? Kau mencari adikku?]
[Tidak. Aku ... ingin mendengar suara nuna. Apa ... nuna merasa bahagia akan menikah dengan Arsen hyung?]
[Tentu saja. Maafkan aku karena mengambil pria yang disukai kakakmu, Jimin.]
Jimin terdiam sejenak.
Dia bukan nunaku. Dia seorang penipu. Nuna, dari semua kebetulan yang ada, bolehkah aku berharap bahwa dirimulah Given nuna yang sebenarnya?
[Tak apa nuna, dia memang pantas untukmu. Tidak, hyung yang beruntung mendapatkanmu.]
[Terima kasih, Jimin.]
[Iya, Nuna.]
Kim Jisoo tersenyum menatap layar ponselnya.
Dia menelponku untuk memastikan apakah aku bahagia? Anak itu perhatian juga.
.
.
Yuk, tap jempolnya guys...
__ADS_1
cukup ya, double up. hehe