Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Piknik


__ADS_3

Saking terlanjur akrabnya Suga dan J-hope dengan tiga gadis cantik yang bersahabat itu, kini mereka sepakat untuk refreshing bersama.


Si kembar pun terlihat semakin dekat dengan dua sekawan itu.


Mereka kini tiba di basement apartemen tempat tinggal Jisoo setelah menjemput si kembar.


Sementara di dalam lift.


"Kenapa kau mengumumkan ke teman-temanmu kalau kita ini pasangan? Sudah cukup membual ke mama-mu dan adikmu, Kang Mari, keluarka Park."


"Memangnya kenapa? Kau takut dijauhi si pengacara itu? Atau kau senang diganggu oleh si dokter plastik itu?"


"Hei! Mereka temanmu. Kenapa kau sepertinya berpikiran buruk tentang mereka?"


Mendengar perdebatan kecil antara Jisoo dan Arsen, Rain hanya tersenyum geli dalam diam.


Noona benar-benar tidak menyadari kalau pria itu menyukainya. Tapi itu bagus untuk Noona, karena hubungan beda status biasanya akan selalu menyakitkan bagi yang berstatus sosial tingkat rendah.


"Waaah. Jadi kau juga ikut rupanya? Ku kira kau tidak tertarik dengan acara piknik." -Suga berkomemtar akan kehadiran Arsen di basement.


"Salah sendiri, kau berpiknik mengajak kekasihku. Tentu saja aku akan ikut." -balas Arsen.


"Ini Bagus Min Suga," -Jhope datang dan merangkul dua temannnya itu. "Aku senang dia juga ikut. Dia bisa mentraktir kita makan malam nanti. Kau tidak pelit kan, Arsen?" -bisiknya.


"Tenang, traktir makan malam saja tidak akan membuatku jatuh miskin."


Mereka pun masuk ke mobil Van yang mampu mengangkut mereka semuanya, termasuk Rain.


Pantai adalah pilihan mereka. Karena ini adalah akhir pekan, ada banyak sekali orang yang datang untuk refreshing.


"A Rim, ayo kita berdua jalan-jalan sambil berbimcang." -Ajak Jhope kepada A Rim.


"Senior, A Rim tidak akan mau. Matahari masih sangat panas." -Jisoo menyahut asal, dan tak lepas dari pendengaran Arsen yang sedang menerima telepon.


"Aku mau oppa, kemanapun asal bersamamu, aku pasti mau oppa," - seru A Rim penuh minat.


"Kalau begitu, ayo," Jhope memberi satu tangannya menyambut A Rim.


"Rain, aku pimjam kakakmu sebentar!" -Arsen meminta izin dengan nada setengah berbisik.


"Silahkan hyung."


"Kim Ji Soo, ayo ikut denganku."


"Kemana?" menatap malas.


"Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu."


"Apa itu penting?"


"Tentu saja penting." -mengulurkan tangan, seperti yang dilakukan Jhope. Tapi sayangnya, Jisoo bangkit berdiri dengan sendirinya, tidak menerima sambutan tangan pria itu.


Pffff. Min Suga menertawai teman baiknya itu di dalam hati.


Dasar tukang jual mahal.


Arsen merasa sedikit geram.


Berjalan beriringan di tepi pantai seperti yang dilakukan banyak orang, tidak membuat dua orang ini terlihat seperti pasangan romantis.


"Kemarikan tanganmu." -pinta Arsen.


"Untuk apa?"


"Seperti yang lain. Mereka berpegangan tangan. Lihatlah disekelilingmu."


"Hah, tidak perlu."

__ADS_1


"Kenapa? Kau takut dilihat oleh J-hope? Kau berharap akan jalan-jalan seperti ini dengannya kan?"


"Bisakah kau tidak bawa-bawa nama dia?"


"Kenapa Kim Jisoo, kau cemburu kan melihat dia pergi dengan temanmu?"


"Kau ini kenapa Arsen? Cemburu? Aku?"


"Kalau kau tidak cemburu, sini tanganmu." -pria itu masihbmemaksa untuk bergandengan.


"Aku tidak mau!"


"Satu juta won."


Degg.


Sudah seperti suatu kebiasaan, senjata terakhir yang berlaku pada Jisoo adalah jutaan won.


"Kau yakin bergandeng tangan bisa memangkas hutangku?"


"Ya ... aku serius." -kembali Arsen memberi tangannya untuk disambut.


"Dua juta won."


Arsen menggidikkan bahu. "Tidak masalah."


"Baiklah, demi hutangku yang akan terus menyusut." -Jisoo memberi tangannya.


"Oppa, lihat itu. Mereka benar layaknya pasanngan." -seru A Reum kepada Suga yang duduk disebelahnya, menunjuk Arsen dan Jisoo.


"Kau mau juga seperti pasangan? Kita bisa lakukan hal lainnya."


Dengan polosnya A reum bertanya, "Lakukan apa oppa?"


Suga mengambil dompet dari sakunya. "Rain, tolong belikah es krim untuk kita."


"Terserah kau saja. Pergilah dengan santai. Jangan buru-buru kembali."


"Apa hyung mengusirku?" tanya Rain lagi.


"Hyung ingin berduaan dengan Noonamu ini."


"Oh, baiklah hyung." mengambil uang dari tangan suga.


"Oppa! Apa yang kau lakukan?" A reum menatap aneh wajah Suga. Bagaimana bisa pria itu berterus terang kepada Rain bahwa dia ingin berduaan?


"Aku ingin melakukan ini."


Cup.


Memberi kecupan singkat di bibir A reum.


"Oppaa! Kau mengagetkanku. Itu ciuman pertamaku."


Santapan bagus.


Min Suga bersorak dalam hati.


"Tadi itu bukan ciuman A reum, hanya kecupan. Ciuman itu pakai lidah. Mau coba?"


A reum mengangguk happy.


"Stop, Oppa, aku takut dilihat mereka." Areum menghentikan Suga yang hendak mendekatkan wajahnya.


"Hei! Mereka tidak akan peduli. Kau tahu kenapa mereka pergi dari sini? Mereka sedang memghindar untuk melakukan ini ditempat lain."


A Reum terlihat berpikir sejenank.

__ADS_1


"Baiklah Oppa."


Dan ... ciuman itu pun terjadi.


Di tepi pantai.


Arsen dan Jisoo masih bergandeng tangan, namun terlihat sangat kaku.


Dia benar-benar peduli dengan hutangnya. Gadis ini membuatku sangat penasaran. Kenapa dia tidak seperti wanita lainnya? Dia bahkan tidak tersenyum walau hanya pura-pura. Apa dia tidak normal? Kenapa ada wanita yang tidak tertarik padaku?


"Kim Jisoo,"


"Hmmmm."


"Apa yang kau rasakan saat berpegang tangan seperti ini?"


Langkah Jisoo terhenti. "Yang aku rasakan?" menatap serius. "Aku merasakan tanganmu sangat dingin." -ujarnya.


Sial. Dia terlihat santai saja sedangkan aku merasa gugup setengah mati?


"Kau tidak merasakan sengatan listrik mengalir ditanganmu?"


"Tidak. Memangnya tanganmu mengandung energi listrik?"


"Oh, bukan itu maksudku." -mereka lanjut melangkah.


"Kim Jisoo, kita pernah berc1uman dua kali. Apa yang kau rasakan saat itu?"


Deg deg, deg deg.


"Itu bukan ciuman. Kau yang menciumku."


Jisoo mengelak perasaan gugupnya mengingat kejadian itu.


"Oke oke, anggap saja aku sendiri yang melakukannya. Tapi, apa kau merasakan sesuatu saat itu berlangsung?"


Langkah mereka kembali terhenti.


"Yang aku rasakan? Air mulutmu mengalir melewati tenggorokanku! Kau sangat jorok. Kau membuatku menelannya."


WOOAH. Dia tidak merasakan getaran apapun kecuali air mulutku. Kim Jisoo, kau bukan wanita normal!?


"Tapi itu tidak masalah. Asalkan hutangku bisa menyusut." -Jisoo meneruskan kata-katanya saat melihat keanehan di wajah Arsen.


"Kau hanya peduli dengan hutangmu?"


"Tentu saja, hutang itu membuatku tidak tenang setiap hari. Aku sangat lelah harus bekerja penuh waktu. Pulang dari kantor aku langsung bekerja ditempatmu, membuat makanan untuk adikku, belum lagi kerjaan tambahan darimu. Waktu istirahatku disita dengan bekerja bekerja bekerja."


Degg degg..


Arsen tertegun.


.


.


Oke, sekian dulu guysss


Tolong dukungannya ya guyss🥰


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2