
Malam harinya, setelah puas mengitari beberapa pusat perbelanjaan, Mama, Jisoo berserta putra bungsu, menikmati dinner bersama.
"Jisoo, mungkin besok mama akan membawa Tae pulang ke Indonesia. Kamu akan menyusul dengan oppa yah,"
"Mah, aku akan menyusul dengan mereka. Bisa-bisa nuna melarikan diri kalau aku tidak mengawasinya."
"Yah? Hei! Aku pasti akan datang. Tenang saja."
"Nuna, apa aku bisa mempercayaimu?"
Si nuna mengangguk mantap.
"Jadi Jisoo, bisakah mama minta tolong? Selagi kami pergi, tolong jaga Arsen."
"Ya? Sa-saya? Ha-harus menjaganya?"
Kenapa pria dewasa itu harus dijaga?
"Maksud saya, karena tangannya terluka, mungkin saja dia kesusahan menyiapkan makanan dan pakaiannya."
Astaga, apa yang aku katakan? Aku seperti seorang ibu yang memaksa seorang gadis untuk tinggal dengan putraku.
Apa? Kenapa aku harus merawat putranya? Ibu macam apa ini? Dia mau meninggalkan putranya yang sedang sakit dan menyibukkan orang lain? Tega sekali.
"Ehmm. Baiklah, Nyonya, saya akan membantunya." sekedar mengiyakan.
Tiba di apartemen.
"Tae, temani nuna-mu pindahkan barang-barangnya ke tempat hyung." titah mama Gina kepada si putra bungsu yang tentunya di'iya'kan dengan semangat oleh Tae - Tae.
"Tunggu, Nyonya, ap-apa maksudnya? Sa-saya pindah ketempatnya?" Jisoo mengeryitkan dahi, menatap Gina.
Dengan wajah tanpa merasa bersalah, mama Gina tersenyum hingga membuat kelopak matanya menyipit. "Ya. Mulai malam ini, tinggallah ditempat oppa-mu."
"Tidak bisa Nyonya, sa-saya tidak bisa."
"Tenang saja Kim Jisoo, dia tidak akan memakanmu sebelum halal." mama Gina mengedipkan sebelah matanya.
"Ini semua gara-gara ulahmu. Untuk apa aku harus tinggal ditempat kakakmu itu? Apa kata orang nanti?"
"Nuna, tidak usah peduli apa kata orang. Yang jelas, sebentar lagi, Nuna akan jadi kakak iparku." Rain tidak peduli, dengan penuh semangat ia seret koper milik Jisoo.
Gadis itu tentu saja terpaksa mengikutinya.
Ahh, semoga orang itu masih lama sembuhnya. Jadi aku bisa tinggal ditempatnya tanpa rasa canggung.
Kakak beradik itu pun memasuki apartemen luas yang biasanya hanya ditinggali oleh Arsen seorang.
"Kalian berdua sudah datang, ayo kemari, kita makan. Karena tidak sempat memasak, jadi mama memesan makanan."
Di meja makan sudah tersedia makanan berbagai rupa, bentuk dan rasa.
"Saya belum lapar, Nyonya." tolak Jisoo, halus.
"Omma, tadi sudah makan malam. Kenapa lagi Eomma memesan makanan sebanyak ini?" tanya Tae-tae.
"Yang tadi itu makan sore sayang, ini baru dia makan malam." jawab mama cuek.
"Baiklah, selamat menikmati Omma, ayo Nuna, kita simpan pakaianmu ke lemari."
.
.
Rumah sakit.
Arsen melihat jam digital yang terpajang disamping tempat tidurnya.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Joon, adiknya itu sudah tertidur sangat pulas.
Pria itu pun menghubungi Jem.
[Halo, ada apa lagi?]
[Tolong jemput, antar aku ke apartemen.]
[Istirahat saja dikamar itu. Wanitamu pasti sedang beristirahat di jam ini. Jangan mengganggunya.]
[Tapi aku yang tidak bisa tidur kalau tidak melihatnya. Baiklah kalau kau malas, aku naik taxi saja.]
Mengakhiri panggilan.
Nekad, pria itu pun pergi setelah melapor kepada petugas medis. Meninggalkan Joon yang sedang berada di alam mimpi.
Nit nit nit nit, menekan kode kunci dengan perasaan tidak sabar.
Ceklek.
Gelap,
Sunyi.
Lampu dan pendingin ruangan tidak difungsikan. Seolah tidak ada penghuni tempat ini.
Feeling Arsen mulai kacau.
Ia pun berlari menuju kamar yang biasa ditempati Kim Jisoo.
Sunyi, kosong.
"Jisoo, Jisoo,"
Mengayunkan langkahnya menuju lemari pakaian.
Tanpa sadar pria itu menelan salivanya, merasakan tenggorokan yang tiba-tiba mengering.
Kemana dia?
Dengan cepat menghubungi kontak gadis itu, tapi lagi-lagi membuatnya bertambah merasa gugup.
Nomor yang dituju sedang tidak aktif.
"Aiiishh, shiit!"
Pria itu mengacak rambutnya sendiri.
Jisoo, kau dimana?
Pria itu duduk di sisi ranjang. Ia telah kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Saat ini, pria itu bahkan ingin menangis.
Hauuuffff. Ia menghembuskan udara dari mulutnya secara perlahan.
Jisoo, kamu kemana?
Menghubungi Rain dan mama sebagai orang yang terakhir bersama Jisoo, juga tidak mendapatkan jawaban. Dua orang itu tidak menjawab panggilannya.
Terpaksa aku harus mengganggu waktu istirahat kalian berdua.
Sementara Kim Jisoo, gadis itu sedang beristirahat dikamar yang sama dengan Gina.
Kruyuk,
Gadis itu terpaksa beranjak meninggalkan Gina yang sudah terlelap karena merasakan panggilan dari cacing diperutnya.
Mengingat ada banyak makanan di meja makan, ia pun kini duduk manis disana.
__ADS_1
Pizza adalah pilihan pertama untuk ia nikmati.
Tiba di depan pintu huniannya, Arsen segera menekan kode kunci.
CEKLEK,
Pria itu masuk setelah pintu terbuka. Ruang utama dalam keadaan gelap. Terlihat ruang makan masih dalam keadaan terang.
Kim Ji Soo?
Batin pria itu berteriak, mendapati penghuni hatinya itu sedang asik menikmati hidangan lezat didepannya.
Tap tap tap tap.
Dengan langkah pasti ia berjalan menuju gadis itu.
Jisoo yang mendengarkan langkah kaki seseorang diruangan gelap, sontak membuatnya berdiri di tempat dengan perasaan bertanya-tanya.
"Op-paaaa?"
Pria itu terus berjalan kearahnya tanpa mengatakan apapun.
Grrreepp.
Memeluk tubuh gadis itu dengan perasaan legah.
Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit. Di menit ke lima pira itu mengurangi eratan pelukannya.
"Aku menrindukanmu, aku mengira kau pergi. Rupanya kau berada disini?" tanpa benar-benar melepas pelukan.
Jisoo mendongak menatap wajah Arsen.
"Oppa, ada apa denganmu? Belakangan ini kau selalu mengatakan yang tidak masuk akal."
Bukannya menjawab, Arsen malah menangkup wajah yang dirindukannya itu. Buat apa lagi kalau bukan untuk bertukar air mulut.
Mama Gina terbangun dan mencari keberadaan Jisoo yang seharusnya tidur bersamanya saat ini. Untuk memastikannya, wanita itu pun keluar dari kamar dengan langkah pelan. Entah kenapa, ia merasa jantungnya berdetak tidak normal.
Perlahan ia menuruni tangga yang gelap.
Melihat penerangan masih menyala di ruang makan, ia yakin bahwa gadis itu sedang ada disana.
Tap.
Langkahnya terhenti.
Apa yang dia lakukan?
Kim ... Ji ... Soo?
Bola mata Gina membulat menyaksikan apa yang sedang terjadi.
Mereka ... sedang ... berc1um4n?
Tangan wanita itu tiba-tiba merasa bergetar. Tidak hanya tangan, lutut yang sudah berusia hampir setengah abad itu, rasanya tidak mampu melanjutkan langkah menuruni tangga.
Berciuman dengan siapa dia?
Kalimat itulah yang kini bersarang di benak wanita itu, dengan perasaan tak menentu, ia menyaksikan hal gila itu, menunggu, hingga bisa melihat wajah pria yang sedang bersama Kim Ji Soo.
.
.
Baiklah, cukup untuk hari ini, kita lanjut besok guys... jangan lupa Vote, komen, like and rate untuk karya ini yah guysss.
Trima kasih😇🥰
__ADS_1