
Tokyo, Jepang.
Sesuai dengan paket honeymoon yang dihadiahi oleh si daddy, kini Arsen-Given berada di sebuah kamar hotel.
Given telah siap dengan hanya mengenakan kain tipis yang membalut tubuhnya. Gadis itu tidak lagi malu-malu meong pada suaminya yang walaupun belum berhasil gol gawang, tapi tentu saja Arsen sudah melihat tubuh polosnya.
"Sayang, caramu berpakaian membuatku terpancing." Arsen mendekat lalu meraih pinggang kecil istrinya.
"Sengaja, biar Oppa, kepanasan."
"Hmmm. Aku mulai panas nih, bantu buka dong."
"Ih, buka sendiri, Oppa, jangan manja."
"Oke,"
Arsen mulai melepas satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Ow... kau terlihat menakutkan, Oppa."
"Sekarang, tanggungjawablah! Sekarang tidak ada alasan lagi."
"Oppa, mau cicil dulu?"
Arsen semakin mendekat. "Enak aja nyicil, aku mau merasakan semuanya. Ayo mulai."
"Oke,"
Keduanya masuk kedalam selimut.
"Hei! Jangan curang! Kamu juga buka."
"Bukankah ini nerawang? Untuk apa dibuka lagi?"
"Maksud aku yang bawah, sayang."
"Buka aja sendiri."
"Oke, sepertinya kau sengaja menggodaku."
Bosan berbasa basi, Arsen memulai aksinya.
"Si tukang ngompol ini, belum rasakan tertusuk pedang tajamku kan,"
"Itu hanya benda tumpul. Tajam dimananya Oppa?"
"Tumpul katamu? Bersiaplah, dia akan menusukmu. Maka jangan menangis."
.
.
Seoul.
Di sebuah kafe.
Jenni sedang menunggu kedatangan seseorang.
Tak lama, muncullah wanita yang sedang ditunggunya yang ternyata adalah Gina, sang besan.
"Maaf telat, Jen, aku ... baru saja tiba."
__ADS_1
"Silahkan duduk, Gina,"
Keduanya pun duduk berhadapan dengan meja sebagai pembatas.
"Anak-anak sedang honeymoon."
"Ya, aku tahu. Putraku sudah mengatakannya."
Jenni tersenyum.
"Maaf Gin, atas sikapku sebelumnya. Bukannya aku tidak bersedia kita menjadi besan."
"Aku paham, Jen. Kamu tidak akan setega itu memisahkan mereka."
"Ya, aku memang ingin mereka berjodoh bahkan sejak masih kecil. Kalian bertigalah yang menentangku."
"Tapi sekarang aku dan Stefan tidak masalah, Jen. Tenang saja, putrimu akan menjadi menantu paling bahagia. Punya mertua baik dan suami penyayang seperti Arsen."
"Aku legah mendengarnya. Itulah yang ingin aku dengar darimu, Gin."
Gina tersenyum menanggapi.
"Awalnya aku sangat meragukan Arsen. Kemudian aku tersadar bahwa ... Arsen memiliki orangtua yang sangat baik sepertimu dan Stefan. Dia juga sudah membuktikan keseriusannya pada putriku."
"Oh ya? Aku penasaran bagaimana jagoan kecilku itu memperjuangkan cinta, Given yang tidak ia sukai ternyata ... sekarang menjadi istri yang dia cintai. Hah, anak itu," mama Gina membayangkan wajah tampan putranya.
"Semoga anak-anak bisa hidup bersama dan saling setia seumur hidupnya. Gin, untuk sekarang tidak masalah, kan, mereka berdua tinggal denganku dan Mario? Bukan aku tidak bisa percayakan putriku pada Arsen, tapi aku masih ingin putriku di dekatku."
Gina mengangguk paham. "Aku mengerti, Jen."
Sementara di sebuah ruangan yaitu ruang kerja Mario Park.
Duduk berhadapan dua orang pria setengah baya, mantan musuh yang terpaksa harus saling akur demi menjaga ketentraman keluarga.
"Ya, mau bagaimana lagi, semua sudah begini, Mario. Aku terpaksa harus berbesan denganmu. Ini sulit dipercaya."
"Aku juga sangat tidak menginginkan ini. Tapi anak-anak itu terlihat sangat kasihan, jadi terima keadaan saja."
.
.
Kembali ke kamar honeymoon.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!
Terdengar teriakan seorang gadis.
Arsen berhenti sejenak, pedangnya sudah menancap
"Oppa! Kenapa rasanya begini?"
"Aku sudah bilang, kau harus siap. Benar sakit, kan?"
"Oppa! Jangan bergerak dulu, Oke?"
"Trus?"
"Atau cabut dulu, Oppa! Aku tidak tahan."
"Tidak bisa, kita harus selesaikan sayang. Jangan menangis."
__ADS_1
"No! Jangan bergerak. Atau aku akan lapor ke mommy-ku kejahatan Oppa."
"Hah?" Wajah tampan itu berubah kesal. Enak aja main lapor.
"Ini bukan kejahatan, Given. Ini keharusan. Memang bigini rasanya. Sakitnya juga akan berakhir beberapa saat lagi."
"Aku tidak percaya, Oppa."
"Aku harus menuntaskannya, sayang, ini masih nyangkut. Biarkan pedangku benar-benar menembus."
"Jangan! Aku takut!"
"Tidak bisa!"
"STOP! Oppa, aku mohon ampun! Aku percaya sekarang, pedangmu memang tajam."
"Bukan itu masalahnya sekarang, baby, aku juga merasa sakit kalau ini tidak tuntas."
Given menggeleng dengan wajah takut. Seluruh tubuhnya bahkan gemetaran.
Arsen tetap berkeras mendorong pedangnya.
Aaaaaaaaaaa!
Lagi-lagi Given berteriak histeris dan spontan tubuhnya meringsek hingga terbebas dari pedang kebanggaan milik suaminya.
"Oppaaaa! Darah apa ini?" teriaknya kemudian. Wajahnya benar-benar panik.
Given merasa bingung ada bercak darah pada spray.
Arsen terlihat ingin tertawa, namun hatinya meresa kesal.
"Selaput darahmu sudah hampir menembus. Makanya sedikit keluarkan darah." jelas Arsen dengan muka malas.
"Apa itu artinya kita sudah berhasil, Oppa?"
Hah, berhasil apanya?
"Hasil apa yang kau harapkan? Sudahlah, tidak perlu bercinta." Arsen beranjak dan memungut pakaiannya.
"Oppa mau kemana?"
Given merasa was was. Apa suaminya ini ngambek?
"Aku akan keluar mencari udara segar."
"Oppa, tunggu! Aku akan bersiap."
"Tidak perlu ikut. Berkemaslah, kita pulang saja besok."
"Tapi, Oppa, -"
Glek, pintu tertutup. Arsen pergi.
.
.
Gagal? Lagi-lagi kalian. Dasar pasangan setengah polos!
.
__ADS_1
.
bersambung.....