Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Honeymoon 2 (Tamat)


__ADS_3

Drrrrt... drrrrt...


Given segera meraih ponselnya yang tengah berdering.


[Halo,]


[Kau sudah tidur?]


[Belum. Aku menunggumu, oppa.]


[Kalau begitu buka pintu. Aku sudah di depan kamar.]


Tak lagi berkata-kata, Given bergerak cepat ke arah pintu.


Membukanya dengan perasaan tak sabar.


Ceklek.


"Oppa!"


Given menyeret suaminya masuk lalu kembali menutup pintu.


Arsen menuju sofa lali duduk disana.


Tanpa aba-aba, Given menjatuhkan tubuhnya keatas pangkuan Arsen.


Grreeep.


Memeluk erat suaminya yang sejak tadi meninggalkannya sendirian di kamar.


Ahh, istri yang meresahkan. Posisi duduk macam apa ini?


Arsen merasa kepalanya pening seketika. Given berulah nakal seperti sedang mencoba merayunya.


"Oppa, maaf! Jangan pergi sendiri lagi. Aku ingin ikut kemanapun Oppa pergi." Given menatap mata suaminya itu.


"Aku tidak kemana-mana. Aku hanya cari angin."


Akhirnya Arsen membalas pelukan. Biar gimanapun kesalnya, tapi perempuan ini adalah istri yang sangat disayanginya.


"Apa kau sudah berkemas?"


"Tidak. Belum saatnya pulang, Oppa. Aku tidak mau pulang sebelum misi kita berhasil."


"Tapi kau belum siap, kan?"


"Kali ini aku sudah siap. Oppa, ayo coba lagi."


"Tidak perlu. Tidak akan berhasil. Lebih baik istirahat aja."


Given menggeleng. Ia kemudian mendekatkan wajahnya. Siap menerkam wajah tampan yang kini hanya berjarak beberapa senti darinya.


"Jangan. Aku tidak berselera" Arsen memalingkan wajah, namun ditahan oleh Given dengan kedua tangan. Ia kemudian berbisik.


"Mulutmu mengatakan tidak, tapi aku merasakan sesuatu yang mengeras dibawah sana, Oppa. Dia sudah bangun. Ayo, puaskan dia, Oppa." bisiknya, melirik sekilas kebawah.


"Heh, dasar tukang PHP."


"Apa itu PHP?"


"Pemberi Harapan Palsu."


"Cssssssh!" Given mengeryit. "Kali ini akan tuntas, aku janji. Bukankah kata Oppa pedangnya sudah masuk setengah?" bisiknya lagi.


Given kembali menanggalkan semua pakaiannya tanpa diminta.


"Ayolah, Oppa!" rengeknya, manja. Tangannya mulai membuka kancing kemeja Arsen dengan lincah.


"Oke, kau yang memaksa. Kali ini aku tidak peduli dengan teriakan tangismu." Arsen mengangkat tubuh istrinya menuju kasur.


Meski kembali gugup, Given berusaha beranikan diri. Ia tidak ingin mengecewakan Arsen, sekaligus dirinya juga penasaran akan hal itu. Rasanya gimana sih?


Arsen bergerak cepat membuka semua pakaiannya.


kali ini aku tidak akan mengampunimu.


Keduanya kembali saling menatap sambil tersenyum senyuman penuh arti senyuman kebahagiaan.


"I love you Given"


Given merasakan hatinya tertembak untuk kesekian kalinya tiap kali Arsen mengatakan cinta padanya. Rasanya tidak ada lagi orang yang paling bahagia melebihi dirinya.


"Aku juga, Oppa sayang." jawabnya, manja. Tak lupa disertai tatapan menggoda.


Pemanasan kembali terjadi dengan deru nafas yang saling berperang.


Beberapa saat kemudian...


"Tahan dan jangan nangis lagi. Pedangku akan benar-benar masuk kali ini."


"Iya, Oppa,"


Ah, dah lah. Mereka berhasil melakukannya kali ini. Seperti perkataannya, Arsen menulikan telinga. Ringisan dari perihnya malam pertama bagi istrinya tak lagi ia pedulikan. Pedang kebanggaannya kini berhasil menancap sempurna. Pria tampan itu tersenyum puas. Dalam hati, ia membenarkan yang di kata orang, melakukan ini sangat mendebarkan, nikmatnya surga dunia.


"Sayang, sudah tidak sakit, kan?"


Given mengangguk membenarkan. Ia benar-benar terlihat menikmati posisinya yang berada dibawah tubuh suaminya.


"Aku bahagia, Oppa." terangnya dengan wajah merona.


Oke, cukup. Biarkan mereka bertempur. Seneng deh mereka dah berhasil jebol gawang.


.....

__ADS_1


Keesokan paginya. Pasangan muda itu masih memejamkan mata. Tidak peduli matahari mulai menyapa.


Suasana di kamar yang mereka tempati begitu sunyi, sementara manusia lain sudah pada beraktifitas.


Pukul 7,


Pukul 8,


Pukul 9,


Pukul 10.


Arsen akhirnya membuka mata. Melihat istrinya yang masih terlelap dengan tubuh polos, ia memeluknya.


Pria itu tersenyum sendiri seperti orang gila saat kembali mengingat pertempuran hebat yang sudah terjadi semalam.


"Oppa," suara manja Given kembali terdengar.


"Apa sayang,"


"Kenapa tubuhku rasanya sakit dimana-mana?"


"Sama, sayang. Sepertinya semalam kita terlalu memporsir tenaga. Apa itu-mu juga sakit?"


"Hmmm. Perih, Oppa. Kurasa ... aku akan pincang. Bagaimana ini?"


"Tidur saja lagi, nanti juga hilang sakitnya."


.


.


Satu minggu berlalu di negara Matahari Terbit itu, kini keduanya harus kembali ke Seoul.


"Oppa, kita harus bawa ole-ole apa pulangnya?"


"Tidak usah repot sayang, kita bawa bayi saja."


"Bayi? Bayi siapa?"


"Calon bayi kitalah, sepanjang minggu ini kita sudah membuatnya pagi siang malam. Dia pasti sudah ada di dalam perutmu." Arsen mendekat dan mendekap istrinya dari belakang.


"Oppa, kau yakin?"


"Yakin sayang. Kecebong berkualitasku sudah pasti berhasil menembus buah sel telur-mu."


"Emmm. Baiklah, semoga saja bayinya segera jadi ya Oppa, mereka pasti senang menjadi kakek nenek."


"Iya sayang, semoga anak-anak kita kelak bisa meruntuhkan keras hati kedua kakeknya."


"Amin, Oppa."


Heleh, kalian, baru juga nyetak seminggu udah PD berangan-angan tentang generasi penerus.😂


.


.


Seoul, Bandara Inchon.


Arsen Given akhirnya kembali dari bulan madu. Berjalan bersama keluar dari bandara dengan saling bergandeng tangan. Senyum bahagia menghiasi wajah keduanya.


"Sayang, lihat sana, mereka menyambut kepulangan kita." Given.


"Hmmm. Orang tua yang tidak sabaran." Arsen.


Si mama Gina dan mommy melihat kedatangan putra putrinya. Udah kayak nungguin anak lecil aja.


"Gin, itu mereka. Lihatlah wajah bahagia itu. Givenkuuu, dia terlihat menggemaskan, bukan?"


"Itu karena ada Arsen-ku disampingnya. Aku benar kan? Putraku terlihat sangat menyayangi putrimu. Kau lihat tatapannya, Jenn. Uuuhhh, Arsen, dia menatap istrinya dengan senyum tampan."


*****


Restaurant.


Setelah dari bandara, Jenni, Gina dan kedua putra putrinya memasuki restoran. Disana sudah menunggu dua pria setengah baya yang dengan terpaksa harus bertemu empat mata untuk kesekian kalinya.


"Daddy!"


Mario segera mendapatkan pelukan dari putrinya. "Kangennn sama Daddy..."


"Bulan madu-mu happy sayang?"


"Sangat happy Dad, kan bulan madunya sama Oppa." melepas pelukan dari daddy.


"Hai, Dad," sapa Arsen, Oppa kecintaan Given. Mario hanya mengangguk dengan sekilas senyum kecil.


Dua keluarga itu pun menyantap malan malam bersama. Para pria duduk di satu sisi, berhadapan dengan istrinya masing-masing.


Given-Arsen diposisi tengah. Dalam posisi ini, Mario dan Stefan bisa menikmati makan malam dengan tenang karena Arsen berada diantara keduanya.


"Ven, kamu bawa oleh-oleh apa buat Daddy?"


"Hmmm? Ada Dad, aku sama Oppa bawa oleh-oleh bayi."


"Bayi?"


Baik Gina, Jenni, Stefan dan Mario serentak menyebutkan satu kata itu. Sedang Arsen, menatap lurus istrinya dengan mata melebar.


Dasar si polos ini! Arsen membatin.


"Iya, bayi. Oppa bilang, bibit unggul-Auuuuu!"

__ADS_1


Ucapan frontal nan polos itu terhenti berganti pekikan Given akibat senggolan kaki Arsen menyentil kaki mulusnya dibawah sana.


Gantian, kini Given yang melotot tajam. Salah apa dirinya sehingga harus mendapat tendangan. Arsen cari ribut?


Dari ekor matanya, Arsen dapat melihat keempat orang tua mereka sedang menahan tawa bersamaan.


"ehmm. Bagus, Given. Bayi adalah oleh-oleh terbaik dari bulan madu sayang, mama tidak sabar menantikannya. Kami semua akan senang." Gina tersenyum lembut, melirik suami dan kedua besannya.


Arsen tak berkutik. Rasa malu sedang menimpanya. Betapa tidak, ia dipermalukan oleh kepolosan istrimya sendiri.


"Boy, papa senang, sepertinya akan segera menjadi seorang kakek." -Stefan.


"Tidak buruk, aku penasaran akan seperti apa cucuku yang berasal darimu." -Mario.


"Jadi, Papa dan Daddy akan benar-benar senang jika mendapatkan bayi dari kami?" -dengan polos, Given lanjut bertanya.


"Sudah pasti senang, sayang." Jenni ikut bersuara.


Given tersenyum kembali menatap suaminya yang terlihat agak mematung. "Oppa, kenapa? Merasa bersalah setelah menendang kakiku barusan?" ejeknya sengaja.


Melihat daddy dan mommynya kini menyulut pandangan kearah Arsen, berani kau menendang putri kesayanganku?


Given buru-buru membenah situasi. "Oppa tidak sengaja kan? Oppa. . bisakah kita berdua pulang? Aku merindukan kamar kita."


Arsen mengangguk kecil, hampir tak terlihat.


"Pulanglah. Semoga bayi kalian segera jadi." -ucap Mario. Membuat semua mata menoleh kearahnya. Apa pria itu sedang bercanda? Atau mengejek? Arsen terlihat semakin salah tingkah.


Kedua insan muda itu pun menyingkir dari hadapan dua pasang orang tuanya setelah menyelesaikan makan malam. Keempatnya menatap kepergian anak dan menantunya. Given kembali bertingkah manja dengan pelukan di lengan suaminya, seperti takut kalau pria itu akan kabur. Keduanya semakin menghilang dari pandangan.


"Syukurlah, anak-anak kita akan memiliki anak dalam kehidupan rumah tangga yang lengkap dan bahagia." -Jenni.


"Kau benar, Jenn, tidak seperti kelahiran mereka berdua, yang hadir ke dunia ini karena sebuah kesalahan. Aku bahagia untuk mereka." -Gina.


Degh


degh


Stefan dan Mario saling melirik. Dua pria penyebab hadirnya Given dan Arsen itu serasa sedang dibawa ke pengadilan masa lalu.


"Jangan membahas masalalu." Stefan.


"Kali ini, aku setuju denganmu, Fan." Mario.


Gina dan Jenni menatap malas. "Kalian merasa tersinggung?"


.


.


Keluarga Yoris dan Keluarga Park sudah kian membaik. Secara khusus komunikasi antara Mario dan Stefan. Kerja sama yang mereka lakukan pun berkembang pesat.


Apalagi saat ini, dua pria itu kini menunggu kelahiran cucu perdana dikeluarganya atas kehamilan Given yang pertama.


Hari demi hari berlalu. Given kini bekerja di kantor Daddy. Ia harus lakukan itu karena Jimin sedang menuntut ilmu ke Amrik. Apa salahnya ilmu, sampe harus dituntut?


.


Malam ini terasa dingin. Pasangan yang selalu romantis dan terlihat bahagia itu sedang menghangatkan diri dibawah selimut sambil berpelukan. Sesekali Arsen memberi kecupan singkat di kepala istrinya yang terkadang polos, manja dan konyol.


"Oppaaaa!"


"Apa sayang?"


"Minta uang."


"Minta uang? Bukankah daddy punya banyak uang? Untuk apa minta padaku?" Kening Arsen berkerut, sengaja ingin melihat reaksi istrinya.


"Oppa pelit sama istri."


"Pelit? Card yang aku berikan mana? Kau pikir itu kosongan? Kau bisa membeli dan membayar apapun dengan itu."


"Tapi itu bukan uang tunai. Hanya credit card, menyedihkan."


Arsen menatap malas. "Minta berapa?"


"Seratus Juta Won"


"Kau sedang mengingat malam pertama kita yg gagal itu? hmm? Untuk apa 100 juta won?"


"Nabung buat lahiran. Staf aku dikantor juga sedang mengandung sepertiku. Dia rajin menabung dalam celengan."


"Nabung buat lahiran? 100 juta won? Celengan? Astaga, kurang kerjaan. 10 9 8 7 6"


"Apa itu?"


"Kode brankas. Anggap brankas itu sebagai celenganmu mulai sekarang."


.


.


.


...TAMAT....


guyyys...


Terima kasih banyak, kalian sudah mengikuti karya ini dan memberinya Vote, like dan komen. Semoga sehat selalu dimanapun berada ya...


Oia, untuk daerah yg kini memghadapi bencana, tetap bersabar ya, jangan lupa jaga diri, jaga kesehatan dan setia berdoa kepada yang Maha Kuasa.


Salam Reetha

__ADS_1



__ADS_2