Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Dorrr!


__ADS_3

Jisoo POV.


Ketika aku membuka mataku, aku berada di suatu tempat yang gelap, angin terasa begitu menusuk menembusi tulang-tulangku.


Siapa yang telah membawaku ke sini?


Kenapa tanganku diikat?


Aku kembali-memutar ingatanku.


Sepengetahuanku, ayah dan ibu anglat sedang mendekam di penjara. Tidak mungkin merrka mampu lakukan ini padaku.


Tap tap tap.


Terdengar sesuatu, persis suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan kearahku.


"Kau sudah sadar?" Suara berat seseorang bertanya padaku dan langsung menyorot wajahku dengan cahaya senter.


Aku terkejut sekaligus ketakutan.


"Siapa anda?" tanyaku, ingin tahu. Aku sangat penasaran, siapa yang tega memiliki dendam terhadapku? Apa yang dia inginkan dariku? Sungguh tidak menguntungkan membuatku seperti ini.


"Kau melupakanku, Given?"


Degg.


Dia tahu nama kecilku. Siapa orang ini? Tidak ada lagi ketakutanku, hanya tersisa rasa penasaran.


"Siapa kau?" tanyaku lagi, dengan nada berani.


Bukannya menjawab, ia malah membuatku berdiri dan menyeretku dengan kasar, memasuki sebuah ruangan pengap.


Karena gelap, aku tidak dapat melihat wajahnya.


Clek, pria bersuara berat persis bapak-bapak itu menyalakan lampu. Namun hanya menciptakan cahaya yang begitu redup.


Benar dugaanku, pria ini adalah seorang bapak-bapak. Bukanlah seorang pria muda.


"Apa kau mengingat wajahku, Given?" ia mendekatiku seolah memintaku mengingat wajahnya.


Sejauh apapun aku memutar otakku kembali, rasanya aku tidak dapat mengingat siapa dia.


"Paman, lepaskan aku. Tidak ada gunanya paman menyanderaku begini." rengekku, minta dikasihani.


"Kau salah! Kau sangat berguna saat ini. Jika ayahmu tidak menuruti perintahku, terpaksa aku akan membuatnya menyesal dengan cara mengirim mayatmu ke alamatnya." Paman ini berubah menakutkan. Tapi apa katanya barusan? Ayahku? Apa aku harus mempercayainya? Dia membuatku sangat penasaran ingin segera mengetahui siapa ayahku. Benarkah dia mengenal daddy? Mommy?


"Paman, aku tidak memiliki ayah atau siapapun. Aku hanya sebatang kara." aku terus berusaha terlihat semakin kasihan.


"Sepertinya antara kau dan keluargamu memang tidak saling merindu. Mereka tidak mempercayai bahwa kau bagian dari mereka." paman itu menyeringai malas.


Ada rasa sakit dihatiku saat dia mengatakan bahwa keluargaku tidak peduli dengan situasiku saat ini. Mungkin ini kenyataan pahit lainnya yang harus aku terima. Keluargaku mungkin memang telah sengaja membuangku.


Yang kupikirkan saat ini hanyalah, menyelamatkan diri. Aku tidak mau mati sia-sia ditangan penjahat sepertinya. Keluar dari sini hidup-hidup, lalu mendatangi rumah mereka yang telah membuangku. Aku harus menanyakan apa alasan mereka menelantarkan aku.


"Paman, siapa ayahku? Bisa kau beritahu?"


"Jadi kau peduli siapa ayahmu? Baiklah. Akan ku perlihatkan siapa ayahmu sebelum aku mengirimmu kesana dalam keadaan terbungkus."


Paman itu membuka ponselnya, lalu memperlihatkan foto di dalamnya.


MARIO PARK.


Wajah ayahnya Jimin tampak sangat jelas disana, membuatku merasa sangat terkejut. Mataku bahkan terbelalak menatap pria di depanku.


Hahahahahahahaha.


Aku terngakak lebar, tak percaya.


PLAK.


Pria itu malah memukul wajahku. Rasanya sangat sakit. Siapapun, aku berharap siapapun datang sekarang juga dan melepaskan ikatan tanganku. Aku harus membalas pukulan ini.

__ADS_1


"Kau menganggapku lelucon? Kenapa kau tertawa? "


Paman menakutkan itu membentakku. Ternyata dia tersinggung karena tawa renyahku tidak mempercayainya.


"Kau lihat ini, ayahmu benar-benar tidak menginginkanmu."


Kembali ia mengusap ponselnya dan memperlihatkan pesan obrolan dari kontak yang bernama Mario Park.


...AKU TIDAK PEDULI GADIS ITU GIVEN ATAU BUKAN. TERSERAH SAJA MAU KAU APAKAN DIA. KAU PIKIR BISA MENGANCAMKU SEENAKNYA?...


Meskipun Mario Park bukanlah ayahku, tapi aku tidak percaya orang itu tidak berbelas kasihan padaku sedikit saja. Bukankah kami saling mengenal?


"Kau mengerti sekarang? Ayahmu tidak peduli kau hidup atau mati. Sekarang bersiaplah Given, setelah ini kau akan pulang ke rumahmu. Istana keluargamu. Lihatlah apa Mario Park akan meratapi jasadmu sebentar lagi."


"Anda yakin dia ayahku, Paman? Paman tahu, dia punya seorang putri bernama Given. Apa yang sebenarnya paman inginkan? Aku bukan Given yang kau maksud. Kumohon lepaskan aku Paman, aku -"


"Gadis itu adalah putriku yang menyamar menjadi dirimu! Aku mengirimnya ke rumah itu untuk memeras harta ayahmu yang kurang ajar itu!"


Pria ini tiba-tiba berteriak dan mencengkeram kerah bajuku. Tampak kengerian terpancar dari wajahnya. Suasana diruangan ini kembali mencengkam.


Benarkah yang pria ini katakan? Kenapa semuanya terdengar seperti sebuah kebenaran?


"Lalu apa yang paman inginkan sekarang? Kenapa harus menjadikanku umpan?"


.


.


Kediaman Keluarga Park.


"Jimin! Jimin!"


Seseorang baru saja memasuki istana Park sambil meneriaki nama Jimin. Orang itu tak lain adalah Arsen, yang kini tengah kebingungan mencari keberadaan istrinya.


Jimin berlari menuruni tangga. "Hyung yang sopan sedikit kalau masuk ke rumah orang!"


Grrrep...


"Dimana Istriku?"


Jimin menyeringai kesal.


"Hyung! Kau yang tidak bisa menjaga istrimu! Kenapa malah marah padaku?"


Jimin menepis cengkeraman Arsen. Tatapan pria muda itu tak kalah menakutkan.


Daddy Mario tiba-tiba keluar dari kamarnya dalam keadaan tergesa.


"Ayo Jimin, kita harus segera ke sana."


Mario melewati Arsen begitu saja. Saat ini pria itu benar-benar yakin bahwa gadis yang bernama Ji Soo itu adalah putrinya.


Flashback.


Saat Mario masih berada di kamarnya, merenungi kebimbangan hatinya, Pak Bae kembali mengirim sebuah Video. Disana memperlihatkan perdebatan antara Pak Bae dengan Jisoo. Gadis itu jelas mengatakan bahwa dirinya memang bernama 'Given' tapi bukan Given yang dimaksud pak Bae, dikarenakan Mario Park memiliki seorang putri bernama Given di rumahnya.


Dari Video itulah Mario mulai mempercayai bahwa Kim Jisoo memang benar adalah Given, putri kesayangannya.


"Tunggu! Paman, kalian mau kemana?"


Arsen berlari menyusul ayah dan putranya itu.


"Ini bukan urusanmu. Ayo Jimin," Mario masuk kedalam mobil.


Arsen yang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, mencekal tangan Jimin. "Ada apa Jimin? Apa ada masalah?"


"Menyusullah kalau kau ingin tahu dimana istrimu."


Arsen tak membuang waktu lagi. Meski dalam keadaan bingung, ia tetap membuntuti mobil Mario.


.

__ADS_1


.


Dorrr.


Si paman yang bernama pak Bae menarik pelatuk pistol yang sedari tadi ia arahkan ke arah Ji Soo.


Jisoo terdiam ditempat, menahan sakitnya tancapan peluru pada kakkinya.


"Aku ayah yang tak berguna. Aku membuat putri dan istriku mendekam di penjara. Jadi mari kita berdua mati bersama, Given Park."


Tidak. Aku tidak akan mati denganmu.


Jisoo tiba-tiba memberontak, menyerang pak Bae dengan tangannya yang masih terikat. Ia dorong tubuh pria itu hingga terpental ke tembok.


"Kurang ajar! Mau lari kemana kau?"


Pak Bae memgambil senternya dan mengejar Kim Jisoo yang berlari dengan nekad, tidak pedulikan kakinya yang sudah berlubang.


Dorr!


Pak Bae kembali menembak.


Mario, Jimin, Arsen serta petugas berwajib tiba di tempat itu.


Dorrr! Dorr! Dorr!


Suara tembakan berulang terdengar sangat jelas.


"Nunaaaa! Jimin berlari mendahului daddy dan Arsen."


"Jimin! Hati-hati!"


Mario menyusul Jimin dengan perasaan khawatir.


"Tahan tembakan. Jangan sampai putraku terluka." Mario memberi peringatan kepada pihak berwajib, yang sebenarnya tidak perlu diingatkan.


Kenapa ada bunyi tembakan? Apa istriku berada di gedung ini?


Arsen terus mengikuti pergerakan Mario dan Jimin tanpa banyak bertanya. Yang ada diotaknya hanyalah segera bertemu istri yang disayanginya itu.


Tapi kenapa? Kenapa istriku ditempat seperti ini?


"Given, kau bersembunyi disini rupanya."


Curiga sedang ada orang lain yang datang, pria itu segera menuntaskan misinya.


"Selamat tinggal selamanya, Given Park."


Dorrrr.....


Pria itu menyingkir untuk bersembunyi.


Diam di tempat. Anda dikepung. Angkat tangan!


Cahaya senter milik Pak Bae menghilang karena Ia mematikannya lalu bersembunyi.


"Ahhh, brengsek, aku kehabisan peluru." umpatnya.


"Tak ada siapapun. Menyebar!" titah sang komandan.


"Nunaaaa! Nunaaaa!" panggil Jimin.


"Ji Sioo! Kim Jisooo!" Arsen memanggil.


"Given, Giveeen! Given Park!" Suara lirih Mario terdengar sangat berat.


Tak ada sahutan dari sang pemilik nama.


Ada yang mencariku? Kenapa mereka datang terlambat? Aku pikir akulah yang harus menyelamatkan diriku sendiri.


Mata Jisoo perlahan meredup dan benar-benar tertutup.

__ADS_1


__ADS_2