Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Kemunculan Ortu Angkat


__ADS_3

Mendengar pengakuan Arsen bahwa dirinya hanya INGIN BERMAIN SEDIKIT, membuat pria yang sudah berusia setengah abad itu sedikit meradang.


[Dari pada berpikir untuk bermain gila, papa ada tugas untukmu.]


[Csssh! Pah, bukankah ini terlalu jahat? Apa papa pikir pekerjaanku tidak banyak?]


[Arsen, dengar! Seseorang akan mengantarkan beberapa dokumen untukmu hari ini. Baby Tae. Kamu harus bantu cari dia. Karena dia adikmu!]


[Ya? Pa ... kenapa aku punya banyak sekali adik yang terlantar? Lagipula dia menghilang sejak bayi. Ini sedikit merepotkan!] -keluh Arsen.


[Jadi, kau tidak bersedia melakukannya?]


Walau rasanya sedikit terpaksa, Arsen tetap bersedia melakukan apapun permintaan Stefan.


Setelah membuang napas kasar, Arsen berkata: [Baiklah, akan kulakukan.]


[Bagus Boy, papa mengandalkanmu. Tentang 200 juta won itu, sudahlah, ikhlaskan saja. Jangan menuntutnya lagi.]


Panggilan telpon berakhir.


"Mengikhlaskannya? Oke, aku ikhlas. Tapi, aku tetap harus menghukum pencuri itu. Dia yang memulai main kucing-kucingan denganku."


.


.


Satu bulan Kemudian.


Jisoo menghadap ke ruang atasannya untuk meminta izin keluar karena harus mengantarkan adiknya itu ke rumah sakit.


Atasan yang sangat pengertian, ia pun mengizinkan Jisoo, seperti biasa.


Di rumah sakit.


Kakak beradik itu berjalan dengan langkah santai memasuki rumah sakit, dengan bergandeng tangan. Jisoo benar-benar tampak menyayangi adik yang selalu ada untuknya itu.


"Nuna, apa aku selalu memgganggu waktumu?" -tanya Rain.


"Tidak."


"Aku merasa, aku adalah adik yang merepotkan, Nuna."


"Tidak sama sekali."


"Maaf ya Nuna, aku janji, ini terakhir kali merepotkan Nuna. Setelah aku sembuh, Nuna boleh menyusahkan aku."


"Baiklah, baiklah, bersiaplah. Nuna akan sangat menyusahkanmu!" -mencubit hidung mancung adiknya.


"Hei! Jangan selalu mengganggu hidungku. Kita akan semakin tidak ada kemiripan jika hidungku semakin mancung, sementara hidung Nuna sangat pesek."


Sambil melangkah, keduanya terus membuat lelucon.


.


.

__ADS_1


Ditempat lain.


[Boss, sepertinya kami melihat Jisoo di area Rumah sakit. Tapi belum memastikan apa dia orangnya.]


[Bersama siapa dia?]


[Sendirian boss!]


[Baiklah! Tunggu disana. Awasi dia, jangan sampai lolos.]


Gadis itu meninggalkan adiknya menunggu di depan ruang tunggu dokter, karena harus ke apotek yang berada di seberang rumah sakit.


Ternyata, dari kejauhan dua orang pria melihatnya saat hendak keluar dari rumah sakit.


Keluar dari apotek, Jisoo menenteng obat ditangannya sambil sesekali membaca peraturan mengkonsumsi obat tersebut.


"Heran, kenapa obat sekecil ini harganya sangat mahal?" -gumamnya.


Asik melangkahkannkaki dengan penuh semangat, tiba-tiba muncul dua orang pria entah dari mana, menghadang Jisoo.


"Ada apa ini?" -firasatnya mulai tidak nyaman.


Ia pun melihat kesekeliling dan ... betapa terkejutnya saat melihat siapa yang datang dari arah yang lain.


"Jisooo! Ternyata kau berada di kota ini? Dimana Rain? Katakan dimana putraku? Kenapa kau membawa pergi putraku?"


"Eomma? Appa? ..."


Pasangan orang tua angkat itu semakin mendekat, dengan wajah yang sangat menakutkan.


"Lari! Lari! Lari, Jisoo!"


"Jisoo! Brengsek, jangan lari! Cepat kejar dia. Dapatkan Gadis itu!"


Seakan tak memperdulikan isyarat lampu, Jisoo tetap nekat menyebrang jalan, membuatnya menuai teriakan dari orang-orang disekitarnya sesesama pengguna zebra cross, karena menyebrang secara tiba-tiba ditengah padatnya lalu lalang kendaraan.


"Jem awasss!" -Betapa terkejutnya Jem karena teriakan 'awas' dari Arsen, membuatnya menginjak pedal rem mendadak.


Shhiiiiit.


Brukkk.


Seseorang tertabrak. Tidak, sepertinya orang itulah yang menabrak mobil yang ditumpangi Jem dan Arsen.


"Tidak! Boss, seseorang terjatuh di depan kita."


"Turun dan urus itu Jem." -perintah Arsen. "Mengacaukan perjalananku saja!- dengan nada mengumpat, tak berperasaan.


Jem pun turun dari mobil dengan perasaan takut-takut. "Apa orang ini mati?" itulah yang ada dibenaknya saat ini.


"hei! Nona, kau tak apa?"


Orang itu menggeleng, terus saja menunduk sambil memungut sesuatu yang berserakan, nampak seperti obat-obatan.


"Kau sungguh tak apa? Lututmu berdarah!"

__ADS_1


"Tidak apa-apa!" -jawab orang itu lagi, namun sepertinya ia sedang terisak dalam tangis.


Sungguh, Jem tidak tega melihatnya.


"Lalu kenapa kau menangis?"


"Aku menangisi obat ini. Aku baru saja membelinya dengan harga yang mahal." -terus memungut butiran obat sambil sesekali meniupnya agar debu tidak lagi menempel.


Lampu merah menyala. Semua kendaraan terhenti.


"Hei! Ada apa? Ada apa? Kau tak apa?"


Para pejalan kaki berlari menghampiri Jisoo.


"Sial! gadis itu lebih rela mati tertabrak daripada harus tertangkap oleh kita."


Orang-orang yang mengejar Jisoo tak berani mendekat untuk saat ini. Melihat orang banyak mengerumuni gadis itu, mereka pun kembali mengatur strategi penangkapan.


"Nona, jika kau tak apa, maka aku akan pergi. Aku sangat buru-buru." -ujar Jem.


Kembali Jisoo mengangguk. Ia pun berdiri ditempatnya. Sedang Jem, ia kembali masuk ke mobil.


"Bagaimana Jem? Orang itu baik-baik saja?"


"Iya pak, hanya sedikit berdarah. Dia juga meminta maaf karena dia yang salah, menabrakkan diri ke mobil kita."


.


Jisoo telah menyeberang jalan dengan selamat bersama dengan para pejalan kaki lainnya.


"Mereka sudah pergi?" -melihat ke sekeliling, tidak terlihat lagi ayah ibu angkat dan beberapa pria kekar yang mengejarnya.


"Oh, syukurlah." -batinnya.


Jisoo merasa sedikit legah. Jika harus dipaksa untuk berlari lagi, sepertinya kaki kanan sudah tidak bisa diajak kompromi.


"Ini semua karena aku lupa mengenakan penutup wajahku. Ah, Jisoo! Kau sangat malang."


.


"Tunggu Jem!" -Arsen menahan pundak Jem agar berhenti menjalankan mobil. Matanya tertuju pada seorang gadis yang sedang berjalan dengan kaki yang terlihat pincang.


"Pak Arsen, kau terpesona? Dia gadis yang tadi hampir menjadikan kita berdua tersangka, karena menabraknya." -terang Jem, sembari berguyon.


"Jem, menepi sekarang!" - Arsen memerintah tanpa mengalihkan wajahnya dari gadis itu.


"Tapi kenapa?" -Jem menoleh ke belakang , dimana bossnya itu berada. "Hei! Aku tahu dia cantik, tapi ini bukan saatnya jatuh cinta. Banyak hal mendesak untuk kita kerjakan hari ini."


"Dia adalah maling berkedok j4l4ng yang sedang aku buru."


"Apa??" Jem terkejut. "Si gadis 100 juta won itu?"


.


.

__ADS_1


Bersambung....


Like, komen, vote ya guysss🥰🥰🥰


__ADS_2