
"Apa yang Noona pikirkan? Keluarga itu bukan orang sembarang yang bisa kita serang begitu saja."
Rain mulai menginterogasi sang kakak, sedikit memarahinya kerena kesal.
Kakak beradik itu kini berada di dalam taxi, menuju Apartemen.
"Rain, maafkan Noona. Noona benar-benar telah hilang akal."
"Ya sudah, tak apa. Tolong jangan diulangi. Aku benar-benar ingin memarahi Noona."
.........
Sementara di tempat lain, Given mengirimkan pesan melalui ponselnya. (Omma, aku sangat gugup. Dia datang ke acara perusahaan dan langsung mengenali kalung ini.)
(Kamu tenang saja. Omma akan cari cara untuk selesaikan gadis itu. Untuk saat ini, berhati-hatilah. Jangan sampai bertemu lagi dengannya.)
Bagaimana ini? Untung saja dia tidak mengatakan apapun. Kau sungguh membuatku gugup malam ini.
Tiba di apartemen. Kakak beradik itu masuk ke kamar mereka masing-masing.
Sebelum tidur, Jisoo memyempatkan waktu untuk membuka ponsel.
"Hah? Dia mengirimku pesan? Apa? Berakting layaknya pasangan? Apa dia ingin memperalatku?"
Jisoo mengeryitkan bibir, tanda protes.
"Ah, tentu saja dia bebas memintaku lakukan apapun."
Jisoo menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur. Bersamaan dengan itu pula, ponselnya berdering.
MAJIKAN memanggil.
Buru-buru Jisoo menjawabnya.
[Ha-halo,]
[Buka pintumu.]
[Yaaa? Oke, oke ...!]
Berlari keluar.
CEKLEK.
"Kau? Kenapa kau bisa masuk dengan sendirinya?"
Tiba-tiba pria itu sudah berada di depan kamar Jisoo.
"Apa? Kau lupa ini tempat tinggal siapa?" -Masuk ke dalam kamar.
Jisoo nampak tersadar akan sesuatu.
Benar. Tempat ini miliknya.
"Ja-jadi, ada apa kemari? Apa ada pekerjaan untukku?"
"Ada. Aku sedang ingin di pijat. Karena aku sangat pusing karena kamu."
Arsen menarik tangan Jisoo keluar dari kamar, menuju kamar Rain, tentu saja membuat Jisoo bingung.
Tok tok tok.
__ADS_1
Tok tok tok.
Ceklek.
"Hyung? Noona?" -melirik sekilas tangan Noona yang sedang digenggam.
"Aku meminta izin untuk membawa Noonamu. Kau tidurlah dengan nyenyak."
Diam-diam Jisoo mengkode Rain dengan menggeleng.
"Ta-tapi kemana hyung?"
"Ke tempatku."
Rain tersenyum manis. "Kalian akan berkencan? Pergilah. Hyung, kupercayakan noona untukmu."
Menatap kepergian kedua orang itu dengan senyum usilnya. "Katanya tidak tertarik pada Noona-ku tapi apa itu?"
Kembali menutup pintunya untuk beristirahat.
....
Arsen duduk bersandar dengan nyamannya pada sofa empuk, menaikkan kedua kaki ke atas meja.
"Pijat kakiku."
Bukankah dia bilang pusing? Kenapa malah kakinya yang harus di pijat?
Jisoo mulai mengatur posisi duduk di dekat kaki pria itu.
"Jangan ragu-ragu. Kau adalah wanita paling beruntung jika bisa menyentuhku." -kembali Arsen bersuara, karena tak kunjung mendapatkan pijatan.
Wanita paling beruntung? Rasanya ingin ku potong kakimu ini.
"Ini terasa seperti kau sedang mengelus kakiku. Lebih kuat lagi!" Dengan mata terpejam, Arsen memberi perintah.
Cssshhh. Majikan menyebalkan ini.
"Pelan-pelan, Jisoo. Itu terlalu kuat." -Pria itu semakin terdengar mengesalkan.
"Iya, seperti itu. Teruskan. Ah,,, nyaman sekali."
Sambil menikmati pijatan itu, Arsen menutup mata dengan tenang.
"Kenapa tadi kau ditampar wanita tua itu?"
Dipikir sedang terlelap, ternyata pria itu masih terjaga.
"Itu ... hanya salah paham. Maafkan aku,"
"Kenapa minta maaf padaku?" -Arsen membuka mata.
"Aku pikir, aku telah bersikap kasar pada salah satu kekasihmu."
"Yah? Siapa yang kau maksud?"
Arsen mulai menautkan dahi, tanda tak suka.
"Noona-nya Jimin."
"Dia bukan kekasihku. Tapi ... tadi wanita yang sangat aku cintai juga berada disana."
__ADS_1
"Oh,"
"Jisoo, pijat pundakku." -menepuk pundak.
Jisoo beranjak, berpindah posisi ke sisi belakang tubuh pria itu.
"Namanya Kang Ma Ri. Wanita yang kucintai."
Hmmm. Jisoo mengerlingkan mata. Aku tidak peduli. Apa kau ingin curhat sekarang?
"Saat melihatnya aku merasa benci. Tapi saat berjauhan, aku merindukan dia." -dengan tenangnya Arsen menyampaikan isi hatinya sembari menikmati pijatan yang terasa sangat nyaman.
"Yang sabar!"
Entah kenapa, dua kata itu meluncur mulus dari bibir Jisoo.
"Jisoo, kau bilang apa?"
"Oh, aku hanya berusaha menanggapi curhatan hatimu." -jisoo menjawab dengan polos.
"Ckkk, Aku lupa, Kau belum pernah berkencan. Kau tidak akan mengerti perasaanku." -kembali menutup mata. Sesungguhnya, pria itu sangat mengantuk dan ingin terlelap sambil menikmati sentuhan pijatan gratis ini. Bukan, bukan gratisan. Sudah pasti ini salah satu cara mencicil hutang wanita itu padanya.
"Hmmm. Mungkin dalam waktu dekat, aku akan punya pacar. Jadi aku akan segera tahu rasanya punya kekasih." -celetuk Jisoo, membuyarkan rasa kantuk Arsen.
"Ada pria yang kau sukai?"
"Ada, dia adalah senior di kampusku. Dia tampan, ceria, ramah kepada semua orang. Dia juga perhatian. Baik, dia sangat baik." -membayangkan wajah J-hope yang good looking, yang tampannya tak ketulungan bagi penglihatanya.
Tidak sepertimu, pria tampan tak berperasaan.
Tapi... aku hanya mengaguminya. Hanya mengaguminya.
Ah, itu tidak penting, yang penting ada yang bisa aku pamerkan padamu. Memangnya kau saja yang punya seseorang yang disukai?
"Kau... ingin berkencan? Enak saja. Fokus saja bekerja dan lunasi hutangmu." -ketus Arsen, tiba-tiba.
"Dia seorang pengacara. Pasti punya banyak uang. Kalau dia jadi kekasihku, akan ku minta dia membantuku membayar hutang itu." ucap Jisoo, dengan lugas, sambil berangan-angan.
"Pengacara? Siapa namanya?" -Semakin penasaran, pria seperti apa yang disukai jal4ng jadi-jadian ini. Tiba-tiba hatinya merasa panas, lalu meneguk air mineral didepannya.
"Jung J-hope."
Pffffff.
Arsen menyembur keluar air mineral yang bahkan belum sempat mengalir ke tenggorokannya.
"Si-siapa? J-Hope? Kau ... menyukai pria itu?"
Jisoo mengangguk cepat.
"Kau mengenalnya? Ada yang salah?"
Tentu saja aku mengenal pria pemilik ular liar itu, baik katamu? Ramah? Perhatian? Itu karena dia sedang tebar pesona. Dasar polos!
.
.
Bersambung....
Jika sempat, akn up lg sore nanti.
__ADS_1
Guysss... jan lupa, aktifkan jempol kalian untuk mendukung karya receh ini๐