Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Mirip Nuna


__ADS_3

Jem dan Arsen belum sempat benar-benar menepi, sebuah mobil berhenti bertepatan dimana Jisoo berada.


Beberapa pria keluar dan dengan gerak cepat memasukkan Jisoo ke dalam mobil.


"Siapa mereka? Kejar mobil itu Jem!"


"Sepertinya tidak hanya kita yang memburunya boss."


"Aku tidak peduli siapa mereka. Kejar Jem!"


"Tapi, bagaimana dengan urusan pekerjaan kita? Aku tidak mau ambil resiko."


"Dapatkan maling itu dulu, setelah itu kita pikirkan sisanya."


"Tidak bisa. Anda rela kehilangan Trilyunan demi milyaran? Pikirkan itu. Pak Stefan akan mengomeliku jika itu terjadi." -Dengan tegas Jem menolak dan kembali melajukan mobil.


.


.


Di rumah sakit.


"Kenapa Nuna sangat lama? Apa terjadi sesuatu dengannya?"


Rain mulai merasa gelisah memikirkan Jisoo Nuna yang tak kunjung kembali setelah memintanya menunggu. Disamping itu ia juga mulai merasa kelelahan karena terlalu lama duduk.


"Rain? Kau disini?"


Rain menoleh kearah suara yang menyapanya. Seseorang yang sangat ia kenal, Park Jimin.


"Apa kau sakit? Kenapa bibirmu terlihat pucat?" -tanya Jimin.


"Aku sangat sehat. Ya tentu saja aku sedang sakit. Kau terlalu banyak basa basi." Rain terlihat acuh dan tidak ingin bersikap ramah. Tentu saja, untuk apa bersikap ramah pada Jimin Park yang menyebalkan.


"Aku tadi habis bertemu dengan dokterku. Katanya, aku sudah sembuh."


"Kau hanya geger otak ringan. Sudah pasti sembuh lebih cepat."


"Dimana Roze? Benarkah dia pergi?"


"Jangan tanya aku. Cari tahu saja sendiri."


"Rain. Maafkan aku. Ayo berteman."

__ADS_1


Jimin terlihat cukup gentleman, mengakui kesalahan bahkan menawarkan pertemanan.


"Belikan aku air mineral dan makanan bergizi. Baru kita akan berteman."


"Yaaa? Hei! Makanan bergizi hanya ada di rumahku. Air mineralnya juga sudah pasti sehat. Ayo ikut kerumahku."


Rain menggeleng. "Aku sedang menunggu nuna-ku."


.


.


Sore harinya, pukul 18.00


Jisoo tak kunjung kembali ke rumah sakit. Beberapa kali Rain melakukan panggilan, tapi si nuna tak kunjung menjawabnya.


"Apa yang terjadi dengan nuna?"


Akhirnya, karena paksaan dari Park Jimin, Rain terpaksa menerima ajakan bekas musuhnya itu, untuk ikut ke rumah Jimin.


Tiba di kediaman Park.


Supir menurunkan kedua pemuda itu tepat di depan pintu utama rumah megah itu.


"Mommy!" -Jimin menyapa sang ibu yang sedang membaca majalah di ruang tengah bersama kakak perempua yang terlihat acuh, tak peduli dengan kedatangannya.


"Sayang, kalian sudah datang? Inikah teman barumu yang membuat mommy harus memanggil ahli gizi hari ini?"


Si mommy tersenyum lalu beralih menyapa Rain.


"Aku baru sekali bertemu Tuan Kim. Tapi aku masih ingat dengan jelas wajah pria itu. Anak ini benar-benar mirip dengannya. Benar kata si Daddy." -batin si Mommy Jen.


Mommy tak terkejut dengan kedatangan Rain yang tiba-tiba, sebab anak bungsunya itu sudah memberitahu, termasuk meminta untuk menyiapkan makanan dengan aturan gizi yang ketat untuk Rain, mengingat pria itu harus menjaga aturan makannya sebagai pasien penerima donor ginjal.


"Mom, aku akan temani Rain untuk makan."


"Oke sayang,"


Mommy merasa bangga melihat anak laki-lakinya itu yang terlibat sangat tulus kepada Rain, meski anak muda itu telah membuat Jimin harus mengalami geger otak.


Sebuah pigura berukuran besar, memperlihatkan foto keluarga didalamnya. Saat mata Rain tertuju pada anak perempuan kecil di dalamnya. Langkahnya pun terhenti.


"Ayolah cepat. Bukankah kau lapar? Meja makan sedang menunggu kita!" Ujar Jimin, mendesak.

__ADS_1


"Siapa anak itu?" -Rai menunjuk le arah pigura.


"Anak itu? Yang paling kecil? -Jimin mengira Rain menunjuk foto dirinya yang pada saat itu bahkan belum berusia 2 tahun.


"Bukan bayi jelek itu. Aku menunjuk anak perempuan yang disebelahnya." sanggah Rain.


"Bayi jelek katamu? Kurang ajar! Hehe. Itu Nunaku. Yang tadi sedang bersama mommy."


"Oh...."


"Kenapa? Kau terlihat terganggu!"


"Tidak apa-apa. Hanya ... sedikit mirip dengan nunaku saat kecil. Tapi sekarang, nunaku lebih cantik."


"Ya ya ya.... tentu saja nunamu lebih cantik. Kau puas?"


"Memangnya kau pernah bertemu nuna?"


"Sudah. Dia menjengukku di rumah sakit. Tidak seperti seseorang. Minta maaf saja tidak." -mengejek Rain.


.


.


Malam harinya.


Jisoo terbangun. Perlahan tapi pasti, perasaannya mulai terasa gugup karena tidak mengenal tempat dimana dirinya sedang berada saat ini. Dalam keadaan kaki dan tangan terikat diatas sebuah kursi putar.


Ruangan sangat gelap, terasa begitu menyeramkan.


"Rain! Rain!" -memanggil nama adiknya itu dengan suara bergetar dalam kegelapan.


Ceklek.


Seseorang membuka pintu.


.


.


Bersambung...


Hayooo. Dimana Jisoo berada?.

__ADS_1


Like, komen and rate pleasee.


__ADS_2