
Apartemen Arsen.
Dengan sangat-sangat terpaksa Arsen membawa gadis itu ke tempat tinggalnya, mengingat saat ini sudah tengah malam.
"Semoga mata-mata si Papa tidak melihatku bolak balik membawa wanita ini ke apartemen."
Selagi masih di tempat parkir, Arsen membangunkan Jisoo. Tidak mungkin harus menggendongnya sementara tempat tinggalnya berada di lantai paling atas gedung ini.
"Eh, bangun!" -menyentil pipi mulus itu dengan jari telunjuknya.
"Waduh, kenapa suhu tubuhnya sangat dingin? Apa dia sudah jadi mayat?"
segera mengecek denyut nadinya, ternyata masih berdenyut dengan normal. "Syukurlah dia masih hidup." -batinnya.
Akhirnya, tibalah keduanya di kamar. Arsen yang dengan terpaksa memggendong gadis itu karena tidak juga terbangun. Biar kata menggunakan jasa lift, tapi gadis kurus itu terasa sangat berat.
"Rasanya ingin ku banting j4l4ng ini." -umpatnya lagi, dan lagi mengumpat.
Tak lama, muncul sang dokter pribadi andalan. Tanpa banyak ingin tahu, sang dokter segera melakukan pemeriksaan.
"Hidungnya tiba-tiba berdarah. Aku tidak mengerti ada apa." -terang Arsen, tanpa ditanya.
"Mari kita periksa detak jantung dan pernapasannya." -Dokter memgarahkan tangan ke kancing kemeja gadis itu, sontak membuat Arsen bereaksi.
"Dok, mau apa?" menahan tangan sang dokter yang kemudian terlihat mengerutkan dahi. Kancing bahkan belum di buka, Arsen sudah gugup tak karuan.
"Silahkan pak Arsen yang buka. Buka semuanya. Kita harus memeriksa bagian perutnya juga."
"Ya?" -raut wajah Arsen berubah canggung.
"Tidak apa-apa. Ini tidak termasuk pelecehan. Dia pasien." -ujar si dokter yang mengerti akan kegugupan Arsen.
"Silahkan dok," -Arsen mempersilahkan.
Sang dokter mengangguk lalu memulai.pemeriksaan.
"Hati-hati dok," -Maksud Arsen adalah jangan sampai salah sentuh. Entah kenapa, rasanya tidak rela saat pria lain akan melihat tubuh gadis itu. Namun, ia tidak mengungkapkannya.
"Benda ini tidak akan menyentuh bagian yang anda takutkan pak Arsen," -lagi, ai dokter dapat menebak kekhawatiran Arsen.
"Ehmmm. Maksudku adalah jangan sampai dia terbangun karena terganggu."
"Owhh!" Sang dokter mengangguk paham.
Pemeriksaan selesai.
"Dia sedang demam biasa. Demam menggigil. Lihatlah tangannya bergetar. Dia kelaparan dan sangat kelelahan. Rasa lelah itu yang memacu terjadinya mimisan." -terang si dokter.
Setelah menulis resep, dokter lalu menyerahkannya kepada Arsen. Terakhir, si dokter memasang infush pada pergelangan tangan Jisoo.
"Trima kasih dok, maaf merepotkan anda." -Arsen mengantar dokternya.ke depan pintu.
"Apa dia kekasih pak Arsen?" tanya si dokter ingin tahu.
Mendengar pertanyaan itu membuat Arsen ingin tertawa ngakak.
"Kekasih apanya? Dia hanya kucing kecil yang telah mencuri sesuatu dariku."
"Oh ya? Sejak kapan wanita cantik jadi kucing?"
.
__ADS_1
.
Di dalam Taxi.
Pagi-pagi sekali, si kembar mengantarkan Rain ke sebuah alamat yang baru saja dikirim melalui ponsel Jisoo. Ketiga orang ini sudah legah karena menerima kabar dari Jisoo, meskipun gadis itu dikabarkan dalam keadaan kurang sehat.
"Waaah! Rain, sepertinya Nuna-mu habis memenangkan lotre. Bayangkan, bagaiamana rasanya menginap di apartemen berkelas ini? Di ruang paling atas gedung tinggi ini pula." - A Rim.
"Iya, Rain. Orang yang menolongnya benar-benar baik. Dia berbaik hati memberi tumpangan kepada Nuna-mu, menginap di apartemen ini." -A Reum.
Di dalam lift.
Si kembar terus mengoceh bermaksud menghibur adik laki-laki dari sahabatnya itu. Keduanya tahu, bahwa Rain tidak bisa beristirahat dengan tenang semalaman karena mengkhawatirkan sang kakak.
"Kalau dia orang baik, seharusnya mengantar Nuna ke rumah sakit. Bukan ke sini." -ketus Rain.
"Hei! Adik-ku yang tampan, kau tahu Nunamulah yang menolak dibawa ke rumah sakit. Dia pasti tidak enak merepotkan orang lain."
"Sama saja Nuna, menumpang di tempat tinggal orang lain juga sama merepotkan!"
Hmmm. Rain bener-benar membuat si kembar terdiam.
Tiba di depan apartemen Arsen.
Mendengar kedatangan tamu, yang mengaku sebagai sahabat Jisoo, Arsen segera membuka pintu.
"Haaaah!" -sama seperti reaksi para wanita saat melihat Arsen, si kembar benar-benar terbelalak. Sementara Rain, memperhatikan dengan detile pria dihadapannya. Pria yang katanya membantu Nuna saat sakit.
"Benarkah pria ini murni membantu nuna?
Tidak hanya Rain, Arsen pun terlihat demikian. Menatap Rain dari bawah hingga keatas.
"Ehmmm" si kembar berdehem agar dua makhluk tampan ini menyadari keberadaan mereka.
"Oh, kalian, sahabatnya?"
"I-iya! Saya A Rim, dia Arum." -si kembar tersenyum manis.
"Lalu, dia?" -melirik Rain.
"Oh... dia -"
"Aku kesayangannya. Orang yang paling penting dalam hidupnya melebihi siapapun." -Rain menjelaskan dengan lugas. Entah apa maksudnya anak itu.
"Okeh, silahkan masuk!"
Arsen duduk di sofa tunggal, lalu mempersilahkan ketiga tamunya itu untuk duduk.
"Tunggulah disini. Aku akan melihat keadaannya."
Arsen pergi meninggalkan ketiga orang itu. Si kembar tampak sangat tercengang akan betapa indahnya tempat ini.
"Rain, nuna-mu benar-benar mendapatkan jackpot. Pria tampan, dengan segala kesempurnaan lain yang dia miliki. Jisoo, kamu sungguh beruntung." -A Rim mulai berangan-angan.
Tap tap tap, pria tampan itu menuruni tangga dari lantai 2 apartemen itu.
"Dia belum bangun. Kalian boleh menjenguknya saat bangun."
"Aku ingin menemui Nuna. Tunjukkan dimana aku harus menemuinya."
"Noona?" -Arsen mengulangi perkataan Rain.
__ADS_1
"Ah, iya ... Jisoo adalah kakak dari pria tampan ini." -A Reum menjelaskan.
"Oh.." -Arsen mengangguk paham. "Ikuti aku. Kalian berdua, tunggulah disini. Silahkan membuat sarapan kalau mau."
Si kembar mengangguk dengan cepat. Benar sekali, mereka bahkan tidak sempat sarapan karena harus segera datang kesini.
Tiba di depan kamar dimana Jisoo berada.
"Tunggu!" -Rain menahan tangan Arsen yang hendak membuka pintu. "Mari bicara terlebih dahulu."
"Ya. Katakan."
"Dimana anda tidur tadi malam?"
"Di kamar ini."
"Apa? Anda meniduri kakak saya?"
"Hmmm. Lebih tepatnya, dia yang ingin ditiduri. Dia memeluk lenganku sepanjang malam."
"Apa? Itu tidak mungkin! Lalu, apa yang terjadi?"
"Ya ... kami tidur bersama."
"Hanya itu? Hanya tidur? Bagaimana mungkin laki-laki dan perempuan bukan pasangan, hanya menghabiskan malam dengan tidur saja tanpa ada yang terjadi?"
"Maksudnya? Haruskah kami jadi pasangan? Lalu, apa aku terlihat seperti pria mesum yang akan memakan kakakmu?"
"Oh, tidak. Maksudku, aku tidak mempercayai anda." -Rain dengan santainya membuka pintu lalu masuk kesana.
"Nuna, Nuna sudah bangun?"
"Rain? Rain kamu baik-baik saja?" -merentangkan tangannya menyambut adik lelakinya itu yang sudah pasti memeluknya.
"Nunalah yang tidak baik-baik saja. Aku tak apa."
"Sssuuut! Jangan sedih! Nuna tidak apa-apa. jangan menangis."
Arsen hanya berdiri mematung bersandar di dinding, mendengarkan interaksi kakak beradik itu dari luar, tanpa ada niat untuk mengganggu.
"Apa yang telah aku lakukan? Apa aku sudah berlebihan? Apa aku telah menyakiti perempuan itu dan keluarganya?" -Arsen sedikit merenungi tentang apa yang telah terjadi, apa yang telah ia lakukan.
"Nunaa! ... Kenapa nuna melakukan itu?"
"Apa maksudmu? Lakukan apa?" -mengurai pelukan.
"Nuna ... Aku sudah mengatakan biarkan aku mati saja. Kenapa Noona harus menukar kesucian Noona demi aku? Aku merasa sangat sakit mengetahui itu Noona, Nuna ... aku harus bagaimana? Aku adalah adik yang buruk." -Rain kembali memeluk kakaknya sambil terisak.
Melihat kesedihan adiknya, membuat Jisoo akhirnya ikut terisak.
"Jangan menangis! Noona baik-baik saja. Rain, Nuna sangat baik-baik saja. Jangan bersedih. Jangan pernah menyalahkan dirimu. Kamu, sangat berharga untuk noona."
.
.
Bersambung....
Thanks guyss.
Jan lupa ya..🥰🥰🥰
__ADS_1