Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Merasa Akan Gila


__ADS_3

"Bos, bukankah kau sudah ngecas semalaman bersama wanita itu? Kenapa masih terlihat lesuh?"


"Berhenti mengejekku Jem, atau kau tidak boleh memgencani Idol kesayanganmu itu."


"Ssshhh, kau selalu mengandalkan ancaman itu."


Dua pria itu kini dalam perjalanan kembali ke Rumah Sakit. Sebagai sahabat dan sekaligus asisten andalan, Jem juga merangkap sebagai supir disaat darurat.


Jem yang sedang menyetir, sedang Arsen duduk tenang disampingnya sambil memejamkan mata.


"Jem,"


"Hmmmm."


"Rasanya aku akan gila."


"Jangan."


"Jem,"


"Hmmm."


"Ternyata, dia nggak suka aku."


"Cari yang lain."


"Nggak."


Kerasnya keinginan Arsen untuk tetap menginginkan Jisoo, membuat Jem menggeleng heran.


"Kenapa kau jadi tergila-gila sama 'maling berkedok ******' itu?


Mendengar Jem menyebutkan julukan itu untuk Jisoo, Arsen sedikit meradang.


"Jangan menyebutnya begitu. Dia tidak pantas menyandang julukan itu."


"Maafkan aku Sen."


Ya ampun, jatuh cinta memang membuat gila. Kasihan si bos.


Di Rumah Sakit.


Arsen kembali memasuki ruang perawatan. Selang beberapa saat, sarapan pagi benar-benar diantarkan, bersamaan dengan sang dokter yang ingin memeriksa kondisi pria itu.


"Bagaimana Tuan Muda Yoris? Apa ada keluhan?"


Arsen lalu melihat ke arah tangannya.


"Tadi malam sempat pendarahan, tapi sudah tidak apa-apa."


Sang dokter mengangguk paham.

__ADS_1


"Jangan sentuh dok. Ini adalah karya seseorang."


Arsen menangkap tangan sang dokter yang hendak membuka perban di tangannya. Membuat si dokter ber 'oh' ria.


"Baiklah, apabila ada keluhan, silahkan hubungi dokter jaga."


Arsen mengangguk.


Pria tampan itu lalu menikmati sarapan yang ada dengan lahap. Penolakan gadis itu tidak lantas membuatnya mogok makan.


Aku harus cepat pulih agar bisa terus berjuang mendapatkan si polos keras kepala itu.


Drrrrrttt drrrt drrrttt.


Mama memanggil.


Kenapa lagi Nyonya cantik ini? Dia pasti ingin mengejek kesialan putranya.


Pria itu melanjutkan makan, mengabaikan panggilan.


Di kantor.


Ditengah sedang asik bekerja, ponsel Jisoo berdering, menandakan adanya panggilan masuk.


Kenapa lagi anak ini memanggilku?


[Halo Rain,]


[Halo kakak ipar!]


[Hehe, Nuna, terima kasih ya, aku sangat senang. Akhirnya Nuna mau bergabung dengan keluarga Yoris.]


[Kau hanya mau mengatakan itu?]


[Nuna, hari ini mama ingin kita berdua menemaninya shopping.]


[Rain, Nuna sedang banyak pekerjaan. Bilang ke ibumu, Nuna-]


[Sepulangnya Nuna bekerja, kami berdua akan menunggu Nuna di depan kantor.]


Tuut tuut tuut.


Rain terkadang memang tak terbantahkan.


Tak terasa, waktu sudah sore bagi orang-orang yang beraktivitas penuh. Beda halnya dengan seseorang yang sedang dirawat di rumah sakit.


Apalagi, seharian ini Kim Jisoo tidak memunculkan batang hidungnya untuk menjenguk pria itu.


Menunggu terasa sangat menyebalkan.


Apa aku harus menelponnya?

__ADS_1


Arsen menggeleng.


Jangan. Tahan dulu. Dia hanya akan semakin risih kalau aku mengganggu waktunya.


Ceklek.


Seseorang memasuki ruangan.


"Kak, bagaimana keadaaanmu?"


"Joon, kau sendirian? Kemana yang lain?"


"Papa sudah pulang ke Jakarta karena ada urusan mendesak. Mama, dia sedang shopping bersama anak bungsunya."


"Oh, itu bagus. Lalu, kau akan menemaniku disini?"


"Ya iyalah, apa lagi?"


Asik mengobrol, ponsel Arsen berbunyi. Tampak di layar ponselnya mama sedang melakukan panggilan Video.


Blib,


Pria itu menjawab panggilan.


Bukan wajah cantik dari wanita yang telah melahirkannya itu yang terlihat, melainkan Kim Jisoo. Auto membuat pria tampan itu menegang dengan perasaan bahagia.


[Bagaimana keadaanmu sayang?] tanya mama, namun tetap mengaktifkan kamera belakang, sengaja menggoda putranya.


[Aku baik-baik saja. Tapi kenapa mama lagi sama Ji Soo?]


[Kita lagi shopoing sayang. Mama sengaja memintanya memilihkan beberapa untukmu. Dan dia mau.]


Arsen tersenyum.


[Ma, jangan membuat kekasihku tidak nyaman dengan permintaan mama.]


[Sen, sudah dulu ya, nanti ketahuan lagi mama videoin dia.]


[Tunggu, tunggu Ma. Aku masih ingin melihatnya.]


[Apa kau mau kualat sama orang tua? Enak aja, tangan mama capek. Dah]


Dengan kejamnya, mama Gina mematikan panggilan.


"Aaah, sial! mama gimana sih, nyenengin hati anak suka nanggung."


Joon yang sedang fokus memainkan game pada ponselnya, lantas mengangkat wajah, tak terima sang kakak berkata kasar.


"Kak, jangan mengumpat mama-ku."


Tungguin up selanjutnya, siang atau sore yah guyss.πŸ₯°πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Jangan lupa dukung karya ini πŸ˜‰


Rate, vote, hadiah, komen, likeπŸ€‘


__ADS_2