Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Ga Sabar Ya?


__ADS_3

[Arsen, ada apa?] mama Gina.


[Ma, mereka akhirnya menerimaku. Malam ini aku akan pindah tempat istriku.]


[Apa? Yang benar saja. Kamu bakal tinggal di tempat istrimu? Kamu itu suami, sayang. Masa iya, kamu yang ditampung mertua? Ga malu kamu?]


[Ma ... ini demi mereka. Mereka maunya istriku tinggal lebih lama di rumah itu.]


[Terus?]


[Terus, ya pindah lah ma, apa susahnya sih,]


[Tapi gimana dengan harga diri kamu? Papa? Mama?]


[Harga diri? Abaikan itu dulu, mah, ini juga sementara. Yang penting aku bisa bersama istriku setiap hari.]


[Ya sudah, terserah kamu. Asalkan kamu nyaman. Yang sabar ya, sayang. Kau sudah dewasa.]


[Iya, mah. Ya sudah kabari tentang ini ke papa ya,]


[Oke, sayang.]


.


.


Arsen POV.


Sore hari yang dinantipun tiba. Waktunya pulang dari kantor. Aku segera beranjak dari kursi empukku.


Jem tak kalah senang karena ia pun tidak harus lembur atau semacamnya. Ya ... aku


"Apa aku perlu mengantarmu pulang ke rumah mertua?" tanya Jem. Tentu saja ia hanya basa basi. Dasar orang itu.


Dalam waktu 10 menit aku sudah tiba di apartemenku untuk mengemas makaianku ke dalam koper. Maafkan aku, aku terpaksa meninggalkanmu sampai waktu yang tak dapat dipastikan. Kuucapkan selamat tinggal pada hunian nyamanku ini. Dengan langkah ringan tergesa aku melangkahkan kaki menyeret koperku kembali ke basement, dimana mobilku sedang menunggu.


Menjelang malam akhirnya aku tiba juga di kediaman Park yang teramat megah ini. Hatiku semakin tak sabar ingin segera bertemu cintaku.


Iseng, aku menengadah. Seolah alam menuntun pandanganku agar menatap ke arah balkon. Tampak seoarang wanita berdiri termenung di atas sana. Balkon yang pernah kupanjat malam itu.


Dari jarak jauh saja dia tetap terlihat cantik. Tapi apa yang sedang dia pikirkan? Apa dia sedang memikirkanku? Ah itu pasti.


Kurogoh saku celanaku meraih ponsel.


Drrrruuuut.


Kulihat dia tersenyum menatap layar ponselnya. Tuh, kan, dia pasti senang melihat wajahku sebagai pemanggil.


[Halo, oppa, lagi dimana? Oppa! Aku merindukanmu. Kapan oppa ke sini lagi?]


Aku tersenyum geli mendengarkan pertanyaan beruntun darinya. Dia sudah tidak gengsian lagi memgakui perasaannya padaku.


[Sayang, aku disini. Menunduklah!]


[Oppaaaaa!] sontak saja dia meneriaki aku dengan panggilan 'oppa'. Senyumnya semakin mengembang. [Oppa! Tetap disitu. Jangam pergi dulu, oke,] tak terlihat lagi sosoknya di balkon.


.

__ADS_1


Given POV.


Aku mengayunkan langkahku setengah berlari, namun tetap hati-hati. Wajahku tentu tak bisa berbohong. Aku terus menampakkan wakah ceriaku saat mengetahui suami uang sedang aku rindukan kini berada di depan mata. Aku tidak tahu mau apa dia ke rumahku, yang jelas aku sangat senang.


"Given, ada apa sayang, kenapa buru-buru?" mommy menahan langkahku saat aku tiba di lantai dasar.


"Mom, ada suami aku, Mom. Sorry!" aku berbalik dan melangkah ke arah pintu utama. Aku tahu mommy tidak suka akan kedatangan suamiku, jadi aku tidak akan membiarkan suamiku masuk. Biarlah aku yang akan menemuinya.


"Oppa!" panggilku saat bertatap dengan wajah tampannya dari kejauhan. Kulihat dia tersenyum sama sepertiku. Aku melangkah pasti kearahnya dan memeluknya tanpa banyak kata. Pelikan yang sangat erat. Tak kuhiraikan lagi akan siapapun yang akan melihat kami.


Aku bisa merasakan tangannya melingkar ditubuhku. Dia juga memelukku.


"Oppa,"


"Hmmmm?"


"Apa Oppa makan dengan benar? Apa Oppa sehat? Sorry sayang, sebagai istri aku tidak membantu sama sekali. Aku tidak melakukan tanggungjawab sebagai istri. Maafkan aku, Oppa!"


"Bicara apa sih, sayang? Kamu kan sakit. Lagi pula kamu baru berkumpul lagi dengan keluarga. Jangan minta maaf, itu bukanlah masalah."


Dia mengecup sayang pucuk kepalaku.


Ehem ehem. Kudengar deheman seseorang. Siapa lagi kalau bukan adikku. Dia baru saja pulang dari restoran miliknya.


"Maaf mengganggu, Noona, permisi, aku mau lewat."


Heh, orang itu. Kupikir dia akan menyapa atau apa.


Kuambil tangan suamiku, "Oppa, ayo masuk." kuseret dia untuk bertemu dengan mommy daddy-ku. Dia mengikuti langkahku.


"Mom, Dad,"


"Ya, sayang?" mommy menjawab sapaanku.


"Given mau tinggal dengan oppa. Mom, oppa adalah suamiku. Aku harus tinggal dengannya. Given ingin jadi istri yang bisa memasak untuknya, menyiapkan segala keperluannya setiap hari. Mommy, Daddy, tolong bolehkan, yah?"


Kupandang wajah suamiku yang hanya mematung disebelahku. Tak kusangka dia mengerutkan dahi. Hah, respon macam apa ini? Bukankah seharusnya dia senang?


"Arsen, kamu akan membawa pergi putri kami?"


Bukannya menjawabku, daddy malah menyodotkan pertanyaan untuknya. Kulihat suamiku menggeleng.


"Bukan begitu, Dad, aku tidak bermaksud untuk membawanya. Kurasa ... dia belum tahu maksud kedatanganku saat ini." jawab suamiku. Kali ini akulah yang mengerutkan dahi. Ingin ku tabok jidadnya agar sadar. Bukannya berjuang bersamaku demi hidup bersama, tapi apa yang oppa katakan?


"Permisi Tuan, ini koper milik anda."


Sang security yang biasanya mangkal di depan kediaman ini datang dan memberikan koper yang katanya milik suamiku.


"Terima kasih, pak" ucap, oppa.


"Suami kesayanganmu akan tinggal dengan kita mulai hari ini, sayang. Bawalah dia ke kamar. Katamu mau jadi istri yang baik kan? Kalian bersiaplah, sebentar lagi waktunya makan malam."


Tunggu, tunggu! Ada apa ini? Suamiku tampak santai dengan raut wajah bahagia. Jadi dia akan tinggal disini bersamaku?


"Oppa, benarkah ini? Aku sedang tidak bermimpi?" tanyaku padanya. Dia mengangguk dengan wajah tersenyum. Hei! Sejak kapan mommy daddy berbaikan dengannya? Ini seperti kejutan besar untukku. Saking bahagianya aku menghampiri daddy dan mommy, memeluk keduanya dan mengucapkan terima kasih.


"Sorry sayang, kami belum bisa melepasmu pergi. Kami masih ingin bersama denganmu dalam waktu yang lama. Tidak apa-apa kan sayang?" mommy membelai rambutku. Kurasa ... ini memang pilihan yang tepat. Semoga suamiku nyaman tinggal dengan kami. Daddy juga mengatakan bahwa mereka sedang belajar menerima suamiku dan melupakan cerita masalalu.

__ADS_1


.


.


Author POV.


Given dan Arsen kini menuju kamar mereka. Keduanya tampak sangat bahagia karena akan tinggal bersama mulai detik ini. Tidak ada lagi ancaman-ancaman perpisahan yang membayangi.


Tiba di kamar.


"Selamat datang di kamar kita Oppa, anggap saja oppa baru pertama kali masuk kesini."


"Akhirnya, aku tidak harus repot lagi memanjat balkon." Arsen membuang napas legah.


Given tertawa mengingat malam itu.


"Oppa, mandilah, aku akan siapkan pakaianmu."


"Oke, tapi sehabis makan malam kita langsung balik kekamar ya,"


"Boleh, Oppa tidak sabar lagi ya kan?"


"Bukan begitu, aku hanya akan mencicil. Macam biasa,"


"Apa? Nyusu?"


"Hmmm"


"Ya udah sekarang aja. Oppa,"


.


.


Wadaw.... Givennnnn. Kamu juga ga sabar ya kan? bersambung...


.


.


Eh eh eh, kalian ada yg setuju ga sih kalo kisah si kembar Areum-Arim aku kembangkan?


Kisah Given Arsen kan udah mo tamat ni. Jadi, rasanya ga beres aja jika mereka aku tinggalin gitu aja.


Tapi maaf, karena kedua oppa pengacara dan dokter kecantikan itu bersifat penjahat wanita, jadi ceritanya ya gitu, menyesuaikan, banyak mengandung emah-emahan dan ehem-ehemman🤭. Mereka sungguh merusak perhaluanku kali ini.


Nah... kali aja ada yg pengen tahu cerita mereka, udah publish tu 1 bab.


Judulnya SKANDAL CINTA SI KEMBAR.


***Tapi nama Suga sama J-hope aku ganti dikit ya, biar ga menjurus ke Fanfic lagi dan episodenya juga ga banyak(mungkin) mengingat ada kisah lain yg lagi di garap satu persatu.


Ih, thorrr! Ngapain sih banyak² judul nulisnya?


Iya nih, maklum, ada kreditan panci belom lunas. Aku juga nulisnya sesuai feel sih, yang mana lg ngefeel, itu yg aku garap, guyss.🤭***


Makasih guysss.

__ADS_1


__ADS_2