
Gina dan Stefan mendatangi Arsen di kantornya saat jam makan siang.
Entah kenapa, rasanya Arsen diserang perasaan aneh saat melihat kehadiran kedua orang tuanya.
"Sen, bagaimana keadaanmu?"
"Sehat, seperti yang Papa lihat."
"Bagaimana dengan istrimu?"
"Dia belum pulih sepenuhnya. Papa tahu kan, dia mendapat dua luka tembak."
"Lalu bagaimana dengan papa mamanya? Apa mereka menerimamu?"
"Tentu saja, tidak mungkin mereka menolakku."
"Jangan berbohong. Bukankah kau tidak sungguh-sungguh dengannya setelah dia berubah jadi Given? Kau bahkan mengabaikannya."
"Sen, apa mereka meminta kalian berpisah?" tanya mama, menimpali.
"Pah, Mah, apa kalian juga meragukan aku? Atau ... apa kalian adalah musuh? Kedengarannya kalian sama saja ingin memisahkan kami," Arsen tersenyum malas.
"Papa memang tidak akan merestui kalian kalau dari awal dia adalah Given."
"Pah! Kalian berdua pulanglah. Jangan membuatku bertambah pusing."
"Kau mengusir kami demi Given Park?"
"Ya. Apa aku tidak boleh? Aku akan bertahan dengannya. Aku tidak peduli kalian menentangnya. Dia sudah aku nikahi. Tidak ada kata perpisahan dalam kamusku. Aku akan menerima dia sebagai Given."
Gina dan Stefan saling bertukar pandang.
.
.
Mario masuk ke kamar putrinya.
"Dad, ada apa? Kenapa wajah Daddy murung?"
"Benarkah daddy terlihat begitu?" Mario mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Given, yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.
"Ven, kamu ingat, daddy pernah membayarmu untuk mendekati Arsen."
"Hmmm. Daddy, ini kebetulan yang sangat unik, bukan? Apa ... Daddy menyesal?"
"Apa daddy boleh menyesal?"
Keduanya saling menatap.
"Daddy, Oppa adalah suamiku."
"Kau cinta suami-mu itu?"
Given mengalihkan pandangan lalu mengangguk. "Perasaan diantara kami bahkan baru saja tumbuh, Dad. Apa aku harus dipisahkan dari Oppa?" kembali ia tatap sang daddy.
"Beri daddy waktu, sayang. Daddy dan mommy butuh waktu untuk menerimanya."
__ADS_1
"Kenapa Dad? Apa salah oppa?"
Given menantikan jawaban.
"Karna ... yang kami tahu, Arsen tidak menyukai Given, sayang. Daddy takut kamu tidak bahagia."
"Apa itu alasan sebenarnya? Daddy bisa tanya langsung ke oppa tentang perasaannya. Jangan langsung menyimpulkan begitu saja, Daddy."
.
.
Jimin baru saja keluar dari gedung kampusnya dengan langkah besar menghampiri mobilnya dan masuk dan langsung menghidupkannya.
Pria itu baru saja mendapat telepon dari temannya, Rain meminta untuk menjemputnya.
[Aku sudah di basement. Cepatlah!]
Rain segera turun ke basement setelah membaca pesan dari kontak bernama 'Manusia Kurang Ajar'
"Kita mau kemana? Kau akan mentraktirku 'kan?" tanya Jimin, asal.
"Boleh, terserah kau mau makan apa."
"Apa kau mau ke restoranku? Kau harus mencoba menu baru disana."
"Aku tidak boleh sembarang mengkonsumsi makanan."
"Oh iya, aku lupa kau hanya punya ginjal bekas. Sayangi itu biar kau tidak cepat mati."
Keduanya kini berada di salah satu restoran favorite Jimin.
"Apa maksudmu? Dia memang noona-ku. Anggap saja dulu aku meminjamkannya padamu."
"Aku tidak menyangka. Dunia ternyata sangat sempit. Aku dan noona bisa kembali ke keluarga masing-masing."
Lama keduanya berkesah tentang banyak hal sampai akhirnya tibalah pada inti pembahasan.
"Aku yang telah menjodohkan nuna dengan huyung."
"Benarkah? Jadi mereka dijodohkan, bukan karena saling cinta?"
"Awalnya begitu, Jimin. Tapi sekarang yang kulihat mereka sudah saling jatuh hati."
"Begitu?"
"Jimin, aku butuh kerjasama-mu agar hyung bisa bersama nuna lagi."
.
.
Malam harinya di salah satu club malam. Arsen yang sedang suntuk karena beberapa masalah yang tengah melanda, menerima ajakan Suga dan J-hope untuk meminum beberapa gelas alkohol.
"Ini sudah pukul berapa? Aku mau pulang." Arsen beranjak dari duduknya namun seketika tubuhnya kembali ke posisi semula. Ia lupa bahwa kini ia sudah dibawah pengaruh alkohol.
"Bro, kau mau pulang kemana dalam kondisi ini?" Jem membopong sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku mau ke tempat istriku, Jem. Bisa tolong antar aku ke sana?"
"Tidak bisa. Jangan bunuh diri. Pak Mario bisa murka kau mendatangi putrinya dalam keadaan mabuk." cegah J-hope.
Min Suga hanya mengangguk-angguk membenarkan. Tiga sekawan itu sama-sama dalam keadaan tidak normal.
"Kuantar ke apartemen saja."
Jem merupakan satu-satunya orang masih normal diantara tiga sekawan ini. Sesuai permintaan Arsen bahwa Jem harus stay waras disamping Arsen agar bisa menjamin keselamatan Arsen.
Dengan terpaksa Jem menghubungi Jimin karena harus mengantarkan Arsen ke kediaman Park sesuai permintaan sahabatnya ini.
Tiba di depan gerbang kediaman Park, ternyata Jimin telah menunggu bersama dengan security.
"Jimin, kakak iparmu bersikeras pulang kesini."
"Hai, adik ipar, dimana istriku?" Arsen keluar dari mobil dengan tubuh olengnya.
"Bawalah dia masuk. Dia terus menyebut nama istrinya."
Jimin membawa Arsen masuk melewati pintu belakang dalam keadaan gelap. Sengaja tidak ia nyalakan lampu agar tidak ketahuan oleh penghuni lainnya.
"Nyalakan lampu. Aku tidak bisa melihat wajah istriku."
"Sssuuut! Hyung, diamlah. Nuna sedang dikamarnya. Dia tidak disini."
clek.
Lampu tiba-tiba menyala, membuat Jimin terkejut setengah mati melihat si mommy yang sedang berdiri dengan melipat tangan diatas perut tak jauh mereka berdua.
"Mo...Momm.. Mommy?" Jimin melirik Arsen sekilas.
"Halo, Mommy!" Arsen melepas rangkulannya dari Jimin melangkah gontai menuju si Mommy.
"Mom," Arsen memeluk si Mommy yang mematung menatapnya.
"Mommy, terima kasih, sudah melahirkan istriku. Dia cantik dan baik hati sepertimu. Ayo sebutkan, Mommy mau hadiah apa dariku? Aku akan memberikan semuaaaanya."
Bicara apa anak ini?
"Hyung, kau mau merayu atau menggombal? Lepaskan mommy. Kau pikir tubuhmu ringan?"
"Ada apa ini?" suara berat seseorang terdengar, lagi-lagi membuat Jimin sport jantung.
Mario menatap dengan kening berkerut melihat Arsen memeluk istrinya.
"Daddy, dia mabuk. Biarkan hyung menginap malam ini. Kasihan dia. Oke?"
Mario menggeleng pasrah. Mau mengusirnya juga tidak mungkin. Bicara dengan orang mabuk akan percuma saja.
"Pergilah beristirahat. Bangun pagi-pagi dan pulanglah!" sahut si Mommy yang pastinya tidak ditanggapi oleh Arsen.
"Jimin, tempatkan dia di kamar lain. Jangan mengganggu istirahat kakakmu." titah si Mommy lagi.
Dengan perasaan legah Jimin mengantar kakak iparnya menuju kamar si nuna. Sorry Mom, aku tidak bisa memisahkan mereka.
"Ayo masuk Hyung, ini kamar istrimu." Jimin menyalakan lampu agar Arsen bisa melihat dimana keberadaan tempat tidur istrinya.
__ADS_1
Kembali ia menutup pintu setelah memastikan Arsen sudah berbaring diatas tempat tidur.
Mabuk berat membuat pria itu tidak punya tenaga lagi untuk memastikan orang yang disebelahnya ini istrinya atau bukan. Ia langsung terlelap.