Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Aku Akan Menikahinya.


__ADS_3

"Rain, jangan asal memutuskan kehendakmu. Sekarang kau sudah menemukan siapa dirimu. Dari mana kau berasal."


Jisoo memberi tanggapan dengan raut wajah tegas, menandakan bahwa ia menentang keputusan adiknya untuk mengabaikan keluarga.


"Aku bilang aku hanya ingin memastikan Nunaku aman dan bahagia." jawab Tae, acuh, berjalan ke arah pintu.


Tok tok tok.


Arsen mengetuk puntu yang terbuka.


"Tae, aku ingin bicara dengannya. Bisa kau tunggu di luar?"


Pria muda itu hanya mengangguk lalu pergi. Tinggallah kedua orang yang terlibat hubungan rumit itu.


"Oppa, bagaimana ini? Kenapa kita berdua sampai terjebak dalam sandiwara konyol ini?"


Kau saja yang merasa terjebak. Aku tidak.


Pria itu lalu mendekat. "Kim Ji soo, ayo kita coba terima perjodohan ini."


"Apa?"


"Ayo lakukan saja demi adik kita."

__ADS_1


"Oppa! Apa kau pikir pernikahan itu asal-asalan mau? Sampai sejauh apa kau mau bermain-main dengan hidupmu, hmm?"


"Jadi kau anggap aku hanya ingin bermain-main? Apa kau pikir aku mau berciuman, bertukar air mulut denganmu, mengulangi hal menjijikan itu berulang kali hanya untuk main-main? Kau pikir pria macam apa aku ini? Asal kau tahu saja, hal paling gila yang pernah aku lakukan adalah ... telanj4ng di depanmu." cecar Arsen, panjang lebar, yang mana mubuat Jisoo terdiam sejenak.


"Oppa, kau ... marah?" tanya Jisoo, pelan.


"Ya ... aku marah! Tapi semarah apapun aku, aku tetap tidak bisa berjauhan denganmu. Tidak melihatmu di dekatku sehari saja membuatku merasa akan gila." cetusnya lagi, lalu berjalan ke arah pintu, menghilang disana setelah menutup pintu dengan kasar.


Jisoo mematung, masih melongo. Berusaha mencerna setiap maksud dari perkataan pria itu, tapi ... logikanya sama sekali tidak jalan alias mentok.


Kenapa dia merasa akan gila hanya gara-gara aku? Tidak masuk akal.


Tersadar dari diamnya, Jisoo berlari keluar. Saat menuruni tangga, ia melihat Gina sedang menangis dalam pelukan Rain dan sekelabat punggung pria yang belakangan ini biasa dipanggilnya 'oppa' itu, menghilang dibalik pintu keluar.


Jisoo memghampiri ibu dan anaknya itu. Sedangkan Stefan dan Joon sudah tidak ditempat. Entah kemana dua pria itu.


Waktunya akting berlanjut.


"Sayang, tolong jangan tinggalkan mama. Kamu adalah bayi kecilku yang sangat kurindukan."


Meskipun sedang bersandiwara, tapi mama Gina benar-benar meresapi tangisnya.


"Mah, jangan menahanku. Aku sudah bilang akan menemani nunaku sampai dia menemukan seseorang yang baik yang bisa menjaganya. Setelah itu baru aku akan pulang, jadi anak penurut untuk mama, oke?"

__ADS_1


Mama gina menggeleng kuat. "Tidak bisa. Mulai sekarang, mama tidak akan membiarkan kamu menjauh lagi. Tae, tolong jangan tinggalkan mama. Pikirkan hyung-mu. Joon, dia sangat senang setelah bertemu lagi dengan adiknya." mama menangkup wajah tampan putra bungsunya itu.


Suasana diruangan ini berubah dramatis, mengharukan. Rain benar-benar keras kepala. Dasar anak pembangkang ini.


Rain berdir ditempatnya.


"Ayo Nuna, kita berdua tidak perlu numpang gratisan ditempat ini lagi." Pria itu menarik koper miliknya dan milik nuna yang memang sudah siap di ruang tengah.


"Nuna, ayo, tunggu apa lagi?"


Pria itu mendekati Jisoo, mengambil tangannya. "Ayo pergi Nuna,"


Melihat mama Gina yang terisak menatap lirih putranya itu, membuat Jisoo merasa tidak tega.


Ia tepis tangan adiknya, lalu mengayunkan langkah mendekati Gina. "Maafkan dia Nyonya, adikku memang keras kepala. Aku akan membuatnya tetap menjadi milikmu."


"Kim Ji Soo, memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Dia tidak mau pergi darimu." Gina mengusap rambut panjang gadis itu. Gadis yang yang mungkin saja akan berubah status menjadi menantunya.


"Aku akan menikahi Arsen oppa. Itu yang Tae ingin aku lakukan. Ya ... aku akan menikah dengannya tidak peduli apapun. Tidak peduli aku akan bahagia atau menderita dengan anakmu itu, aku akan menikahinya."


Mendengar penuturan gadis itu yang terlihat sangat sungguh-sungguh, mama Gina memeluk bakal menantunya itu dengan erat.


Tentu saja kau akan bahagia. Karena dinikahi oleh putra berhargaku. Kalau dia mengecewakanmu, aku sendiri yang akan menghukumnya.

__ADS_1


Ini adalah langkah satu-satunya. Setelah itu aku pikirkan cara untuk mengakhiri segalanya. Maafkan aku nyonya.


Guyssss. Jangan lupa dukungannya yaaa🥰🥰🥰


__ADS_2