
(Kim Jisoo, kau harus berakting seolah kita adalah sepasang kekasih. Cepatlah datang.)
"Sial, dia tidak membaca pesanku? Berani sekali dia tidak membalas?"
Arsen mulai mengumpat. Apa lagi ... Kang Ma Ri terlihat akan mendekati dirinya. Belum lagi putri pemilik acara ini yang selalu terang-terangan bertingkah manja pada dirinya.
"Oppa!"
Baru saja Arsen menghawatirkan akan pertemuannya dengan gadis manja itu, sekarang orangnya sudah muncul di depannya.
"Hai, Given, aku kemari sebagai undangan paman. Bukan untuk menyapamu. Itu pun, dia pasti tidak sungguh-sungguh mengundangku ke acara ini."
"Oppaaaa! Jangan bilang begitu! Daddy juga mengharapkan kedatanganmu." -menggelayut manja, seolah sudah kenal lama. Tingkah perempuan ini benar-benar membuat Arsen ingin meledak.
"Hai Hyung!"
Jimin pun datang menyapa Arsen. Arsen Sedikit terkejut, dengan keberadaan seseorang di sebelah Jimin.
"Rain?"
"Arsen Hyung?"
"Oh, Kalian saling kenal? Itu bagus. Hyung, Rain adalah teman baikku. Em, maksudku, kami baru-baru ini jadi teman baik, jadi aku mengundangnya."
Jimin menerangkan tanpa ada yang bertanya.
"Hai Arsen,"
Seseorang menyapa, yang tak lain ialah Kang Mari. Melirik ke arah lengan Arsen yang masih menerima gelayutan manja diri Given.
Menyebalkan. Kemana ****** jadi-jadian itu? Lama sekali dia.
Ma Ri memberi tatapan penuh arti ke arah wajah Arsen. Ada rasa rindu berat untuk pria yang sangat menyayanginya itu.
"Nuna, lepaskan lengan hyung. Wanita ini adalah pacarnya." bisik Jimin mendekati telinga Given, yang mana membuat gadis itu sontak melepaskan gelayutannya.
Sedangkan Arsen, ia sama sekali tidak berniat membalas sapaan maupun tatapan mantan kekasihnya itu. Cinta? Sayang? Tentu saja masih terasa. Tidak mungkin terhilang begitu saja.
"Rain, bicara denganku sebentar." Arsen menyingkir begitu saja dari pandangan Given, Ma Ri maupun Jimin.
"Baiklah Hyung." -Rain menyusul.
Di tempat yang terlihat sepi, Arsen berhenti lalu membalikkan tubuh menghadap Rain.
"Dimana kakakmu?"
__ADS_1
"Nuna? Oh, Noona juga sedang ada acara Hyung."
"Apa? Dia sedang bersenang-senang dan mengabaikan pesanku?"
Wajah polos Rain terlihat sedikit kebingungan melihat kekesalan Arsen pada Noonanya.
"Kenapa Hyung? Kau ... menunggu Noona? Apa ... kau menyukai Noona-ku?"
Masih dengan tatapan polosnya itu, bertanya.
"Apa? Menyukai? Nunamu? Hah, itu mustahil."
"Csssh! Nunaku bahkan lebih menarik dari dua wanita tadi. Ah, tapi ... kecantikan tidak lebih berarti. Satu kesalahan akan menghapus kecantikan itu. Begitu juga dengan Noona-ku."
Rain kembali mengingat kegegabahan Jisoo yang telah kehilangan mahkotanya karena uang.
"Apa maksudmu berkata begitu tentang kakakmu?"
Apa anak ini tahu kakaknya telah mencuri uangku?
"Tidak apa-apa hyung. Bagus kalau hyung tidak tertarik padanya. Noona-ku ... tidaklah pantas untuk pria baik sepertimu."
"Apa maksudmu?" Arsen terlihat semakin penasaran.
Apa ada kejahatan lain yang dilakukan Jisoo yang tidak ku ketahui?
Begitu hebatnya penglihatan Rain, dia mampu mengenali kakak perempuannya itu dengan sangat baik dari kejauhan dan ditengah banyaknya manusia yang datang ke acara itu.
"Itu Noonamu?"
"Iya. Tunggu. Pakaian macam apa yang Noona pakai itu?" Rain menggeleng kesal. Sangat terlihat diwajahnya bahwa tidak menyukai kakaknya mengenakan pakaian yang terbuka seperti itu.
"Ini pasti ulah si Noona kembar. Lihatlah, mereka bertiga terlihat sama-sama mengerikan."
Rain ingin melangkah, namun dihentikan Arsen.
"Jangan buru-buru memarahinya. Kau tidak melihat? Semua wanita terlihat sama-sama berpenampilan gila." -Sedikit menyadarkan Rain.
Aku memintanya berpenampilan menggoda dan dia benar-benar melakukannya?
Ketiga sahabat itu sedang berbincang ramah dengan rekan kerja si kembar, setelah memperkenalkan Jisoo kepada mereka. Baik rekan oerempuan maupun laki-laki.
Arsen terlihat melonggarkan dasi, merasa ada sesuatu yang tersangkut di lehernya, saat melihat senyum para pria saat berbincang dengan Jisoo.
"Ayo kita temui kakakmu."
__ADS_1
Sementara disaat asik bercanda tawa menikmati pesta bersama si kembar, air muka Jisoo tiba-tiba berubah, membuat si kembar menatapnya heran.
"Jisoo, kau kenapa?"
"Tunggu disini. Akan kuhampiri orang itu."
Seseorang yang baru saja turun dari panggung setelah mempromosikan fashion terbaru yang diluncurkan dari perusahaan itu, terkaget karena tangannya ditarik dengan kasar oleh seseorang.
"Hyung, apa yang Noona lakukan?" Rain.
"Hah? Apa Jisoo sudah gila Arim?" Areum.
Mereka melihat Jisoo sedang menarik seorang Gadis yang tak lain adalah putri pemilik acara ini. Entah ingin membawa gadis itu kemana.
Brukk.
Tubuh gadis itu terhempas pada tembok dimana Jisoo sedang menekannya.
"Si-siapa kau? Apa kau gila? Kau tidak tahu aku ini siapa?"
"Aku? Ini aku! Pemilik kalung di lehermu."
"Aw!" Gadis itu terpekik kesakitan ketika Jisoo menarik kalung itu dengan kasar hingga terlepas.
"Ka-ka-kau si-siapa?"
"Aku? Aku Ji ... Sooo. Katakan, dimana ibumu? Bawa aku bertemu dia sekarang juga, atau kau tidak akan kembali ke pesta itu dengan selamat."
"Jii.. Ji soo.? Aku tidak mengenalmu. Lepaskan aku!"
Given meronta, berusaha melepaskan diri.
"Aku bilang, dimana ibumu?" teriaknya.
"Aku ibunya ... lepaskan tanganmu dari putriku!" Suara datar seorang wanita terdengar.
Dia ... ibunya?
.
.
Bersambung....
Guysss
__ADS_1
Jan lupa ya, dukungannya. hehehe